NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 83 Kakak



Pukul 9 pagi Riyan baru bangun dari tidur, dia melihat adiknya masih terlelap di atas tempat tidur yang ada disebelahnya. Karena sudah lewat jam sarapan hotel, Riyan memesan makanan melakui telepon untuk diantar ke kamarnya sebagai sarapan untuk dia dan Mila.


Riyan kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan meninggalkan Mila di kamar. Dia pun pergi menuju kamar 122 tempat Riska berada.


"Tok..tok...tok"


Tidak berapa lama pintu kamar itu terbuka, di sana seorang wanita dengan piyama tidur yang disediakan hotel menyambut Riyan. Wanita itu terlihat baru bangun dengan rambut acak-acakan dan setengah sadar.


"Mencari siapa?" tanya wanita itu heran


"mencari Riska?" Riyan membalas pertanyaan wanita itu


"Owh, dia sedang ganti pakaian. Tunggu ya!" Wanita itu kembali ke dalam kamar, tidak berapa lama Riska keluar dan terlihat senang melihat Riyan.


"Hai" ucap Riska senyum


"Hai, aku kesini ingin mengambil pakaianku" ucap Riyan


"Masuk dulu??eh..tapi Nita lagi mandi" ucap Riska dengan salah tingkah dan bingung


"Tidak apa, kau bisa mengambilkannya untukku?!"


"Iya, baiklah. Tunggu sebentar!"


Beberapa kemudian Riska menyerahkan tas Riyan yang berisi pakaiannya.


"Terima kasih" ucap Riyan kemudian pamit meninggalkan kamar itu dengan Riska yang masih di depan pintu.


"Riyan, kamu mau kemana?" Teriak Riska yang berada di depan pintu kamar.


"Ke kamar adikku, Eh bagaimana kau tau namaku?perasaan aku tidak pernah mengatakannya" ucap Riyan bingung


"Ini kamar mu kan, tidak sulit mengetahui orang yang menyewa kamar di hotel" ucap Riska tersenyum


"Kau pintar juga" balas Riyan tersenyum


"Nomer berapa?" tanya Riska lagi


"Apanya?"


"Kamar adikmu"


"134" balas Riyan kemudian berjalan menjauh


"Jadi dia berhasil mendapatkan adiknya dari kelompok itu ya, orang yang luar biasa" gumam Riska


Riska kembali masuk ke kamarnya saat Riyan sudah tidak terlihat. Di dalam kamar, kedua wanita yang ada di sana termasuk Nita yang baru keluar kamar mandi penasaran dengan pemuda yang baru saja mencari Riska.


"Siapa tadi Ris?kenalin dong!" tanya Nita


"Kalian tidak sadar penuh sih tadi malam, dia itu orang yang menolong kita tadi malam. Lagian dia kesini ngambil pakaiannya, ini kan kamar dia" jelas Riska


Kedua wanita itu terkejut mendengar penjelasan dari Riska, mereka ingin bertemu kembali dengan Riyan untuk mengucapkan terima kasih.


Riska pun mengatakan akan mengantarkan mereka berdua bertemu Riyan setelah selesai berpakaian. Setelah berganti dengan pakaian yang mereka kenakan tadi malam, mereka keluar dari kamar.


15 menit kemudian ketiga wanita itu keluar dari kamar. Hanya Riska yang mengenakan tas ransel berisi uang, sedang dua wanita lainnya tetap seperti tadi malam kecuali wajah yang lebih bersih dan segar.


Sementara itu di kamar Riyan, Mila baru saja terbangun dan melihat nampan hotel berisi makanan yang berada di meja samping tempat tidurnya. Makanan dengan porsi dua orang itu juga dilengkapi buah dan dua gelas minuman yang berbeda.


Tidak berapa lama Riyan keluar dari kamar mandi. Dia melihat adiknya mencicipi makanan dengan nampan yang tertutup plastik.


"Owh kau sudah bangun, apa tidak mau mandi dulu sebelum sarapan?" ucap Riyan


"Kakak" Mila kemudian melompat dari tempat tidur empuk itu dan menuju kamar mandi.


"Nanti ceritakan semuanya ya!tadi malam ketiduran kan" ucap Mila tepat sebelum masuk kamar mandi


"Iya" balas Riyan


Dengan masih mengenakan handuk melingkar di pinggangnya, Riyan mengambil handphonenya yang diletakkannya di meja depan televisi.


"Harus memberi kabar kepada Tari supaya dia tenang" gumam Riyan


Riyan kemudian menelpon Tari, dengan segera sahutan dari Tari terdengar. Riyan pun memberitahukan kalau Mila sudah bersamanya, dari telepon terdengar Tari sangat senang mendengar kabar itu.


"Kapan kalian pulang?" tanya Tari


"Entahlah, karena sudah disini, mungkin kami akan jalan-jalan beberapa hari" jawab Riyan


"Baiklah, yang penting Mila sudah selamat" ucap Tari


Setelah mengucapkan salam perpisahan, Riyan mengakhiri panggilan itu. Karena baru pukul 09.20 , Riyan berencana mengabari Cindy saat jam istirahat. Riyan pun kemudian mengenakan pakaian ganti yang dibawanya, yaitu kaos hitam lengan pendek dengan motif bintang dan celana jeans panjang.


Sesaat kemudian pintu kamar Riyan di ketuk. Dengan langkah santai dia menuju pintu dan membukanya. Ternyata Riska dan dua wanita lain yang tadi mengetuk pintu kamar Riyan.


"Ada apa?" tanya Riyan


"Ini yan, dua orang ini katanya ingin berterima kasih" ucap Riska


Riyan kemudian mempersilahkan ketiga wanita itu masuk ke kamarnya. Bersamaan dengan itu, Mila keluar dari kamar mandi. Dengan wajah bingung, Mila terpaku melihat tiga wanita bersama kakaknya.


"Adikmu?" tanya Riska


"Iya, ini adikku Mila" ucap Riyan


Mereka pun saling berjabat tangan memperkenalkan namanya masing-masing. Mila kemudian pergi mengganti pakaian dengan yang dikenakannya terakhir sebelum dibawa oleh Kevin.


Perbincangan berlangsung sedikit lebih lama. Riyan menanyakan apakah mereka sudah sarapan atau belum, dengan cepat Riska menjawab kalau mereka sarapan di lantai satu tadi pagi.


"Kayaknya kami juga perlu berterima kasih nih sama adik ini" ucap Nita tiba-tiba saat Mila kembali bergabung dengan mereka.


"Eh kenapa kak?" tanya Mila bingung


"Iya, soalnya gara-gara kakakmu ini mau nolongin kamu, kami juga ikut ketolong" jawab Nita dengan senyum manis


Mendengar hal itu, Mila jadi teringat dengan Dian dan Iren. Namun dia berencana menanyakan hal itu nanti saat hanya dengan Riyan.


15 menit kemudian para wanita itu pamit pergi, sebelum pergi Riyan meminta merahasiakan tentang dirinya. Mereka semua setuju, Lagipula semua yang terlibat telah tewas selain Afri.


Nita dan satu wanita lainnya memang bertempat tinggal di Jakarta dan keduanya kuliah di kota ini. Mereka mengatakan ingin kembali ke rumah masing-masing kecuali Riska.


Riyan mengantarkan mereka sampai pintu kamar, sedang Mila mulai memakan sarapannya. Riyan yang mengetahui cerita tentang Riska, mengetahui kalau dia tidak memiliki tempat.


Dia pun menahan Riska dengan memegang tangannya dan membiarkan kedua wanita lain pergi.


Wajah Riska memerah, dia melihat kearah tangannya yang dipegang oleh Riyan. Menyadari hal itu, Riyan segera melepaskan pegangan tangannya.


"Kau mau kemana?" tanya Riyan


"Apa aku bisa minta nomer HP mu?" tanya Riska


"Bukannya kau tidak memiliki ponsel?"


"Kau lupa?aku punya banyak uang disini" ucap Riska menunjukkan tas ranselnya.


"Benar juga" ucap Riyan menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum


Riyan pun kemudian mengambil kertas dan pulpen yang ada di atas meja samping tempat tidur, dia menuliskan nomer pada kertas itu dan memberikannya kepada Riska.


"Terima kasih, secepatnya akan ku hubungi kau" ucap Riska


Kemudian dengan langkah yang gembira dia meninggalkan kamar Riyan. Setelah menutup pintu kamarnya, Riyan kembali bersama adiknya dan ikut mulai memakan sarapan.


"Apa kakak juga bertemu kak Dian dan Irene?" tanya Mila


"Siapa?" tanya Riyan


Kemudian Mila meminta kakaknya untuk menceritakan bagaimana bisa Riyan berada di sana dan semua yang terjadi. Riyan pun menceritakan semuanya secara jujur kepada adiknya.


Riyan secara singkat menjelaskan kalau dirinya memiliki kekuatan yang luar biasa. Dia mengetahui tempat penculik Mila dari teman yang pernah bekerja dengan kelompok itu, yang dimana sekarang menjadi sopir pribadi di rumah Riyan.


Menerobos kedalam pabrik obat-obatan kelompok itu dan membebaskan Riska dan yang lain. Kemudian menyerang Xforu dan membebaskan tiga wanita lainnya, dan terakhir di rumah Julia.


Dia kemudian menunjukkan armor hitamnya kepada Mila dan menjelaskan kemampuan armor itu. Hanya saja Riyan tidak mengatakan apapun mengenai Alpha.


Mila yang mendengar penjelasan kakaknya, sangat terkejut sekaligus kagum namun serasa sulit mempercayainya meski sudah ditunjukkan armor hitam itu. Namun satu hal yang membuat Mila lega dari cerita Riyan, Iren dan yang lainnya juga sudah diselamatkan kakaknya.


Riyan kemudian mengajak Mila jalan-jalan di kota Jakarta. Tentu saja Mila sangat senang mendengarnya. Pukul 10.30 mereka keluar kamar dan menemui kedua gadis yang berada di kamar 181.


Kebetulan kedua gadis yang berada di kamar itu sudah siap untuk pergi, Riyan mengajak keduanya turun sekaligus melakukan check out hotel untuk dua kamarnya.


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Riyan


"Berkat kakak, kami tidak apa-apa"


Riyan senang mendengar kedua gadis yang seumuran Mila itu baik-baik saja.


"Yah, untung saja mereka hanya sekali diberi narkoba. Sehingga detoksin yang kuberikan bisa berguna untuk menghilangkan efek buruknya" pikir Riyan


Dengan menggunakan mobil sport milik Seichi, Riyan mengantarkan kedua gadis itu pulang ke rumah masing-masing. Tanpa menemui orang tua para gadis muda itu, Riyan meninggalkan mereka di depan pagar rumah masing-masing.


Setiap dari mereka turun, wajah ceria dan lambaian tangan mengantar kepergian Riyan dan Mila. Tidak tertinggal ucapan terima kasih kepada Riyan dan Mila.


Sekarang Riyan hanya berdua dengan Mila didalam mobil sport mewah itu. Dia pergi menuju Mall besar membeli pakaian ganti untuk Mila. Setiap lantai di jelajahi oleh Mila dan Riyan, selama 3 jam mereka naik turun lantai mencari barang yang diinginkan Mila.


"Kakak ayo sini" teriak Mila yang berada 6 meter di depannya


"Cewek mau muda atau bocah, kalau urusan belanja tenaganya kuat sekali. Kalau saja tidak ada pemulihan nano system. Aku sudah pasti kelelahan ini" gumam Riyan


Usai belanja banyak pakaian, Riyan memberhentikan sebuah Taksi dan mencarter mobil itu untuk seharian.


"Kenapa tidak menggunakan mobil itu" tanya Mila bingung


"Itu bukan milik kakak, lebih baik tinggalkan saja di sini" ucap Riyan


Riyan pun meminta supir taksi membawa mereka ke taman rekreasi dan permainan di kota besar itu. Mila sangat senang karena memang belum pernah ke taman hiburan, terlebih di kota besar.


*****


Sementara itu ditempat lain, Afri memerintahkan beberapa orang anggota Kurassha memeriksa Xforu dan kediaman Julia. Tidak berapa lama, berita kematian Julia dan pembantaian di Xforu menjadi kabar heboh di dalam Kurassha.


Hal itu mengakibatkan beberapa dari ketua kelompok memisahkan diri dan sebagian lagi berambisi mengisi kekosongan kursi kepemimpinan di ibu kota.


Bahkan berita itu sampai kepada ketua cabang yang berada di wilayah provinsi. Kekuatan absolut Kurassha mulai dipertanyakan, mengakibatkan beberapa kelompok lain berani muncul ke permukaan.


Afri memerintahkan anggota Kurassha menutup dan membersihkan Xforu sebelum diketahui orang. Sedang untuk kediaman Julia, polisi sempat mengetahui dan mendatangi ke lokasi itu. Rumah Julia kini dipenuhi tim olah TKP termasuk tim forensik.


Beberapa saat kemudian sebuah mobil sedan hitam tiba, dua orang mengenakan kemeja dengan pistol di pinggang turun dari mobil itu.


"Bukannya ini rumah Julia pengusaha kertas dan pemilik Xforu" ucap seorang yang baru tiba.


"Kau benar"


Kedua orang itu masuk dan melihat sekitar. Dengan kerusakan yang terjadi di tempat itu, seorang dari mereka menduga telah terjadi penyerangan oleh perampok di sana.


"Apa rumah ini habis dirampok?"


"Dengan penjaga sebanyak ini? Perampok itu pasti punya banyak granat dan senjata api"


Namun tidak ada bukti kuat mengenai dugaan itu, tidak ada barang yang hilang di rumah Julia. Bagian dalam rumahnya masih rapi, bahkan rekaman cctv di rumah Julia menghilang.


"seorang sudah mengambil rekaman cctv di rumah ini" ucap seorang lainnya.


"Ini bukan perampokan" sahut orang lainnya


Kemudian keduanya saling berpaling dan bergegas menuju mobil. Merek berdua seolah saling memahami tujuan yang akan mereka datangi, yaitu pabrik kertas dan Xforu.


*Kyoto, Jepang*


Di dalam rumah tradisional Jepang, pada sebuah ruangan luas yang beralaskan tatami, yaitu sebuah tikar berbahan jerami khas Jepang yang dibuat secara tradisional. Satu meja kecil berbahan kayu terdapat di tengah ruangan tersebut, diisi empat orang termasuk bos Tadoki dan putra sulungnya.


Mereka sedang melakukan Rapat tertutup untuk rencana melakukan aliansi dengan yakuza. Tiba-tiba pintu khas Jepang itu tergeser, seorang dengan setelah hitam melepas sepatunya dan masuk setelah dipersilahkan oleh Tadoki.


Orang itu menyampaikan berita yang dia dapat dari anggota Kurassha di Jakarta. Berita tentang kematian Julia dan pembantaian di Xforu akhirnya sampai ke telinga bos besar Tadoki.


Suasana ruangan itu berubah ketika informasi yang disampaikan selanjutnya adalah berits kematian anaknya yaitu Seichi, hal itu membuat bos Tadoki sangat marah.


"Berita ini jangan sampai tersebar keluar, segera isi kekosongan itu!" ucap Tadoki


"Baik tuan" sahut orang itu yang kemudian meninggalkan ruangan itu.


Bos besar Tadoki menyuruh anak sulungnya kembali ke Indonesia untuk mencari pembunuh itu dan membalaskan dendam adiknya. Putra pertamanya bernama Rei, berbeda dengan Seichi yang seorang samurai. Dia adalah orang yang sejak kecil di khususkan latihan pada perguruan Ninja di atas gunung.


"Rei, bawa orang-orangmu dan tangkap orang yang membuat kekacauan di Jakarta itu! Aku juga akan segera kembali begitu urusan disini selesai" ucap Tadoki


"Baik ayah" sahut Rei


"Saat tiba di sana, aku akan memotong lehernya dengan tanganku sendiri" ucap Tadoki mengepalkan tangannya.


Rei yang dari tadi berada di samping ayahnya, sekarang meninggalkan ruangan itu diikuti beberapa orang anak buahnya yang berjaga di pintu masuk.


"Perintahkan untuk mengumpulkan semua ketua cabang besok di markas utama. Kita akan memburu orang itu bahkan jika harus ke seluruh Indonesia" ucap Rei kepada salah seorang anak buahnya


"Baik tuan"