NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 61 Pengalih Perhatian



Pedang milik Lisa terlepas dari tangan Mike, reruntuhan tempat istirahat itu mengubur tubuh besar Mike hingga membentuk gundukan.


Serpihan runtuhan gazebo yang menimbun tubuh Mike perlahan tersibak tidak beraturan dikarenakan Mike yang mencoba berdiri.


"Kurang ajar" Mike kesal karena dilempar oleh Riyan


Sebelum Mike sempat melangkah, Kaki Riyan sudah tepat berada didepan wajahnya. Seperti bola yang ditendang seorang pemain pro, tubuh Mike kembali melayang cepat dan mendarat berguling di tanah.


Riyan mengambil pedang milik Lisa yang tergeletak di reruntuhan gazebo dan berjalan mendekati Mike. Kengerian pun seketika dirasakan oleh Mike melihat sosok hitam mendekat kearahnya dengan membawa pedang.


Mike kembali bangun dan mencoba kabur dari Riyan menuju Brian. Hanya saja dua buah kunai tajam yang dibuat dari nano material Riyan, melesat seperti peluru dan menancap pada kaki bagian belakang Mike.


Usahanya untuk melarikan diri dari Riyan gagal, tubuh Mike lagi-lagi terjatuh keatas tanah. Riyan kembali mendekati Mike yang sedang merangkak menjauh darinya.


Sesaat kemudian Riyan sudah berada di samping tubuh Mike, dan menancapkan pedang milik Lisa ketanah menembus kaki Mike. Disaat itu, Mike merasakan kematiannya sudah sangat dekat.


"Arrrg..lepaskan aku! " ucap Mike mencoba harapan terakhir untuk menyelamatkan hidupnya menahan sakit yang berasal dari kakinya


"Kemana larinya keberanian mu?" ucap Riyan yang kemudian menghilangkan armor bagian kepalanya.


Riyan yang sejak lama menaruh dendam dan mengincar Mike untuk membalaskan perbuatannya atas rumah dan nenek Riyan, sekarang bisa mewujudkan keinginannya.


Tidak mau perbuatannya terlihat oleh Cindy, Riyan membentangkan satu tangannya kearah Cindy. Nano material yang muncul dari tangan Riyan membentuk sebuah dinding penghalang berjarak satu meter dari tempatnya untuk menghalangi pandangan Cindy dan prof Gema.


Disaat yang bersamaan, darah mengalir dari bahu Lisa yang membawa rasa nyeri dan sakit yang dia rasakan. Luka itu disebabkan oleh tebasan kapak milik Brian setelah meresikokan tangannya menahan tebasan pedang oriental.


Dada dan bahunya turun naik mengimbangi nafas yang sudah berat. Lisa yang sudah kelelahan dan terluka, sekarang tidak bisa menggerakkan tangan kirinya.


"Meskipun kita sama-sama mendapatkan peningkatan, tapi kemampuan kita berbeda " ucap Brian


"Jangan sombong, kau juga terluka " balas Lisa


"kau lupa serum kalian ada padaku ? " ucap Brian mengambil serum penyembuh dari kantong bagian dalam jaketnya.


Setelah meminum ramuan berwarna hijau yang diambilnya, seketika luka di tangan Brian menutup rapat dan staminanya pun kembali pulih.


"Aku masih punya 3 botol serum lagi jika terluka. Para petinggi itu memintaku membawa kalian, tapi kurasa tidak apa jika hanya membawa prof Gema " Brian kembali mengayunkan kapaknya untuk menyerang Lisa.


Dengan satu tangan yang terluka dan tenaga yang hampir mencapai batasnya, Lisa bersusah payah menahan serangan dari lawan yang sudah pulih sepenuhnya.


Ayunan kapak milik Brian semakin berat untuk di tahan oleh Lisa. Tendangan lurus ke arah tubuh Lisa membuatnya terjatuh sampai di kaki prof Gema dan Cindy.


Didekati oleh Brian yang sedang bermain dengan memutar-mutar kapaknya, mereka bertiga merasakan khawatir. Meskipun bangunan rumah tidak jauh dibelakang mereka, namun untuk melarikan diri dari Brian, mereka tidak akan mampu mengungguli kecepatannya.


Prof Gema yang saat itu sudah kehabisan tenaga untuk berubah, hanya bisa membantu Lisa untuk berdiri. Disaat memegang Lisa, Prof Gema baru menyadari ketika melihat gelang di tangannya. Benda itu juga merupakan wechas, sebuah senjata pistol yang dirubah menjadi sebuah gelang.


Lisa sedang menutupi lukanya menggunakan tangan yang masih memegang pedang oriental untuk menahan pendarahannya. Dia tidak tau harus menghadapi Brian dengan cara apa lagi.


Tiba-tiba dari arah belakangnya, prof Gema menodongkan pistol yang ditujukan kepada Brian.


"Dor...dor..dor" suara tembakan prof Gema bergema mengisi seluruh lapangan kecil itu hingga sampai di telinga Riyan.


"Suara tembakan, dari siapa?apa bantuan musuh datang? Aku harus cepat menyelesaikan orang ini" pikir Riyan


Dari balik penghalang itu, Riyan kemudian mencabut pedang yang tertancap di kaki Mike. Darah Mike sekarang menghiasi pedang milik Lisa dengan warna merah. Armor Riyan memunculkan Tali-tali hitam seperti tentakel gurita, Riyan membalikkan tubuh besar Mike yang berada di tanah tanpa menyentuh dengan menggunakan tali-tali itu.


"Kelompok Kurassha akan mengejar mu jika mengetahui kau membunuhku" ucap Mike


"Sayangnya tidak ada yang akan memberitahu kelompok mu kalau kau mati di tanganku, karena seluruh anak buahmu telah ku habisi. Berikutnya orang asing berotot itu juga akan menyusul mu" balas Riyan


"Jleeeb"


Mata Mike melebar seperti hendak melompat keluar saat Riyan menusukkan pedang Lisa tepat dibagian dada Mike hingga menembus jantungnya. Dalam sekian detik Mike tewas dengan darah keluar dari mulutnya.


Dinding penghalang memudar dan kembali masuk kedalam tubuh Riyan. Pemandangan yang dilihatnya dari kejauhan setelah penghalang itu hilang adalah Brian yang berada di hadapan prof Gema, Lisa dan Cindy. Riyan pun bergerak cepat kearah mereka untuk menghabisi Brian.


Setelah semua peluru yang ditembakkan prof Gema ditangkis seluruhnya oleh Brian, Lisa mencoba menebas Brian yang sudah tiba dihadapan mereka. Tebasan pedang oriental dengan kekuatan yang seadanya, tentu saja dapat dengan mudah di tahan oleh Brian.


Brian mendaratkan tiga pukulan ke wajah Lisa menggunakan ujung dari gagang kapaknya. Pukulan itu membuat wajah Lisa mengeluarkan darah sekaligus membuat tubuhnya sempoyongan dan jatuh. Dengan tubuh yang sudah lemah, Lisa tidak sanggup untuk menghindari serangan Mike. Akhirnya pedang oriental terjatuh ke tanah setelah terlepas dari tangan Lisa akibat pukulan Brian.


Prof Gema dan Cindy menyerang Brian secara bersamaan untuk membantu Lisa. Akan tetapi tinju dan tendangan dari mereka berdua hanya dianggap sebagai hiburan bagi Brian.


Prof Gema terjatuh pingsan setelah menerima tinju cepat Brian, sedang Cindy berhasil menghindarinya. Namun ayunan kapak Brian dengan cepat mengincar Cindy.


"Matilah kau gadis kecil ! " teriak Brian


"Ting"


Hanya berjarak tiga jari dari leher Cindy, kapak Brian tertahan oleh pedang Lisa yang digunakan oleh Riyan. Dengan dorongan dari pedang Riyan, kapak Brian pun menjauh dari leher Cindy.


"Berani sekali kau ingin melukai gadisku " ucap Riyan


"Siapa kau ? kenapa kau bahkan memiliki pakaian dari nano material ? " tanya Brian


"Kau tidak perlu tahu" balas Riyan


Dentingan suara benturan kapak dan pedang Riyan segera terdengar setelah Riyan menyerang Brian. Semakin cepat gerakan mereka, semakin sering suara dentingan terdengar. Kecepatan dan kekuatan mereka yang seimbang, membuat pertarungan mereka berlangsung tanpa ada yang terluka.


"Sial, orang ini merepotkan " pikir Brian


"kalau begini terus, pertarungan ini tidak akan berakhir. Aku harus mengenainya" ucap Riyan dalam hati


Riyan teringat pedang oriental miliknya yang sempat dipakai Lisa. Saat itu Riyan melihat pedang oriental berada samping Lisa yang tengah terbaring. Riyan segera berlari untuk mengambil senjata miliknya.


"Riyan awas" teriak Cindy


"Kau lengah bocah" ucap Brian yang muncul tiba-tiba dari belakang Riyan


Tebasan kapak Brian mengenai punggung Riyan, membuatnya terlempar ke tempat Cindy dan lainnya. Cindy yang panik segera mendekati Riyan untuk memeriksa keadaanya.


"Sekarang aku akan membawa kedua orang itu ke Amerika " ucap Brian


Akan tetapi Riyan bangun dan membersihkan armor hitamnya dari tanah yang menempel akibat baru saja terjatuh. Cindy semakin heran dengan kekasihnya itu, wajah panik seketika berubah menjadi penuh kebingungan.


"Sa..sayang..kau tidak apa-apa?" tanya Cindy


Bukan hanya Cindy yang terkejut saat itu. Brian yang baru saja mengayunkan kapaknya tepat ke punggung Riyan, sangat terkejut melihat orang itu bangun tanpa terluka sedikitpun.


"Kupikir pakaian itu hanya kain dari nano material, ternyata itu sekeras baja. Ini lebih sulit dari yang ku perkirakan " pikir Brian


Tiba-tiba Brian merasakan efek serum penambah kekuatan telah hilang, sekarang dia hanya bisa mengandalkan kecepatan yang didapatnya dari serum peningkatan permanen.


"Ini bahkan menjadi lebih buruk, efek serumnya habis " gumam Brian


Disaat Brian masih sibuk dengan pikirannya, Riyan mengambil pedang oriental miliknya dari tanah. Dia memutar senjata kesayangannya itu seperti seorang ninja.


"Sekarang kita mulai ronde kedua" ucap Riyan


"Absolut Attack"


Roda pada pedang oriental berputar, kemudian pedang itu berubah hitam sepenuhnya. Riyan tersenyum senang dan segera melakukan serangan kepada Brian.


"Senjata itu berubah warna, entah apa yang akan terjadi " gumam Brian


Riyan berlari kearah Brian dan melakukan tebasan menyamping. Seperti biasa, Brian selalu menahan serangan senjata dengan kapaknya.


Begitu dia melihat senjata Riyan menembus kapak yang digunakannya, seketika itu juga Brian mundur untuk menghindar.


"Hampir saja, ternyata senjata mu itu istimewa ya " ucap Brian


"Sedikit spesial, tapi hebat juga kau bisa menghindarinya " balas Riyan


"Kapak ku ini juga sedikit spesial " ucap Brian lagi


Dengan menekan sebuah switch pada ujung gagang kapaknya, Kapak milik Brian terbuka dan menjadikannya sebuah senjata shotgun.


Tembakan dari senjata itu 10x lebih kuat dari shotgun biasa. Riyan yang tidak mengetahui hal itu, malah menerima tembakan dari Brian hingga membuatnya terpental dan terjatuh ke tanah untuk kesekian kalinya.


"Kurang ajar" ucap Riyan


Riyan maju dengan gerakan zig zag untuk menyulitkan Brian menembak. Kesal dengan hal itu, Brian mengubah kembali senjatanya menjadi kapak dan bertarung dengan Riyan.


Brian yang tau kalau tebasan Riyan tidak bisa di hadang, memilih untuk menghindarinya.


"Aku harus pergi dari sini dan memberitahu petinggi kalau ada orang yang menggunakan senjata dan armor dari nano material seperti itu " ucap Brian di hatinya


Hanya saja Riyan terus menyerang Brian dan tidak memberinya celah untuk melarikan diri dari pertarungan.


"kau ingin kabur ? Karena sudah melihat rahasiaku, aku tidak bisa membiarkanmu memberitahu atasanmu tentang diriku " ucap Riyan


*Hotel Green Diamond*


Dalam aula hotel yang besar, para tamu tengah menikmati lantunan musik dan makanan pesta ulang tahun walikota Muriya. Lampu warna warni dan hiasan mewah di tiap dindingnya menambah kesan ramai ruangan itu.


Tari yang juga ditugaskan manajer untuk ikut membantu disana, berjalan kebelakang hotel membawa kantong sampah untuk membuang makanan sisa. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 6 meter dari pintu belakang hotel.


Ketika ingin kembali memasuki hotel, di sana Tari sudah dihadang oleh dua orang dengan mengenakan setelan biru yang ditugaskan bos Tirta untuk menangkap Tari.


Mereka berdua mendekati Tari perlahan dan memintanya untuk ikut kembali bersama bos Tirta ke Palangkaraya.


Tari ketakutan dan mundur hingga tanpa sadar menabrak bak sampah besar dibelakangnya. Dia meminta kedua orang itu untuk meninggalkannya.


"Toloong" teriak Tari


Satu dari kedua orang itu mengeluarkan pisau untuk mengancam Tari agar tidak berteriak.


Seperti dua buah kelapa yang di adu, kepala kedua orang itu tiba-tiba menghantam satu sama lain hingga pingsan. Tubuh keduanya terjatuh dan sekarang disana terlihat salah satu bodyguard yang disewa Riyan melindungi Tari. Orang itulah yang menghantamkan kedua kepala anak buah bos Tirta, dan satu lagi sedang bersandar kepada tembok hotel.


"Anda tidak apa-apa?" tanya pengawal botak itu


"Iya, terima kasih" ucap Tari


"Anda lanjutkan lah bekerja, kami akan menjaga anda"


"baik, sekali lagi terima kasih" sahut Tari


*Markas Mike*


Sementara itu Brian yang sudah kelelahan telah babak belur akibat pukulan Riyan, beberapa luka sayatan juga di dapatkannya dari absolut attack pedang oriental Riyan. Rencana Brian untuk lepas dari Riyan menjadi semakin sulit dengan luka serius yang didapatnya.


"aku harus punya pengalihan agar bisa lepas dari bocah ini " pikir Brian


Disaat itu, Lisa dan prof Gema yang berada 6 meter di belakang Riyan telah sadar dan menyaksikan Riyan menghadapi Brian yang tengah terluka pada bagian dada dan wajah.


"kalian sudah sadar, syukurlah" ucap Cindy


"ya..tapi kita saat ini hanya bisa melihat Riyan melawan Brian" balas Lisa


Brian yang melihat kearah teman-teman Riyan mendapatkan ide untuk kabur. Brian yang dari tadi cuman bertahan, sekarang malah menyerang Riyan terlebih dahulu. Dia mengangkat Kapaknya hingga keatas kepala, kemudian mengayunkan kapaknya itu ke kepala Riyan.


Dengan pedang oriental yang masih dalam mode absolut Attack, membuat Riyan tidak bisa menahan serangan dari Brian. Riyan menggeser badannya dan melompat menjauh untuk menghindari tebasan kapak itu.


Hal itu tidak diperhitungkan Riyan, namun sudah direncanakan oleh Brian. Dengan cepat Brian memutar kapaknya dan menekan switch untuk menjadikan kapaknya sebuah senjata shotgun.


Sekarang posisi Brian 6 meter dihadapan Lisa, Cindy dan prof Gema dengan senjata shotgun terarah kepada mereka. Riyan yang baru menyadari kalau target Brian adalah salah satu dari ketiga orang itu, segera menuju Brian untuk menghajarnya.


"dor"


Peluru sudah ditembakkan, darah mengalir di perut Cindy yang terkena tembakan peluru besar itu. Riyan yang semula ingin menyerang Brian menjadi kehilangan tenaganya saat melihat Cindy dipangku oleh Lisa sambil memegang perut Cindy.


Riyan segera menghampiri Cindy dan memegang tangannya yang penuh darah akibat berusaha menutupi luka tembak itu. Kali ini air mata Riyan mengalir dan menetes ke tangan Cindy.


"Alpha, bisakah kau sembuhkan dia?" ucap Riyan


[itu belum bisa dilakukan tuan]


Riyan terus menangis. Cindy hanya berusaha tersenyum dan memegang pipi Riyan seolah sudah menerima takdirnya untuk meninggalkan dunia.


Rencana Brian untuk mengalihkan perhatian Riyan berhasil, ia pun berniat kabur meninggalkan tempat itu. Dengan adanya tiga botol serum yang tersisa di jaketnya, Brian mengambil dan meminum salah satunya kemudian berlari keluar.