
*Kediaman Bos Tirta*
Pukul 22.30 malam, suasana di halaman rumah bos Tirta sangat hening. Riyan yang pernah kesana, menghentikan mobilnya agak jauh dari kediaman bos Tirta, dari sana dia akan mencari data lawan.
"Alpha, berapa banyak orang didalam?"
Alpha memindai seluruh bangunan kediaman bos Tirta, kemudian melaporkannya kepada Riyan.
[106 orang tuan]
"banyak sekali, lebih banyak dari pasukan NOZ waktu di Wallin Palace. Tapi mereka ini jauh lebih lemah dari pada pasukan itu" gumam Riyan
"Berikan aku detailnya!" pinta Riyan
Bentuk hologram kediaman bos Tirta kemudian muncul di depan Riyan. Semua lokasi pasukan bos Tirta muncul pada hologram tersebut.
Pada pos jaga di belakang pagar masuk, terdapat 4 orang penjaga. Sedang 4 orang berjalan mondar-mandir di belakang pagar dengan membawa senjata.
30 orang di penjuru halaman depan dan tembok, 5 orang di pintu depan, 49 orang pada bagian samping dan dalam seluruh rumah, dan 14 orang di bagian belakang rumah.
"sepertinya Tari dan Mila berada di kamar belakang rumah itu" gumam Riyan setelah melihat ada 3 titik merah di dalam ruangan yang dijaga orang di depan pintunya.
"menyerang langsung lewat depan akan memakan waktu lama menghadapi orang sebanyak itu, lebih baik aku lewat tembok belakang dan langsung ke ruangan itu" pikir Riyan
Riyan kemudian mengaktifkan pedang oriental dan armor hitamnya, dia bergerak menuju tembok belakang kediaman bos Tirta sambil memanfaatkan tempat gelap yang jauh dari lampu.
Tiba di tembok belakang, Riyan melompati tembok setinggi 3,5 meter itu dan mendarat secara perlahan di atas tembok itu.
Dari atas tembok Riyan melihat 5 orang dengan senjata api berjalan mengawasi sekitar halaman belakang rumah. Saat mereka lengah, Riyan turun dari tembok itu dengan hati-hati dan tanpa suara.
Seperti seorang ninja, Riyan menyelinap dan bersembunyi dengan tetap dekat dengan dinding rumah. Riyan berpindah ke tiang rumah bos Tirta, dimana semua tiang rumahnya berukuran 70cm.
Begitu satu dari mereka melewati tiang tempat Riyan sembunyi, Riyan menyergapnya dari belakang dan menutup mulut penjaga itu.
"Jleb" pedang oriental menusuk jantungnya dari belakang, dan membuat orang itu tewas seketika.
Riyan kembali mendekati penjaga dengan perlahan, kali ini dia langsung menyerang dua penjaga yang berdekatan secara tiba-tiba.
"Sreeet"
"Sreeet"
Tebasan di leher membuat kedua orang itu tidak bisa mengeluarkan suara dan tumbang.
Tanpa di duga, dua orang teman mereka tiba-tiba muncul dari balik sudut dinding. Riyan segera membuat pisau kecil dan melemparkannya tepat ke kepala kedua orang itu.
Sayangnya salah satu dari mereka sempat menembakkan senjatanya ketika jatuh ke sembarang arah. Suara tembakan itu membuat penjaga lain segera ke bagian belakang rumah.
Riyan segera melompat ke tembok belakang dan melanjutkan lompatannya untuk naik ke atap rumah bos Tirta. Tidak lama setelah itu, di halaman belakang dipenuhi orang bersenjata yang datang dari dalam rumah untuk mencari tahu asal tembakan.
Riyan memantau pergerakan mereka dari atap. Sementara itu bos Tirta keluar dari kamarnya ketika mendengar suara tembakan. Bos Tirta mengajak Mak pergi menemui Bahat.
"Apa yang terjadi?" tanya bos Tirta kepada Bahat
"Petugas jaga tidak melihat seorang pun, tapi lima penjaga kita tewas" jawab Bahat
"Hati-hati lah, kurasa orang bernama Riyan ini sudah datang bersama temannya yang membantai dan mengalahkan Joni waktu itu" ucap bos Tirta
Karena suara tembakan itu, halaman bagian belakang menjadi dipenuhi penjaga yang melihat-lihat dan memeriksa sekitar.
"sekarang jumlah mereka di halaman belakang malah lebih banyak" gumam Riyan
[Bukankan anda bisa langsung menghabisi mereka dengan jurus sundang sungai]
"Ya, memang begitu rencana ku Alpha" ucap Riyan membentuk katana pendek di tangan kirinya.
Bos Tirta yang penasaran, pergi ke ruang cctv untuk memeriksa apa yang terjadi. Dia memeriksa cvtv belakang rumah namun tidak ada yang terlihat, itu karena Alpha sudah menyabotase cctv rumah bagian belakang.
Namun bos Tirta melihat hal yang tidak terduga, satu persatu penjaga di pagar jatuh terbunuh. Dia pun meminta untuk semua penjaga pergi ke pagar depan.
Disaat itu, Riyan bersiap untuk turun dari atap untuk menghabisi para penjaga. Namun orang-orang itu bergegas pergi dari halaman belakang rumah. Riyan yang merasa heran dengan hal itu, menyerap kembali katana yang dibuatnya dan berjalan ke puncak atap rumah untuk melihat kemana orang-orang itu pergi.
Dari atap rumah Riyan melihat penjaga yang berada di pagar dan pos sudah tewas dan saat itu banyak anak buah bos Tirta bersiaga dari depan pagar sampai pintu depan rumahnya.
Tidak jauh dari pagar rumah bos Tirta, terdapat seseorang memegang senjata sniper di atas sebuah pohon. Sudah lima penjaga yang berada di depan pagar tewas terkena tembakan orang ini.
Dari balik tembok, Jonathan melemparkan granat ke arah anak buah bos Tirta yang bersiaga di halaman rumah.
"Booom" ledakan itu membuat barisan penjaga morat marit. Jonathan kembali melempar granat kedua dan membuat anak buah bos Tirta mundur.
Disaat itu, suara ledakan yang kedua merupakan tanda bagi Adrian dan yang lainnya untuk menyerang. Adrian menginjak pedal gas mobil lapis baja yang dikemudikannya, sehingga membuat mobil yang berisi pasukan pengawal Thorn itu melaju dengan cepat dan menabrak pagar.
Mobil itu menerobos barisan anak buah bos Tirta, membuat mereka seketika berlarian menghindari mobil yang ingin menabraknya.
"Ciiiiit" Mobil berputar dan berhenti di depan pintu masuk rumah.
Penjaga yang berada di depan pintu menembaki mobil lapis baja didepan mereka. Pintu belakang mobil terbuka, Hendri dan teman-temannya turun dan menembaki penjaga di depan pintu. Sedang Adrian turun dari pintu depan berlindung dari hujan peluru pada pintu mobil yang dibukanya.
Sekarang mereka semua berlindung pada bagian belakang mobil sambil sesekali membalas tembakan dari lawan.
"Kalian masuklah cari bos, kami akan menahan mereka disini!" kata pengawal Riyan kepada Lei, Adrian dan Hendri.
Mereka bertiga pun berlari menuju dalam rumah saat teman-temannya menembaki anak buah bos Tirta.
Disaat itu Riyan yang masih berada di atas atap menyaksikan pertempuran itu, dia sedikit heran melihat Adrian dan yang lainnya menerobos masuk ke dalam rumah.
"Kenapa mereka menyerang kemari juga?sudahlah, aku harus bebaskan Mila dan Tari terlebih dahulu" gumam Riyan
Kemudian di hadapan mereka terdapat seorang yang membawa dan mengarahkan bazoka bersiap menembak mobil lapis baja milik perusahaan Thorn itu.
Teman-teman Adrian yang terus di tembaki oleh anak buah bos Tirta tidak punya kesempatan untuk lari. Riyan yang ingin pergi, mengurungkan niatnya setelah melihat bazoka yang mengarah ke mobil para pengawal dari Thorn.
"Beam Attack" Riyan mengubah pedang orientalnya menjadi warna pedang merah
"Wuushh...Duaar"
Ledakan terjadi sebelum peluru bazoka itu mengenai mobil, ledakan itu terhalang oleh sabetan laser dari Riyan. Kemudian Riyan sekali lagi mengeluarkan laser dari pedangnya untuk menghancurkan bazoka milik anak buah bos Tirta, dan beberapa kali serangan beam attack lagi hingga membuat formasi anak buah bos Tirta berantakan.
Suara tembakan menjadi semakin riuh terdengar di halaman rumah. Jonathan yang dari tadi berada di balik tembok pagar masuk, sekarang muncul menembaki dari belakang anak buah bos Tirta yang menembaki mobil.
Sniper yang berada di atas pohon turun mendekati pagar rumah bos Tirta dan menembaki musuh mereka dari jauh. Peperangan hebat antara kedua pihak pun terjadi di halaman depan rumah bos Tirta. Mak yang saat itu bersama bos Tirta melihat cctv halaman depan dan teras rumah.
"jadi orang bernama Riyan itu memang tidak sendirian" ucap Mak
"Bukan, itu bukan Riyan. Mereka mengenakan rompi pasukan pengamanan perusahaan Thorn, mereka datang untuk Heru. Ternyata Bahat belum menghabisi semuanya" balas bos Tirta
Disaat yang sama usai membantu menghancurkan bazoka, Riyan merubah kembali pedang orientalnya da kembali ke bagian belakang rumah bos Tirta dan turun dari atap. Saat ini di bagian belakang hanya tinggal 4 orang yang berjaga di depan pintu kamar tempat tawanan mereka berada.
Dengan kecepatan dan ketepatan kemampuan melempar dari beladiri pisau suku apache, Riyan melemparkan pisau yang dibuatnya menggunakan nano material kepada dua orang penjaga sebelum sempat menembak.
"Tretetet"
dua orang penjaga lainnya sempat mengeluarkan tembakan sebentar karena saat itu Riyan sudah berada di hadapan mereka. Tebasan pedang oriental Riyan ke tubuh dua penjaga yang tersisa membuat cipratan darah mereka menempel di pintu dan kaca jendela kamar.
Tari seketika berteriak melihat noda darah yang tiba-tiba muncul di kaca jendela.
"Bruk" pintu kamar terbuka secara paksa oleh tendangan kaki Riyan
Pak Heru, Yusni dan Tari kaget melihat sosok dengan pakaian hitam mendobrak pintu itu. Riyan kemudian menghilangkan armor kepalanya dan mendekati mereka untuk memotong ikatan tangan mereka bertiga.
"Riyan" ucap Tari dan Heru bersamaan
"Anak buahmu datang menyerbu kemari" ucap Riyan kepada Heru
"dimana Mila?" tanya Riyan lagi kepada Tari
"Seorang wanita membawanya pergi, aku tidak tau dia siapa" jawab Tari
"Kalau begitu kalian tunggulah disini!di luar sedang terjadi perang. Aku akan mencari adikku" ucap Riyan
Pak Heru mengambil senjata dari mayat penjaga yang ada di depan pintu mereka.
"Aku akan membantu anak buahku" ucap Heru
"Tapi kau harus melindungi mereka!" sahut Riyan menunjuk Tari dan Yusni
Pak Heru melihat kearah dua orang didalam kamar itu, Riyan meyakinkan pak Heru untuk tetap di sana menjaga mereka. Riyan berjanji akan membantu anak buah pak Heru karena sebagian dari mereka juga pernah bekerja untuknya. Akhirnya pak Heru memutuskan akan berjaga di depan kamar itu.
Riyan kembali mengenakan armor kepalanya. Dia mengambil kembali dua pisau yang menancap di tubuh penjaga kamar. Setelah terlindung dari Heru, Riyan menyerap kembali kedua pisau itu kedalam tubuhnya.
"Sepertinya aku harus membeli kunai atau semacamnya agar tidak perlu repot mengambil kembali senjata yang kulemparkan" gumam Riyan
Kali ini di tengah kericuhan itu dia tidak lagi menyerang secara sembunyi-sembunyi, melainkan berjalan pada tempat terbuka. Pada ruang tengah Riyan melihat banyak mayat anak buah bos Tirta tergelatak di lantai dan perabot yang hancur terkena tembakan.
"Sepertinya Adrian dan lainnya sudah duluan, semoga Tirta itu tidak si bunuh oleh mereka" ucap Riyan
"Bruk" dari ruang rapat yang semula adalah ruang latihan Aldo, terdengar suara patahan kayu yang hancur.
Riyan segera mendatangi tempat itu dan membuka pintu ruangan yang tertutup. Pandangan Mak mengarah kepada Riyan, sedangkan Adrian dan Lei tengah bertarung dengan Bahat dan Iryas.
Di ruangan itu terlihat Hendri tengah terbaring tidak berdaya di atas meja panjang yang patah dibawah kaki Mak. Riyan mencari-cari bos Tirta di ruangan itu namun tidak menemukannya.
"Jadi orang bernama Riyan mengirim dirimu untuk membebaskan adiknya?" ucap Mak
Riyan hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun dari balik armor hitamnya, Lei yang mendengar perkataan Mak kalau orang yang berpakaian serba hitam itu datang mencari Mila, menjadi sedikit tenang. Lei berpikir kalau sosok hitam itu adalah Riyan, karena tidak ada lagi yang tahu mengenai Mila dan penculiknya.
Bersamaan dengan itu Lei membuat Iryas mundur dengan tendangannya. Sedang Adrian bertarung dengan Bahat hingga sampai batas tenaga masing-masing dan terjatuh.
Mak dengan menggunakan sarung tangan besi menggerakkan jarinya sebagai isyarat menantang Riyan untuk maju melawannya. Riyan memutar-mutar pedangnya kemudian menancapkan pedang oriental itu keatas meja yang telah rusak.
"Kita lihat seberapa kuat sarung tangan besi itu" gumam Riyan sambil berjalan mendekat ke arah Mak.
"Menantang tinju besiku tanpa pedang, kau terlalu percaya diri kawan" ucap Mak
Sekarang Riyan yang menantang Mak untuk maju dengan menggerakkan jari tangannya. Mak menjadi kesal dengan itu.
"Hiyaaa" Mak melancarkan tinjunya ke arah Riyan
Riyan pun melancarkan pukulannya kearah Mak hingga kedua tinju mereka berbenturan.
"Plank" dentingan suara sarung besi milik Mak menghantam tinju Riyan yang berlapis armor hitam.
Tinju itu membuat Mak mundur dua langkah dan sarung tangan besi miliknya menjadi sedikit penyok. Melihat sarung tangannya seperti itu, Mak mulai serius dan memasang kuda-kuda Muay Thai miliknya untuk melawan Riyan.
"Sekarang kau serius?" ucap Riyan memasang kuda-kuda Jeet Kune Do
"tidak salah lagi, itu Riyan" pikir Lei melihat kuda-kuda Riyan
Tiba-tiba Iryas menyerang Lei, tubuh kecil Iryas dengan cepat dan lincah melompat dari kursi dan mendaratkan tendangan berputar ke wajah Lei berlanjut dengan tendangan ke perut Lei hingga dia jatuh.
"Sial, orang kecil ini tidak mudah di tangani" gumam Lei sambil berdiri dan meregangkan ototnya dan mendekati Iryas.
Disisi lain serangan sikut dan lutut khas Muay Thai dilakukan Mak untuk menjatuhkan Riyan. Namun serangan keras itu mampu dihindari oleh Riyan.
Saat Riyan mundur menjauh untuk menghindar, Mak berlari dan melompat untuk menyerang Riyan dengan lututnya. Disaat itu, Riyan juga melompat lebih tinggi dari Mak dan menendang dada Mak hingga jatuh ke ujung meja besar yang sudah patah.
Riyan mengambil pedang oriental yang tadi di tancapkan nya di atas meja, kemudian mendekati Mak dan mengacungkan ujung pedangnya ke leher Mak.
"dimana adikku?" tanya Riyan menghilangkan armor di kepalanya.
"Adikmu?jadi kau adalah Riyan ya, aku salah duga. Tapi sayangnya kedatanganmu kesini sia-sia, gadis kecil itu sudah tidak ada disini" jawab Mak
"Dimana?" tanya Riyan lagi
Kali ini ujung pedangnya menggores leher Mak dan secara perlahan menusuk semakin dalam. Darah perlahan mulai keluar dari kulit leher Mak.
"aku seorang petarung, kau tidak bisa menyiksaku" ucap Mak
Iryas yang melihat Mak pada posisi itu, segera menyerang Lei untuk menciptakan jarak dan berlari untuk membantu Mak. Seperti sebelumnya, Iryas berlari ke arah kursi dan menggunakan kursi itu sebagai pijakan untuk menambah tinggi lompatannya dalam menyerang.
Tendangan Iryas kali ini tepat mengarah di belakang kepala Riyan, Mak yang melihat Iryas tersenyum kearah Riyan. Dia bersiap melakukan tinju besi untuk menghadang jatuhnya Riyan setelah terkena tendangan Iryas.
Namun Riyan dengan sangat cepat bergerak ke samping hingga Iryas jatuh di atas Mak. Riyan kembali ke posisi awalnya dan menusukkan pedang oriental menembus perut Iryas.
Seketika darah dari Iryas membasahi wajah dan tubuh Mak. Kemudian Riyan menarik pedangnya dan menebas tubuh Iryas berkali-kali hingga tewas dan menendang tubuh penuh luka itu kesamping.
Mak yang melihat kejadian itu di hadapannya menjadi gemetar. Riyan kembali mengarahkan ujung pedangnya ke leher Mak.
"Wanita bernama Julia, dia ketua Kurassha cabang Jakarta. Wanita itu membawa Adikmu ke Jakarta untuk diberikan kepada bos besar Kurassha" jelas Mak
"Dimana Tirta?" tanya Riyan lagi
"Beliau menuju kamar belakang bersama dua orang untuk mengambil sandera" jawab Mak
"kau berbohong?aku dari sana, dan tidak melihatnya melewati ku" ucap Riyan menekan ujung pedangnya membuat luka di leher Mak makin dalam.
"Arrrrg, tidak...bos Tirta lewat jalan samping"
Riyan menarik pedangnya dan menusuk lengan dan kaki Mak, tusukan itu untuk mencegah Mak melarikan diri.
"Lei, kau jaga Adrian dan Hendri disini!" ucap Riyan kemudian bergegas menuju kamar belakang kembali untuk mencari bos Tirta.