
Sementara itu Riyan dan cindy berlatih seperti kemarin di tengah hutan. Cindy melanjutkan mempelajari tahap IV bagian kedua, yaitu mempelajari gerakan metafisika.
Riyan menjelaskan kepada Cindy bahwa energi metafisik adalah energi yang lebih halus dari pada bentuk-bentuk energi yang pada umumnya kita kenal lewat studi ilmu fisika.
"Untunglah kekasihku ini jago fisika ya" puji Cindy
"tapi energi ini tidak sesederhana itu Cin, kita akan coba mengikuti petunjuk dari gambar saja" balas Riyan
Di dalam gambar salinan buku tua, untuk melatih tenaga metafisika terdapat 2 faktor utama yang harus dilatih, yaitu penguatan aura sebagai tenaga, dan pikiran sebagai pengendalinya. Untuk penguatan aura sudah dilakukan dengan latihan pernafasan sebelumnya.
Selanjutnya untuk latihan pengendaliannya dengan melakukan penyerapan energi alam dan keinginan. Karena pada saat seseorang mempunyai keinginan, secara otomatis otak mengirimkan perintah ke tubuh untuk melakukannya.
Riyan meminta Cindy melakukan gerakan seperti pada gambar yang ada pada tahap IV dan menyuruhnya untuk berkonsentrasi merasakan aliran energi di tubuhnya. Riyan memandu setiap gerakan Cindy dan kemana aliran energi yang harus dia salurkan.
Sampai pada gerakan akhir saat kedua telapak tangan Cindy mendekat, Riyan meminta Cindy untuk menjauhkan jarak antara kedua telapak tangan perlahan-lahan apabila terasa sensasi energi yang cukup kuat.
Cindy terus mengulang gerakan dan latihan itu sambil tetap merasakan sensasi energi yang ada. Hingga akhirnya percikan listrik keluar dari kedua telapak tangan Cindy, kemudian Cindy menjauhkan kedua tangannya dan listrik itu hilang.
Setiap sel tubuh Cindy memancarkan energy listrik, karena jumlahnya yang sangat banyak, energy tersebut memancar disekitar tubuh Cindy dan membentuk sebuah perisai listrik yang dapat melindungi dirinya dari berbagai serangan.
Saat sore hari, Cindy sudah berhasil mengendalikan kemampuan petir dalam dirinya berkat latihan pernafasan dan metafisik. Dia mampu membuat seluruh tubuhnya terlindung listrik dalam sesaat, dan mempercepat lompatan sel listrik dalam tubuhnya sehingga mampu melakukan serangan cepat.
"Jadi bagaimana dengan tahap akhir?" tanya Cindy
"ini, kau bisa mempelajarinya! aku tidak terlalu mengerti dengan isinya" ucap Riyan memberikan tiga lembar kertas yang berisi terjemahan tulisan sansakerta pada tahap V.
"Terima kasih sayaang" ucap Cindy bahagia
Merekapun akhirnya memutuskan untuk pulang karena sudah jam 5 sore. Kemampuan Cindy pun juga sudah meningkat sangat pesat hanya dalam waktu dua hari berkat bimbingan Riyan.
Setelah mengantar Cindy dan pamit dengannya, Riyan pun langsung pulang kerumahnya. Setibanya tiba di rumah, dia merasa aneh saat mengetahui tidak ada mobil dirumahnya.
"apa tante Tari belum pulang" pikir Riyan
Riyan pun berjalan untuk masuk ke dalam rumah namun pintu rumahnya terkunci.
"Mungkin Mila bersama tante Tari" gumam Riyan
Dia pun menggunakan kunci miliknya untuk masuk kedalam rumah. Usai mandi dan berganti pakaian, Tari dan Mila masih belum juga datang. Riyan mencoba menelpon adiknya namun tidak ada jawaban. Perasaan hati Riyan menjadi semakin tidak enak.
"Alpha, dimana posisi Mila?" ucap Riyan
Alpha melakukan pelacakan kepada ponsel milik Mila dan lima detik kemudian Alpha mendapatkan lokasinya.
[Rumah sakit tuan]
"Eh..kenapa di rumah sakit?apa Mila sakit?atau Tari?" gumam Riyan
Sesaat kemudian pengawal yang menjaga rumah Riyan keluar dari pos dan mendekati Riyan. Dia memberitahukan bahwa rekan pengawalnya yang menjaga Tari dan Mila sedang dirawat dirumah sakit karena luka tembak.
Riyan pun semakin khawatir, dia bergegas pergi ke rumah sakit bersama seorang pengawal yang meminta untuk ikut.
*Rumah Sakit*
Didepan rumah sakit, banyak polisi sedang berbincang dan di tempat parkir terlihat mobil Riyan berada di sana. Ketika melihat mobilnya, Riyan langsung masuk dan menuju loket informasi untuk bertanya dimana ruangan pengawal Tari dirawat. Disaat itu seorang wanita memperhatikan Riyan secara diam-diam.
Setelah mendapatkan informasi mengenai ruangannya, Riyan bersama pengawal yang ikut dengannya pergi menuju kamar yang dimaksud.
Di dalam kamar itu, Riyan mendapati satu orang pengawalnya tidak sadarkan diri akibat luka tembak di tubuhnya, dan satu lagi hanya luka ringan dan memar tengah duduk di samping tempat tidur menunggu temannya.
Mata Riyan tertuju kepada sebuah tas berwarna biru muda milik adiknya, Riyan mengambil tas itu dan melihat handphone adiknya berada didalam tas itu.
"Pantas saja Alpha melacak Mila berada disini" pikir Riyan
Riyan pun kemudian menanyakan apa yang terjadi kepada pengawal yang terluka ringan. Belum sempat menceritakan kejadian itu kepada bosnya, pintu kamar itu terbuka dan masuklah 4 orang mantan pengawal yang Riyan sewa.
Keempat orang itu adalah Jonathan, Adrian, Hendri dan Lei. Riyan heran melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu, sedangkan keempat orang itu juga kaget melihat Riyan.
"kenapa anda disini?" tanya Jonathan
"Dia adalah pengawal Tari, dan kenapa kalian kemari?" balas Riyan
"Dia teman kami" jawab Jonathan
Riyan baru ingat kalau pak Surya mengambil pengawal memang dari perusahaan yang sama dengan Jonathan dan yang lainnya. Saat itu karena mereka tidak bisa, makanya empat orang berbadan besar ini sebagai gantinya.
"Lalu apa yang terjadi?kupikir badan besar mu ini seperti tembok beton" tanya Adrian
Pengawal Tari pun menceritakan kejadian yang menimpa mereka. Berdasarkan Ciri-ciri dan lambang kaos yang dipakai, mereka bisa menyimpulkan kalau pelaku adalah Kurassha bawahan bos Tirta.
"jadi mereka masih mengincar nona Tari dan Mila" ucap Hendri
"sepertinya begitu, kupikir mereka sudah melupakan Tari" ucap Riyan
Setelah mengetahui cerita dari kejadian itu, Riyan mengambil kunci mobil miliknya dan pergi keluar ruangan itu dengan cepat untuk berangkat mengambil kembali Tari dan adiknya.
"Kurasa sekarang kita tidak menyerang sendirian" ucap Lei
"menyerang?apa maksud kalian?" tanya pengawal yang ikut bersama Riyan
"Markas kita diserang, teman-teman dibunuh dan bos Heru di culik oleh kelompok yang sama dengan yang menculik adik majikan mu" jawab Lei
Seketika orang itu marah, dan memutuskan ikut menyerang kelompok Kurassha dibawah pimpinan bos Tirta.
"Kalau begitu kau ikutlah! kita berangkat malam ini, beberapa teman kita sudah menunggu di mobil" ucap Adrian
Pengawal yang bekerja dengan Riyan mengikuti Adrian dan yang lainnya menuju mobil mereka. Di dalam mobil itu senjata api, granat dan rompi anti peluru sudah siap.
Dengan bergabungnya pengawal Riyan, sekarang mereka berjumlah 12 orang. Mereka adalah orang yang tidak peduli bisa kembali dengan selamat atau tidak, asal bisa membebaskan bos mereka pak Heru.
Mobil pun dijalankan dengan berisi sejumlah orang yang siap berperang. Sedangkan didepan mereka, ada seorang kakak yang siap membantai ratusan orang untuk membawa adiknya kembali.
*Kediaman Bos Tirta*
Sore itu di ruang tengah, Bos Tirta ditemani secangkir kopi dan cerutu dengan santainya menonton TV bersama Mak. Suara mobil tiba-tiba terdengar datang dari arah halaman rumahnya.
"sepertinya mereka sudah datang" ucap Mak
Akan tetapi dugaan Mak salah, orang yang muncul dari arah luar mendekati mereka adalah Julia. Wanita itu muncul mengenakan kemeja merah dengan celana legging panjang hitam.
"Mau apa lagi kau kemari?" bentak Mak
"Uuuwh...galak sekali, aku hanya ingin tau bagaimana hasil dari 'mengatasi masalah' yang kau lakukan" ucap Julia
Julia kemudian duduk pada sofa tunggal bos Tirta. Beberapa saat kemudian suara mobil berhenti secara bergantian terdengar dari arah teras rumah.
"sepertinya hasilnya akan segera diketahui" ucap Julia
Semua anak buah bos Tirta turun dari mobil, namun hanya para ketua yang masuk menemui bos Tirta untuk memberi laporan. Bos Tirta beralih menuju sofa panjang yang berhadapan, kemudian mempersilahkan anak buahnya untuk duduk dan menyampaikan laporan kepadanya.
"Bagaimana hasilnya?"tanya bos Tirta
"Sapathawung dijaga oleh polisi, dua orang kelompokku menderita luka tembak. Bahkan kami tidak sempat bertemu dengan penduduk" ucap salah satu pimpinan tim
"Owh, mengejutkan sekali" ejek Julia dengan nada merendahkan
"Julia diamlah!" ucap Bos tirta
"Baiklah, mereka anak buahmu. Lanjutkan saja!" ucap Julia
Bos Tirta sedikit kecewa dan kesal dengan laporan yang didapatnya. Dia merasa malu dan khawatir dengan adanya Julia disana. Namun dia menahan emosinya dan melanjutkan pertanyaan kepada ketua yang lain.
"Bahat, bagaimana dengan Thorn?"
"Menyerang mereka tidak mudah, banyak orang ku dan orang Iryas yang tewas. Tapi kami berhasil membawa Heru dan salah seorang kliennya kemari" jawab Bahat
"Dimana mereka sekarang?" tanya
"Garasi, aku menyuruh anak buahku membawa kesana" jawab Iryas
Bos Tirta meminta Heru dan kliennya untuk dimasukkan ke kamar belakang tempat Mila dahulu di kurung. Namun sebelumnya kedua tawanan itu dipertemukan dengan bos Tirta di ruang tengah dalam keadaan tangan terikat ke belakang dan memakai penutup kepala.
Bos Tirta melepaskan penutup kepala Heru dan Kliennya. Heru terlihat kesal melihat Tirta.
"ternyata memang kau Tirta, apa yang kau inginkan?" ucap Heru
"Tidak banyak, aku hanya membersihkan duri yang mungkin akan menghalangi jalan kami. Kau terlalu sering berurusan dengan Kurassha sejak setahun yang lalu" jelas bos Tirta
"Jadi dia Heru yang dikatakan selalu menghalangi operasi Kurassha dengan pengamanannya" ucap Julia memperhatikan Heru
Bos Tirta mengalihkan pandangannya ke arah klien Heru, seorang pria tua berumur 53 tahun dengan rambut putih dan kacamata bulat. Dia baru mengingat kalau orang itu adalah pengusaha ternama dari jogja, Yusni Lukman.
"CEO Lukman corp, kebetulan sekali. Ketua cabang Jawa Tengah pasti senang aku menangkapmu" ucap bos Tirta
"Siapa yang kau maksud?" tanya pak Yusni
"Kau tidak tau?" ucap Tirta mendekatkan wajahnya
"Hendrik Panser, blasteran Rusia Sulawesi. Pengusaha tekstil di atas, tetapi penjual organ di dunia bawah" jelas Heru tiba-tiba
Pak Yusni terdiam mendengar penjelasan Heru, dan Bos Tirta kembali memalingkan wajahnya kepada Heru.
"Wow, kau tau banyak rupanya" ucap bos Tirta
"kalau kau ingin menyerahkan Yusni kepada Panser, aku bersedia mengantarkan orang ini untukmu" ucap Julia
"Dan membuatmu mendapatkan hadiah darinya?kurasa tidak, aku akan membawanya sendiri kepada Panser" balas bos Tirta
"terserah padamu" ucap Julia
Kemudian satu buah mobil lagi dari kelompok lainnya tiba, bos Tirta menyuruh Iryas dan Bahat membawa Heru dan Yusni ke kamar belakang.
Tidak berapa lama, lima orang masuk bersama-sama dengan membawa Tari dan Mila. Bos Tirta menyambut kedatangan mereka dengan sedikit senyuman melihat Tari dan Mila bersama mereka.
"Maaf bos, kami gagal menangkap gadis itu. Tapi kami membawa wanita dan anak ini" ucap seorang dari mereka
"Bagus, satu kegagalan lagi" ucap Julia
Mak yang kesal tiba-tiba melakukan tendangan kearah Julia yang sedang duduk di sofa. Tanpa beralih dari sofanya, Julia menahan tendangan itu dengan tangannya dan mengait satu kaki Mak sehingga membuatnya terjatuh.
"Hentikan!" Teriak bos Tirta
Mak berdiri dari lantai, dan Julia hanya melemparkan senyuman kepada Mak dari sofa.
"Tidak masalah, kedua orang ini akan membuat Riyan datang kemari" ucap bos Tirta
Bos Tirta melangkah mendekati Tari dan Mila yang mulutnya tertutup oleh kain dan tangan terikat tali.
"Selamat datang kembali, mantan pembantu rumah tanggaku yang cantik dan gadis kecil nakal" ucap bos Tirta
Sekarang hanya kelompok yang mencari informasi mengenai kematian Mike dan Brian yang belum tiba karena masih belum menemukan informasi apapun.
Bos Tirta menyuruh anak buahnya untuk menyatukan Mila dan Tari dengan kedua orang tahanan sebelumnya di kamar belakang.
"Tunggu!" pinta Julia
Mereka pun berhenti, Julia bangkit dari kursinya dan mendekati Tari dan Mila. Julia mengelilingi mereka dan memandangi Mila dengan sangat fokus.
"Gadis kecil ini akan ku bawa" ucap Julia
Sontak Tari dan Mila kaget mendengar itu. Bahkan bos Tirta ikut menanyakan tujuan Julia membawa adik Riyan itu.
"bukankah kau mendengar apa yang kukatakan?gadis itu sebagai umpan untuk membuat kakaknya datang kemari" ucap bos Tirta
"kakaknya hanya perlu tau kalau gadis ini berada disini kan?jangan jadi orang bodoh!" Balas Julia
"Aku akan membawa gadis manis ini dan memberikannya kepada bos besar, jika kau tau maksudku" tambah Julia kemudian membawa Mila pergi dari sana.
Semuanya hanya terdiam dan membiarkan Julia membawa Mila pergi. Anak buah bos Tirta kembali membawa Tari kedalam kamar belakang untuk ditahan.
"Sekarang bagaimana bos?" tanya Mak
"Biarkan saja dia, Kalian semua bersiaplah!kemungkinan besok Riyan akan kesini untuk menolong adiknya itu" ucap bos Tirta
"Bagaimana dengan Heru dan Yusni?" tanya Bahat yang baru saja kembali dari kamar belakang.
"Yusni akan kita serahkan kepada Hendrik, sedang Heru akan ku jadikan contoh bagi perusahaan pengamanan yang melawan kelompok Kurassha" jawab bos Tirta
Malam itu semua orang diperintahkan untuk berjaga secara bergantian, mulai dari pagar hingga pintu rumah. Tidak kurang dari 100 orang bersenjata yang berjaga di kediaman bos Tirta untuk menghadang Riyan.
Melihat banyaknya orang yang berjaga di pagar hingga pintu masuk, Mak yang merasa hal itu terlalu berlebihan menemui bos Tirta yang berada di depan TV.
"Bos, apa benar semua ini hanya untuk menghadapi satu orang?" tanya Mak kepada bos Tirta yang sedang duduk di teras pintu.
"dia tidak akan sendirian, terakhir kali rumah ini menjadi tempat pembantaian dengan kedatangannya. Dia pasti membawa temannya yang waktu itu lagi" jawab bos Tirta
Disaat itu Riyan memacu mobilnya dengan sangat cepat dan terbawa emosi, dimana menurut perhitungan Alpha bahwa Riyan akan hadir di kediaman bos Tirta sekitar 3 jam lagi. Tidak jauh dari mobil Riyan, pasukan pengawal Thorn juga sudah siap menyerang pusat Kurassha cabang Kalteng.