NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 10 Rencana Pembalasan



Seorang ahli silat disamping David menggunakan tendangan tinggi ke arah kepala Riyan, bersamaan dengan itu David juga melancarkan pukulan ke Riyan.


Kedua serangan itu dapat dihindari oleh Riyan sambil bergerak maju dan bahkan dengan cepat melakukan serangan balik hingga hampir mengenai keduanya, andai dua orang lainnya tidak menghalau serangan Riyan.


Tanpa menghentikan gerakannya Riyan menyerang dua orang yang menahan serangannya. Riyan terus melancarkan serangan sambil menghindar mengincar daerah bawah maupun atas terlihat tidak beraturan. Dengan gerakan unik yang tidak bisa diprediksi mereka membuat ke 4 orang itu kebingungan.


Riyan hampir tidak terlihat seperti sedang bertahan. Serangan dari lawan yang lain akan dihindarinya sambil bergerak menyerang ke orang lainnya. Mereka dipaksa untuk mendekatkan jarak mereka agar tidak terkena pukulan atau tendangan Riyan.


"Hanya menghadapi 1 orang bahkan 4 ahli beladiri seperti kami bisa terdesak, gerakan aneh itu bukan Jeet Kune Do " pikir David


Suara sirene kemudian berbunyi menghentikan perkelahian mereka, David dan 3 orang lainnya segera menaiki mobilnya dan kabur meninggalkan anak buahnya di sana.


7 orang polisi datang dengan masing-masing membawa sebuah pistol di tangan, mereka datang dari balik minibus karena mobil yang terhalang oleh minibus milik para penjahat itu.


Polisi kemudian menangkap dan membawa semua yang ada disitu termasuk Riyan, para penjahat yang tengah terluka mencoba berontak namun gagal. Seorang warga keluar dari rumahnya, mengatakan bahwa dialah yang menelpon polisi karena mendengar perkelahian .


Warga itu menceritakan kalau melihat Riyan sedang dikeroyok, karena tidak berani melerai maka dia memutuskan untuk menelpon polisi.


Karena penjelasan dari warga tersebut Riyan hanya akan menjadi pelapor atas tindak kekerasan yang dilakukan para penjahat ini,dan diminta membuat BAP.


Setibanya di Polsek HP Riyan berdering,


panggilan dari pak Surya "maaf pak bisakah saya angkat telpon saya sebentar " pinta Riyan kepada pihak polisi


"Silahkan" kata Polisi


"Hallo, Kamu tidak jadi datang?" tanya pak Surya di telpon


"Sebentar lagi saya kesana setelah membuat BAP pak, sekarang lagi di kantor polisi, nanti saya jelaskan " kata Riyan


"baik yan, saya tunggu ya" kata pak Surya


"iya pak" telepon pun di tutup.


Setengah jam kemudian Riyan selesai memberikan informasi di kantor polisi dan membuat BAP. Dia kemudian melanjutkan ke kantor pak Surya.


Di kantor pak surya, Riyan menjelaskan keterlambatan dan peristiwa yang menimpanya. Riyan memberitahu ciri-ciri tentang David yaitu Tinggi sekitar 178Cm dengan perawakan tegap berambut spike warna coklat dengan satu anting berbentuk salib terbalik di telinga kirinya.


"anting salib itu dan rambut coklat spike, apa dia memakai setelan?" tanya pak Surya


"iya benar, setelan berwarna merah dengan Pin ular seperti membentuk huruf K " Jawab Riyan


"tidak salah lagi, itu David. Ada yang bilang Dia pemimpin kelompok penjahat di Kota ini, seorang Ahli Beladiri Sabuk Hitam tingkat III " kata Pak Surya


"Bapak mengenalnya? " tanya Riyan


"Tidak terlalu, dia pernah memintaku bekerjasama dengannya untuk menyelundupkan narkoba melalui daging rusa ke kota ini, aku menolaknya. Mungkin itulah sebabnya pemasok daging Rusa restoran kami tidak pernah mengirim lagi " Kata pak surya sambil berpikir.


"kenapa bapak tidak melaporkannya ke polisi? " tanya Riyan


"walau aku tidak tau, tapi mereka itu seperti kelompok penjahat besar yan, kulaporkan pun mungkin malah aku yang akan celaka " Jawab Pak Surya


"sudahlah kita lupakan itu dulu, aku memintamu kemari karena ada kabar gembira untukmu " lanjut Pak Surya


"apa itu pak ? " Riyan penasaran


"salah seorang temanku di kota malang dia pemilik Restoran di sana ternyata dia juga kesulitan mendapatkan daging Rusa, apa kau bisa menyediakan untuknya juga? " tanya Pak Surya


"Baiklah akan ku usahakan, anda katakan saja perlu berapa " kata Riyan


"kalau begitu nanti akan kukabari untuk selanjutnya " Kata Pak Surya


Riyan pun pamit meninggalkan tempat itu dan pak Surya berpesan agar Riyan hati-hati terhadap David dan kelompoknya.


"Jadi nama orang itu David ya " Kata Riyan sambil menaiki motornya


[apa anda ingin mencarinya]


"tidak perlu, asalkan mereka tidak menyentuh keluargaku, aku akan menghadapinya berapapun jumlahnya" kata Riyan


Riyan menyalakan motornya dan kembali pulang. Sesampai di rumah, nenek dan Mila sudah tidur. Setelah mengambil minuman dingin di kulkas, Riyan menuju kamarnya mengganti baju dan berbaring.


"kalau aku terus memburu rusa-rusa itu, tidak lama populasi mereka juga akan habis" pikir Riyan


"Alpha, apa menurutmu sebaiknya beternak saja daripada berburu ? " tanya Riyan


[selama masih ada hutan luas, lebih baik biarkan mereka berkembang biak secara alami]


"aku khawatir kalau mereka akan punah jika kutangkap terus menerus "


[kalau begitu anda buat penangkaran di hutan saja]


"begitu ya, akan kupikirkan nanti "


*Rumah David*


"Braak " kursi kayu terlempar ke tembok,David dan 3 orangnya masih memikirkan Riyan, di sana ada Safri seorang mantan juara atlit Silat dan dua orang sabuk hitam bernama Chandra dan Surya (Bukan Pak Surya, hanya nama depannya sama)


"kenapa anak itu begitu kuat " teriak David kesal


"tenang dulu " kata Chandra


"yah..kau benar " kata David menarik nafas


"apa perlu kita kumpulkan semua anggota untuk menghajarnya? kalau 26 orang tidak cukup, kita kerahkan 100 " kata Surya.


"tidak bisa, kalau seperti itu orang akan tau tentang kita. Untuk saat ini kita tidak boleh terlihat mencolok didepan umum, organisasi kita belum boleh muncul kepermukaan " kata David


"jadi kita harus menunggu waktu untuk membalas bocah itu ? " tanya Chandra


"Ya, tapi aku penasaran aliran beladiri apa yang dipakai bocah itu " Kata David


"Itu kuda-kuda Silat, tapi aku tidak pernah melihat gerakan silat seperti itu bahkan di turnamen Nasional sekalipun " sambung Safri yang ahli silat diantara mereka dengan tatapan lurus kedepan tanpa melihat teman-temannya.


"Apa mungkin itu silat yang tidak diajarkan secara umum, aku akan menanyakannya pada guru, mungkin beliau tau " pikir orang itu


"aku pergi dulu, kabari saja kalau membutuhkanku " Kata Safri sambil meninggalkan ruangan.


"kenapa dia terlihat frustasi begitu " kata Chandra


"Safri itu mantan atlit juara silat Nasional, dia tidak diijinkan lagi mengikuti turnamen sejak menghajar lawannya sampai mati " jelas David


"Jadi sekarang dia penasaran dengan jurus silat bocah itu ya " Kata Surya


"Mungkin...biarkan saja dia, bagaimana dengan anak buah kita yang ditangkap polisi ? " Tanya Chandra


"Tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini, mereka tertangkap secara terbuka, tunggu dikirim ke penjara baru bisa kita bebaskan di sana " jawab David


*Keesokan harinya*


Bell tanda berakhirnya pelajaran hari ini telah berbunyi, para siswa bergerombol meninggalkan ruang kelasnya masing - masing. Riyan masih bertahan dikelasnya sambil menunggu pelajaran tambahan untuknya dimulai.


Hari ini merupakan hari terakhir para peserta liga olimpiade bidang ilmu pengetahuan melakukan pelajaran tambahan.


#Notifikasi HP Riyan berbunyi#


Sebuah Chat masuk


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Cindy :


Hai, hari ini kau masih ikut pelajaran tambahan?


Riyan :


iya..apa kau tidak masuk hari ini?


Cindy :


aku masuk, hanya ingin tau kalau kau juga masuk, bisakah nanti kau mengantarku pulang?


Riyan :


Tentu saja,,,kau tidak dijemput hari ini?


Cindy :


Iya, ayahku katanya ada rapat mendadak hari ini, aku diminta pulang dengan teman tapi kau taukan semuanya sudah pulang duluan.


Riyan :


Baiklah...nanti ku tunggu di depan sekolah ya


Cindy :


Riyan :


hahahah...iya baiklah..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sepulang dari pelajaran tambahan Riyan menunggunya didepan sekolah, beberapa saat kemudian suara yang dikenalnya terdengar.


"Wow ternyata memang kamu lebih cepat ya " Kata Cindy


"Itu mudah untukku " kata Riyan sambil tersenyum


"Huh sombongnya keluar deh " kata cindy bercanda


"hehehe kamu tunggu disini, aku ambil motor dulu " kata Riyan


Riyan pun mengantarkan Cindy sampai kerumahnya, jaraknya lumayan jauh namun masih terhitung dekat dengan kota. Didepan gerbang setinggi 3 meter dengan lambang petir yang ditutupi seekor Naga mereka berhenti.


"disini ? " tanya Riyan


"Iya..aku tinggal disini " Jawab Cindy


"Kau mau masuk dulu " lanjutnya


Suara teriakan keras yang berasal dari dalam pintu itu terdengar sampai ketelinga Riyan yang berada di luar, membuat Riyan penasaran.


"baiklah, mungkin sebentar saja " kata Riyan


Begitu gerbang dibuka, disebelah kanan gerbang terdapat puluhan orang tersusun rapi dengan gerakan yang sama sedang berlatih ilmu silat.


"Sore paman " sapa Cindy kepada pelatih silat tersebut dan Riyan hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya sedikit.


Cindy dan Riyan berjalan melewati mereka menuju Rumah yang terbuat dari kayu ulin sehingga terkesan Tradisional.


"kau anak pemilik perguruan silat ini ? " tanya Riyan


"tempat ini memang punya ayahku, tapi yang mengajar silat itu hanya paman dan kakek " Jawab Cindy


"kenapa bisa begitu ? " tanya Riyan penasaran


"menurut kakek, ayah tidak punya bakat dan malas dalam latihan silat, makanya paman yang menjadi penerus kakek " jawab Cindy


"Bagaimana denganmu?" tanya Riyan


"aku bisa belajar sedikit-sedikit sih " sahut Cindy


Merekapun sampai di rumah Tradisional tersebut. 4 kursi kayu mengelilingi sebuah meja bundar berada di teras rumah itu, Cindy meminta Riyan duduk di kursi kayu dan menunggunya berganti pakaian.


"Kakeeeek, aku pulang " teriak Cindy sambil masuk kedalam.


Tidak berapa lama seorang lelaki tua namun masih terlihat kuat dengan rambut putih sepenuhnya datang menghampiri Riyan.


Riyan yang menebak itu adalah kakeknya Cindy kemudian berdiri dan menyodorkan tangannya.


"saya Riyan kek, teman Cindy " kata Riyan sopan


Kakek menyambut tangan Riyan dan mempersilahkannya duduk kembali.


"perguruan silat ini namanya apa kek ? " Tanya Riyan Basa-basi


"owh ini Kakek beri nama perguruan Naga Petir " Jawab Kakek


"saya lihat murid perguruan disini banyak, sudah lama ya kek ? " kata Riyan


"sekitar 30 Tahun " jawab kakek


"Lama juga ya kek " kata Riyan


"kamu teman barunya Cindy ? soalnya kakek baru liat kamu" tanya Kakek itu


"Iya kek, kami baru kenal. Kebetulan kami sama-sama ikut liga olimpiade pelajar mewakili sekolah kami " kata Riyan


"Dia itu juara umum disekolah kek " Tiba-tiba Cindy datang dari belakang kakeknya dengan mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih dan celana pendek.


"wah ternyata teman cindy hebat ya " Ucap seorang wanita yang berada dibelakang Cindy membawa 2 gelas teh diatas sebuah nampan dan meletakkannya di atas meja bundar di tengah mereka.


"biasa saja tante " ucap Riyan


"Silahkan diminum,,tante tinggal dulu " kata ibu Cindy yang kemudian kembali masuk ke rumah.


"Kakek juga mau pergi melihat murid-murid pamanmu dulu " kata kakek


"Iya kek " jawab Riyan dan Cindy


"Kakek sama ibu kamu baik ya" Kata Riyan


"Tau dari mana itu Ibuku ? siapa tau pembantu " Tanya Cindy


"mana mungkin, keliatan lha itu Ibumu, kan Cantiknya sama kayak kamu " Kata Riyan


"Hahaha Gombal " ucap Cindy tertawa


Waktu tidak terasa berlalu dengan cepat, Riyan pun pamit kepada Cindy dan keluarganya untuk pulang.


*Diperguruan Silat Lain di Luar Kota*


Dilapangan yang berumput hijau dibalik tembok besar warna coklat dengan pintu Hitam, tempat itu seukuran dua lapangan Basket di sana Masing-masing murid sedang melakukan latih tanding.


Disamping lapangan itu terdapat sebuah gazebo tempat guru besar mereka mengawasi latihan para murid. Safri berjalan melewati para murid menuju ketempat gurunya itu.


"saudaraku, lama tidak bertemu, ada apa kau datang kemari?" tanya seorang yang ada di sana menyambutnya dengan gembira


"Kak Fadli, ada yang perlu saya tanyakan, dimana guru?" tanya Safri


"Beliau ada di rumah, ayo ikuti aku " kata Fadli setelah memerintahkan seseorang lain untuk mengawasi murid mereka.


Safri akhirnya menemui gurunya, seorang lelaki yang sangat tua. Safri menceritakan mengenai gerakan silat Riyan yang dilihatnya secara mendetail.


"apa itu mungkin semacam perpaduan dari beberapa aliran silat?" Tanya Fadli


"entahlah, Apa guru tau silat jenis apa itu ? " tanya Safri


"Aku tidak begitu yakin, tapi kalau mendengar ceritamu, itu mirip gerakan sundang majapahit yang sudah lama hilang yaitu sundang sungai " kata guru mereka


"aku tidak pernah mendengar silat itu guru " kata Safri


"Tentu saja, ilmu itu sudah hilang lama sekali. Aku juga mengetahui dari cerita guruku " kata Gurunya


Gurunya menjelaskan bahwa Sundang Majapahit dikenal sebagai ilmu silat yang menakutkan pada jaman perang antar kerajaan dulu, terbagi menjadi 5 unsur yaitu :


Sundang Gunung, jurus untuk bertahan membuat penggunanya kuat dan stabil, tidak bergerak dari tempatnya bahkan jika dikeroyok sekalipun.


Sundang Sungai, jurus untuk menyerang orang banyak, bergerak seperti air sungai yang selalu bisa mencari celah walau terhalang benda apapun,jurus ini bisa melawan banyak orang tanpa mundur.


Sundang laut, jurus ini lanjutan dari sundang sungai, digunakan untuk menaklukan lawan dengan menyerang titik vital.


Sundang Angin, jurus ini digunakan untuk menyusup. Penggunanya bisa bergerak cepat tanpa bersuara seperti angin.


Sundang matahari, jurus yang digunakan sebagai perlindungan untuk orang lain, jurus ini memungkinkan penggunanya melempar banyak pisau secara bersamaan, dulu digunakan sebagai perlindungan anggota kerajaan.


"Jadi Anak itu punya ilmu sangat hebat, pantas kami berempat tidak bisa melawannya" pikir Safri


"bagaimana mengalahkan orang seperti itu? " tanyanya pada gurunya


"mudah, tembak saja " jawab gurunya


"guru, aku serius " kata Safri


"kalau hanya belajar 1 atau 2 unsur itu masih bisa dikalahkan dengan dikeroyok ahli silat,


tapi kalau menguasai semua jurus unsur itu maka pilihannya jangan berurusan dengannya atau kau tembak " kata gurunya


"aku hanya pernah melihatnya menggunakan satu jurus itu" kata Safri sambil memikirkan sesuatu.


"jangan takut, menurut cerita guruku Jurus itu belum pernah ada yang menguasai kelima unsurnya selain Mahesa Anabrang si pembuat jurus dan anaknya Mahesa Taruna, karena sulitnya mempelajari ilmu itu secara keseluruhan membuatnya punah dimakan jaman" kata Gurunya


"Terima kasih pelajarannya guru" Kata safri


Diapun meninggalkan tempat itu untuk menemui David agar mengumpulkan orang lebih banyak untuk mengeroyok Riyan untuk membalasnya, dan menyediakan senjata api untuk berjaga - jaga.