
*Hutan Kematian*
Embun pagi menetes di tiap rumput dan dedaunan dari ranting pohon-pohon besar. Sinar matahari sedikit menembus hutan belantara yang rimbun itu. Cahaya yang masuk melalui celah ranting dedaunan pohon besar, merupakan pemandangan indah yang terlihat dari dalam hutan itu.
Pagi itu selesai sarapan dan merapikan tenda serta barang bawaannya, Riyan meminta Alpha kembali memunculkan peta hologram dengan lokasi pasukan NOZ dan antelop. Pada peta terlihat lebih banyak titik merah dari tadi malam, dan posisi merekapun berubah sekarang. Selain itu ada 10 titik merah berada dekat dengan antelop langka.
"aku harus bergerak cepat" kata Riyan
Peta hologram menghilang, Riyan kemudian menuju titik merah yang berjarak paling dekat dengannya. Dengan armor hitam di seluruh tubuhnya, bukan hal yang sulit bagi Riyan mendekati para pasukan NOZ. Lima menit kemudian, Riyan sudah berada di balik pohon besar dengan jarak 10 meter dari pasukan bersenjata itu. Pedang oriental sudah ditangan, Empat orang musuh dengan senjata api AK-47 yang terbuat dari nano material berjaga disekitar area itu. Dengan jarak 4 meter antara satu sama lain, sedikit sulit untuk menyerang mereka sekaligus.
Dengan jarak sedekat itu, tentu saja akan mudah bagi mereka membantu sama lain. Riyan mencari cara menyerang mereka dari jarak jauh tanpa terlihat. Melihat pedang oriental ditangannya, Riyan berpikir untuk menggunakan bentuk Formless Attack dari pedang oriental.
Namun Riyan masih belum mahir menggunakan serangan dari Formless Attack. Ditambah kondisi di sana yang dipenuhi pepohonan, itu bisa membuat sulit Riyan untuk menebas menggunakan Formless Attack.
"kalau tau begini, harusnya aku membawa panah bius lebih banyak, bukan hanya tiga. Aku bisa melemparnya dengan tepat mengenai mereka dengan kemampuan pisau apache" gumam Riyan
"pisau suku apache,,bodohnya aku..kenapa tidak terpikirkan dari tadi" gumam Riyan sambil tersenyum
Riyan mengubah bentuk pedang oriental menjadi liontin dengan mengucapkan kata "leon" kemudian memakainya. Setelah meletakkan tas ranselnya, dia bergerak perlahan seperti seorang Ninja. Dengan pisau yang dibentuk pada ujung sepatu dan cakar di jari-jarinya, dia menaiki sebuah pohon besar yang ada didepannya.
"sekarang aku benar-benar seperti superhero jadul itu" ucap Riyan (yang dia maksud adalah Black Panther)
Saat ini Riyan berada di sebuah dahan yang cukup besar, dari atas dia bisa melihat dengan jelas ke empat orang pasukan yang bersenjata material nano itu. Kemudian 4 buah pisau belati dengan panjang 25 cm terbentuk dan muncul dari kedua telapak tangannya.
"Jleb...jleb" dengan kemampuan beladiri pisau apache, pisau ditangan Riyan melesat cepat dan tepat menancap di belakang leher dua orang pasukan itu. Seketika mereka langsung jatuh menimpa beberapa ranting kering dan semak.
"dua sudah sudah diatasi, tinggal dua lagi" ucap Riyan
"Kreseek" suara ranting dan semak akibat tertindih tubuh pasukan yang mati membuat dua orang lainnya siaga. Kedua orang itu memeriksa di sekeliling tempat itu, dan saat tahu dua rekannya sudah tidak ada di tempat, dua orang itu mendekat untuk melihat keadaan rekan-rekannya. Disaat itu pula Riyan kembali melemparkan dua pisau yang tersisa ditangannya dan membuat kedua orang itu terbunuh.
Riyan turun dari pohon untuk mengambil kembali pisau miliknya beserta senjata api milik anggota NOZ, kemudian meminta Alpha untuk mengekstrak senjata-senjata itu agar bisa diserap kedalam tubuh Riyan. Berbeda seperti saat mengekstrak perisai besar tadi malam, waktu yang diperlukan kali ini lebih cepat karena ukuran senjata api jauh lebih kecil.
Diperlukan waktu 1 menit untuk tiap senjata api yang akan diserap, 4 menit kemudian seluruh senjata sudah hilang menjadi nano material yang diserap Riyan. Selanjutnya Riyan akan meneruskan untuk berburu para pasukan dari Organisasi NOZ di hutan itu. Riyan semakin masuk kedalam hutan, dia sengaja membereskan pasukan yang ada pada bagian dalam hutan terlebih dahulu.
Riyan membawa ranselnya dan melihat kembali peta yang dimunculkan oleh Alpha, 5 titik merah yang menjadi target Riyan berikutnya berada 300 meter darinya. Segera Riyan kembali naik keatas pohon kemudian bergerak cepat melompat seperti seekor tupai.
Kali ini kelima pasukan NOZ itu berkumpul dalam satu tempat di tanah lapang, tempat itu dikelilingi oleh banyak pohon besar. Mereka berada di depan sebuah tenda besar, tenda yang merupakan tempat dimana seluruh pasukan NOZ yang ada ditengah hutan berkumpul dan tidur dimalam hari.
Dari balik pohon besar, Riyan memantau orang-orang itu. Mereka berlima duduk berjejer pada sebuah batang pohon yang tumbang. Dengan cangkir berisi air minum di tangan mereka masing-masing, mereka terlihat sedang berbincang-bincang.
"apa yang sedang mereka bicarakan?" kata Riyan
[anda bisa mendengar mereka]
"bagaimana caranya?dari sini terlalu jauh. Dengan jarak antara pohon yang jauh seperti ini, mereka pasti melihatku jika aku mendekat" ucap Riyan
[sama seperti yang saya lakukan pada mata anda, saya akan mentransfer material nano untuk meningkatkan pendengaran anda]
"kalau begitu lakukan" kata Riyan
Kesakitan sedikit dirasakan oleh Riyan ketika Alpha meningkatkan pendengarannya. Sesaat kemudian Riyan bisa mendengar perbincangan dari pasukan anggota NOZ di depan tenda. Mereka membicarakan mengenai pembunuhan para pemburu yang masuk kehutan ini dan perintah menangkap antelop.
"itu karena sepertinya antelop itu sangat penting bagi penelitian Prof Ednewt" ucap orang 1
"sepertinya kita masih akan berada lama disini" ucap orang 2
"semoga saja tim pemburu bisa cepat menangkap antelop itu" balas orang 3
"benar, jika antelop itu tertangkap maka tugas kita selesai dan keluar" tambah orang 1
"jadi mereka memang mengincar antelop itu" gumam Riyan sambil kembali meletakkan ranselnya.
Riyan kemudian berlari mendekati kelima orang itu sambil membuat pisau di kedua tangannya. Kelima orang yang melihat sosok hitam mendekat langsung bersiap menyerang, mereka segera mengambil wechas dan menekan tombolnya untuk memunculkan senjata api.
Akan tetapi lemparan pisau Riyan mengenai tepat diantara alis mereka berlima, bahkan sebelum kelima orang itu menembakkan peluru dari senjatanya. Riyan kembali mengumpulkan pisaunya dan meminta Alpha menyerap semua material nano dari senjata pasukan NOZ lagi.
"sekarang harus meningkatkan apalagi dengan tambahan material nano ini?" tanya Riyan
[saya rasa untuk sekarang kita harus menyimpannya tuan, untuk peningkatan selanjutnya dibutuhkan banyak nano material]
"baiklah kalau begitu, aku akan fokus berburu sekarang" ucap Riyan
Riyan kemudian melanjutkan perjalanan menuju bagian yang lebih dalam dari hutan kematian.
*Kota Muriya*
-Jam 8 malam di Indonesia-
Selama dua hari ini Prof Gema meneliti mimic octopus dan mengasah kemampuan yang dimilikinya. Prof Gema menemukan satu kemampuan lagi selain meniru struktur benda mati maupun hidup, yaitu mengubah sebagian bentuk luar tubuhnya. Namun perubahan bentuk itu sangat menyakiti dirinya, sehingga Prof Gema tidak pernah mencobanya lagi.
Malam itu Prof Gema ingin sedikit bersantai dengan pergi ke taman kota. Dia tidak ingin terlalu membebani pikirannya dan mengistirahatkannya sejenak.
"baiklah, hati-hati prof" balas Lisa
Tanpa sepengetahuannya, di taman sedang diadakan acara expo kecil kota Muriya. Banyak permainan dan stand berada ditaman malam itu. Prof Gema menghabiskan waktunya menikmati beberapa pertunjukan daerah di sana sampai jam 9 malam.
"Jedeeer" tiba-tiba suara guntur dari langit terdengar sangat keras, suara yang menandakan kalau hujan akan turun.
"Jedeeer...jedeeer" suara guntur semakin sering terdengar disertai kilat yang terlihat jelas dalam gelap langit malam.
Prof Gema memutuskan untuk segera pulang ke rumah karena tidak membawa payung. Ditengah perjalanan pulang, dari kejauhan dibawah lampu jalan dia melihat Brian bersama beberapa orang sedang berjalan kearahnya. Untunglah prof Gema tidak berada dibawah lampu jalan, sehingga keberadaan prof Gema tidak jelas terlihat karena gelap.
Prof Gema segera memegang sebuah tembok dan menyalin struktur tembok tersebut, dia berdiam diri seolah seperti sebuah patung. Brian tidak mengetahui kalau patung itu adalah Prof Gema, dia dan beberapa orang yang mengikutinya hanya melewati prof Gema. Sepintas kata yang didengar prof Gema ketika melintas didepannya hanyalah "temukan mereka secepatnya"
Prof Gema kemudian mempercepat langkahnya untuk pulang. Setibanya dirumah, dia memberitahukan kepada Lisa bahwa Brian berada di kota Muriya dan sedang mencari mereka saat ini. Brian adalah salah satu dari orang yang menggunakan serum peningkatan permanen seperti Lisa. Karena hal itu, keadaan mereka saat ini bisa dikatakan berbahaya.
"apa kita harus meninggalkan kota ini?" tanya Lisa
"entahlah, kalau memungkinkan kita bertahan disini" jawab prof Gema
"memangnya kenapa? kita sudah biasa berpindah" balas Lisa
"jamur itu,, jamur yang diberikan Riyan. Kita harus mendapatkannya terlebih dahulu baru meninggalkan kota ini. Kita minta Riyan memberitahukan tempatnya besok " jelas prof Gema
"kalau tempatnya aku tau, dia mengambilnya dari gunung Sapathawung tidak jauh dari kota ini" kata Lisa
"kalau begitu kita minta Riyan mengantarkan kita ke lokasi jamur itu" ucap prof Gema bersemangat
"oh mengenai hal itu...aku lupa mengatakannya kalau Riyan kemarin pergi ke Amerika" ucap Lisa
Prof Gema kaget dan sedikit panik mendengar perkataan Lisa, dia khawatir kalau Riyan ditemukan oleh kelompok NOZ. Jika kelompok NOZ tau ada pengguna nano material lain, maka mereka akan berusaha mengambil tekhnologi Nano itu dengan cara apapun. Apalagi ini adalah sebuah system yang sangat luar biasa.
"semoga saja Riyan tidak bertemu dengan anggota NOZ" ucap Prof Gema
"Riyan itu punya semacam baju pelindung hitam yang digunakannya waktu itu, jadi tidak ada yang akan mengenalinya. Saat ini lebih baik jika kita yang tidak tertangkap oleh Brian" balas Lisa
*Hutan Kematian*
Hari sudah hampir malam, sinar matahari dari sela dedaunan pohon sudah tidak terlihat lagi. Riyan terus masuk lebih jauh ke dalam hutan dan menemukan 10 orang anggota NOZ lainnya sejauh 100 meter darinya, dia kemudian mengikuti mereka dengan cepat dari atas pohon. Kali ini Riyan melihat orang-orang itu bergerak maju secara berkelompok kearah hutan yang lebih dalam. Sepertinya mulai dari tempat ini, para pasukan itu sudah tidak melakukan penjagaan lagi.
"para pasukan itu sepertinya fokus mencari antelop" ucap Riyan
Lokasi mereka saat ini memang tepat dimana antelop langka itu berada. Riyan dengan pendengarannya yang sudah meningkat, mendengar kalau orang-orang itu sudah mencari selama seminggu lebih. Sekarang memasuki hutan belantara yang sangat lebat, mereka terpaksa membuat jalan dengan memotong semak.
"dasar orang-orang ini,,,kenapa mereka memilih jalan ini? apa karena mereka bukan pemburu" kata Riyan
Satu persatu Riyan menghabisi pasukan itu tanpa suara, dimulai dari yang paling belakang. Riyan selalu menutup mulut lawannya setiap kali membunuh dan membawa tubuh mereka menjauh. Setelah itu menyerap senjata mereka dalam waktu satu menit, lalu beraksi kembali.
Karena terlalu fokus maju ke depan, beberapa orang yang berada paling depan tidak menyadari kalau teman-temannya menghilang satu persatu.
Saat tersisa hanya 4 orang, barulah mereka sadar telah kehilangan rekan-rekannya yang ada dibelakang. Mereka menjadi siaga dan mengaktifkan wechas yang mereka bawa. Dari semak belukar Riyan melempar pisaunya untuk membunuh satu orang. Tiga orang lainnya yang melihat rekan mereka mati menjadi ketakutan.
"Tretetetet...tretetet" mereka menembak ke sembarang arah seperti semak, pohon, daun. Apapun yang dirasa mereka bergerak atau mengeluarkan suara.
"Srek..srek..srek" Riyan kemudian bergerak cepat mendekati mereka dari arah kanan jalan, suara dari semak yang semakin dekat membuat mereka takut.
"Tretetetet....tretetet" semua senjata ditembakkan kearah datangnya suara, kemudian Riyan melompat menerjang seorang dari mereka. Dengan jurus silatnya, Riyan mencabik dua orang lainnya menggunakan cakar yang dibentuk dengan nano material.
Seperti sebelumnya, Riyan mengumpulkan semua senjata dari para pasukan NOZ yang baru saja dibunuhnya.
"ok, selanjutnya giliran mu Alpha" ucap Riyan
Setelah semua senjata itu habis diserap, Riyan melanjutkan tugas utamanya yaitu menangkap antelop langka. Dia meneruskan sedikit masuk ke hutan belantara itu, kemudian dari jarak 50 meter terlihat antelop langka yang diinginkan semua orang.
Seperti saat pertama kali, Riyan menyiapkan panah berisi obat bius. Dan setelah meletakkan ranselnya, dia meningkatkan kecepatan maksimal dan melesat ke depan. Hanya dalam hitungan detik, panah berisi obat bius itu menancap pada 3 antelop.
Riyan mengangkat ketiga antelop itu dan mengikat mereka pada sebuah pohon besar. Malam akhirnya tiba, dia pun mendirikan tendanya di sana dan menyalakan api unggun. Riyan kembali meminta Alpha menampilkan peta hologram untuk melihat jumlah pasukan NOZ.
"tersisa 12 orang lagi pasukan penjaga hutan dari NOZ, aku akan membereskannya saat pulang besok" ucap Riyan
Riyan teringat perkataan Alpha, dia mengatakan mengenai kekurangan nano material untuk meningkatkan kemampuan Nano System. Riyan pun menanyakan kembali mengenai apa yang akan ditingkatkan. Karena daya tahan, kecepatan, penglihatan dan pendengaran sudah ditingkatkan menggunakan nano material.
"memangnya apa yang ditingkatkan sehingga memerlukan nano material yang banyak?" tanya Riyan
[otak]
[dengan otak yang ditingkatkan, anda bisa mengendalikan pergerakan material nano milik anda dengan bebas bahkan diluar tubuh anda sendiri]
Mendengar hal itu Riyan menjadi takjub, dia membayangkan berbagai kemampuan hebat jika berhasil melakukan hal itu.