NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 45 Hutan Kematian III



*Kota Muriya*


Dengan adanya Brian di kota Muriya, Prof Gema semakin berhati-hati untuk keluar rumah. Begitu juga Lisa, dia selalu mengenakan topi atau masker ketika berangkat sekolah. Usai sekolah, Lisa pulang dan berganti pakaian untuk berangkat menuju gunung sapathawung. Lisa berniat mencoba mencari lokasi dimana jamur yang ditemukan Riyan tumbuh dan mengambilnya.


Lisa sudah mencoba menghubungi Riyan untuk menanyakan lokasi jamur itu, namun nomer Riyan tidak bisa dihubungi karena berada ditengah hutan kematian.


"Breem" suara motor Lisa siap untuk mengantarkan dirinya pergi ke daerah gunung sapathawung. Sesampainya disana, Lisa mencari informasi kepada penduduk sekitar mengenai wilayah dimana tumbuhan jamur berada. Penduduk di sana memberitahukan beberapa lokasi tumbuhan jamur yang ada di gunung sapathawung kepada Lisa. Dari pemukiman, Lisa pergi seorang diri melewati hutan untuk menaiki gunung sapathawung.


Dengan kecepatan yang didapat dari serum prof Gema, Lisa menuju lokasi yang dikatakan oleh penduduk lokal. Memang benar tempat yang didatangi oleh Lisa terdapat banyak jamur, akan tetapi bukan jenis jamur yang prof Gema inginkan. Lisa melanjutkan ke lokasi berikutnya yang dikatakan terdapat tumbuhan jamur.


Lisa berlari melewati pepohonan di pegunungan dengan sangat cepat, seperti macan yang sedang mengejar mangsa. Semua tempat sudah didatanginya, namun jamur yang diinginkannya masih belum ditemukan. Hingga sore hari tiba, Lisa memutuskan kembali dengan sedikit putus asa dan kesal. Dia berharap menemukan jamur itu sehingga dapat meninggalkan kota Muriya.


Dikaki gunung, tepatnya di jalan berpasir tanpa aspal menuju pemukiman, beberapa mahasiswa dengan ransel besar sedang iseng menggodanya. Dengan situasi hati yang sedang tidak bagus, tanpa banyak bicara Lisa menghajar para pemuda itu. Dia melanjutkan langkah kakinya meninggalkan para pemuda yang pingsan di atas tanah.


*Kediaman Prof Gema*


"Bruuk" pintu tertutup dengan keras, Lisa langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Tubuh yang terlihat lelah dengan muka yang kusut dan terlihat kesal. Prof Gema yang mendengar suara keras itu datang dari dapur dan mendekati Lisa. Dia melemparkan sebuah botol minum berisi air dingin kepada Lisa, kemudian menanyakan apa yang terjadi dengan dirinya.


"aku dari gunung sapathawung mencari jamur itu" ucap Lisa kemudian meminum air dingin itu.


"lalu bagaimana, apa sudah kau temukan?" tanya Prof Gema duduk menemani Lisa


"tidak, padahal aku sudah mengelilingi gunung itu. Apa benar Riyan menemukannya di sana" ucap Lisa


"jamur itu menyerap cahaya dan bersinar dalam gelap. Mungkin akan mudah mencarinya pada malam hari" ucap prof Gema


"kenapa baru kau katakan sekarang!" balas Lisa sedikit kesal


"kau pergi saja aku tidak tahu!" ucap prof Gema


"bagaimana kalau kau tanyakan saja lokasi mereka saat pergi ke gunung itu, mungkin kau bisa memulai dari sana" balas prof Gema


Karena Riyan masih tidak bisa dihubungi, Lisa pun berencana akan menanyakan lokasi camping Riyan saat itu kepada Rifki dan yang lainnya. Lisa bangkit dari sofa dan menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.


*Hutan Kematian*


Pagi itu ditengah hutan, Riyan keluar dari tendanya dan melihat 3 ekor antelop yang diikat nya pada pohon sudah terbangun. Dia sedikit bingung membawa tiga antelop yang sudah sadar karena efek dari obat bius yang habis. Cara praktis yang terpikirkan olehnya adalah mengikat ketiganya jadi satu dengan tali yang terbuat dari nano material.


Sebelum melakukan hal itu, Riyan berencana mencari sungai untuk mandi. Dengan pendengarannya yang sudah dipertajam, suara arus sungai deras terdengar jelas di telinganya. Riyan kemudian membawa serta ketiga antelop yang didapatnya menuju sungai dengan mengikat leher masing-masing hewan itu.


"aku tidak memikirkan akan jadi repot seperti ini" gumam Riyan sambil menarik 3 antelop besar di belakangnya.


Beberapa saat kemudian, sebuah aliran sungai deras yang dipenuhi bebatuan gunung besar terlihat didepannya. Riyan mengikat antelop di tepi sungai agar ketiga hewan itu bisa meminum airnya.


Riyan melepas pakaiannya dan masuk kedalam aliran sungai. Arus air sungai yang deras, bersih dan segar seolah memijat punggung Riyan, dia sangat menikmati berendam di sungai itu. Lima belas menit kemudian Riyan mengganti pakaiannya dan kembali menggembala antelop kearah luar hutan.


Karena harus membawa 3 antelop itu, perjalanan keluar hutan menjadi sangat lama. Terakhir kali dia membawa antelop keluar hutan bersama para pemburu pak Rudy, itu memerlukan waktu sekitar 4 hari. Tepat ketika tengah hari, Riyan kembali menjumpai pasukan bersenjata anggota NOZ. Kali ini hanya berjumlah 3 orang yang berada ditengah rerumputan tinggi.


Riyan kemudian kembali mengikat antelop itu pada sebuah pohon. Kemudian kembali memperhatikan ketiga pasukan NOZ, dimana saat ini mereka berdiri berdekatan. Jarak antara ketiga orang itu tidak lebih dari satu meter.


"ini akan mudah" ucap Riyan


Riyan kemudian mengaktifkan armor hitam miliknya dan membentuk pisau kembali. Cara yang mudah untuk menghabisi orang dari jarak jauh. Dengan pisau itu, Riyan membunuh mereka dari kejauhan. Berikutnya Alpha menyerap senjata mereka seperti sebelumnya.


Riyan meminta Alpha menampilkan peta hologram setelah proses penyerapan selesai. Pada peta, sisa dari pasukan NOZ yang berjaga di luar hutan sekitar 15 orang, mereka terpisah di tiga tempat masuk hutan yang berbeda.


Tiga kelompok yang tersisa yaitu di sebelah selatan 3 orang, barat 8 orang dan timur 4 orang. Sedang Nye Country yang menjadi tujuan Riyan adalah ke arah selatan.


"jarak mereka sangat jauh terpisah, tapi yang 8 orang ini lumayan" ucap Riyan melihat peta.


Riyan memperhatikan peta di depannya, dan membuat sebuah rute untuk mempercepat perjalanannya keluar hutan. Setelah berpikir sejenak, Riyan menyadari jika hanya seorang diri tentu akan sangat cepat, namun membawa ketiga antelop benar-benar berbeda. Riyan pun kembali mengambil antelop itu dan pasrah membawa mereka sesuai jalur biasa.


"apa tidak ada cara agar cepat sampai kota" gumam Riyan


[tentu saja ada tuan]


"apa itu?"


[anda hanya perlu membuat ketiga antelope itu berlari keluar hutan]


"aah..kau benar, kecepatan antelop ini kan sangat cepat" ucap Riyan senang


Riyan kemudian menarik tiga antelop itu untuk membawa mereka keluar hutan. Dalam perjalalanan, Riyan memikirkan cara agar membuat ketiga hewan itu bisa berlari namun searah. Riyan kemudian teringat sebuah delman jaman dulu, kuda yang membawa delman itu menggunakan penutup mata yang disebut kacamata kuda.


Riyan pun berencana menggunakan cara yang sama kepada tiga antelop itu. Tapi kendalanya adalah 3 orang yang berjaga di depan pintu masuk hutan. Dia harus menghabisi tiga orang itu disaat harus mengikuti para antelop berlari, ditambah lari antelop itu bisa mencapai 90km/jam.


Riyan kemudian memutuskan melewati rute yang baru saja dibuatnya untuk mempersingkat waktu.


"mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain kalau ingin cepat" ucap Riyan


"berapa lama estimasi waktu yang diperlukan untuk keluar hutan dengan jalur ini?" tanya Riyan


[dengan kecepatan antelop dan melewati jalur itu, diperkirakan bisa keluar dari hutan ini dalam waktu 3 jam]


"itu lebih baik, mari kita lakukan" ucap Riyan


Setelah itu Riyan membuat penghalang seperti kacamata kuda kepada tiga antelop. Tali yang digunakannya mengikat leher antelop itu diperpanjang hingga 5 meter. Setelah semuanya siap, Riyan tinggal mengguncang tali-tali itu dan ketiga antelop pun berlari. Riyan yang memegang tali tersebut dari belakang, mengikuti kecepatan lari para antelop itu.


"ini bagus sekali, aku harus segera menghubungi pak Topan ketika sampai nanti, kuharap dia sudah berada di Nevada" kata Riyan.



Mereka menemui seseorang yang biasa melakukan penyelundupan barang maupun hewan langka yang dilindungi pemerintah Amerika Serikat. Orang itu adalah orang yang membantu pak Surya mengirimkan antelop langka yang ditangkap Riyan sebelumnya ke Indonesia.


Orang itu bernama Rodrigo, seorang penyelundup asal meksiko yang mempunyai nama dikalangan dunia bawah. Kali ini dia meminta langsung pak Surya untuk menemuinya dalam permintaan pengiriman antelop itu.


Pak Surya dan pak Topan dikawal masuk oleh dua orang bersenjata AK-47 sejak turun dari mobil. Sekarang mereka dibawa ke ruangan kantor Rodrigo, ruangan yang luas dengan kolam renang dibalik pintu kaca besar di samping meja kerjanya. Pria Meksiko berambut ikal panjang dengan hanya mengenakan celana pendek berada dibalik kaca besar itu. Dia sedang duduk pada sebuah kursi santai melihat 4 orang wanita seksi berenang menggunakan bikini.


"Sreeeet" Salah seorang pengawal bersenjata menggeser pintu kaca itu dan mempersilahkan pak Surya dan pak Topan menemui bosnya. Rodrigo yang sudah menunggu kedatangan mereka segera berdiri dari kursi santainya, kemudian menyambut keduanya dengan berjabat tangan.


Dia membawa pak Surya dan pak Topan berpindah ke meja bundar dengan payung lebar menaunginya. Rodrigo mempersilahkan mereka berdua duduk pada kursi yang ada di sana. Pandangan pak Topan tertuju kepada para wanita sexy yang berenang di kolam dekat mereka.


"bagaimana?kau menyukainya teman?" kata Rodrigo kepada pak Topan sambil tersenyum


Pak Topan tidak menjawab pertanyaan itu, karena sepertinya itu memang merupakan pertanyaan retoris yang tidak perlu dicari jawabannya.


"Lexi, bawakan minum kemari!" perintah Rodrigo


Seorang gadis kulit putih berambut pirang dengan bikini biru naik dari kolam renang, gadis itu kemudian masuk kedalam kantor Rodrigo yang ada dibalik pintu kaca.


"kalian menghubungi ku untuk datang sendiri kemari, apa yang kali ini ingin kalian kirim?" tanya Rodrigo


"antelop yang waktu itu kau kirimkan, kami ingin menggunakan jasamu untuk mengirimnya lagi ke Indonesia" jawab pak Surya


"oh soal itu..hewan yang akan kalian kirim, aku ingin kenaikan harga untuk mengirim hewan itu" jawab Rodrigo


"kenapa?bukankah ini sama seperti sebelumnya?" balas pak Topan


"hewannya sama, tapi masalahnya berbeda dengan saat itu. Aku ingin menaikkan bayaran menjadi 3X lipat dari sebelumnya jika kalian setuju, jika tidak..kalian bisa mencari orang lain" jawab Rodrigo


Perbincangan mereka terhenti ketika Lexi mendekat ke meja mereka, dia membawakan sebotol minuman tequila bersama dengan 3 gelas kecil pada sebuah nampan perak. Setelah meletakkannya di atas meja, gadis itu kemudian berbalik dan kembali masuk kolam bergabung bersama gadis lainnya.


"baiklah apapun masalahnya, akan aku bayar" ucap pak Surya


Rodrigo tertawa senang mendengar ucapan pak Surya, kemudian dia mempersilahkan pak Surya dan pak Topan minum.


"kau sangat percaya diri, baiklah kalau begitu kita sepakat. kapan kalian akan mengirimnya?" tanya Rodrigo


"secepatnya" jawab pak Surya


"Baiklah..aku tidak tau bagaimana cara kalian mendapatkan antelop itu, pemburu kalian pasti sangat luar biasa dan punya 9 nyawa" kata Rodrigo


Pak Surya dan pak Topan terlihat bingung dengan perkataan rodrigo. Rodrigo yang melihat tampang heran kedua orang itu langsung bertanya.


"apa kalian tidak tau ceritanya?" tanya Rodrigo


Pak Surya dan pak Topan menggelengkan kepala mereka. Kemudian Rodrigo menceritakan kejadian terkait antelop itu kepada mereka berdua. Dia menjelaskan kalau hewan itu sudah diketahui dunia. Selain pemerintah, beberapa orang kaya juga menginginkannya. Orang-orang itu berlomba untuk mendapatkan hewan tersebut, namun beberapa minggu terakhir semuanya seperti kehilangan gairahnya.


Rodrigo mengatakan kalau para orang kaya itu semuanya kehilangan semangat disebabkan karena setiap pemburu bayaran yang mereka kirim selalu tewas, bahkan pemburu yang disertai beberapa pengawal juga terbunuh begitu masuk hutan itu. Sejak saat itu hutan itu diberi nama Hutan Kematian oleh para penduduk sana.


"bukankah itu karena hewan buas di hutan itu" kata pak Surya


"kau tau dari berita?jangan terlalu percaya media temanku, media memang selalu bisa menutupi fakta" ucap Rodrigo sambil meminum tequila


"lalu apa yang menyebabkan itu?" tanya pak Topan penasaran


"Organisasi NOZ,,, mereka juga menginginkan antelop itu " jawab Rodrigo


"maksudmu NOZ yang telah membunuh semua pemburu itu?" tanya pak Surya kaget


"tepat sekali, menurut informanku, mereka melakukan penjagaan di seluruh hutan dan membunuh siapapun yang masuk" jelas Rodrigo


"Jika kalian mempunyai antelop itu dan mereka tahu aku mengirimkan hewan itu, akan terjadi perang di rumahku yang indah ini, itu sebabnya aku menaikkan harganya" tambahnya


Pak Surya dan pak Topan saling menatap dan terlihat kekhawatiran di wajah mereka berdua. Kemudian keduanya berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia.


"Apa itu sebabnya pemburu kita menghilang,. apa kau ada menghubungi Riyan?" tanya pak Surya kepada pak Topan


"sejak kemarin sampai tadi siang di bandara sebelum kesini, nomornya tidak bisa dihubungi" jawab pak Topan


"apa dia sudah dibunuh kelompok NOZ" ucap pak Surya


"kalau aku tau kondisinya seperti ini, aku tidak akan meminta Riyan melakukannya" kata pak Surya


"Hey apa yang kalian bicarakan?" tanya Rodrigo yang tidak mengerti bahasa Indonesia


Mereka pun kembali berbincang menggunakan bahasa inggris. Berdasarkan cerita dari Rodrigo, jika hutan itu sudah dijaga kelompok NOZ, maka pak Surya dan pak Topan menduga Riyan sudah mati. Dengan adanya pasukan NOZ di hutan itu, tidak mungkin mencari orang lain lagi untuk menangkap antelop itu.


Pak Surya harus merelakan rencananya untuk membuat perusahaan farmasi menggunakan bahan dari antelop itu.


Beberapa saat kemudian HP milik pak Topan bergetar, dia sengaja tidak mengaktifkan suaranya ketika masuk rumah Rodrigo karena khawatir mengganggu pembicaraan. Pak Topan seperti kaget melihat Handphonenya, dia pamit menjauh sedikit dari meja dan mengangkat telpon.


"jadi berapa hari lagi kalian akan memintaku mengirimkan antelop itu?" tanya Rodrigo


Pak Surya yang sudah terlanjur dengan percaya diri menyetujui permintaan kenaikan harga dari Rodrigo, merasa malu apabila pengiriman itu tidak jadi dilakukan. Hal itu membuat dia bingung dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari Rodrigo.


"temanku" sapa Rodrigo kepada pak Surya


"Besok pagi, kau kirim hewan itu besok pagi. Kami akan mengantar hewan itu kepadamu malam ini" kata pak Topan mendekati meja kembali