NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 84 Pencarian



*Rumah Cindy*


Sore itu Cindy mengenakan pakaian santai berupa kaos berwarna pink yang dipadu dengan hot pant. Dia duduk di atas kursi belajarnya sambil berbincang dengan Riyan melalui Telepon.


"Wah serunya, jadi sekarang kamu lagi di Dufan sama Mila?"


"Iya, dari tadi aku cuma jadi pengawal Mila kesana-kemari" balas Riyan


"Bagus dong, hehehe. Ngomong-ngomong kapan kamu pulang?" tanya Cindy yang sekarang berpindah duduk ke tempat tidurnya.


"Mungkin besok atau lusa. oh iya, bagaimana perkembangan jurus barumu?"


"Hmmm...gimana ya, nanti liat sendiri deh, kita latih tanding kalau kamu sudah disini" jawab Cindy


"Wah sepertinya ada yang tambah kuat nih" ucap Riyan


"Ada deeeh"


Perbincangan mereka berlangsung lumayan lama, hingga akhirnya Riyan harus menutup perbincangan mereka karena harus mengikuti Mila yang sedang bersemangat berjalan-jalan.


Ketika keluar dari kamarnya, Cindy melihat Ayah dan pamannya membawa koper besar keluar dari rumah. Bersama mereka kakek dan ibu Cindy mengikuti dari belakang.


"Benar juga, aku lupa kalau kakek dan paman akan berangkat hari ini ke Sumatra untuk menghadiri Turnamen Silat sejagat" pikir Cindy


Cindy pun berlari mengejar keluarganya itu, mereka semua tersenyum melihat kehadiran putri rumah itu yang bergabung mengantarkan paman dan kakeknya.


"paman harus semangat oke!paman pasti bisa menang" ucap Cindy mengacungkan jempolnya


"Tentu cantik" sahut paman Cindy


Sampai di depan gerbang, Ayah dan paman Cindy memasukkan koper kedalam mobil. Ketiga laki-laki itu masuk kedalam mobil dan meninggalkan Cindy dan ibunya di depan gerbang.


"Cindy ga mau ikut mengantar kakek sampai ke bandara?" tanya ibunya


"Cindy menemani ibu saja di rumah" sahut Cindy


Lambaian tangan ibu dan anak itu melepas kepergian para pria yang ada di rumah. Kedua wanita itu pun kembali masuk dan menutup gerbang rumah mereka.


*Hotel Nova*


Pukul 20.00 Riyan kembali ke hotel bersama Mila usai makan malam di luar. Begitu melewati kamar 122, Riyan teringat dengan Riska. "Bagaimana dia sekarang ya" pikir Riyan


Mila membuka pintu kamar mereka dan bergegas masuk sambil memeluk boneka harimau besar yang dibeli dari Ancol dengan satu tangan.


"Ah capeknya" ucap Mila menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur yang sudah dirapikan petugas hotel.


"Jelas capek, seharian jalan-jalan dan naik wahana bermain" ucap Riyan


Riyan meletakkan kantong plastik belanjaan ke atas meja. Sedang Mila mengambil remote TV dan menyalakannya.


"Ga mandi dulu?" tanya Riyan


"Nanti aja kak" sahut Mila ditempat tidur.


"Kalau gitu kakak duluan" balas Riyan


Lima belas menit kemudian Riyan yang telah selesai mandi, keluar untuk berganti pakaian. Sekarang giliran Mila untuk membersihkan dirinya ke kamar mandi hotel.


Mila turun dari tempat tidur empuk itu dan mengambil pakaian ganti yang baru saja dibelinya, kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Usai mengganti pakaiannya, Riyan melemparkan tubuhnya keatas tempat tidur dan mengambil remote TV. Riyan memindah channel TV untuk mencari acara yang menarik. Saat itu tanpa sengaja dia melihat channel berita yang menyiarkan rumah Julia.


**Berita TV**


"Telah terjadi pembunuhan sadis yang di duga dilakukan oleh saingan bisnisnya pada kediaman seorang pengusaha wanita muda bernama Julia Frederika. Julia beserta para penjaga yang bekerja di rumah tersebut tidak ada yang selamat, sekitar 40 orang termasuk Julia ditemukan tewas tak bernyawa akibat tusukan senjata tajam"


"Karena kerusahan rekaman cctv yang hilang, Polisi menduga ini dilakukan oleh kelompok bayaran yang disewa lawan bisnis korban"


****


"Eh rekaman cctv hilang?" ucap Riyan heran, itu membuat Riyan sadar kalau dia lupa meminta Alpha menghapus rekaman cctv di sana saat itu.


"Apa kau yang melakukannya?" tanya Riyan ke Alpha


[Tidak tuan]


"Jadi siapa yang melakukan itu?"


Keanehan itu membuat Riyan menjadi heran dan menduga kalau seseorang sudah membantunya. Namun dia tidak mau berpikir keras mengenai hal itu, dia teringat senjata yang sudah dia kumpulkan.


Diatas tempat tidur, Riyan meletakkan 4 wechas milik para penjahat itu dihadapannya.


"Pistol revolver tinggal satu peluru, sarung tangan dan sepatu juga tidak perlu, kapak ganda yang bisa terbang juga percuma" pikir Riyan


Akhirnya selain pedang katana milik Seichi, Riyan menyerap ketiga senjata itu untuk menambah jumlah nano material di dalam tubuhnya. Untungnya tidak perlu waktu lama untuk melakukannya, sehingga penyerapan itu sudah selesai saat Mila keluar dari kamar mandi.


"Kakak sedang apa?" tanya Mila melihat kakaknya duduk bersila di tengah tempat tidur.


"Tidak ada, hanya melihat TV" jawab Riyan


Mila kembali naik ke atas tempat tidur yang berada di samping tempat tidur Riyan. Bersama-sama mereka berdua menonton televisi.


"Mil, pulang besok?"


"Boleh, lagipula aku sudah kangen rumah" balas Mila


"Kalau begitu kakak akan pesankan tiket untuk besok, tante Tari juga nanti khawatir kalau lama-lama disini"


"Iya kakak ganteng"


Riyan kemudian mengambil handphonenya untuk memesan tiket penerbangan ke Muriya besok secara online.


Malam pun semakin larut, ketika melihat Mila yang sudah tertidur, Riyan kemudian tersadar kalau masalahnya dengan Kurassha tidak akan selesai sampai disitu.


Orang-orang Kurassha pasti akan mencari tahu mengenai kejadian itu, dan bisa jadi mereka akan melakukan pelacakan mulai dari tawanan yang dibebaskan.


Riyan kemudian membuat lima buah kunai dari tangan kanannya, dia mencoba berlatih menggerakkan kunai-kunai tersebut tanpa menyentuhnya.


[Apa anda akan meniru gerakan kapak terbang Julia]


"Ya, aku baru menyadari kalau kemampuan imajinasi ku bisa dikatakan kurang. Sedang kemampuan nano material ini bergantung seberapa bagus aku bisa menggunakannya"


[Itu benar]


Tiba-tiba kunai-kunai itu beterbangan jauh hingga mencapai pintu masuk kamar yang berjarak 7 meter.


[Kenapa anda tidak membuatnya menjadi besar seperti sebelumnya]


"Itu akan mudah di hindari oleh lawan, jika tidak terlihat akan susah dihindari kan" balas Riyan


[Itu juga benar, sepertinya imajinasi anda cukup bagus tuan]


kemudian Riyan melanjutkan mencoba berbagai hal dengan menggunakan nano material.


*Jogjakarta*


Sementara itu di Jogja, Sebuah bangunan besar dengan dinding kaca hitam dengan lampu yang mewah terlihat menonjol di tengah kota Jogjakarta. Bangunan dengan jumlah lantai hingga mencapai 15 lantai itu merupakan kantor pusat perusahaan Lukman Corp.


Malam itu di dalam ruangan direktur utama, lima orang anggota pengawalan Thorn sedang duduk di kursi tamu bersama dengan pak Yusni. Heru dan anggotanya lanjut melindungi pak Yusni dan mengikuti beliau ke Jogja.


"Jadi apa yang akan anda lakukan terhadap Hendrik?" tanya Heru kepada pak Yusni


"Selama dia tidak melakukan apapun, tidak ada yang bisa aku lakukan" jawab pak Yusni


"Sebenarnya ada masalah apa antara anda dan dia?" tambah Hendri yang juga ada di sana.


Pak Yusni pun menceritakan bahwa Sebenarnya tidak ada persaingan bisnis antara Hendrik Panser dan Yusni Lukman. Hanya saja perselisihan mereka dimulai ketika Hendrik yang berencana melebarkan produksinya hingga ke Jogjakarta.


Mempertimbangkan bahwa Lukman Corp mempunyai banyak perusahaan dibawahnya dengan bidang bisnis yang berbeda dan tempat yang dianggapnya cocok, Hendrik ingin membeli beberapa anak perusahaan Lukman Corp di Jogja.


Namun saat itu Yusni menolak tawaran Hendrik secara halus, sebenarnya pak Yusni mengetahui kalau dibelakang Hendrik ada kelompok Kurassha. Hanya saja dia tidak tau mengenai kegiatan Hendrik di dunia bawah.


Penolakan Yusni terhadap keinginan Hendrik itu malah memunculkan amarah di dalam diri Hendrik. Dia merasa kalau pak Yusni menghalangi rencananya untuk memperluas Produksinya.


Dengan berbekal kelompok Kurassha, Hendrik berbicara dengan nada seolah mengancam kepada pak Yusni saat meninggalkannya. Saat itulah pak Yusni mencari bodyguard dan mendapat rekomendasi bahwa Thorn adalah perusahaan pengawalan yang baik dan paling sering berurusan dengan Kurassha.


Heru memang mengetahui mengenai orang bernama Hendrik Panser itu, dan mengenal watak dan sifatnya. Setelah diam sesaat, dia meminta Hendri dan Jonathan pergi untuk berjaga di rumah pak Yusni.


"Kenapa?" tanya pak Yusni bingung


"Hendrik itu, dia akan menyingkirkan orang yang dianggapnya sebagai penghalang. Dan dari perbincangan Julia dan Tirta saat itu, bisa dibilang nama anda sudah disebut oleh Hendrik dan mungkin terkenal diantara kelompok Kurassha dengan hadiah besar" jelas Heru


Mendengar penjelasan dari Heru, pak Yusni menjadi sedikit panik. Namun dia teringat perkataan Heru yang menyebutkan bahwa Hendrik mempunyai bisnis ilegal menjual organ manusia.


"Apa kau tau dimana operasi ilegal Hendrik dilakukan?" tanya pak Yusni


"Saya tidak tahu, saya hanya mendapatkan informasi kalau dia dan orang-orangnya sering melakukan transaksi itu di pelabuhan" sahut Heru


Beberapa saat kemudian, ponsel milik pak Surya berbunyi. Dia pun segera berdiri dari sofa dan mengangkat panggilan itu.


Raut wajahnya tiba-tiba berubah seperti orang yang baru saja mendengar berita buruk.


"Bagaimana bisa?" tanya pak Yusni dengan nada tinggi


Lima menit kemudian pak Yusni mengakhiri panggilan itu dengan wajah terlihat gelisah.


"Ada apa pak?" tanya Heru


"Anak perusahaan yang ada di Sleman dan Bantul baru saja terbakar. Sepertinya Hendrik sudah mulai"


Pak Surya di temani Heru dan dua anggota Thorn pergi ke daerah Bantul untuk melihat kondisi perusahaan yang terbakar. Sebelum berangkat, pak Yusni menghubungi temannya yang berada di kepolisian dan mengatakan kalau perusahaannya dibakar oleh seseorang.


Sesampainya di sana, tiga buah mobil pemadam baru saja selesai melaksanakan tugasnya. Namun yang tersisa hanya puing-puing bangunan yang hangus dan dinding beton yang menghitam.


Polisi memeriksa tempat itu, di sana bahkan terdapat mayat 4 satpam yang bertugas jaga malam di sana. Mayat itu memang berada di dalam gedung, namun kematian mereka bukan karena terbakar, melainkan luka tembak di tubuh. Hal itu diketahui dari peluru yang ada pada mayat yang terbakar.


"Kami akan menyelidiki kejadian ini" ucap polisi teman pak Yusni


"Sebaiknya begitu" balas pak Yusni


*Semarang*


sementara itu dalam sebuah klub malam di Semarang, terdapat seorang pria yang mengenakan setelan berwarna biru malam dengan rambut klimis, hidung mancung dan brewok dan kumis tipis.


Orang itu adalah Hendrik panser, seorang direktur perusahaan Panser Tekstil yang juga sekaligus pimpinan Kurassha di Jawa Tengah.


Hendrik duduk di sofa panjang berbentuk huruf U bersama dengan para bawahannya, yaitu para ketua cabang wilayah Jawa Tengah. Dua wanita berpakaian seksi di sebelah kanan dan kiri untuk menemani Hendrik menikmati minuman keras yang ada di atas mejanya.


Mereka dengan santainya menikmati alunan musik dengan suara yang sangat keras dilengkapi dengan kelap kelip lampu warna warni.


Beberapa saat kemudian salah seorang ketua menerima sebuah panggilan, panggilan yang mengatakan kalau tugas sudah dilaksanaka. Setelah panggilan itu ditutup, dia membisikkan kepada Hendrik hasil percakapannya di telepon.


Hendrik tiba-tiba tertawa lepas setelah mendengar bisikan dari anak buahnya. Suasana hatinya menjadi sangat senang, kemudian mereka mengangkat gelas masing-masing yang berisi minuman ke udara dan mengadukannya hingga berdenting.


Sesaat setelah meminum minuman di gelas itu, kali ini Handphone milik Hendrik berdering. Dia mendapat panggilan dari Rei agar berkumpul di markas utama besok siang.


Usai panggilan tersebut, Hendrik memberitahukan kepada anak buahnya mengenai perintah untuk berangkat ke Jakarta besok.


"Apa karena kematian Julia bos?"


"Mungkin saja, kekosongan itu memang jadi masalah. Tapi menurutku, kematian Seichi yang menjadi sebab utama para ketua dikumpulkan" ucap Hendrik


"Padahal tinggal sedikit lagi, rencana kita mengambil alih negeri akan dijalankan. Sekarang malah harus mundur lagi"


Setelah diam sejenak, mereka melanjutkan bersenang-senang di club malam tersebut dan menambah jumlah wanita untuk menemani mereka.


*Jakarta*


Keesokan harinya, Riyan bersama Mila pergi dari Hotel Nova pukul 10.00 dan menuju ke bandara menggunakan Taksi.


Setelah tiba di Bandara, Riyan dan Mila membawa barang bawaan mereka. Namun hanya Mila yang akan pulang kembali ke Muriya, sedang Riyan masih akan bertahan di Jakarta.


"Kau bisa sendiri kan? aku sudah meminta tante Tari untuk menjemputmu di sana" ucap Riyan


"Siap kak, tapi kenapa kakak tidak ikut pulang?" tanya Mila yang penasaran.


Setahu Mila, kakaknya tidak ada keperluan untuk tetap tinggal di Jakarta.


"Kakak ada sedikit Janji dengan seseorang" sahut Riyan


Meski tidak puas dengan jawaban dari kakaknya, Mila tidak melanjutkan rasa penasarannya dengan menambah pertanyaan lagi. Mila pun pergi memasuki ruang tunggu pesawat, sesaat kemudian pesawat ke Muriya siap berangkat dan para penumpang menaiki pesawat itu.


Riyan kemudian menelpon Safri. setelah menunggu sedikit lama, panggilan dari Riyan akhirnya di jawab.


"Halo, ada apa bos?" ucap Safri


"Mila sudah naik pesawat, kau jemputlah dia bersama Tari sekitar 50 menit lagi!" ucap Riyan


"Oke, laksanakan" sahut Safri


Kemudian Riyan menutup panggilan tersebut dan kembali ke parkiran bandara.


"Pria bernama Afri waktu itu, apa kau memindainya?" tanya Riyan


[Ya, saya sempat melakukannya waktu itu. Apa anda ingin mengetahui lokasinya]


"Benar, berapa lama yang kau perlukan?"


[Tergantung seberapa jauh orang itu berada, saya akan memulai titik pencarian dari diskotik Xforu]


"Lakukanlah! kalau perlu kali ini aku akan menghabisi semua anggota Kurassha, dan kita akan mulai dari orang bernama Afri itu"