
Disaat semuanya berdiam diri, Ken dan Luke perlahan merangkak menuju pintu untuk keluar. Dalam kegelapan itu, mereka berdua hanya bergerak menuju pintu sesuai gambaran ingatan di kepala mereka.
Beberapa pasukan NOZ yang tersisa di depan pintu masuk, menggunakan alat komunikasi jarak pendek untuk menghubungi rekan-rekannya yang berada di dalam gedung wallin palace.
"Apa yang terjadi di dalam? " tanya pasukan yang berada di luar.
"Kita berhadapan dengan ninja atau hantu, lebih dari separuh pasukan telah tewas. Berhati-hatilah...arrrg " tiba-tiba sambungan dengan rekannya di dalam gedung terputus
"Heiii...jawablah..hei....sial, baiklah kita akan masuk untuk membantu" ucap orang itu
Pasukan NOZ di depan bangunan yang berencana mengecek, menjadi lebih siaga untuk bertempur ketika mendengar informasi dari rekannya. Bersama dengan 10 orang lainnya, mereka berniat menyerang orang yang disebut sebagai hantu tersebut.
Suara tembakan dan teriakan dari arah pasukan NOZ membuat Jack dan agen no 3 heran. Semuanya sunyi setelah tembakan dan teriakan itu berhenti.
"Apa bantuan telah datang ? " tanya agen no 3 dengan salah satu anggota CIA yang juga berlindung bersamanya.
"Mungkin saja " jawab anggota itu
Pasukan NOZ yang sudah masuk dari pintu depan, juga mendengar suara tembakan dan teriakan itu. Mereka bergegas menuju tempat rekannya melewati ruang tengah lantai satu yang digunakan untuk pesta.
Pantulan cahaya dari senter yang digunakan di ujung senjata pasukan NOZ terlihat di ujung tembok. Jack dan para pengawal yang dari tadi berdiam diri mempersiapkan senjata mereka setelah melihat pantulan itu.
Begitu pantulan cahaya semakin besar dan yakin pasukan NOZ berada di ruang pesta, Jack dan yang lainnya segera menyambut pasukan NOZ yang berencana melewati ruang itu dengan timah panas dari senjata mereka.
"Tar...tar...tar " serangan tiba-tiba itu membuat pasukan NOZ jadi kocar-kacir dan tercerai berai.
4 orang dari mereka tewas, dan sisanya berlindung dengan membalikkan meja yang ada di dekat dinding. Adu tembak kembali terjadi, Luke dan Ken yang baru saja keluar dari pintu di lantai dua melihat pertempuran itu dari atas.
"Dimana Riyan ? " tanya Luke
"entahlah, tadi dia melawan seorang ninja untuk membuatku masuk ke dalam " jawab Ken
Sementara itu Riyan terus menghabisi pasukan NOZ dan mengambil wechas mereka.
"Disana terjadi adu tembak, aku harus cepat " gumam Riyan bersembunyi dalam gelap.
"Sreet...jleb...jleb " dengan gerakan teknik sundang sungai, semua pasukan NOZ di lorong sudah tidak bersisa.
Riyan menuju ruang pesta dengan cepat dan melihat didepannya terdapat pasukan NOZ yang sedang berlindung dari tembakan pada sebuah meja.
Di kantor Yorgi, dia masih menahan 3 orang sebagai sandera dan berhasil membuat mereka menandatangani dokumen yang dia inginkan.
Yorgi, Rinko dan Dasan menuju ruang mesin pengawas dengan hanya menggunakan senter kecil. Monitor di ruangan itu menggunakan mesin generator listrik. Sehingga walaupun listrik padam, kamera dari cctv masih tetap berfungsi.
Yorgi memperhatikan kejadian di lorong dan halaman depan. Ketika melihat cctv di ruang pesta, mereka menyaksikan sosok hitam yang dengan mudah menebas sisa pasukan NOZ. Sehingga sekarang semua pasukan NOZ telah tewas.
"Aaaaaarkh " teriak Yorgi kesal dan menghantam meja monitor cctv.
"Kita pergi dari sini, ikuti aku ! " ucap Yorgi kepada Rinko dan Dasan.
Mereka bertiga kembali ke ruang kantor Yorgi.
"Tit...tit..tit " jari yorgi bergegas menekan tombol yang ada pada pintu kantornya.
Ketiga sandera di ruangan itu masih terikat pada kursi. Yorgi kemudian berjalan kearah lemari buku dan mendorong sebuah buku yang berada di barisan tengah rak.
"drrrrrrr" Lemari buku itu bergeser dan memperlihatkan sebuah pintu keluar rahasia.
"Habisi mereka " ucap Yorgi memasuki pintu bersama Dasan.
Rinko tersenyum kemudian mengambil jarum beracun miliknya dan menusukkan ke leher tiga orang sandera itu. Rinko mengikuti Yorgi memasuki pintu rahasia tersebut.
Jack dan Agen no 3 beserta 4 orang pengawal yang tersisa dari peperangan itu, merasa heran dengan hilangnya suara tembakan dari lawan yang tiba-tiba.
Satu menit kemudian semua lampu menyala, semua tamu yang berada di ruang kasino lega. Jack yang melihat Luke bersama Ken di lantai atas segera menghampiri mereka. Di ujung tangga, Jack melihat Riyan yang sedang berpura-pura dengan leher terluka sedang bersandar pada dinding dengan katana ditangan kanannya.
Agen no 3 yang mengikuti Jack ke atas, mencari Yorgi ke dalam ruangan utama lantai 2. Sedang 4 pengawal yang lain mengawal semua tamu keluar dari gedung.
Agen no 3 membuka pintu ruang mesin pengawas, perasaan syok dan lemah disekujur tubuhnya dia rasakan ketika melihat agen 01 tewas terikat di sebuah kursi. Air mata tidak bisa dia hentikan mengalir dari matanya.
Jack, Luke dan Ken bersama Riyan kembali ke ruang utama lantai dua untuk melihat apakah senator masih bisa diselamatkan. Namun sayangnya sudah terlambat, nyawa senator telah meninggalkan raganya.
Jack memasuki ruang mesin pengawas dan mendapati agen no 3 meratapi kematian rekannya. Perhatian Jack teralihkan kepada kamera di halaman depan, Yorgi berada pada sebuah mobil sedan silver memasukkan seseorang yaitu Don Larry yang baru turun dari tembok kiri wallin palace.
Jack bergegas keluar, dan mengajak Riyan untuk membantunya mengejar Yorgi. Karena Ken sedang terkena luka tembak, dia diminta menjaga Luke. Riyan mengikuti Jack ke lantai dasar untuk mengambil sebuah mobil, mereka pun memasuki sedan hitam.
Begitu mesin dinyalakan, agen no 3 berdiri menghalangi mobil mereka.
"Aku ikut " ucapnya
Tidak ingin memperlambat waktu, meskipun kesal, Jack menyuruh agen no 3 masuk di kursi belakang.
"Breeeeem...ciiiit" mobil itu dipacu sangat kencang oleh Jack,
Dengan jeda waktu hampir 5 menit, jarak Yorgi cukup jauh. Untungnya Yorgi dan yang lain tidak menyadari kalau mereka sedang di kejar oleh Jack, sehingga mereka berhenti pada saat lampu lalu lintas merah.
Saat itulah Rinko melihat mobil sedan hitam dengan jarak 3 mobil dibelakang mereka, dikemudikan oleh Jack.
Rinko segera memberitahu yang lain kalau mereka di buntuti oleh Jack. Saat itu Dasan yang mengemudi langsung tancap gas maksimal ketika lampu berubah hijau.
Jack yang tidak mau kehilangan Yorgi, ikut menambah kecepatan mobilnya. Lalu lintas yang padat tidak menghentikan kedua mobil sedan itu untuk melaju kencang. Aksi kejar-kejaran pun terjadi di tengah kota Las Vegas.
Dasan membawa mereka menuju jalur yang sedikit sepi, Don Larry membuka jendela dan mengeluarkan senjata sniper nya. Dari jendela mobil dia mengarahkan kepada Jack yang sedang mengemudi.
Agen no 3 yang melihat itu segera mengeluarkan pistolnya dan menembaki Larry. Tembakan itu meleset namun berhasil membatalkan tembakan sniper Larry.
"Sial peluru ku habis " ucap agen no 3
"Pakai ini " ucap Riyan melemparkan pistolnya kepada agen no 3
Agen no 3 mengeluarkan amunisi senjata deagle yang diberikan Riyan. Setelah melihat pelurunya, amunisi itu dimasukkan kembali kedalam senjata api itu.
"Terima kasih, namaku Tiffany, panggil saja Tiff " ucap agen no 3
"Aku Riyan "
"Serius ? Berkenalan saat ini ? " ucap Jack terus memacu mobilnya
"Tretetetet......tretetet"
Rinko menembaki mobil Jack dengan senjata yang diberikan Dasan. Tiff mengeluarkan separuh badannya dan duduk pada jendela mobil. Jack melihat kearah Riyan, Riyan mengangkat kedua alisnya bersama dengan senyuman.
"Tar...tar..tar"
Tembakan balasan dari Tiff membuat Rinko kembali masuk ke dalam mobil. Tiff juga kembali duduk di kursi belakang.
"Huh..malam ini mungkin hari terakhir kita bertemu " ucap Tiff
"Oke...namaku Jack, dan malam ini bukan hari terakhir kita. Malam ini kita akan menangkap para penjahat di depan sana " ucap Jack mengambil dan mengeluarkan senjata api tipe SMG dari dalam dashboard mobil.
"Wow anda sudah menyiapkannya ? " Tanya Riyan
"Tentu saja " jawab Jack
Jack memegang setir hanya dengan tangan kiri, tangan kanannya digunakan untuk menembaki mobil Yorgi
"Tretetet....tretetet"
Tembakan balasan dari SMG Jack membuat kaca belakang mobil Yorgi pecah. Yorgi pun hanya bisa menunduk berlindung di kursi belakang mobil itu.
"Rinko tembak mereka, Lindungi aku " ucap Larry
Tanpa adanya kaca belakang mobil, posisi Larry saat ini menjadi lebih mudah untuk menggunakan snipernya dari pada harus lewat jendela mobil.
Jack memutar setirnya ke kiri dan kanan membuat mobilnya bergerak zig-zag untuk melepaskan diri dari target sniper Larry.
"Ciiit...ciiit" suara ban mobil Jack berdecit akibat gesekan dengan aspal jalan.
"Kita akan mati ? " ucap Tiff yang terombang-ambing karena tidak mengenakan sabuk pengaman.
"Aku bisa muntah kalau begini " ucap Riyan
"Di depan sana ada sniper yang membidik kita dan kau menghawatirkan muntah ? " Teriak Jack
"Ada aku, apa yang anda takutkan ? " ucap Riyan
Beberapa saat kemudian sebuah bus panjang datang dari arah berlawanan, sehingga Jack tidak bisa melakukan zig-zag lagi.
"Tamat sudah " ucap Jack
Di mobil Yorgi, Rinko kehabisan pelurunya dan melempar senjata kosong itu. Akan tetapi Larry tersenyum ketika mobil Jack tetap berada pada satu jalur. Kemudian dia menekan pelatuk snipernya.
"Dor" peluru dari sniper Larry mengarah kepada Jack
Riyan mendorong gagang katana yang diambilnya dari Yoshinori dengan jempolnya hingga melewati wajah Jack.
"Klink" peluru sniper Larry jatuh diantara kaki Jack karena mengenai hulu pedang katana
"Apa !! " ucap Tiff kaget melihat Riyan menahan peluru itu dengan katana yang dibawanya.
"Benar juga, aku lupa kalau bocah ini yang menangkis puluhan peluru saat melindungi Luke waktu itu " gumam Jack dalam hati.
Don Larry yang kesal, sekarang menjadikan Riyan sebagai target barunya. Moncong snipernya sekarang diarahkan ke kepala Riyan.
Riyan yang menyadari itu, menciptakan dua buah kunai menggunakan nano material secara diam-diam. Dengan berbekal beladiri pisau suku Apache, Riyan melemparkan kunai pertama mengenai kepala Don Larry sebelum sempat menarik pelatuknya.
Tiff dan Jack makin kagum dengan kemampuan Riyan ketika melihatnya. Lemparan kunai yang kedua diarahkan Riyan kepada Ban belakang mobil Yorgi. Dengan kecepatan yang kencang, kebocoran itu menyebabkan mobilnya hilang kendali dan keluar dari jalan raya menabrak pagar kawat yang mengelilingi tanah lapang.
Jack membawa mobilnya mendekati mobil Yorgi yang berada di tanah lapang karena keluar jalan. Mereka pun turun untuk memastikan kondisi Yorgi dan anak buahnya setelah menabrak pagar kawat.
"Bruk" Tiff menutup pintu mobil dengan keras
"Apa kau seorang ninja ? Kenapa tidak melakukan hal itu dari awal ? " Tanya Tiff dengan nada kesal
"Salahkan tuan Jack membuat mobilnya zig-zag, aku hampir mual " jawab Riyan yang juga baru keluar dari mobilnya
"Ya..ya..terserah lah " ucap Jack
Saat itu Jack tidak memegang senjata apapun, Riyan membawa katana milik Yoshinori sedang Tiff memegang senjata dari Riyan. Sedangkan pada kelompok Yorgi, hanya Yorgi yang masih memiliki pistol magnum.
Karena tidak ada gerakan dari mobil Yorgi, mereka mendekati mobil itu perlahan. Yorgi yang dari tadi menunduk di kursi belakang, sedang mendengarkan suara langkah kaki yang mendekat. Begitu mereka sudah sangat dekat, Yorgi bersiap melakukan tembakan.
Kemunculan tiba-tiba dari Yorgi yang mengacungkan senjata, membuat Jack,Riyan dan Tiff kaget sekaligus menghentikan langkah mereka. Riyan segera melepaskan katana yang ada ditangan Riyan dari sarungnya.
"Dor " tembakan dari senjata Tiff menembus tengkorak kepala Yorgi.
Riyan dan Jack melihat kearah Tiffany dengan cemberut
"Apa ? Dia ingin menembak kita " ucap Tiff
Jack mengarahkan kedua tangannya ke arah Riyan seperti seorang pembawa acara yang memperkenalkan artisnya.
"Dia juga bisa menahan tembakan itu ? " tanya Tiff
Jack dan Riyan menganggukkan kepala mereka sekali.
"Jleb " jarum beracun tiba-tiba menancap di leher Riyan.
Jarum itu dilempar oleh Aida Rinko yang baru saja siuman karena kepalanya terbentur Dashboard. Keringat dingin tiba-tiba mengucur dari tubuh Riyan. Dengan katana yang tertancap ditanah, dia menopang tubuhnya agar tidak jatuh.
"Riyan " teriak Jack dan Tiff
"Dor..dor" Tiff menembaki Rinko
Rinko melompat keatas kap depan mobil untuk berpindah dengan cepat ke sisi mobil satunya. Dia kembali melemparkan jarum beracun miliknya kearah Tiff.
Jack menerjang Tiff agar terhindar dari jarum beracun milik Poison Lady itu. Sekarang Tiff dan Jack berada di atas tanah, Tiff menekan pelatuk pistolnya namun peluru di dalam senjata itu sudah habis.
Aida Rinko kembali melemparkan jarum beracunnya. Jack menggunakan tubuhnya untuk melindungi Tiff dari jarum beracun yang mengarah kepadanya.
"Klang...klang " jarum Aida Rinko terjatuh karena tebasan katana Riyan
Rinko terkejut dan heran melihat Riyan yang tidak terbunuh setelah terkena racun mandara miliknya. Wajahnya memperlihatkan penuh tanda tanya.
"Tidak mungkin, kenapa kau masih hidup? jarum itu jelas menancap dileher mu ? " ucap Rinko
"Anggap saja aku punya tubuh yang spesial "ucap Riyan
Sebenarnya itu karena nano material didalam tubuh Riyan yang menolak dan mengeluarkan racun mandara yang masuk di tubuh Riyan melalui pori-pori tubuhnya.
Jack berpaling dan terkejut melihat Riyan berdiri didepan mereka dengan katana nya, begitu juga dengan Tiffany yang menyaksikan Riyan masih dalam kondisi sehat.
"anak ini, siapa dia sebenarnya " pikir Jack
Jack dan Tiff berdiri di samping kiri Riyan, Rinko mencoba kembali melempar jarum beracun miliknya. Lagi-lagi jarum beracun milik Rinko ditangkis kembali dengan katana Riyan.
"Menyerahlah " kata Jack
Disaat itu Dasan terbangun dan keluar dari pintu depan, kepalanya yang terbentur setir mobil meneteskan darah.
"Dasan, kau sudah sadar " ucap Rinko
"ya " jawab Dasan
"Dasan ? Dasan suku Apache ? " Tanya Tiff
"Kau mengenalku ? " ucap Dasan
"ini gawat " gumam Tiff
Jack heran kenapa Tiff terlihat begitu khawatir dan takut dengan orang bernama Dasan.
"Ada apa Tiff ? " tanya Jack
"dia pembunuh bayaran paling mahal, ahli beladiri suku Apache dengan pisau. Dan saat ini, kita tidak memiliki senjata untuk menembaknya " jelas Tiff
"Kalau begitu memang gawat, gadis racun itu juga berbahaya. Penyerang jarak jauh dikombinasikan dengan penyerang jarak dekat, ditambah keduanya memiliki skill yang mematikan " tambah Jack
Riyan maju ke depan Jack dan Tiff sambil memutar katananya seperti pemukul bisbol.
"Kalian jangan khawatir, aku akan menghadapi mereka berdua " ucap Riyan percaya diri
"kau percaya diri sekali anak muda " ucap Dasan mengeluarkan dua buah pisau dari pinggangnya
Sedang Rinko sekarang duduk di atas atap mobil dengan memegang tiga jarum beracun disela-sela jarinya, seperti Wolverine dalam film X-men.
"Kalian kembalilah kedalam mobil " ucap Riyan kepada Jack dan Tiffany
"Dan kalian, majulah " kata Riyan dengan mengacungkan ujung katananya kearah Dasan dan Rinko.