NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 64 Buku Tua



*Kediaman Bos Tirta*


"Siapa dia?" tanya Mak


"Mantan Sekretaris sekaligus petarung kuat organisasi Kurassha cabang Jakarta, jangan terkecoh dengan kecantikannya atau kau bisa terbunuh" jawab bos Tirta


Bos Tirta berdiri menuju kamarnya, didalam kamar itu dia mengambil handphone dari atas meja di yang berada samping tempat tidur.


Dengan wajah serius bos Tirta menelpon beberapa nomer dan memerintahkan orang-orang yang dihubunginya untuk berkumpul dirumahnya besok sore. Bos Tirta kemudian kembali ke ruang tengah dan memberitahu Mak untuk memanggil beberapa pemimpin dari orang-orang mereka yang ada di kota Palangkaraya.


Sesaat kemudian Aldo memasuki ruang tengah rumahnya, dia adalah anak dari bos Tirta yang baru beberapa hari bebas dari tahanan secara diam-diam karena menggunakan pengaruh dari orang Kurassha yang berada di sana.


"Dari mana kau?" tanya bos Tirta


"Hanya jalan-jalan sebentar" jawab Aldo


"Kau harus hati-hati, jangan sampai ada yang melihatmu. Besok pagi kau harus berangkat ke Kanada, aku sudah mengatur tempat tinggal dan sekolahmu di sana" ucap bos Tirta


"Baiklah, apa Mike sudah datang?aku sedang menunggunya membawakan seseorang kepadaku" balas Aldo


"Dia tidak akan kembali kesini, apa kau tidak melihat berita?"


"Tidak, apa yang terjadi?" tanya Aldo lagi


Bos Tirta kemudian menceritakan peristiwa yang menimpa Mike dan anak buahnya. Aldo hampir tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, namun peristiwa itu beberapa kali muncul di pemberitaan media.


"Memangnya siapa yang akan dibawa oleh Mike?" Tanya ayah Aldo


"Gadis yang waktu itu ku culik dan membuatku masuk penjara" jawab Aldo


"Jadi kau meminta Mike menculiknya?" tanya ayahnya lagi


"Tidak, waktu itu dia menawarkan ku gadis cantik yang baru dia tangkap. Katanya sebagai hiburan setelah lama dipenjara. Mike mengirimkan fotonya yang ternyata adalah gadis yang membuatku masuk penjara. Karena itu aku memintanya untuk membawa gadis itu kemari" jelas Aldo


"Lupakan saja hal itu, ayah akan menyelesaikannya. Kau fokus saja berada di Kanada sampai masa tahanan mu habis, kemudian kembalilah kesini!" ucap bos Tirta


Aldo menyetujui permintaan ayahnya dan berjalan menuju kamarnya.


"Kalau terkait dengan masalah Aldo, berarti bocah bernama Riyan itu kemungkinan juga terlibat. Aku akan membereskan mereka nanti sekaligus" pikir bos Tirta


*Pabrik tua*


Delapan siswa dari sekolah lain semuanya tersungkur kesakitan dilantai akibat pukulan dan tendangan Riyan. Dua orang dari mereka bangun dan mengambil patahan pipa besi yang ada di sekitar mereka.


Dengan pipa itu mereka mencoba memukul Riyan, dengan santainya Riyan menangkap pipa besi yang mengayun ke arahnya kemudian menggunakannya untuk menangkis serangan pipa dari siswa yang satunya.


Setelah kedua serangan itu dihentikan, tendangan Riyan mendarat di perut kedua orang itu hingga kembali tersungkur bersama temannya yang lain.


Meski tidak ada yang terluka parah, namun ketakutan untuk melawan Riyan membuat mereka tidak berani bangkit. Dari seragam dan emblem pengenal yang mereka kenakan, menunjukkan kalau mereka adalah siswa dari SMKN 5 Muriya.


"Apa kalian masih tidak mau pergi?" ucap Riyan


Semua siswa itu bangun serentak sambil memegang memar dan bengkak di tubuhnya, kemudian lari menuju mobil mereka. Mobil itu pun melaju cepat meninggalkan pabrik tua yang ada disana. Benny berdiri dengan susah payah dibantu Anton. Riyan memandang mereka dan tanpa bicara kembali menuju motornya.


"Terima kasih" teriak Benny kepada Riyan yang sudah duduk di atas motornya


"Aku hanya tidak suka melihat pembulian, apalagi pengeroyokan" balas Riyan


Kemudian dia mengenakan Helmnya dan menjalankan motornya meninggalkan Benny dan Anton di sana.


"Aku tidak mengira kalau orang yang kita bully dahulu malah datang menyelamatkan kita" ucap Anton


"kau benar, dan itu bukan pilihan mudah baginya untuk datang membantu kita" tambah Benny


Mereka berdua berjalan menuju mobil Benny dan mengistirahatkan tubuh mereka diatas kursi mobil.


"apa menurutmu kita terkena karma dari perbuatan kita dulu kepada Riyan?" ucap Anton


"Kalau hal seperti itu memang ada, mungkin saja. Sekarang aku tau bagaimana perasaan Riyan saat itu" jawab Benny


"Sekarang kita hanya berdua, Dani, Teddy dan Agung sudah pindah sekolah meninggalkan kota ini. Mungkin sebaiknya kita minta bantuan Riyan saja, dia sangat kuat sekarang. 8 orang itu saja bisa dikalahkannya tanpa mengeluarkan keringat" ucap Anton


"Jangan bercanda!selain perbuatan kita dahulu, kita bahkan bukan temannya. Lagi pula Teddy dan yang lainnya, mereka semua pengecut. Sampai pindah kota ketika bermasalah dengan anak-anak itu, memalukan sekali" balas Benny


"Jangan khawatir teman, aku akan menemanimu. Meski itu anak kelas 3 atau SMK 5, aku tidak akan mundur" ucap Anton


"Aku tau" sahut Benny


******


Riyan menjalankan motor Sportnya menuju rumah, dan terlihat dua penjaga Mila berada si pos penjaga. Riyan masuk kedalam rumah untuk mengganti pakaian dan meletakkan tasnya.


"Kakak mau kemana lagi?" tanya Mila melihat kakaknya pergi kearah luar rumah dengan pakaian rapi.


"Ada deh, bentar aja mau ke pusat kota" sahut Riyan


Kemudian Riyan mengajak salah satu pengawal yang menjaga Mila untuk ikut dengannya. Di perjalanan Riyan banyak menanyakan berbagai hal dengan pengawal itu. Karena kontrak mereka dengan Riyan hampir habis, Riyan berniat mempekerjakan mereka secara permanen.


Namun hal itu tidak bisa dilakukan karena mereka terikat dengan perusahaan pengawal. Riyan pun terpaksa mengurungkan niatnya, dan berniat mencari seorang penjaga untuk Mila dan Tari nanti.


Motor Riyan berhenti pada sebuah showroom mobil. Dia berencana membeli sebuah mobil untuk antar jemput Tari dan Mila. Setelah setengah jam di sana, akhirnya Riyan memutuskan membeli sebuah mobil keluarga model terbaru berwarna merah dengan kapasitas 6 orang.


Dengan bayaran dari Luke vargas senilai $100.000 atau setara dengan 1,8 Milyar Rupiah ditambah bayaran dari pak Surya, membeli sebuah mobil bukanlah masalah.


Riyan kembali menaiki motornya untuk pulang dan meminta pengawalnya untuk membawa mobil baru itu kerumahnya. Awalnya Mila bingung ketika sebuah mobil baru parkir di halaman rumahnya, namun perasaannya berubah sangat gembira ketika mengetahui Riyan membeli mobil baru untuk dia dan Tari.


Sore itu Riyan ingin mengejutkan Tari juga, Riyan menuju hotel di pusat kota dimana Tari bekerja untuk menjemputnya pulang.


Setibanya di tempat itu, di dalam mobilnya Riyan menunggu Tari selesai bekerja dan keluar dari hotel. Sepuluh menit kemudian, Tari keluar dari hotel dan dua orang penjaga yang ditugaskan Riyan segera mendekati Tari untuk mengawalnya.


"dengan dua orang seperti itu di samping Tari, siapa juga yang akan berani menggodanya" gumam Riyan


Riyan kemudian keluar dari mobilnya dan menemui ketiga orang itu. Tari begitu terkejut mengetahui Riyan membawa sebuah mobil baru untuk menjemputnya.


Tari duduk di samping Riyan yang memegang kemudi, serang dua pengawalnya berada di kursi belakang.


"Kau banyak uang ya?bisa beli mobil segala" tanya Tari


"Aku merasa kasihan melihat tante berjalan dan naik angkutan umum, belum lagi kadang harus menjemput Mila" tambah Riyan


"Kau baik sekali" balas Tari


*Markas NOZ bagian Nevada*


Di sebuah ruangan yang dipenuhi ornamen dan furniture yang didesain menyerupai abad pertengahan. Thomas baru saja tiba dari laboratorium prof Ednewt untuk menemui seorang pria dengan rambut pirang klimis dan mata tajam. Orang itu adalah Martin Wilson, salah satu pemimpin yang mengatur pergerakan NOZ di wilayah Nevada.


Disana terlihat Martin sedang duduk sambil berdiskusi bersama beberapa orang. Melihat kehadiran Thomas, Martin membubarkan diskusi yang mereka lakukan. Seketika ruangan itu hanya ada Martin dan Thomas.


"Apa yang sebenarnya terjadi di Las Vegas? kenapa banyak sekali korban pasukan kita?" tanya Thomas dengan tegas dan sedikit nyaring.


"Pelankan sedikit nada bicaramu! kau harus sadar posisimu" balas Martin


"Maaf, aku hanya ingin tau apa yang terjadi dan siapa yang bisa melakukan itu" ucap Thomas


"Menurut informasi, yang ada di sana adalah CIA, Interpol dan beberapa pengawal bayaran" balas Martin


"Meski tanpa kami, tidak mungkin mereka bisa mengalahkan pasukan kita. Apalagi ada Philip disana, dan kudengar Yorgi ingin mempekerjakan 7 pembunuh bayaran" tambah Thomas


Martin berjalan menuju sebuah meja yang berada di pojok ruangan dengan sebuah lampu hias dan beberapa map tertumpuk diatasnya. Dia mengambil sebuah map warna hijau yang berada paling atas.


"Itulah yang ingin ku selidiki, aku sudah mengerahkan anggota kita untuk mencari informasi. Yorgi hanya menyewa 5 pembunuh bayaran, 3 diantaranya tewas termasuk Philip dan Yorgi" jelas Martin menunjukkan daftar pembunuh bayaran yang disewa Yorgi kepada Thomas


"Orang-orang ini terbunuh? Kurasa selain kami, hampir tidak mungkin ada yang bisa membunuh mereka" ucap Thomas


"Sayangnya cctv di sana tidak membuahkan hasil apa-apa. Rekaman beberapa cctv hilang hingga kita tidak tau apa yang terjadi dan siapa yang menghabisi pasukan kita" jelas Martin


"Kenapa tidak mencari informasi dari dua orang yang selamat?" tanya Thomas


"satu dirumah sakit dalam keadaan sekarat dan dijaga CIA, dan satu lagi berada di penjara Varmont. Kalau kau bisa, carilah informasi dari mereka" jawab Martin


"Aku akan bawa beberapa orang. Hanya saja mengumpulkan orang-orang kolot ini perlu waktu, karena tidak ada satupun dari mereka yang mempunyai Handphone" balas Thomas


"Lakukan saja" sahut Martin


Thomas kemudian pergi meninggalkan bangunan itu, dia pergi menuju beberapa tempat seperti bar, kasino dan tempat pertarungan jalanan di Nevada untuk mengumpulkan beberapa orang.


*Kediaman Cindy/Perguruan Silat Naga Petir*


Sore itu murid naga petir sudah selesai latihan termasuk Cindy. Pamannya segera membubarkan latihan para murid dan mempersilahkan mereka untuk pulang. Sedang Cindy mendatangi kakeknya yang sejak tadi melihat latihan para murid dari gazebo yang ada di dekat tempat latihan.


10 menit kemudian, suara gerbang terdengar seperti diketuk oleh seseorang. Paman Cindy pergi untuk melihat siapa yang datang ke tempat mereka. Beberapa saat kemudian beliau kembali dengan membawa sebuah surat yang ditujukan untuk perguruan.


"Siapa yang barusan?" tanya Kakek Cindy


"Seorang kurir, dia mengantarkan ini" ucap paman Cindy menyerahkan surat itu kepada kakek.


Ibu Cindy kemudian datang membawa minuman kepada kakek dan paman Cindy .


"Surat apa itu ayah?" tanya ibu Cindy penasaran


"Oh..ini undangan turnamen Silat Sejagat yang akan diadakan Minggu depan" jawab Kakek


"Bukankah waktunya terlalu cepat, harusnya sekitar 6 bulan lagi kan" sahut paman Cindy


"Aku juga tidak tau, sepertinya ada yang tidak beres. Tapi karena sudah diputuskan, maka kau harus bersiap" ucap kakek


Cindy yang mendengar percakapan mereka menjadi penasaran dengan turnamen apa yang mereka maksud.


"apa itu turnamen seperti olimpiade silat kek?" tanya Cindy


"Mirip seperti itu, hanya saja tidak ada aturan mengenai cara pertarungannya. Tidak ada point, hanya ada kalah dan memang" jawab Kakek


"Apa itu semacam pertarungan Ilegal? Kalau begitu tidak usah pergi saja" sahut ibu Cindy


"Turnamen ini diadakan 10 tahun sekali, dengan tujuan untuk menentukan peringkat kemampuan silat perguruan mana yang terbaik" balas kakek


"Lewat olimpiade atau turnamen nasional bisa kan kek?" tanya Cindy lagi


"Itu sama sekali berbeda Cin. Dalam turnamen nasional ataupun olimpiade, serangan kita dibatasi, waktu pun diberikan batasan dan kemenangan dihitung berdasarkan poin dari juri. Ketika sebuah perguruan silat mempunyai jurus mematikan, dan tidak diperbolehkan menggunakannya dalam olimpiade. Itu seperti macan yang tidak diperbolehkan menggigit dan mencakar" jelas kakek Cindy


Setelah berunding lumayan lama, dan menanyakan kepada paman Cindy sebagai peserta. Maka diputuskan perguruan silat Naga petir akan mengikuti turnamen silat sejagat dengan paman Cindy sebagai perwakilan.


"Kau harus mempelajari teknik tertinggi perguruan kita hanya dalam waktu kurang dari seminggu ini" ucap Kakek


"Baik ayah" jawab paman Cindy


"Apa aku juga boleh belajar teknik itu?" tanya Cindy


"Eeeh..jangan aneh-aneh" ucap ibu Cindy


"Boleh saja, tapi jurus ini tidak mudah untuk dipelajari dalam tingkatan mu. Jadi kau harus tunggu hingga dewasa dan silat mu sudah bagus" balas Kakek


Mendengar penjelasan dari kakek, Cindy sedikit kecewa. Karena sudah hampir malam, mereka pun pergi kedalam Rumah untuk persiapan makan malam. Ayah Cindy datang tepat saat makan malam sudah siap, sehingga keluarga mereka lengkap berkumpul semuanya.


Usai makan malam, ibu dan ayah Cindy menonton TV. Saat itu di ruang tamu, Kakek Cindy menyerahkan sebuah buku tua kepada paman Cindy, buku itu berisi gerakan jurus yang akan dipelajarinya.


Sebuah jurus yang tertulis di sampul buku dengan bahasa sansakerta Hukuman Petir Naga. Sebuah esensi gerakan dimana gerakan penyerangannya diawali dengan memberi gerakan kejutan kemudian serangan penghancuran.


Paman Cindy membuka buku itu lembaran demi lembaran untuk mempelajari gambar gerakan silat yang ada di tiap halaman buku. Cindy yang tidak sengaja melihat pamannya begitu serius melihat isi buku itu, mendekat dan ikut melihat isinya.


Isi buku itu membuat Cindy tertarik, dia berniat mempelajari isi buku itu juga namun dilarang oleh kakek dan pamannya.


Keesokan Paginya sebelum sekolah, saat itu kakek sedang mengajari paman dasar beladiri jurus Hukuman Petir Naga, sedang ayahnya di kamar mandi dan ibu Cindy menyiapkan sarapan.


Cindy yang tidak mau menyerah untuk mempelajari buku itu, pergi menyelinap ke kamar pamanya dan menemukan buku itu dibawah bantal pamannya.


"Rupanya paman membaca buku ini sampai larut" pikir Cindy


Tanpa membuang waktu, dia mengeluarkan handphonenya dan memotret setiap halaman buku itu hingga habis.


"baiklah, aku akan mempelajarinya nanti" gumam Cindy senang