
*Hutan Kematian*
Thomas yang sudah berada di tengah hutan kematian terlihat kesal. Setelah kemarin sore dia melihat pasukan yang berjaga di pintu masuk hutan telah tewas, dia meminum serum peningkatan kecepatan dan berlari sekuatnya untuk memeriksa sisa pasukan. Dengan menghabiskan 10 serum kecepatan secara bertahap, hanya perlu waktu satu hari untuk sampai di tengah hutan kematian.
"siapa orang yang bisa melakukan ini ? " ucap Thomas
"Kresek" suara gesekan ranting dan semak terdengar dari samping kanan Thomas
Thomas bergerak cepat mendekati asal dari suara itu, dia pun melihat seekor antelop yang diincar organisasinya. Terkejut dengan kedatangan Thomas yang tiba-tiba, antelop itu pergi menjauh secepat mungkin.
"enak saja kau mau kabur " ucap Thomas
"Wush" Thomas mengejar dengan efek dari serum kecepatan yang tersisa. Sebenarnya kecepatan Thomas kalah jauh dibandingkan antelop itu, seperti halnya singa yang mengejar Rusa. Tetapi seperti rusa umumnya, rasa cemas dan khawatir dari antelop itu membuat dia tertangkap. 30 detik kemudian akhirnya Thomas bisa menangkap leher antelop itu dan menjatuhkannya.
"Paling tidak aku bisa membawa pulang satu ekor, aku akan membawanya ke lab " ucap Thomas
Setelah mengikat antelop itu menggunakan akar dan tumbuhan rambat, dengan santainya Thomas membawa antelop itu dipundaknya keluar hutan.
Tidak lama kemudian ponsel milik Thomas berdering, itu adalah panggilan dari atasannya. Panggilan itu dilakukan menggunakan satelit, sehingga memungkinkan untuk melakukan panggilan walau berada di tengah hutan sekalipun.
"Halo bos " sapa Thomas
"Dimana kau? bisakah kau kembali ke Vegas sekarang?ada tugas nanti malam di tempat Yorgi " balas orang itu
"Tidak bisa, Saat ini aku sedang berada di tengah hutan kematian, paling cepat besok sore baru tiba ke Las Vegas " jawab Thomas
"Apa yang kau lakukan di sana? Sudah ada pasukan yang bertugas di hutan itu "
"Pasukan kita yang ada disini semuanya terbunuh, lagipula saat ini aku membawa antelop yang diinginkan prof Ednewt " jawab Thomas
"Kalau begitu kembalilah ke markas, berikan antelop itu kepada prof Ednewt !"
"Baiklah " ucap Thomas yang kemudian mengakhiri panggilan itu dan meletakkan kembali ponselnya ke dalam kantong celana.
"Para petinggi itu, selalu suka seenaknya " gumam Thomas melanjutkan perjalannya
*Las Vegas*
Begitu malam hari tiba, kelap-kelip lampu kasino dan bangunan Las Vegas terlihat seperti pesta meriah. Jalanan begitu ramai, karena aktivitas yang sebenarnya dari kota ini ada pada malam hari.
Di dalam kamar hotelnya yang bagus, Riyan mengenakan tuksedo yang diberikan tuan Luke kepadanya. Dia memandang dirinya dan bergaya di depan cermin, memakai gel rambut dan menyisirnya .
"Aku terlihat keren seperti dewa judi" ucap Riyan mengagumi bayangan dirinya sendiri.
"Tok..tok" suara pintu kamar Riyan diketuk, Riyan membukakan pintu dan ternyata Jack datang untuk menjemputnya.
"Untunglah kau sudah siap, karena aku tidak biasa menunggu pria berpakaian. Ayo ! " ucap Jack
"Tunggu sebentar " ucap Riyan mengenakan sepatu.
Mereka pun berangkat menuju kediaman Luke. Setibanya di rumah Luke, mereka masuk menuju ruang tengah dimana Luke dan Ken sudah berada di sana. Jack mengambil dua buah senjata api jenis pistol tipe deagle dari laci lemari kayu yang ada di belakang Luke.
"Bawalah ini! " perintah Jack sambil melemparkan pistol itu kepada Riyan dan Ken .
"Tap" Ken dan Riyan menangkap pistol yang dilempar Jack
"Keren, ini seperti film gangster" pikir Riyan
"Bisakah aku memakai katana ku saja? Aku tidak terbiasa dengan senjata ini " ucap Ken
"Silahkan, tapi pistol itu kau simpan saja " jawab Luke
"Baiklah " sahut Ken
Pukul 20.30 mereka tiba di Wallin Palace, tempat dimana pesta yang diadakan Yorgi digelar. Bangunan putih yang dilihat Riyan kemarin sore sekarang terlihat megah dengan banyaknya lampu yang menghiasi gedung itu.
Deretan mobil mewah berjejer satu persatu menuju pintu masuk Wallin Palace. Setiap orang yang turun dari mobil merupakan orang-orang ternama dan berpengaruh.
Didepan pintu masuk gedung, dua orang bertugas menjaga pintu masuk dengan setelan rapi. Begitu mobil tuan Luke tepat berada di pintu masuk, beliau turun bersama dengan Jack melewati penjaga.
Riyan bersama dengan Ken yang memegang setir, membawa mobil itu ke tempat parkir yang ada dibelakang gedung. Mereka berdua masuk melalui pintu belakang Wallin Palace, bersama dengan beberapa pengawal orang-orang lainnya.
Begitu melewati pintu, Riyan dan Ken melalui lorong dengan karpet biru sepanjang 5 meter untuk berada di ruang utama Bangunan itu. Ken dan Riyan berkumpul kembali dengan tuan Luke dan Jake di sana.
Riyan memperhatikan sekelilingnya, Ruang yang sangat luas dan tinggi, ditengah ruangan itu dilengkapi lampu hias yang sangat besar tertempel diatasnya. Puluhan meja bundar dengan kursi tersusun di dekat dinding ruangan, sehingga menyisakan tempat kosong yang lebar di tengah ruangan untuk berdansa.
Beberapa orang yang menggunakan pakaian pelayan berjalan mengitari tamu membawakan gelas berisi sampanye, bir dan lainnya yang ditaruh di atas nampan.
Pada bagian kanan dan kiri ruangan itu terdapat tangga menuju lantai atas, dimana di lantai atas itu terdapat satu pintu lagi menuju aula yang lebih kecil. Tepat diantara dua tangga itu, sebuah pintu besar yang terikat dengan pita berwarna merah.
kelompok musik melantunkan lagu country di atas panggung yang berada di sebelah pintu berpita. Beberapa dari tamu menari di depan panggung menikmati lantunan musik.
Dalam 10 menit kemudian, ruangan itu telah dipenuhi oleh tamu undangan. Luke membaur dengan teman-temannya, begitu juga dengan Jack yang merupakan seorang sheriff kepala di Las Vegas.
Para pengawal kebanyakan berdiri di dekat tembok. Sedang Riyan dan Ken duduk pada sebuah meja tidak jauh dari Luke, dia terus memperhatikan sekitar sambil sesekali mengawasi tuan Luke.
"Alpha, berapa banyak orang yang membawa senjata? " tanya Riyan
[Selain seluruh pengawal berjumlah 20, di lantai atas ada seseorang yang memiliki wechas, satu orang menyusup di gedung bagian timur, dan seluruh orang anggota polisi di luar juga bersenjata]
"Ah mengecewakan, kupikir kita akan untung besar karena banyak yang menggunakan wechas disini." ucap Riyan
Tiba-tiba dari belakang Riyan suara seorang gadis memanggil namanya.
"Riyan "
Riyan menoleh kebelakang dan melihat Alice, Rambut coklat bergelombang miliknya terikat rapi, dipadu dengan gaun merah berhias renda emas menjadikannya gadis yang sangat cantik.
"Hai, sedang apa kau disini ? bukannya kau tidak tinggal di kota ini ? " Tanya Riyan.
Begitu juga dengan Alice yang melihat Riyan dengan Tuksedo dan rambut rapih. Dimatanya Riyan adalah pria remaja yang sangat tampan.
"Ini kenalkan temanku, Ken " kata Riyan menunjuk kearah Ken
Ken dan Alice kemudian saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, sedang apa kau disini? " Tanya Alice lagi
"Oh,,aku menemani tuan Vargas " jawab Riyan
"Kau kenal tuan Vargas ? Padahal kukira kau cuma turis biasa " ucap Alice.
Belum sempat Riyan menjawab, pintu lantai atas tiba-tiba terbuka. Beberapa saat kemudian Yorgi muncul dari pintu yang berada di lantai dua. Dengan pakaian tuksedo resmi yang sama dengan para tamu, dia menyapa semua yang hadir di ruangan itu dari lantai atas.
Seluruh tamu undangan menghentikan aktivitasnya dan melihat kearah Yorgi. Mereka mengangkat gelas yang ada di tangan mereka sebagai bentuk penghormatan.
Yorgi melangkah menuruni tangga dan berjalan kearah panggung. Dia meminta microphone kepada band yang ada dipanggung, microphone pun dilempar dan berpindah ke tangan Yorgi
"cek..cek..Terima kasih kalian semua mau menerima undangan pesta peresmian kasino baru ku, aku berniat menjadikan Wallin palace menjadi kasino besar yang bisa menyaingi kasino milik rival ku tuan Vargas " kata Yorgi
Semua tamu bertepuk tangan, dan seluruh mata tertuju kepada Luke Vargas dengan senyuman riang. Luke mengangkat gelasnya dan membalas tersenyum.
"Dan terimakasih juga kepada senator Joseph yang menyempatkan waktunya untuk hadir ke pesta kecilku ini " sambung Riyan
Kembali suara tepuk tangan dari tamu undangan memenuhi ruangan besar itu. Sama dengan yang dilakukan Luke, senator juga mengangkat gelas minumannya.
"Itu ayahku " kata Alice kepada Riyan sambil bertepuk tangan.
"Kau anak senator? " Tanya Riyan kaget
Alice menganggukkan kepalanya sebanyak dua kali untuk menjawab pertanyaan Riyan.
"Pukul 22.00 nanti, aku akan meminta senator untuk memotong pita di pintu ini. Tapi sebelum sampai waktu itu, silahkan kalian nikmati pesta disini " ucap Yorgi dengan semangat, kemudian melemparkan kembali mic kepada penyanyi di panggung.
Musik berubah menjadi cepat dan beberapa pasangan tamu melanjutkan tarian mereka. Yorgi menghampiri tamunya satu persatu dan mengobrol sejenak. Tiba-tiba seorang wanita cantik melintas di belakang Yorgi dan meletakkan pelacak yang sangat kecil belakang tuksedonya.
"Jerat terpasang " ucap wanita itu
"Kerja bagus 03 " balasan dari alat komunikasi di telinga wanita itu
Luke bersama Jack dan orang kaya lainnya saat ini Sedang berbincang dengan senator Joseph. Sesaat kemudian senator Joseph melihat Alice yang duduk bersama Riyan.
Dia permisi kepada Luke dan yang lain untuk menghampiri putrinya. Senator Joseph melangkah ke meja dimana ada Riyan, Ken dan Alice. Senator meminta Alice untuk mengikutinya ke tengah ruangan untuk diperkenalkan kepada beberapa orang.
Luke yang secara tidak sengaja melihat kedekatan anak senator itu dengan Riyan, membuatnya sedikit terkejut. Senator Joseph sekarang berkumpul kembali dengan Luke dan yang lainnya membawa Alice, bahkan Yorgi juga bersama mereka saat ini.
Alice menjabat tangan orang-orang yang berada didekat ayahnya. Diantara orang-orang kaya itu, terdapat seorang pengusaha muda bernama Viktor yang tertarik dengan kecantikan Alice.
Riyan terus memperhatikan dan mengawasi Luke yang berada di samping Alice. Namun pengawasan Riyan disalah artikan oleh Alice, dia mengira kalau Riyan sedang memperhatikannya.
"Aku tidak mengira kau mengenal putri senator " ucap Ken kagum
"Sebelumnya aku juga tidak tau kalau dia putri senator Josep" balas Riyan
*****
Saat itu di seberang Wallin Palace, sebuah mobil Van abu-abu parkir di sana. Di dalam mobil itu ada seorang agen CIA sedang mengoperasikan satu buah komputer dan satu buah laptop.
Di dalam Komputer terlihat gedung Wallin Palace dalam bentuk 3D transparan dengan satu titik merah yang sedang bergerak. Sedang pada Laptop orang itu terlihat gambar seluruh cctv yang ada di gedung itu.
"Setelah belok kiri, lurus 100 meter kemudian turun melalui saluran ventilasi " ucap agen itu memandu seseorang dengan alat komunikasi kecil yang terpasang di telinganya.
Disisi lain, terdapat agen CIA yang menyusup di arah timur bangunan Wallin Palace. Dengan kaos dan rompi anti peluru, orang itu mengikuti arahan dari rekannya yang berada di dalam mobil Van. Setelah 5 menit, dia tiba di tempat yang ditujukan.
"Bruk" penutup ventilasi terjatuh, agen penyusup turun dari plafon atap bangunan itu, dan sekarang dia berada di dalam toilet pria. dia berjalan mengendap dengan perlahan seperti seorang pencuri.
Sebelum keluar dari toilet pria dan menuju ruang tengah di lantai dua, dia memperhatikan sekitar dan tidak ada satupun orang di sana. Hanya ada beberapa cctv yang terpasang di langit-langit.
"Oke, kau bisa lanjut " ucap agen 02 setelah mematikan fungsi cctv untuk ruang utama lantai 2.
Agen 01 kemudian kembali mengendap hingga sampai ke depan pintu kantor Yorgi. Di depan pintu kantor Yorgi yang terkunci dengan sebuah kode, pria itu mengeluarkan sebuah tabung kecil dari tas pinggang di belakangnya. Kemudian menyemprotkannya ke semua tombol angka hingga muncul sidik jari di semua tombol itu.
Berikutnya orang itu mengeluarkan kotak kecil hitam semacam scanner, dia memindai tombol-tombol itu. Seketika di layar kecil kotak hitam muncul sederet angka yang masih berjalan.
Di lantai satu, Yorgi yang tengah berbincang dengan Luke dan senator Joseph memutuskan naik ke lantai dua. Dia pamit kepada senator dan yang lainnya, kemudian melangkah menuju tangga ke lantai dua. Wanita yang meletakkan pelacak di pakaian Yorgi segera memberitahukan melalui alat telekomunikasi mini di telinga masing-masing.
"Target naik keatas, agen 01 cepatlah " suara agen nomor 3 tiba-tiba masuk. Dia adalah seorang wanita yang sedang menyamar menjadi tamu untuk mengawasi Yorgi di lantai dasar.
"02 berapa lama lagi? " agen nomor 1 masih menunggu nomor di layar kotak hitam berhenti keseluruhan di depan pintu kantor Yorgi.
Agen 2 yang melihat pelacak Yorgi bergerak naik ke lantai dua, segera memberitahukan batas waktu agen 1.
"3 menit " jawab agen 2
"Prok...prok..prok" suara sepatu Yorgi menaiki tangga dan berjalan kearah pintu masuk.
Nomor di layar kotak hitam terdapat 4 nomor yang berhenti, tinggal dua lagi. Agen 01 menekan angka yang sama pada tombol di pintu masuk kantor Yorgi dengan ke empat angkat yang sudah berhenti pada alat itu. Melihat dua titik merah tanda Yorgi dan agen 01 yang hanya terhalang pintu, membuat agen 02 tegang, begitu juga dengan 03 yang melihat Yorgi sedang membuka pintu untuk masuk.
Di lantai atas terdapat 3 Ruangan, ruang tengah yang luas untuk tamu VIP, ruang mesin pengawas untuk memantau segala aktifitas melalui cctv, dan ruang terakhir adalah kantor Yorgi.
"Krek" gagang pintu terputar dan Yorgi mendorong pintu besar itu untuk membukanya.
Disaat bersaman dua angka yang tersisa sudah berhenti dan cepat dimasukkan oleh agen 01, sehingga dia bisa membuka pintu kantor Yorgi dan masuk kedalam.
Ketiga agen CIA itu bisa bernafas dengan lega sekarang, namun agen 01 masih harus mencari tempat untuk bersembunyi.
Setelah masuk ke ruang atas, Yorgi langsung menuju keruang kantornya. Dia menyadari ada yang aneh setelah menekan sandi pintu kantornya. Yorgi merasakan Jari-jarinya lembab, namun dia tetap masuk seolah tidak perduli akan hal itu.
Di dalam kantornya Yorgi mengeluarkan beberapa berkas dari dalam laci meja kerjanya. Tanpa dia sadari kalau agen CIA sedang berada di belakang sebuah lemari di sampingnya.