NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 77 Pertarungan lantai satu



*New Delhi India*


Sebuah rumah yang tidak terlalu besar maupun kecil, terbuat dari beton yang di cat biru dengan atap warna merah. Prof Gema berada di dalam sebuah ruangan laboratorium yang berada di rumah tersebut.


Rumah itu adalah kediaman dari teman yang meminta prof Gema datang ke India. Dia adalah ilmuwan muda bernama Rahul Simra, seorang ilmuwan ahli fisika sekaligus putra dari Dr. Rakesh Simra yang menciptakan pedang oriental milik Riyan.


Dengan latar belakang banyaknya kematian yang berasal dari gigitan cobra di India, Rahul berencana membuat semacam alat untuk menyaring cairan maupun zat beracun yang masuk ke dalam tubuh dan menariknya keluar.


Bersama dengan 2 orang ilmuwan lain yang merupakan ahli teknik mesin, mereka berupaya membuat sebuah alat ekstraksi. Karena memerlukan ahli biologi molekuler, maka dia mengajak prof Gema untuk melakukan riset bersamanya. Dia meminta prof Gema untuk menyempurnakan alat ekstraksi racun yang sedang mereka kerjakannya.


"Kupikir aku bisa meminta bantuan Rahul untuk mengembangkan serum baruku ini, ternyata tidak bisa. Tapi pekerjaan mereka ini sangat luar biasa, mereka berniat memberikan satu alat ekstraksi ini kepada tiap rumah sakit" pikir prof Gema


Ke empat ilmuwan itu fokus dengan peralatan mereka untuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Dua ilmuwan yang ahli dalam teknik mesin bertugas membuat alat itu dan mendesain sekecil mungkin agar mudah dibawa.


Rahul melakukan eksperimen ekstraksi dengan bahan pemisah yang berbeda-beda. Rahul melakukan ekstraksi dengan dua tahap yaitu mencampurkan racun secara intensif dengan darah manusia di dalam sebuah tabung kaca, kemudian memisahkan kedua fase cair itu sesempurna mungkin menggunakan bahan pemisah.


Disitu lah dia memerlukan prof Gema untuk melakukan identifikasi genetik terhadap bahan pemisah. Sudah enam bulan mereka mencoba melakukan ekstraksi namun selalu gagal.


Dengan perhitungan yang sempurna, dia berharap agar prof Gema menghasilkan bahan pemisah yang hanya mengeluarkan zat berbahaya yang ada dalam tubuh.


Prof Gema sudah berada di sana sejak kemarin malam, dia mempelajari program yang dibuat oleh Rahul dan teman-temannya. Setelah mempelajari semua itu, dia menemukan beberapa alternatif.


Prof Gema memanggil para ilmuwan di ruangan itu, dan menarik papan tulis kecil putih dengan roda. Prof Gema menulis beberapa rumus dan hasilnya pada papan tulis putih itu.


"kalian bisa mencoba meningkatkan kecepatan arus fluida, menjaga panas dan tekanan alat atau mengganti bahan pengurai dengan massa yang lebih besar " jelas prof Gema usai menulis di papan tulis


Ketiga ilmuwan itu memperhatikan perhitungan dari prof Gema, rona wajah mereka tiba-tiba berganti ceria.


"mungkin ini akan berhasil "


"Kau benar, menggunakan bahan Alkali sepertinya berhasil "


Dua ilmuwan ahli mesin mengambil papan tulis mereka dan meletakkan di samping papan tulis yang berisi coretan prof Gema.


"Kita bisa menjaga tekanan alat dan suhu dengan memasang chip kontrol elektronik "


Melihat desain alat yang baru saja di modifikasi oleh kedua ilmuwan itu, prof Gema menemukan beberapa kemungkinan alat penyelamat itu dijadikan sebagai senjata. Namun dia masih tidak mau membicarakannya kepada mereka saat ini.


Dengan semangat mereka semua memulai kembali percobaan membuat alat ekstraksi dengan tambahan formula baru milik prof Gema.


*Hotel Nova*


Riyan berdiri di depan Lift dengan pedang oriental yang berlumuran darah di tangan kanannya. Lebih dari 20 anggota Kurassha yang tewas di belakang Riyan.


"Kau cukup berani membuat kekacauan disini dan mengalahkan orang-orangku" suara terdengar dari pengeras suara yang menempel di atas dinding lantai.


"Jadi dia pemimpin disini. Alpha, cari tau dimana orang itu!" ucap Riyan mendengar suara itu


[Baik tuan]


"Dia pasti tau dimana Julia" ucap Riyan


Suara dari mesin pengeras kembali terdengar "Kusarankan kau untuk kabur, kalau tidak kau akan menyesalinya"


Kemudian orang itu memerintahkan petugas yang berada di ruangan CCTV untuk memandu anggota Kurassha lainnya untuk menyerang Riyan.


Anggota Kurassha yang berada di lantai satu diperintahkan naik melalui tangga dan lift menuju ke lantai empat dengan pengeras suara.


Sedang di lantai dua dan tiga yang dijadikan tempat karaoke, dimana para anggota Kurassha yang berada di dalam ruangan kedap suara itu sama sekali tidak mendengar suara alarm maupun tembakan.


Akhirnya anggota yang lain memberitahukan setiap ruangan di lantai dua dan tiga yang berisi anggota mereka dengan memasuki tiap ruangan untuk naik ke lantai atas melalui tangga.


Di belakang petugas yang memandu anggota Kurassha, terdapat seorang pria yang baru saja menyampaikan ucapannya kepada Riyan. itu adalah pria dengan rambut ikal berkulit hitam duduk pada sebuah kursi yang memiiki sandaran sangat tinggi.


Dengan Memakai setelan tuksedo hitam dan rokok di tangan kanannya, orang itu hanya tersenyum melihat segala kejadian dari monitor cctv seperti sedang menonton film action.


"Apa tidak berlebihan mengerahkan semua orang-orang kita bos"


"Orang ini mengalahkan lebih dari 20 orang kita, tentu saja kita tidak boleh meremehkannya"


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan seorang pria muda masuk kedalam ruangan itu bersama dengan seorang wanita.


"Kau benar, aku juga sudah mengirim anak buahku untuk menghabisi orang itu" ucap pria muda yang baru masuk


Pria muda itu terlihat mengenakan setelan yang sama dengan pria berambut keriting yang duduk pada kursi di belakang petugas. Sedang yang wanita berambut pendek dan terlihat seperti seorang tentara bayaran dengan mengenakan celana dan baju hitam.


"Bukankah seharusnya kau sudah pergi dengan ketua yang lain" ucap pria berambut keriting


"Dan melewatkan kejadian menarik?itu tidak mungkin" balas pria muda itu.


"Kau memang cocok sebagai kesayangan ayahmu. Duduklah! kita lihat bagaimana orang berpakaian hitam itu akan mati" ucap Pria keriting


"Anda baik sekali tuan Afri" ucapnya kepada pria keriting


Kedua orang itu duduk pada sofa yang dekat dengan dinding ruangan, dengan santainya menyaksikan kejadian yang terjadi di dalam diskotik.


"Klutuk...klutuk...klutuk"


"Berapa banyak jumlah mereka ini" gumam Riyan


Riyan dengan armor hitamnya bergerak cepat menuruni tangga. Tidak lama setelah menuruni 10 anak tangga, Riyan sudah dipertemukan dengan pasukan Kurassha yang sedang mengarah naik.


"Tretetet....tretetet"


Tanpa basa basi pasukan Kurassha menembaki Riyan yang menuruni tangga.


"Klink....klink...klink"


Peluru berjatuhan di atas anak tangga akibat tertahan armor hitam milik Riyan. Dia sengaja untuk tidak menahan peluru dengan pedangnya untuk menimbulkan ketakutan dalam diri anggota Kurassha.


Melihat peluru yang tidak dapat menembus sosok hitam di hadapan mereka, pasukan Kurassha yang berada paling depan mencoba mundur. Akibatnya merek malah berdesakan di atas tangga tersebut.


Riyan terus berjalan mendekati orang-orang bersenjata itu, anggota Kurassha yang memegang kapak dan senjata tajam lainnya maju ke depan menggantikan pasukan bersenjata api.


Riyan menuruni tangga dengan melompat sambil menebaskan pedangnya kearah orang yang berada paling depan. Dengan menggunakan kapak yang ada di tangannya, orang itu mencoba menahan tebasan Riyan.


Namun pedang oriental yang dalam bentuk absolut attack, dapat menembus kapak tersebut dan langsung menyentuh tubuh orang itu. Darah mengalir di tubuhnya yang berasal dari luka yang disebabkan tebasan Riyan seperti aliran sungai.


Riyan menebas semua yang menghalangi jalannya seperti seseorang yang sedang menebas rumput. Dengan pedang oriental bentuk absolut attack, tidak ada satupun yang bisa menahan tebasan dari pedang itu. Meski hanya satu orang, Riyan mendominasi pertempuran di tangga diskotik itu.


Di lantai dasar yang luas, dimana digunakan sebagai tempat pengunjung bebas menggerakkan tubuh mereka mengikuti musik yang dibuat DJ. Dibawah lampu disko yang bergonta ganti warna tiap detik, berdiri 18 anggota Kurassha yang tersisa termasuk wanita yang menembaknya saat keluar dari lift.


Mereka berhadapan dengan Riyan yang terus melangkahkan kakinya untuk mencari pemimpin tempat itu.


"Tretetet...tretetet" Peluru tembakan sekejap menghantam tubuh Riyan, bahkan sebagian peluru menghancurkan gelas yang berada di bar hingga pecahannya berhamburan di lantai.


"sia-sia sekali" gumam Riyan


Riyan melesat cepat menyerang orang-orang yang tersisa disana, dalam sekejap dia sudah berada di depan wanita yang menembaknya.


"Sreet....sreet" dua kali tebasan mengakhiri hidup wanita itu.


Riyan tidak menunjukkan sedikitpun belas kasihan kepada anggota Kurassha yang menculik adiknya.


Di lantai dasar yang sudah dipenuhi dengan pecahan kaca dan meja kursi yang berhamburan, Riyan berjalan mendekati ruangan yang di tunjukkan Alpha. Dimana terdapat Afri dan pemuda itu yang sedang berada disana.


Sementara itu perasaan gelisah muncul dalam diri Afri yang menyaksikan anak buahnya di bantai oleh seorang dengan pakaian hitam.


"Siapa orang ini?apa dia polisi atau geng dari kelompok lain?gerakannya mengerikan sekali" ucap pria muda yang menyaksikan pertarungan melalui monitor cctv


"Apa kau pernah melihatnya!" tanya Afri


"Tidak, saya belum pernah melihatnya" sahut pemuda itu.


"Bahkan kau yang selalu kesana kemari tidak tau siapa orang ini, lagipula apa urusannya dengan kelompok kita" ucap Afri


"Sepertinya dia mengarah kemari" ucap Pemuda itu


"Jangan khawatir, Apa kalian bisa melawannya?" tanya Afri kepada dua petugas yang sedang melihat monitor.


"Tidak masalah" ucap keduanya


Kedua orang itu kemudian berdiri dari kursi mereka, seorang pria keturunan cina dan satu lagi pria dengan tubuh tinggi. Mereka mengambil pemukul besi dan tongkat kemudian berjalan keluar meninggalkan ruangan tersebut.


"Bagaimana denganmu sayang?" Ucap pemuda itu kepada wanita di sampingnya.


"Aku hanya ditugaskan untuk melindungi mu, jadi aku akan tetap disini" balas wanita itu


Pemuda itu tersenyum kemudian mengangkat satu kakinya keatas lutut satunya dan menyandarkan tubuhnya di kursinya.


Riyan yang tengah berjalan dihadang oleh kedua orang yang baru saja keluar dari ruangan Afri. Orang cina itu memutar-mutar tongkat nya dengan lihai mengelilingi tubuhnya. Sedang pria tinggi meletakkan pemukul besinya di atas bahu.


"Hanya berdua?" ejek Riyan


"Kami berdua cukup" balas orang keturunan cina


"Semoga saja" ucap Riyan kemudian berlari mengayunkan pedangnya kearah orang cina


Tebasan Riyan dapat dihindari oleh orang itu kemudian menyerang dengan tongkatnya kearah samping tubuh Riyan.


"Tap" tongkat besi itu di tangkap oleh tangan Riyan, kemudian tiba-tiba pemukul besi mendarat di perut Riyan hingga membuatnya terpukul ke belakang.


"Buk" tusukan tongkat melayang dengan cepat mengenai ulu hati Riyan dan membuatnya semakin jauh mundur terpukul.


"Kami sudah melihat pertarungan mu melawan ratusan orang kami melalui cctv. Semua gerakan Jeet Kune Do yang kau gunakan termasuk pedang mu yang tidak bisa di tangkis, kami bisa mengatasinya" ucap pria tinggi


"Ninja hitam, kau tidak punya kesempatan menang. Kami akan menghabisi mu disini" tambah pria cina


Serbuk hitam keluar dari tangan kiri Riyan dan membentuk satu katana pendek. Dia sekarang menggunakan kuda-kuda jurus silat sundang majapahit.


"kalian belum melihat semuanya" balas Riyan