NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 75 Lima Kamar



Malam hari pukul 11.00 Riyan kembali mengunjungi Pabrik kertas itu disaat sudah tutup. Disana terdapat dua bangunan, satu sebagai tempat pengolahan dan satu lagi bangunan yang lebih kecil sebagai gudang penyimpanan.


Sebagian besar lampu pada pabrik itu dimatikan, hanya lampu bagian luar yang masih tetap menyala. Bahkan pintu gerbang masuk pabrik yang terbuat dari besi juga sudah terkunci gembok.


Riyan melihat pos satpam dari celah pagar gerbang, di sana terdapat dua orang satpam shift malam sedang berjaga. Riyan pun memakai armor hitamnya dan melompat ke atas tembok samping pabrik dan turun perlahan.


Dari tembok pagar, terlihat pintu besar berwarna biru yang terbuat dari besi untuk masuk kedalam pabrik. Lampu terang yang berada di atas pintu besar tersebut membuat Riyan tidak bisa bersembunyi, sehingga dia memutuskan jalan masuk dari jalan lain.


Riyan meminta Alpha memunculkan hologram bangunan itu kembali, dari hologram itu terlihat sebuah kamar di dalam pabrik itu dengan dua orang di dalamnya di atas pintu masuk menuju bawah tanah. Sedang dari bawah tanah terdapat 5 ruangan diantara lorong panjang, dimana tiap ruangan terdapat banyak titik merah.


"Dua titik merah itu pasti penjaga" ucap Riyan, kemudian Riyan melihat sebuah jalan masuk baru yaitu pintu belakang yang lebih kecil.


"Kalau begitu aku akan lewat pintu belakang ini saja" lanjut Riyan mempercepat langkahnya menuju pintu belakang itu.


Pintu belakang adalah jalan yang digunakan untuk memindahkan kertas yang sudah jadi ke dalam gudang penyimpanan yang ada di seberangnya. Pintu itu terdiri dari dua daun pintu geser berwarna coklat yang terbuat dari besi dengan engsel tengah.


Riyan melihat dari celah pintu kalau pintu itu terkunci dari dalam dengan engsel yang di gembok, dia pun kemudian mengendalikan nano material di tubuhnya untuk membuka kuncinya. Riyan membuka telapak tangan kanannya, nano material keluar dari tangan Riyan dan masuk melalui celah antara dua daun pintu ke dalam pabrik.


Dengan memfokuskan pikirannya, Riyan memasukkan material nanonya kedalam lubang gembok. Sesaat kemudian gembok yang sudah dipenuhi material nano itu terbuka.


Menggunakan material nano yang dibentuk seperti tentakel gurita, Riyan melepas gembok dari pintu dan membuka engselnya perlahan agar tidak mengeluarkan suara kencang. "Sreek" Riyan membuka pintu belakang itu hanya selebar tubuhnya dan melangkahkan kakinya memasuki pabrik.


Dalam ruangan pabrik itu, tidak banyak yang bisa terlihat karena tidak ada lampu yang menyala di sana. Penerangan hanya berasal dari cahaya bulan yang masuk melalui jendela kaca pada bagian atas dinding pabrik.


Saat itu dalam penerangan bulan yang seadanya, Riyan perlahan menuju sebuah ruangan yang mengeluarkan cahaya dari celah pada bawah pintunya. Itu adalah ruangan tempat dimana terdapat pintu rahasia yang mengarah ke ruang bawah tanah.


"Klek..klek..klek" gagang pintu berulang kali bergerak. Riyan berusaha membuka pintu ruangan itu, namun lagi-lagi merupakan sebuah pintu yang terkunci dari dalam.


Melihat gagang pintu yang bergerak-gerak, kedua penjaga saling berpandangan. Penjaga yang berada di dalam ruangan itu, kemudian mempersiapkan senjata mereka dan mendekati pintu untuk membukanya.


Begitu pintu dibuka, Riyan dengan cepat menghajar kedua orang itu hingga membuat mereka pingsan. Riyan mengambil salah satu senjata api mereka.


Menurut hologram yang di tunjukkan Alpha, harusnya pintu masuk menuju ruang bawah tanah ada di dalam ruangan itu. Namun di ruangan dengan ukuran 4 m persegi itu, hanya terlihat dua meja dan dua kursi.


Satu meja besar tempat meletakkan dispenser dan gelas yang menempel pada dinding, serta satu meja lagi berada di tengah ruangan dengan sepasang kursi.


Alpha kembali melakukan pemindaian ruangan itu, sebuah jalan masuk memang terdapat di balik meja yang menempel pada dinding. Alpha kemudian meminta Riyan menekan sebuah tombol di samping dispenser yang ada di atas meja itu.


Begitu tombol di tekan, seketika meja itu bergeser dan memperlihatkan sebuah lubang pada lantainya. Lubang dimana terdapat tangga menuju ruang bawah tanah.


Riyan menuruni tangga itu hingga sampai pada lorong sepanjang 50 meter dengan lampu di bagian atasnya tiap 10 meter. Terdapat 5 buah pintu dengan posisi bersebrangan, 2 pintu masing-masing di sebelah kanan kiri dan satu pintu di ujung lorong.


Dari hasil pindaian Alpha, sekarang hanya kamar yang berada di ujung lorong yang berisi titik merah paling sedikit dari kamar yang lainnya. Pada setiap kamar berisi sekitar 10-15 titik merah, sedang di kamar ujung hanya ada 6 titik merah.


"ruangan itu,,kemungkinan ruang bos tempat ini atau bisa juga ruang tawanan" gumam Riyan


Karena semua orang di berikan tanda titik merah pada hologram, Riyan tidak bisa mengambil kesimpulan dimana ruangan adiknya berada. Meski begitu, Riyan tetap berjalan perlahan menuju pintu warna hitam yang berada di ujung lorong dengan jumlah orang paling sedikit.


Di depan pintu yang ada di ujung lorong, Riyan berharap menemukan adiknya di dalam ruangan itu. Perlahan Riyan memegang gagang pintu berwarna hitam dan membukanya.


*Kamar Tawanan*


Seperti biasa, lampu di kamar tawanan dimatikan. Mila dan yang lainnya saat itu sedang berbaring diatas tempat tidur masing-masing.


Tiba-tiba gagang pintu kamar itu bergerak, dan pintu perlahan terbuka membuat cahaya lampu dari luar masuk ke dalam kamar gelap itu hingga mencapai wajah Mila.


Cahaya terang itu membuat Mila terbangun dari tidurnya, mata yang masih setengah mengantuk itu melihat bayang-bayang seorang pria berdiri di tengah pintu.


Lampu kamar kemudian dinyalakan oleh pria tersebut, cahaya terang dari lampu itu membuat para gadis yang sedang tidur segera terbangun.


Beberapa gadis kaget melihat Kevin berdiri di tengah pintu itu. Dengan kehadiran Kevin disitu, para gadis yang sudah lama ditawan mengetahui dengan pasti kalau Julia kemungkinan juga berada di tempat itu.


"Anak baru, ikuti aku!" ucap Kevin


Mila dan dua orang lain dengan perasaan was-was mengikuti pria yang tidak mereka kenal itu.


*Pabrik Kertas*


Di balik pintu berwarna hitam itu, Riyan melihat 3 orang pria bersama 3 gadis setengah telanjang. Dua diantaranya tengah teler akibat narkotika, dan satunya berusaha berontak dari pelukan seorang pria di sana.


Gadis itu berteriak minta tolong kepada sosok hitam yang tidak dikenalnya, sedang para pria yang terkejut melihat sosok hitam Riyan segera bangun dan menyerang Riyan. Dengan senjata yang di ambilnya dari penjaga sebelumnya, Riyan menembak ketiga pria itu. Suara tembakan dalam ruangan bawah tanah tersebut membuat suara itu bergema dan terdengar ke seluruh ruangan lain.


Semua pintu seketika terbuka, penjaga yang ada di tiap kamar keluar dari ruangannya masing-masing. Melihat seseorang seperti ninja hitam, Tanpa ragu mereka langsung menghujani Riyan dengan ratusan peluru.


Riyan segera masuk ke ruangan dan menutup pintu hitam itu untuk melindungi para gadis di ruangan itu. Tentu saja pintu itu tidak begitu berguna menghadapi senjata M416 milik penjaga. Dalam beberapa detik pintu hitam itu dipenuhi lubang peluru.


Riyan bersama satu gadis yang sadar membawa masing-masing gadis yang teler merapat ke dinding agar terhindar dari hujan peluru yang datang dari pintu.


"kau tunggu disini" ucap Riyan


Riyan keluar dari ruangan itu dan membalas tembakan para penjaga, baku tembak sengit pun terjadi di lorong itu. Sebagian dari penjaga ketakutan dan kembali ke ruangannya untuk berlindung dari tembakan Riyan.


Itu disebabkan karena tidak ada satupun peluru milik mereka dapat menembus armor Riyan. Suara tembakan yang bersahutan dalam lorong itu berkurang drastis dengan kematian sebagian besar penjaga.


Riyan yang kehabisan peluru membuang senjatanya dan meraih kalung yang merupakan perwujudan dari pedang oriental dengan menghilangkan armor hitam pada bagian lehernya.


"Bankai" ucap Riyan


Dengan pedang oriental di tangannya, Riyan berlari menuju pintu yang ada di lorong itu satu persatu.


Pada ruangan pertama Riyan disambut dengan tembakan 6 penjaga yang tersisa. Riyan melaju dengan cepat, berguling kemudian menebas dan menusukkan pedangnya ke tubuh para penjaga dengan cepat.


Dalam ruangan itu terdapat banyak sekali narkoba yang sudah siap untuk di edarkan. Namun karena tujuan Riyan saat ini adalah Mila, dia segera keluar dari ruangan itu dan menuju ruangan kedua.


Dalam ruang kedua itu, Riyan mendapatkan serangan kejutan dari balik pintu. Sebuah senjata api terarah di belakang kepalanya, dan tembakan pun dilakukan oleh penjaga itu untuk menyingkirkan Riyan.


"Klink...klink..klink" peluru dari senjata penjaga itu berjatuhan setelah menghantam armor hitam Riyan yang ada di kepalanya.


Riyan berpaling kemudian menusukkan pedang oriental ke jantung penjaga itu. Tiga orang lain yang berada di sana ketakutan dan menembak Riyan membabi buta. Riyan berjalan mendekati ketiganya, di ruangan itu mereka tidak bisa lari.


"Sreet...sreeet....sreet"


Ketiga tubuh penjaga itu seketika roboh terbaring di lantai. Melihat tidak ada siapapun lagi di sana, Riyan keluar dari ruangan itu dan menuju ruangan selanjutnya.


Ruang ketiga kali ini melakukan penyambutan yang sama seperti pada ruangan pertama, Riyan dihujani peluru ketika membuka pintu. Dengan kecepatan yang sangat cepat dan pedang oriental di tangannya, Riyan menghabisi semua penjaga yang tersisa di ruangan itu.


Hanya tersisa satu Ruangan, dia berharap adiknya berada di sana. Namun ruangan terakhir adalah ruangan yang digunakan untuk pengolahan narkoba. Banyak orang di sana sedang meracik obat dan lainnya.


Selain penjaga bersenjata, para petugas yang mengolah narkoba juga ikut menyerang Riyan. Pada ruangan terakhir ini, Riyan berkelahi dengan orang-orang itu sambil mencari pintu lain di sana. Namun tidak terlihat adanya satu pintu pun di ruangan tersebut.


Riyan kemudian menyisakan satu orang penjaga untuk diberikan pertanyaan. Riyan memegang leher penjaga itu dengan tangan kirinya dan menempelkan tubuhnya hingga ke dinding.


"Dimana Julia?" tanya Riyan


"Dia tidak disini, mungkin berada si markas atau rumahnya" jawab penjaga itu


"Dimana markasnya?" tanya Riyan lagi


"Aku tidak tau, aku hanya bertugas membuat narkoba di tempat ini" jawab penjaga itu


"Jleb" tusukan pedang oriental membuat penjaga itu kehilangan nyawanya.


"Sial" gumam Riyan


Dia keluar dari ruangan itu, dan kembali menuju ruangan ujung lorong untuk menjemput para gadis di sana. Para gadis itu senang melihat Riyan yang kembali ke ruangan itu setelah baku tembak.


Gadis yang sadar memperkenalkan dirinya bernama Riska. Tanpa memperkenalkan diri, Riyan menyuruh Riska untuk membantu memapah salah seorang gadis yang teler. Kemudian Riyan memimpin jalan ke luar dari tempat itu.


"Apa anda semacam polisi rahasia?" tanya Riska


"Bukan" jawab Riyan


"Lalu kenapa anda kemari?" tanya Riska lagi


"Aku mencari adikku yang di bawa Julia, ada yang bilang disini markas kelompoknya makanya aku kemari" jelas Riyan


"Saya tidak tau tempat itu markas atau bukan, tapi sebelum saya dikirim kemari, saya dikurung d sebuah kamar bersama beberapa gadis lain" ucap Riska


"Dimana tempatnya?" Kali ini Riyan yang bertanya dengan rasa penasaran


"Sebuah diskotik, saya sempat melihat namanya saat penutup mata saya terbuka sedikit. Nama tempat itu adalah yaitu XForu" jelas Riska


"Terima kasih" ucap Riyan


"Sepertinya perburuan malam ini akan terus berlanjut" gumam Riyan dalam hati