
*SMA Fajar Harapan*
Keesokan paginya, Riyan memasuki kelas dan melihat Cindy dengan posisi telengkup di atas mejanya. Karena tidak biasanya pagi hari Cindy diam di mejanya, Riyan pun mendekati kekasihnya itu.
"Hei, kamu lagi sakit sayang?pagi-pagi udah lemes aja" ucap Riyan
"nggak, cuman capek banget tadi malam belajar jurus baru say" jawab Cindy reflek
"Lho, bukannya katamu latihan diliburkan" balas Riyan meletakkan tasnya
Cindy pun terpaksa menceritakan kepada Riyan mengenai jurus yang dia dapat dengan mengambil foto dari buku tua milik pamannya. Karena tidak bisa melatihnya di luar rumah, dia terpaksa berlatih di dalam kamar.
"Dasar kau ini, aku punya tempat latihan yang bagus jika kamu mau" ucap Riyan
Mendengar itu Cindy langsung gembira dan bersemangat. Rasa lelahnya seketika hilang dan keceriaan kembali datang kepadanya.
"Dimana?" tanya Cindy semangat
"Tenanglah, kita sekolah dulu. Nanti ku antar kau ke sana" ucap Riyan
*Penjara Varmont*
Disaat yang sama malam itu di Las Vegas, Sebuah mobil sedan warna putih tiba dan parkir didepan Penjara Varmont, dari mobil itu turun seorang wanita muda jepang dengan rambut hitam panjang menggunakan jepit rambut model bobby pin diatas telinga.
Pakaian yang dikenakan wanita itu seperti seorang sekretaris, yaitu blazer warna biru muda dengan rok pendek dan kacamata dipadu dengan sepatu hak tinggi.
Pada pos penjagaan, dia mengatakan kepada petugas disana kalau dirinya adalah saudari dari Aida Rinko dan datang ke penjara Varmont untuk mengunjungi adiknya itu.
Sebelum diperbolehkan masuk, wanita itu di periksa dan diminta untuk meninggalkan tas serta barang-barang bawaannya di pos penjagaan kecuali jepit rambut dan jam tangannya.
Seperti pengunjung pada umumnya, wanita itu di kawal menuju kantor sipir untuk melaporkan kunjungan napi. Dengan menyerahkan beberapa dokumen palsu yang menunjukkan bukti bahwa Rinko adalah adiknya, sipir penjara memperbolehkan wanita itu untuk menemui Aida Rinko.
Dua orang prajurit ditugaskan mengantarkan wanita itu ke dalam ruang kunjungan, dan dua prajurit lagi diperintahkan menjemput Rinko dari sel nya.
Beberapa saat kemudian mereka bertemu dalam ruang kunjungan yang di jaga oleh empat orang tentara, dua dibelakang Rinko dan dua lagi dibelakang wanita itu.
Ketika sampai di ruang kunjungan, Rinko memperhatikan wanita itu. Dengan sedikit ragu, Rinko duduk dan mengambil telpon yang tertempel pada sekat pembatas meja. Setelah Rinko meletakkan telpon itu ke telinganya, wanita itu juga melakukan hal yang sama.
"Hallo Rinko chan " sapa wanita itu dalam bahasa jepang.
Karena wanita itu memulai pembicaraan dengan bahasa Jepang, Rinko pun mengikuti wanita itu dan berbicara dalam bahasa Jepang.
"Aku tidak mengenalmu, siapa kau? " tanya Rinko
"Namaku Hana, aku kesini hanya ingin menanyakan beberapa informasi mengenai kejadian di Wallin Palace " ucap wanita itu
"dan kenapa aku harus menjawabnya? " balas Rinko dengan santainya
"Aku bekerja dengan N.O.Z , kau pasti mengenal organisasi kami kan. Malam itu banyak korban jatuh dari kelompok kami, harusnya kau mengerti kenapa kami meminta informasi darimu " ucap Hana.
Para penjaga hanya diam saja karena tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan dalam bahasa Jepang. Bahkan untuk pengucapan NOZ, wanita itu mengejanya dalam bahasa jepang menjadi enu o zeto.
Sedang Rinko yang mendengar nama organisasi NOZ, raut wajahnya berubah menjadi serius. Dia pun mendekatkan wajahnya pada sekat kaca yang membatasi mereka berdua.
"Keluarkan aku dari sini, maka akan kuceritakan semua yang ingin kau tahu " ucap Rinko
"Kenapa ? apa kau sudah tidak betah disini ? " sindir wanita itu dengan pertanyaan retorisnya.
"Hah..lucu sekali " balas Rinko
Hana tersenyum sambil menyandarkan dirinya kemudian memegang alat komunikasi yang ada di telinganya.
"Dia ingin keluar dari sini " ucap Hana dalam bahasa inggris
Prajurit yang mendengar kata-kata Hana, curiga dan langsung siaga dengan senjata di tangan mereka. Mata Hana dan Rinko mengarah kepada prajurit yang menjaga tempat itu.
"Baiklah, kita keluarkan dia dari situ. bersiaplah ! " sahut suara yang berasal dari alat komunikasi di telinga Hana.
Tidak jauh dari lokasi penjara Varmont, Thomas yang sudah mengumpulkan orang-orangnya didalam sebuah mobil Van Hitam berangkat menuju dinding luar penjara. Mereka berencana menyerang penjara Varmont untuk membebaskan Rinko.
Pengawas menara pertama yang ada di bagian depan penjara melihat mobil Van hitam itu melaju dengan kencang dan berhenti tepat di depan pos pemeriksaan masuk penjara Varmont. Para prajurit yang berjaga menyiapkan senjata di tangan mereka dan menunggu hal selanjutnya dari mobil Van yang diam didepan mereka.
Sementara itu didalam mobil, Thomas dan pasukannya yang berjumlah 7 orang juga sudah menyiapkan senjata masing-masing. Pintu mobil terbuka sedikit, kemudian sebuah granat khusus melayang kearah pos penjagaan.
Disaat yang sama di ruang kunjungan, Hana masih duduk di kursi pengunjung menunggu isyarat dari Thomas dan timnya.
"Kau bisa mengatasi dua orang di belakangmu ? " tanya Hana dalam bahasa Jepang
"tidak masalah " balas Rinko
Sesaat kemudian suara ledakan terdengar sangat keras dari arah depan penjara hingga ke semua penjuru penjara membuat seluruh prajurit di penjara itu siaga dan pergi menuju pos depan, begitu juga penjaga yang ada di ruangan pengunjung sontak kaget membuat perhatian mereka teralihkan.
Hana dan Rinko yang dari tadi memperhatikan para penjaga di sana, tidak melewatkan kesempatan itu. Hana menekan tombol kecil pada jam tangannya dan seketika berubah menjadi pistol yang dengan cepat ditembakkan kepada dua prajurit di belakangnya hingga tewas.
Sedangkan Rinko dengan cepat berdiri dan mengambil kursi yang didudukinya kemudian menghantamkan kursi itu kepada salah satu prajurit dibelakangnya hingga pingsan. Prajurit lain yang berada di samping temannya yang sudah pingsan mengarahkan senjatanya kepada Rinko.
Sayangnya gerakan Rinko lebih cepat, sebelum sempat menembakkan peluru dari senjatanya, Rinko menendang perut prajurit itu hingga menunduk. Rinko melompati tubuh penjaga itu hingga membuat dia berpindah ke belakang sang prajurit, dengan menggunakan rantai borgol di tangannya dia mencekik prajurit tersebut hingga pingsan.
Rinko mendapatkan beberapa kunci dari kantong pakaian prajurit yang pingsan, kemudian menggunakannya untuk melepaskan borgol di tangannya. Hana menembak kaca yang menjadi pembatas di ruangan itu hingga hancur berkeping-keping.
"tidak buruk, ayo ! " ajak Hana
"Kau tidak tau siapa aku " balas Rinko
Rinko berpindah ke sisi Hana dan mengambil senjata api milik prajurit yang tewas.
"kuharap rencana kalian sudah matang " ucap Rinko
"Kau tidak perlu khawatir, ayo cepat ! " ucap Hana berlari
Mereka berdua keluar dari ruangan itu dan berada pada lorong yang menghubungkan kearah luar dan ruang sipir.
Sementara itu di depan pos, Thomas dan yang lainnya sedang ditembaki sejumlah prajurit. Thomas dan timnya berlindung di balik mobil Van.
Rentetan tembakan peluru dari seluruh prajurit Amerika yang menjaga penjara Varmont memojokkan Thomas dan 7 orang lain. Di sisi lain dari atas menara pengawas, tiga orang sniper bersiap menembak mereka jika terlihat.
"Rinko sudah bersamaku, saatnya pergi dari sini " ucap Hana melalui alat komunikasi
"Baiklah, kita mulai teman-teman!aku akan mengatasi menara pengawas" ucap Thomas menekan wechas miliknya yang kemudian menjadi senjata laras panjang.
Salah satu anggota tim Thomas melemparkan granat flashbang ke arah atas. Beberapa detik kemudian granat itu meledak dan mengeluarkan cahaya sangat terang yang menyilaukan mata.
Disaat beberapa prajurit memejamkan matanya dan beberapa lagi menunduk untuk menghindari Kilauan cahaya, tim Thomas keluar dari balik mobil Van dan menembaki para prajurit.
"Dor..dor...dor" peluru dari senjata laras panjang Thomas membuat lubang diantara dua alis tiga orang prajurit yang berada di menara pengawas.
Hana dan Rinko yang datang dari bagian dalam penjara menuju pos penjagaan, kemudian menembaki prajurit yang tersisa di sana. Dari arah belakang terlihat prajurit yang datang dari dalam penjara termasuk kepala sipir serempak mendatangi pos penjagaan.
Baku tembak pun terjadi kembali dengan Tim Thomas saat prajurit dalam penjara tiba di pos penjagaan.
"tretetet,,,,tretetet" Suara tembakan senjata api kedua belah pihak memenuhi lorong dan pos penjagaan penjara Varmont malam itu.
"Dimana jemputannya " ucap Hana
"Sabar teman-teman, aku datang " ucap seseorang melalui alat komunikasi mereka
"Bruuuk" Sebuah mobil box besar dengan cepat menabrak mobil van yang diparkir didepan pos penjagaan hingga tergeser ke tembok penjara.
Thomas melemparkan beberapa bom asap kearah para prajurit sehingga menutupi pandangan para prajurit. Mobil box itu berputar dan mengarahkan bagian belakangnya kepada tim Thomas.
"Cepat naik !" teriak orang yang mengendarai mobil itu.
Dengan pintu box yang terbuka karena memang tidak dikunci sejak awal, tim Thomas masuk kedalam box mobil itu sambil terus menembaki prajurit penjaga penjara.
Setelah semua anggota tim masuk kedalam box, mobil itu pun tancap gas meninggalkan penjara Varmont.
"Rencana kalian kasar sekali " ucap Rinko yang sudah berada di dalam box bersama seluruh tim Thomas.
*Kota Muriya*
Sepulang sekolah Riyan membawa Cindy kedalam hutan melewati semak dan pepohonan untuk menuju tempat dimana Riyan biasa menangkap rusa. Tempat itu terdapat tanah lapang untuk Cindy berlatih silat dan sebuah pohon besar untuk berteduh. Di ujung tanah itu, terlihat beberapa rusa sedang menikmati makan rerumputan.
"Wah disini bagus sekali" ucap Cindy
"Benar kan, selain pemandangannya bagus, kau juga bisa berlatih disini" ucap Riyan
"Iya" sahutnya
Cindy meletakkan tasnya dan berlarian di tengah tanah lapang penuh rerumputan itu. Cindy berjalan mendatangi Riyan yang berada di bawah pohon besar yang rindang, kemudian mengulangi gerakan silat yang dipelajarinya tadi malam.
Riyan hanya menyaksikan Cindy berlatih jurus hukuman petir naga didepannya. Gerakan yang dilakukan Cindy hampir tidak memiliki gerakan tendangan tinggi, hanya tinju dan cakar serta banyak gerakan memutar.
"Alpha, apa kau tau jurus yang sedang dilatih Cindy?"
[Ya, itu adalah hukuman petir naga. walau tidak setua silat sundang majapahit, jurus yang dilatih Cindy juga tergolong kuno]
"Apa kau mempunyai datanya?"
[Ya. Apa anda ingin mempelajarinya?]
"tidak perlu, aku bahkan jarang menggunakan sundang majapahit"
Saat itu Cindy meminta Riyan untuk berlatih tanding dengannya. Riyan pun menyetujui permintaan kekasihnya itu, sekaligus untuk membuat Cindy menjadi lebih kuat.
"Disaat pasangan lain kencan di mall, kami malah di hutan dan berlatih silat" gumam Riyan dalam hati
Cindy pun mencoba jurus barunya sampai tarian petir naga dengan Riyan sebagai lawan latihannya. Dalam latihan itu, Riyan mampu menghindari semua serangan dari Cindy.
"Ah gerakan Riyan terlalu cepat, itu sudah jelas karena dia bahkan mampu mengimbangi kecepatan bule (Brian) waktu itu" pikir Cindy sambil terus dengan giat melancarkan serangannya.
Disaat itu, impuls listrik didalam tubuh Cindy meningkat. Sistem saraf yang mengirimkan sinyal ke otak atau otak yang menyuruh organ tubuh untuk bergerak, itu adalah listrik yang membawa pesan seperti sinyal kabel digital. Pada tubuh manusia, elektron tidak mengalir di sepanjang kawat melainkan muatan listrik meloncat dari satu sel ke sel berikutnya sampai mencapai tujuannya.
Tubuh manusia normal hanya bisa menghasilkan listrik antara 10 dan 100 milivolt. Sedang Cindy yang telah mendapatkan kemampuan belut listrik dimana mampu menghasilkan hingga 860 volt, saat itu menghasilkan 5 volt listrik yang melompati sel dalam tubuhnya. Hal itu menjadikan gerakannya menjadi super cepat.
Riyan yang tidak memakai armor untuk meningkatkan kecepatannya, tidak bisa mengimbangi serangan Cindy dan harus terkena 4 pukulan terakhir yang tersisa dari tahap tarian petir naga.
Pukulan dari Cindy membuat Riyan terpaksa melompat salto ke belakang agar tidak jatuh ketanah.
"Ah sayang maaf" ucap Cindy mendekati Riyan
"Tidak apa, aku tidak mengira kecepatan mu akan bertambah dalam sekejap, apa itu bagian dari jurusnya?" ucap Riyan
"aku juga tidak mengerti, tapi rasanya tubuhku merespon seketika apa yang kupikirkan" balas Cindy
[Itu karena listrik didalam tubuhnya meningkat tuan]
"itu berasal dari kemampuan serum belut listrik, sepertinya kamu harus mengasahnya sayang!" ucap Riyan kepada Cindy
"Oke sayang" balas Cindy
Hari hampir sore, Riyan mengajak Cindy untuk pulang karena nanti malam harus memenuhi undangan dari ayah Cindy untuk malam. Riyan mengantarkan Cindy sampai ke depan gerbang rumahnya.
"jam 7 ya jangan telat, pakai pakaian yang rapi supaya gantengnya maksimal" ucap Cindy
"iya sayaang" balas Riyan
Kemudian Riyan pamit pulang dan menjalankan motornya. Cindy pun masuk kedalam rumahnya dimana dia melihat pamannya yang kali ini berlatih di halaman rumah.
Riyan tiba dirumahnya pukul 17.30, Tari dan Mila saat itu sedang membuat semacam miniatur rumah untuk tugas sekolah Mila di ruang tengah.
"wah bagus sekali" ucap Riyan melihat miniatur yang dibuat mereka
"tentu saja, oh iya kak, besok sore apa kakak bisa ke sekolahku? " sahut Mila
"kenapa?" tanya Riyan
"besok ada acara lomba kesenian dan wali murid diminta hadir, Mila ikut lomba menyanyi besok " jawab Mila
"kebetulan aku besok kerja sampai malam" tambah Tari
"baiklah tidak masalah, aku akan datang besok" balas Riyan
Riyan kemudian menuju kamarnya meletakkan tas dan pergi mandi. Pukul 18.15 Riyan sudah siap dengan penampilan yang rapih dan memakai minyak wangi.
"wah kakak keren sekali, mau kemana?" tanya Mila
"aku mau pergi makan malam di rumah Cindy" balas Riyan
"cieee..yang mau ketemu calon mertua" ledek Mila
"masih kecil juga bilang begitu" balas Riyan
Karena akan pulang malam hari, Riyan mengambil kunci mobil untuk pergi kerumah Cindy.