NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 82 Kembali ke Hotel



Sebelum menjadi Ketua, Julia adalah sekretaris sekaligus pengawal ketua sebelumnya bersama dengan Kevin yang sebagai supir ketua. Ketika NOZ datang memberikan senjata untuk mendukung misi Kurassha dalam menghancurkan kelompok lain, Kapak ganda adalah senjata yang diberikan kepada Julia.


Julia dan Kevin adalah duet kuat yang mampu mengalahkan kelompok lain di Jakarta atas perintah ketua terdahulu. Mereka membuat kelompok lain bergabung dengan Kurassha dan menjadikan Kurassha untuk wilayah Jakarta menjadi lebih luas.


Ketika Julia membunuh ketua terdahulu, dia mengambil wechas milik ketua itu yang berupa pistol revolver besar yang digunakan Julia menyerang Riyan.


Dan sekarang, duet yang mengalahkan kelompok lainnya di Jakarta itu bersatu kembali. Dengan lincah mereka mendekati Riyan sambil menghindari serangan pedang laser.


"Sudah kubilang kau tidak akan menang?" ucap Kevin sambil terus menyerang Riyan bersama dengan Julia.


"Jangan terlalu percaya diri dulu, ada banyak cara bagiku untuk mengalahkan kalian" balas Riyan dalam pertarungan itu.


"Dasar pembual" balas Julia


Disela pertarungan mereka, Riyan mengubah pedang oriental yang dalam bentuk beam attack kembali seperti semula.


"Kalian yang minta" ucap Riyan


Riyan pun langsung menggunakan teknik Sundang Majapahit miliknya yaitu jurus Sundang sungai. Tebasan cepat , asyang seolah tak beraturan membuat Riyan terlihat membabi buta menyerang kedua orang di depannya.


"Serangan macam apa ini?" pikir Julia panik tidak bisa memprediksi arah tebasan maupun tusukan Riyan


Serangan cepat jarak dekat milik Riyan itu tidak mampu dihalau oleh Julia. Meski tidak parah, seketika lengan, bahu dan perutnya terluka dan mengalirkan darah, bahkan serangan itu menggores leher Julia hingga membuatnya terpaksa menjauhi Riyan.


Saat tusukan oriental hampir mengenai leher Julia kembali, Kevin menangkap pedang itu. Namun serangan Riyan tanpa jeda, serangan itu dilanjutkan dengan tusukan katana Riyan yang ada di tangan kirinya menusuk kearah perut Kevin.


Kevin yang pernah melawan jurus Sundang milik Ratna, mengetahui apa yang dilakukan Riyan. Dia dengan cepat menghalau tusukan itu dengan mengangkat kakinya yang memakai sepatu besi tinggi.


Disisi lain, serangan tusukan Riyan yang baru saja hampir menembus leher, membuat Julia mengalami shock sesaat hingga tubuhnya kaku dan mengeluarkan keringat dingin akibat ketakutan.


Serangan Riyan kepada Kevin tidak berhenti, dia terus melancarkan sayatan dan tusukan kearah. Kevin bertahan dari serangan itu dengan memposisikan sarung tangan besinya seperti petinju yang sedang bertahan.


"Bos,,,Julia" teriak Kevin


Teriakan itu menyadarkan Julia. Dia menyapuh wajahnya dengan kedua tangan yang masih memegang kapak kecil. Melihat Kevin yang masih melawan Riyan, diapun ingin kembali membantu Kevin. Namun dia harus menghentikan teknik pedang Riyan.


Kevin mencoba menendang Riyan dengan sepatu besinya. Namun Riyan memutar tubuhnya menghindari tendangan itu, sayatan dan tusukan dilancarkan pada kaki Kevin.


"Klink...klink"


Sayatan Riyan mengenai sepatu besi Kevin yang menutupi hingga hampir mencapai lutut, sehingga serangan Riyan hanya merobek celana panjang milik Kevin saja.


"Untunglah aku sempat melawan Ratna. Walau tidak bisa di tebak, inti dari serangan itu adalah menyerang titik mematikan lawan. Selama aku bisa melindungi titik itu, maka aku akan baik-baik saja" ucap Kevin dalam hati


"Sepertinya dia terbiasa dengan jurus Sundang majapahit, selain itu dia juga tau mengenai kemampuan oriental. Kalau begitu aku harus memodifikasi serangan, tapi apa?" pikir Riyan yang terus melakukan serangan kepada Kevin


Disaat itu Julia menyerang Riyan dengan kedua kapak ditangannya. Dia melemparkan kapak-kapak itu bergantian. Kapak yang dilempar berputar-putar seperti sebuah cakram.


Riyan menahan kapak kecil yang dilempar ke arahnya dengan pedang oriental. Serangan itu membuat Riyan terpisah dengan Kevin, sekaligus menghentikan jurus sundang sungainya.


"Kapak terbang Julia telah kembali" ucap Kevin


"Kita habisi saja orang ini dengan cepat" ucap Julia .


Setelah kapak itu kembali lagi ke tangan Julia, dia kemudian melemparkannya lagi bergantian sambil menyerang mendekati Riyan. Tujuannya adalah menyerang Riyan dari belakang dengan menggunakan kapak yang bergerak kembali.


Bersamaan dengan itu, Kevin juga melancarkan teknik beladirinya untuk menyerang Riyan. Kevin juga bertugas untuk menahan gerakan Riyan.


Serangan kapak terbang Julia memberikan ide kepada Riyan. Ketika sebuah tebasan dilakukan oleh Riyan kearah Kevin dengan katananya, Kevin mengangkat tangannya berniat untuk menahan serangan itu.


Belum sempat katana itu ditahan, Riyan melepaskan genggamannya sehingga menyebabkan katana itu melayang jatuh ke bawah.


Kevin sedikit bingung dengan gerakan itu, dia menduga katana itu akan berpindah tangan dan melakukan tusukan. Namun prediksi Kevin salah, katana itu bergerak dengan sendirinya menusuk dada menembus jantung Kevin.


Riyan kemudian mencabut katana itu dari dada Kevin. Darah merah menetes ke tanah, dengan sarung tangan besi dia menutupi luka yang menimbulkan rasa nyeri ditubuhnya.


Julia dengan kapak terbangnya tetap menyerang Riyan, namun dengan mudah kapak itu dihalau oleh Riyan.


Tidak berapa lama kemudian Kevin terjatuh dan mengembuskan nafas terakhirnya.


"Sekarang penjagamu sudah tewas, giliranmu" ucap Riyan mengacungkan pedangnya


Tanpa adanya Kevin yang menahan gerakan Riyan, Julia menjadi panik dan ketakutan. Dia merasakan dewa kematian akan segera menghampirinya.


"Bebaskan aku, maka akan kulepaskan adikmu" ucap Julia ketakutan


"Konyol, kau baru saja mengajukan penawaran itu?"


Riyan kemudian menyerang Julia dengan kecepatan penuhnya, membuat Julia tidak bisa merespon dengan tepat. Kedua kapaknya gagal melakukan tangkisan karena pedang oriental Riyan lebih dulu sampai menembus tubuhnya.


Dengan sisa tenaganya, Julia mengangkat kedua kapak di tangannya dan mengarahkan kapak itu mengincar leher Riyan.


"Ting"


Kedua kapak itu menyentuh leher Riyan. Namun dengan adanya armor hitam yang terpasang dan tenaga Julia yang sudah lemah, serangan kapak itu bahkan tidak menggores armor Riyan sedikitpun.


Riyan menarik pedang oriental dari tubuh Julia dan melakukan serangan akhir dengan menebas secara diagonal tubuh Julia.


"Akhirnya berakhir, tapi sayang juga meninggalkan wechas mereka" ucap Riyan sambil menghilangkan armor hitamnya.


[Anda benar tuan, kita bisa memanfaatkannya nanti]


Riyan pun mengambil pistol revolver, kapak milik Julia dan juga melepaskan sarung tangan serta sepatu milik Kevin. Riyan mengembalikan peralatan itu ke wujud kecilnya, kemudian memasukkannya kedalam saku celana.


Riyan kembali meminta Alpha untuk memindai rumah Julia. Dari hasil pindaian, hanya tersisa 3 orang yang masih hidup di tempat itu. Yakin tidak ada musuh lagi, Riyan kemudian mengembalikan pedang oriental ke wujud liontin dan memakainya.


Dia pun berjalan memasuki rumah Julia, saat berada di ruang tengah yang besar dimana pernak pernik mewah ada di sana. Riyan menuju jalan sebelah kiri untuk mendatangi kamar tempat Mila ditahan.


Di dalam kamar itu, para gadis yang terbangun karena suara ledakan masih terjaga dengan tangan dan kaki terikat. Dia hanya bisa pasrah dan berharap tidak ada sesuatu hal buruk terjadi kepadanya.


Suara gagang pintu terdengar seperti sedang berusaha untuk dibuka dari luar, namun tak kunjung terbuka. Para gadis ketakutan, Mila mengerutkan keningnya seolah bertanya dalam hati apa yang sedang terjadi, tiba-tiba pintu itu terhempas keras menghantam dinding kamar dan terbuka secara paksa karena tendangan kuat.


Wajah gembira Mila terlihat jelas sekali, air mata mengalir di pipinya ketika mengetahui orang dibalik pintu yang terhempas itu adalah kakaknya. Kedua gadis lainnya heran melihat Mila yang gembira.


"Kaakaak" teriak Mila


"Kakak?" Ucap kedua gadis itu heran


Riyan yang melihat adik kesayangannya terikat, segera berlari menghampiri Mila dan melepaskan ikatan kaki dan tangannya.


"Bagaimana kakak bisa ada disini?" tanya Mila penuh rasa penasaran sekaligus bingung.


"Nanti kakak jelaskan, kita pergi dari sini dulu" ucap Riyan


Setelah itu Riyan melepaskan ikatan kedua gadis lainnya dan mengajak mereka pergi meninggalkan tempat itu.


"Terima kasih kak" ucap kedua gadis yang seumuran Mila itu


"Apa yang terjadi?kenapa mereka terlihat pucat?" tanya Riyan kepada Mila


"Mereka sempat disuntikkan narkotik" jawab Mila


Riyan segera memegang wajah Mila dan memperhatikannya.


"Aku tidak sempat dikasih kak, karena kehabisan jadinya mereka menyuruh salah seorang dari mengambil di gudang" jawab Mila


"Syukurlah" gumam Riyan dalam hati


Riyan meneruskan membawa mereka keluar dari rumah Julia, Mila dan para gadis lain sangat terkejut ketika melihat mayat para penjaga dan juga Julia berada halaman rumah. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Tidak mungkin kan kakak ini sendirian melawan semua orang disini" pikir salah satu gadis.


Karena rasa penasarannya, dia pun bertanya kepada Riyan


"Kakak dengan siapa kemari?"


"Sendirian, ayo cepat!" ajak Riyan


Para gadis itu semakin terkejut mendengar bahwa Riyan seorang diri mengalahkan orang-orang itu. Terlebih Mila yang hampir tidak mempercayai kalau kakaknya bisa melakukan hal seperti itu.


"Apa dia benar-benar kak Riyan?" Pikir Mila


Mereka akhirnya keluar dari rumah Julia dan Riyan menggiring mereka berjalan menuju mobil sport milik Seichi. Saat Riyan menyuruh semuanya masuk, Mila semakin terkejut dengan mobil mewah di depannya.


"Ini punya siapa kak?" tanyanya


"Sudah, nanti kakak ceritakan semuanya kepada Mila. Sekarang cepat masuk!" ucap Riyan


Sayangnya para gadis harus berdesakan karena mobil itu hanya punya dua kursi depan. Untung saja tubuh mereka tidak besar sehingga walau sempit, masih tetap muat.


"Sudah hampir pagi, sepertinya aku harus membawa mereka ke hotel" pikir Riyan


*Hotel Nova*


Satu jam kemudian mereka tiba di hotel Nova, Riyan berhenti di depan pintu masuk. Dia meminta para gadis untuk turun dan menunggunya di loby.


Riyan kemudian menuju tempat parkir yang berada di lantai bawah tanah, kemudian kembali menemui Mila dan gadis lainnya di lobby hotel.


Riyan kemudian memesan dua buah kamar lagi. Kebetulan sekali kamar yang didapatnya kali ini berada di lantai 3, lantai yang sama dengan kamar pertama yang sekarang ditempati Riska dan dua wanita lain.


Riyan mengajak ketiga gadis itu menaiki lift menuju lantai 3. Dia membawa mereka ke kamar 181 yang berseberangan dengan kamar 122 dimana Riska dan dua wanita lain berada.


"Klek" pintu terbuka, Riyan menggunakan kartu kunci untuk membuka pintu itu.


Riyan mempersilahkan semuanya masuk. Begitu masuk, ruangan yang mewah dengan dua ranjang menyambut sesuai dengan reputasi hotel Nova. Riyan mempersilahkan kedua gadis untuk beristirahat menunggu pagi di kamar itu.


Sedang Riyan bersama dengan Mila menuju kamar lain yang disewanya. Kamar yang berada di lantai yang sama dengar nomor 134, agak jauh dari dua kamar lainnya.


"Kakak benar kak Riyan?" tanya Mila di tengah perjalanan ke kamar mereka.


"tentu saja, memang siapa lagi?" jawab Riyan memegang rambut Mila


"Hanya saja melihat semua ini membuatku merasa aneh kak"


"Tidak perlu bingung, kakak akan ceritakan semuanya nanti" ucap Riyan membuka pintu kamar mereka.


Setelah berada di dalam kamar itu, Riyan mempersilahkan Mila untuk mandi dan beristirahat. Kamar itu memilki dua tempat tidur yang sengaja dipesan Riyan.


Sayangnya tidak ada baju ganti yang tersedia, hanya ada dua baju tidur yang tersedia di lemari kamar hotel. Pakaian Riyan juga berada di kamar 122 tempat dimana Riska dan yang lainnya.


"Kau pakai baju tidur di lemari saja sementara!" ucap Riyan


"Iya kak" sahut Mila mengambil pakaian tidur di lemari dan pergi ke kamar mandi