NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 6 Pembalasan II



Begitu pintu terbuka, di sana terlihat 15 orang di dalam ruangan itu termasuk Alex yang mengenakan kemeja lengan pendek warna merah, 5 diantara sudah mabuk dan terbaring di sofa yang sudah agak tua, 6 orang sedang menghirup Sabu-sabu di atas sebuah meja kayu, sedangkan Alex dan 3 orang lainnya menghitung uang di meja yang lainnya.


Semua mata tertuju kepada preman yang terjatuh dilempar Riyan untuk membuka pintu, kemudian teriakan dari Riyan membuat mata mereka mengarah kepadanya.


"Sedang apa kau disini bocah?Cari mati?" tanya Alex


"Bukan..tapi aku mencarimu" teriak Riyan dan bergerak maju.


9 Orang preman berdiri dan menyerang Riyan,,3 diantaranya memiliki badan yang besar seukuran Andre. Namun setiap serangan dari mereka bukanlah tandingan ilmu bela diri Riyan sehingga tiap pukulan dari mereka dapat di tangkis dengan mudah sambil melancarkan pukulan balasan.


"Buuk...Buuk...Buuk" satu persatu dari mereka tumbang. Para preman itu berjatuhan di lantai.


"Gerakan kalian sangat lambat" ucap Riyan.


Tersisa 3 orang preman berbadan besar dihadapannya tengah kesakitan, masing - masing dari mereka terkena pukulan Riyan namun masih belum tumbang.


"Mereka kuat juga, mungkin aku akan menaikkan sedikit kekuatanku" pikir Riyan


satu dari mereka mengangkat meja kayu yang semula digunakan untuk menghirup sabu - sabu, membuat semua sabu dan perlengkapan dimeja berjatuhan dan berserakan.


Meja kayu dilempar dan melayang ke arah Riyan dan dua orang lainnya menyerangnya bersamaan. Sebelum dua orang itu sampai, dengan cepat Riyan menangkap dan melemparkan kembali meja itu dua kali lebih cepat kepada preman yang melemparkannya. Membuat meja itu hancur dan preman itu tumbang.


Menghadapi dua orang besar lainnya Riyan menggunakan serangan beruntun untuk melemahkan lawan. Riyan mengarahkan sasaran tendangannya pada tulang kering lawan, lutut, paha dan dilanjutkan pukulan telak di kepala saat mereka terjatuh di atas lutut karena tidak bisa berdiri. Teriakan kesakitan para preman itu mengisi ruangan ini.


Pukulan dengan kekuatan fisiknya yang sudah terlatih, ditambah material nano yang melapisi tangannya membuat pukulan dari Riyan mengakibatkan para raksasa itu akhirnya pingsan karena tidak sanggup menahannya.


Melihat anak buahnya dikalahkan Alex pun yang sebelumnya hanya menonton akhirnya turun tangan menghadapi Riyan. Dia berjalan mendekati Riyan, jarak diantara keduanya sekarang hanya satu meter dengan tubuh anak buah Alex tergeletak disekitar mereka berdua.


"wWuush" Alex dengan cepat memukul ke arah wajah Riyan namun ditangkis dengan pergelangan tangan Riyan yang bersambung tinju balasan oleh Riyan mengarah ke wajah Alex yang juga bisa dihindarinya.


"Taaak"


"Takkk"


"Woosh*"


Mereka bertarung dengan cepat, pukulan dan tendangan dari masing-masing lawan selalu berhasil ditangkis dan dihindari sampai keduanya sama-sama terkena tendangan disaat yang bersamaan ada bagian dada.


Tendangan Riyan membuat Alex mundur 3 langkah namun Riyan tidak bergeming dari tempatnya. Melihat itu Alex sadar dia kalah dalam hal kekuatan.


"Kau ternyata lumayan juga" ucap Alex


"Kau kesini ingin membalaskan teman - temanmu?" tanya alex


"Bukan hanya itu, aku kesini untuk mengambil sepeda diluar" Jawab Riyan sambil menunjuk kebelakang dengan jempolnya.


Kemudian akhirnya dia mengambil pisau dan berkata "jadi karena itu, alasan yang bodoh untuk datang kesini, jangan salahkan aku kalau kau terluka bocah "


"Sebaiknya khawatirkan dirimu sendiri" kata Riyan dengan memasang kuda-kuda Jeet Kune Do kepalan tangan kanan di depan dan tangan kiri dengan telapak terbuka sejajar pergelangan tangan kanannya(seperti posisi wing chun)


" Hiaaaat" Alex berteriak dan menyerang mencoba menusuk Riyan, namun serangan itu dibelokkan dan serangan balasan ke wajah Alex dikirimkan pada saat yang bersamaan hingga membuat Alex hampir pingsan karena Riyan hanya menggunakan 40% kekuatannya.


Saat tubuh alex masih sempoyongan Riyan kembali mendaratkan pukulan tangan kanannya ke perut dan tangan kiri ke wajah Alex untuk kedua kalinya, kali ini membuat Alex tumbang dan tidak berdaya.


Dengan wajah penuh darah dia berkata "kau akan membunuhku"


"Kau tidak akan bertahan selama 3 detik kalau aku ingin membunuhmu menggunakan seluruh kemampuanku" kata Riyan sambil mendekati Alex di lantai.


"Perlu kau tau, aku mengambil sepeda itu hanya suatu kewajiban seorang kakak menolong adiknya"


Riyan memegang tangan Alex dan berkata "Tapi tangan ini yang sudah memukul adikku kan" dan "aaarrg" kembali teriakan Alex keluar dari mulutnya ketika Riyan mematahkan tangannya.


"Kau harus bersyukur tanganmu hanya kupatahkan bukan kupotong"


"Jangan berurusan denganku lagi, bahkan 10 orang sepertimu tidak akan bisa mengalahkanku" kata Riyan kemudian menuju pintu keluar.


Riyan kembali untuk pulang dengan membawa sepeda adiknya, pada sebuah gang yang sama untuk menuju tempat itu Riyan berpapasan dengan 7 orang anak buah Alex lainnya yang ingin menuju markas mereka.


Melihat anak SMA sendirian berjalan kearahnya salah seorang preman yang berada paling depan dengan mengenakan pakaian kaos berwarna hitam dan celana pendek coklat berbahan kain tersenyum sinis. Ketika Riyan sudah dekat dengan mereka preman itu menghalangi jalan Riyan dengan menghalangkan tangannya ke dinding gang, Riyan berhenti dan menatap preman itu.


"Anak SMA lewat sini harus bayar pajak, sini bayar dulu!" ucap preman itu.


"Tidak ada uang" jawab Riyan


"Berani juga kamu ya" kata preman itu sambil mencengkram kerah baju Riyan


Begitu Riyan ingin melawannya tiba-tiba seorang preman lainnya dari arah belakang preman itu meminta melepaskan cengkramannya ke Riyan.


"Sudah lepaskan saja! kita sudah terlambat nanti kalau bos marah kita yang habis" ucap orang itu


"Kalian duluan saja! aku ingin memberi pelajaran anak ini dulu" jawabnya


"Baiklah, tapi kau harus cepat. Kesalahan di tanggung masing-masing" ucap temannya sambil menjauh


"kau dengar bukan, aku sedang terburu - buru, jadi cepat mana uangmu"


"kalau begitu sepeda ini saja tinggalkan disini" kata preman


"Tidak bisa, ini sepeda adikku dan baru saja ku ambil dari bosmu" jawab Riyan


Mendengar hal itu tanpa melepaskan cengkramannya Preman itu langsung melancarkan tinjunya ke arah Riyan.


"arrrrrrgh" teriak preman itu.


Dengan sedikit menggeser kepalanya, Riyan menghindari pukulan itu dan membuat tinju preman memukul tembok secara langsung. Hal itu juga sekaligus membuat cengkraman pada serangan Riyan terlepas dengan sendirinya.


"Kau pasti bodoh" ucap Riyan kemudian preman itu menoleh ke arah Riyan dan disambut dengan Bogem mentah darinya membuat preman itu pingsan.


6 orang anak buah Alex lainnya terkejut melihat pintu yang hancur, mereka bergegas masuk dan didapati semua teman-temannya tumbang dan Alex bersandar pada sofa sambil memegang tangannya yang patah.


Segera mereka mendekati Alex dan bertanya


"ada apa ini bos,apa kita diserang kelompok lain?"


Alex kemudian menceritakan semua kejadiannya bahwa mereka dihajar oleh siswa SMA dan berniat meminta bantuan bos besarnya untuk balas dendam.


"tapi kita harus menunggu seminggu dari sekarang karena bos baru saja keluar daerah" ucap Alex


"tapi bukannya ini memalukan untuk disampaikan kepada bos" balas anak buahnya


"kita hanya perlu mengarang cerita bohong, katakan saja diserang 50 orang anak SMA Fajar Harapan" kata Alex dengan raut muka licik.


*didepan rumah Riyan*


Riyan meletakkan sepeda adikya di samping pintu kemudian masuk ke rumah.


"aku pulang" sapaan Riyan seperti biasa.


Riyan mencari adiknya yang ternyata sedang menonton TV bersama dengan nenek.


"Kakak, syukurlah kakak pulang, lagi seru nih filmnya" Mila mengajak Riyan menonton.


"ya nanti aku kesitu, mau mandi dulu" jawab Riyan


"oke, tapi jangan lama nanti keburu habis filmnya" kata Mila


Setelah mandi dan berganti pakaian Riyan berkumpul bersama keluarganya. Matanya tertuju ke adiknya, dia tidak mengira kalau Mila sudah kembali ceria lagi setelah kejadian hari ini.


"kupikir kau akan galau berhari-hari karena sepedamu diambil orang" celetuk Riyan.


" Sepedamu hilang Mila?" tanya Nenek


"iya nek tadi waktu pulang diambil preman" jawab Mila


"Nenek tidak melihatmu pulang jadi tidak tau, kenapa kau tidak cerita ke nenek" kata neneknya


"itu cuma sepeda nek, Mila tidak apa-apa jadi tenang saja, besok tinggal lapor polisi" jawab Mila.


'memang bukan karena sepedanya sih, aku menghajar mereka, tapi karena telah memukulmu' pikir Riyan sambil melihat pipi adiknya yang masih sedikit merah karena pukulan.


"Tidak usah lapor polisi, sepedamu sudah kuambil kembali dan sekarang ada di depan" kata Riyan.


Mila tidak percaya dengan perkataan Riyan, dengan ragu dia menuju ke depan rumah untuk memastikannya. Mila kaget dengan ternyata sepedanya memang ada di samping pintu rumahnya.


Mila kembali kedalam dan bertanya kepada Riyan "Bagaimana kakak mengambilnya?"


"tidak sulit kok, mereka lengah dan ku ambil saja" jawabnya santai sambil nonton TV


"kau hebat kak, ku kira kau melawan mereka, hahaha" kata Mila


"tentu saja tidak, hahaha" Riyan merahasiakannya.


"kalau kakak ikut Liga Olimpiade pelajar, bagaimana menurut Nenek dan Mila?" tanya Riyan


"Itu hebat kak, kalau kakak juara akan bisa lanjut sampai tingkat Nasional, lagipula kakak kan pintar sekarang jadi mungkin saja bisa menang" ucap Mila


"Ikut saja Riyan, almarhum orang tuamu pasti bangga kalau kau bisa juara" sambung Nenek


"memang bisa maju ke tahap Nasional sih kalau menang, baiklah kalau begitu aku akan ikut olimpiade itu Nek" sahut Riyan


"Tapi apaan kata-kata PINTAR SEKARANG itu" kata Riyan kembali sambil mencubit adiknya


"aw..ya habisnya nilai Kakak sangat biasa sewaktu SMP, tiba-tiba juara umum di SMA, apa orang memang bisa mendadak pintar seperti itu"


"Itu karena selama ini aku malas saja menunjukkan kepintaranku,,,hahaha" jawab Riyan, padahal semuanya jawaban dari Alpha waktu ujian.


Nenek tersenyum melihat tingkah kedua cucunya itu.