
Riyan mengembalikan bentuk pedang orientalnya menjadi kalung dan memimpin jalan. Dia membawa ketiga gadis yang sudah berpakaian pantas itu untuk keluar dari pabrik kertas.
"Kau bilang sebelumnya ditahan di Xforu, dimana tempat itu?" tanya Riyan
"Saya tidak tau kota ini, saya hanya tidak sengaja melihat nama yang terpampang di atas pintu masuk karena ikatan penutup mata saya terlepas" jawan Riska
Begitu masuk ke ruang pabrik, ruangan itu sekarang sudah terang oleh lampu yang sudah dinyalakan oleh kedua satpam. Tanpa diduga satpam yang bertugas di pintu gerbang, berada di dalam ruang pabrik kertas tersebut.
Sehingga Riyan dan ketiga gadis yang baru saja keluar dari pintu kamar tempat jalan rahasia, terlihat jelas oleh kedua satpam tersebut. Kedua satpam langsung mengeluarkan pistol dari sarungnya dan mengarahkan kepada Riyan.
"Jangan bergerak!" ucap kedua satpam
Riyan yang masih memapah seorang gadis tentu tidak bisa seketika bergerak cepat menyerang kedua satpam tersebut. Kedua Satpam itu mendekat perlahan ke arah Riyan dan para gadis dengan tetap mengacungkan senjata mereka.
"Apa kalian pegawai baru disini?" tanya Riyan
"Darimana kau tau?" tanya salah seorang satpam
"Karena orang lama pasti akan langsung menembak, bukan mendekati musuh seperti yang kalian lakukan" ucap Riyan
Seketika material nano yang membentuk dua tentakel muncul dari bawah kaki Riyan, dengan cepat kedua tentakel hitam itu menjerat dan mengangkat tubuh kedua satpam ke udara pada ketinggian 3 meter.
"Aaakh..toloong" teriak mereka
Riyan kemudian membuat kedua satpam itu pingsan dengan saling menghantamkan kedua kepala mereka.
Riyan kemudian membawa ketiga gadis itu keluar gerbang, meletakkan tubuh sempoyongan mereka pada sebuah kursi yang ada di pinggir jalan. Riyan pun meminta Riska untuk meninggalkan tempat itu bersama dua gadis yang masih teler.
"Maaf, aku tidak bisa mengantar kalian lebih jauh. Apa kau bisa membawa kedua gadis ini?" ucap Riyan kepada Riska
"Jangan khawatir, lagi pula saya sudah membawa bekal lebih untuk kami" balas Riska menunjukkan isi tas ransel yang dibawanya sejak keluar dari kamar di ujung lorong. Tas itu berisi penuh dengan uang yang diambilnya dari para penjahat di kamar itu.
"Baguslah, sebaiknya hati-hati" ucap Riyan meninggalkan para gadis itu.
Setelah memikirkan kembali, Riyan menjadi khawatir dengan ketiga gadis itu membawa banyak uang saat tengah malam di kota besar. Dia pun kembali kearah Riska yang masih berdiri di trotoar jalan, ditemani dua orang gadis yang setengah sadar duduk pada kursi jalan dibelakangnya.
"Kenapa anda kembali?" tanya Riska heran
"Aku akan mengantar kalian" sahut Riyan
Riyan kemudian menghilangkan armor hitamnya. Riska sedikit kaget melihat orang dibalik armor hitam itu adalah seorang pemuda tampan tidak seperti yang dia perkirakan.
"Eh..kupikir kau berumur 35 tahunan" ucap Riska
"Apa terlihat setua itu?" tanya Riya
"Kau menggunakan kostum hitam itu hingga kepala, Bahkan suaramu juga berbeda sekarang. Siapapun juga akan salah duga" balas Riska
"Apa kalian punya tempat tujuan?" tanya Riyan
"Tidak tau dengan mereka berdua, tapi aku dibawa kemari dari Sumatra, jadi tidak punya siapa-siapa disini dan tidak ada tujuan" ucap Riska
"Begitu ya, kalau begitu kau gunakan saja uang itu untuk kembali ke kampung halaman" ucap Riyan
"Itu tidak bisa, di sana sudah tidak ada siapapun yang menungguku. Orang-orang ini yang disebut sebagai anggota Kurassha, mereka membunuh orang tua, adik dan kakak ku yang mencoba menghalangi orang-orang Kurassha membawaku" jelas Riska
"Apa mereka bergerak sefrontal itu di Sumatra, sampai menghabisi satu keluarga hanya untuk membawa anak gadisnya" gumam Riyan dalam hati.
Beberapa saat kemudian sebuah taksi argo terlihat dari kejauhan, Riyan memberhentikan taksi tersebut dengan melambaikan tangannya.
"kita mau kemana?" tanya Riska melihat Riyan menghentikan taksi
Taksi pun mendekat kearah Riyan dan Riska. Mereka memapah kedua gadis itu, dan memasukkan mereka pada kursi belakang beserta Riska.
"Untuk malam ini kalian tidur di tempatku menginap" ucap Riyan menutup pintu mobil belakang
Kemudian Riyan berlari kecil menuju pintu depan mobil dan duduk di samping supir.
"Ke Hotel Nova pak" ucap Riyan
"Siap mas" balasnya
Beberapa menit kemudian, Taksi yang di tumpangi Riyan berhenti di depan hotel, Riyan memberikan kunci kamarnya kepada Riska.
"Kau bawa lah mereka istirahat di kamar ku" ucap Riyan
"Bagaimana denganmu?" tanya Riska
"Kemungkinan malam ini aku tidak akan pulang" jawab Riyan
Setelah Riska menurunkan para gadis, mobil taksi kembali jalan meninggalkan hotel.
"Kemana lagi mas?" tanya supir
"Diskotik XForu" sahut Riyan
"Buset, tenagamu kuat sekali anak muda" ucap sopir taksi
"Kenapa pak?" tanya Riyan bingung
"Itu tadi tiga cewek masih kurang mas?"
"Bukan begitu pak" ucap Riyan
Kemudian taksi berhenti di pintu masuk diskotik, dan supir mengatakan kalau itu adalah tempat tujuan Riyan. Riyan pun turun di sana dan melihat tulisan XForu dengan lampu berkelap kelip di atas pintu masuk.
"Ternyata cukup dekat" ucap Riyan dalam hati.
Dari luar diskotik terdengar suara musik disko yang sangat nyaring. Bahkan di luar tempat itu banyak orang yang sedang berkumpul.
Diskotik Xforu merupakan diskotik yang didirikan tahun 2022, hanya dalam waktu 4 tahun sudah menjadi diskotik terbesar di Jakarta sekaligus markas pusat Kurassha di Jakarta.
Bentuk kerucut Diskotik itu dilengkapi dengan 4 lantai. Lantai satu digunakan sebagai hall, sementara lantai 2 dan 3 terdapat sejumlah room karaoke, sementara di lantai empat terdapat kamar dengan tempat tidur yang sebagian digunakan untuk menahan tawanan gadis dan pertemuan kelompok Kurassha.
Awalnya markas pusat Kurassha di Jakarta adalah pabrik kertas. Namun karena kesuksesan diskotik itu, akhirnya markas pusat dipindahkan dan menjadikan pabrik kertas menjadi tempat pembuatan narkoba.
Ketika Riyan ingin masuk kedalam tempat itu, langkahnya tertahan oleh dua penjaga bertubuh besar dengan kaos hitam. Riyan yang belum pernah masuk ke sana menjadi bingung, kemudian bertanya kepada salah seorang yang berada di depan tempat itu.
Ternyata di ketahui bahwa malam itu adalah malam khusus untuk tamu anggota VIP diskotik Xforu, sehingga tamu umum tidak diijinkan untuk masuk.
"Berarti di dalam tidak banyak orang" ucap Riyan melihat kearah diskotik
Riyan mencari jalan lain untuk memasuki diskotik itu, dia mengelilingi diskotik yang sangat luas itu namun sama sekali tidak terlihat adanya jalan masuk selain pintu depan yang dijaga dua raksasa.
[Dua meter di depan anda terdapat pintu, namun hanya bisa di buka dari dalam]
Setelah tepat berada di depan pintu dengan warna dan motif yang sama dengan dinding, Riyan mengetuk pintu itu.
Seketika pintu terbuka dan satu orang berbadan besar dengan brewok tebal menghadang Riyan.
"aku ingin bertemu Julia" ucap Riyan dengan percaya diri
"Siapa kau?saat ini hanya anggota yang bisa masuk"
"Katakan kepadanya! Bos Tirta mengirim ku" jawab Riyan
"Tunggu disini!"
Penjaga berbadan besar itu menutup pintu dan meninggalkan Riyan di luar. Setelah 10 menit orang itu kembali dan mengatakan kalau Julia tidak ada. Riyan berpaling, kemudian dengan tiba-tiba dia membalikkan badannya dan menyerang tenggorokan orang besar itu.
Nafas orang itu seolah tersendat, mulutnya menganga dan kedua tangan memegang lehernya. Riyan kembali melepaskan tinjunya hingga merobohkan penjaga besar dan menendang tubuhnya keluar.
Sekarang Riyan sudah berada di dalam diskotik besar itu. Ruangan itu bernuansa gelap yang hanya bermodalkan lampu sorot yang berputar-putar dan lampu hias lainnya. Terlihat semua orang dilantai bawah itu berjoget atau berdansa sesuai dengan alunan lagu yang dimainkan oleh DJ.
Di ruangan itu juga terdapat bar yang menyediakan berbagai macam minuman beralkohol, dilengkapi dengan meja dan kursi agar pengunjung dapat menggunakannya dengan mudah untuk minum atau makan. Meja bar juga bisa dimanfaatkan untuk meletakkan berbagai botol minuman berikut dengan gelasnya.
Tanpa memperdulikan kehebohan yang terjadi di lantai itu, Riyan menaiki lift untuk menuju lantai 4. Dimana menurut pindaian dari Alpha, lantai itu yang memiliki kamar paling sedikit.
Pintu lift terbuka, seorang wanita berseragam pakaian mini dan rok pendek warna merah berada di dalam dan berdiri tepat di depan tombol lift. Dia bertugas untuk membantu pengunjung menekan tombol lantai arah tujuan mereka.
"lantai berapa?" tanya wanita itu dengan ramah
"empat" sahut Riyan
Wanita itu terlihat sedikit terkejut, kemudian menekan tombol 4 yang ada pada lift. Namun selain tombol angka, wanita itu juga menekan sebuah tombol kecil yang tersembunyi di samping papan tombol.
Riyan sama sekali tidak mencurigai apapun dengan apa yang dilakukan wanita itu.
"Ting" pintu lift terbuka
Riyan keluar dari lift dan menginjakkan kakinya pada karpet merah dengan lebar 3 meter di lantai itu. Di sana Riyan kembali dipertemukan dengan pemandangan seperti susunan kamar hotel dengan pintu kamar yang saling berhadapan.
"Dor..dor..dor"
Suara tembakan yang berasal dari pistol yang dipegang wanita dari dalam lift. Lima peluru bersarang di punggung Riyan dan membuatnya jatuh.
Melihat targetnya telah jatuh di lantai, wanita itu menutup pintu lift tersebut dengan senyum ramahnya. Begitu lift di tutup, wanita itu menggunakan alat komunikasi yang menempel di dinding lift.
"Target sudah di bereskan, bersihkan mayatnya!" ucap wanita itu
Tidak berapa lama, Lima orang pria berdiri di samping tubuh Riyan yang terbaring di lantai. Tiga orang jongkok untuk mengangkat tubuh Riyan.
Namun sebelum menyentuh tubuh Riyan, tentakel hitam tiba-tiba menembus dari dagu hingga menembus kepala ketiga orang itu. Dua orang yang ketakutan mundur menjauh dari tubuh riyan.
Tentakel itu kembali masuk kedalam tubuh Riyan, lima peluru keluar satu persatu dari tubuhnya. Seketika luka di tubuh Riyan pulih, kemudian Riyan bangkit dan berdiri.
"Merepotkan saja" ucap Riyan melepas liontin nya.
Salah seorang penjaga yang tersisa mengangkat alat komunikasi di tangannya dan mendekatkan kemulutnya.
"Target belum mati, lapor target belum mati" orang itu panik
Seketika 6 pintu di lantai itu terbuka dan satu persatu sejumlah orang keluar dengan membawa sebuah golok di tangan mereka.
"Kupikir penjaga bersenjata api seperti biasanya yang akan muncul" ucap Riyan tersenyum
Riyan mengaktifkan armor hitamnya untuk menghadapi pasukan penjaga di lantai itu. Pasukan penjaga mengangkat golok mereka kemudian berlari ke arah Riyan.
Suara teriakan pasukan tersebut seolah membakar semangat mereka untuk menyerang. Riyan mengaktifkan Pedang oriental miliknya untuk menghadapi sejumlah penjaga di hadapannya.
"Klink..klink"
"Sreet...jleb"
Tangkisan dan serangan Riyan melawan penjaga itu dengan sangat cepat hingga hanya dalam waktu 5 menit sudah menghabisi 15 orang lebih, namun beberapa dari mereka juga ahli dalam beladiri.
Pertempuran di lorong sempit itu menjadi sangat sengit, tangkisan dan tebasan serta cipratan darah memenuhi lorong di lantai 4. Selain para penjaga yang terbunuh, banyak dari mereka juga kelelahan dan terkena tebasan di tubuhnya.
Sedang disisi lain, Riyan terus menyerang tanpa lelah. Dalam sekejap seluruh penjaga di lorong itu tewas oleh tebasan pedang oriental Riyan. Petugas yang melihat kejadian itu dari cctv, menekan alarm khusus dan membuat orang seisi bangunan itu menghentikan aktifitasnya.
Tanpa membuang waktu, Riyan menghilangkan armor di kepalanya dan membuka kamar di lantai itu satu persatu. Setiap pintu yang dibuka oleh Riyan, dia selalu meneriakkan nama Mila.
Bahkan penjaga yang berada di depan pintu masuk, bergerak ke dalam dan mengunci pintu depan agar tidak satupun dapat masuk kedalam bangunan itu.
Saat salah satu pintu kamar terbuka dimana ruangan itu sangat gelap, Riyan kembali meneriakkan nama Mila. Seorang gadis berlari mendekat ke arah Riyan kemudian menyalakan lampu kamar.
"apa kau kakaknya Mila?" tanya gadis itu yang adalah Dian
"benar"
Iren dan Gita terkejut mengetahui kenyataan kalau kakak Mila benar-benar datang. Mereka bergegas mendekati Riyan.
"Mila dan anak baru lainnya dibawa pergi oleh Kevin" ucap Iren
"kemana?" tanya Riyan
"entahlah, mata kami selalu ditutup apabila dibawa pergi" balas Iren
suara dari pintu lift yang terbuka menghentikan percakapan mereka. Riyan yang saat itu berada di depan pintu, menoleh kearah lift yang ada di ujung lorong.
Iren, dan yang lainnya ikut melihat apa yang ada di sana. Perasaan mereka menjadi tidak karuan melihat sejumlah orang yang tadinya sedang asik berdansa kini naik ke lantai 4 dengan membawa pedang dan senjata api.
"kalian masuklah kedalam! aku akan mencari tahu dimana Mila" ucap Riyan
Iren dan yang lain masuk kembali ke dalam kamar tersebut dan Riyan menguncinya dari luar. Tubuh ketiga gadis itu bersandar di tembok sesaat ketika mendengar suara tembakan tanda pertempuran dimulai. percakapan terjadi didalam kamar tersebut setelah suara tembakan usai.
"Kakak Mila itu, dia tidak akan selamat"
"kau benar, menghadapi orang bersenjata sebanyak itu seorang diri sama saja dengan bunuh diri"
"dia kakak yang baik dan hebat sampai bisa datang kemari"
Sementara itu yang terjadi di lorong, Riyan melemparkan kunai tepat kearah kepala orang yang memegang senjata api sehingga membuat tembakan berhenti. Riyan yang sudah mengaktifkan Armor hitamnya, mengubah mode pedang oriental menjadi absolut attack untuk menghadapi sekitar 20 orang yang datang dari lift.
"sampai adikku kutemukan, aku akan terus membantai kalian kelompok Kurassha" ucap Riyan