
David dan Alex mulai ketakutan melihat Riyan dapat memunculkan benda seperti serbuk hitam dari kedua tangannya menjadi sebuah pisau.
"makhluk apa kau?lepaskan aku!" teriak Alex ketakutan
"Aku hanya ingin informasi siapa yang membakar Rumahku dan dimana adikku" kata Riyan berjalan mengelilingi mereka berdua sambil memainkan dua pisau kecil di kedua tangannya.
"Aku tidak tau, aku hanya ditugaskan menyebarkan narkoba di daerah pasar" kata Alex
"Jleeeb" pisau menancap di paha Alex
" Aaarg" seketika teriakan dari mulutnya memenuhi bangunan tua itu, Riyan membiarkan pisau itu menancap di pahanya.
"Bagaimana denganmu David? ada yang ingin kau katakan kepadaku tentang ini?" tanya Riyan memperlihatkan pin ular yang ada ditangannya
"kau akan dipenjara karena ini bocah" kata David
"owh...menurutmu begitu? siapa yang akan mereka penjara kalau bahkan jejak kedatanganku saja tidak ada" kata Riyan
"hahahaha itu tidak mungkin, apa kau bodoh?disana banyak CCTV" kata David menertawakan Riyan
"Sudah kukatakan kau tidak tau kemampuanku dan apa yang bisa kulakukan" Kata Riyan kemudian menusukkan pisaunya ke lengan atas David membuatnya menjerit kesakitan seperti Alex.
" Kuberitahu padamu satu lagi rahasiaku, aku punya teman bernama Alpha yang bisa mematikan dan menghidupkan semua CCTV itu semaunya, jadi tidak ada rekamanku sama sekali, bajingan " kata Riyan kemudian meninjunya dengan keras di wajah.
"Bahkan sidik jariku tidak akan ada dengan sarung tangan hitam seperti ini" kata Riyan
"aku sudah melihat wajah dua orang yang mendatangimu kemarin melalui CCTV penjara, tapi aku perlu tau siapa mereka dan dimana bisa kutemukan" kata Riyan sambil berjalan kearah pintu masuk menjauhi mereka berdua.
Dua pisau kembali tercipta dengan material nano dikedua tangan Riyan, kemudian dia membalikkan badannya menghadap mereka.
"Jadi, apa kalian berubah pikiran?atau tetap diam?" tanya Riyan
"Aku sungguh tidak tau, aku hanya bawahan, bahkan aku tidak tau tentang pin ular itu" teriak Alex sambil menahan sakit
"Wuuush" pisau melayang dengan cepat dari tangan Riyan menancap ke dada Alex membuatnya sekarat.
"Kau tidak akan mati cepat, itu menggores sedikit paru-parumu membuatnya susah bernafas" kata Riyan
"Aku juga mempelajari seni beladiri suku Apache dalam bermain pisau, jadi akurasiku bagus" lanjut Riyan
"Anak ini benar-benar berbahaya" pikir David
"Baik...aku akan memberitahumu" kata David
"Bagus, akhirnya kau berubah pikiran, Katakanlah!" perintah Riyan sambil menarik kembali material nano berbentuk pisau ditangannya untuk masuk ketubuhnya.
"Tapi kau harus melepaskanku setelah ini" kata David
"Tentu saja" jawab Riyan
"Orang yang membakar rumahmu adalah Joni dan Mike. Sama sepertiku yang mengepalai Kota Muriya, mereka pengedar narkoba yang mengepalai kota palangkaraya. Hanya saja mereka itu lebih kuat dan kejam dariku, pin itu sebagai identitas kelompok kami" jelas David
"Jadi kau meminta bantuan mereka untuk membalasku?" tanya Riyan
"Tidak, aku tidak melakukannya, mereka kemari ditugaskan untuk menggantikanku selama aku dipenjara, namun kemarin tiba-tiba mereka menemuiku dan menanyakan tentang kau" kata David
"Aku tidak pernah berurusan dengan mereka, kenapa mereka sampai membakar rumah dan ingin menyakiti keluargaku?" tanya Riyan lagi
"Mereka mengatakan kalau mereka diperintahkan untuk mencari informasi tentang rumahmu melalui aku kemudian membereskanmu" kata David
"Siapa yang memerintahkan mereka" teriak Riyan sambil mencengkram leher baju David
" Bos Tirta" jawab David ketakutan
"Pak Tirta Prayuda ayah dari Aldo?" tanya Riyan
"Kau mengenal anaknya? benar itu dia" jawab David
"Jadi mereka ya, apa kau tau dimana aku bisa menemukan Joni dan Mike ini?" tanya Riyan
"Kalau mereka menggantikanku, berarti mereka ada di rumah tempat tinggalku" kata David yang kemudian mengatakan alamat rumahnya kepada Riyan.
Beberapa saat kemudian Alex kehilangan nyawanya. David menjadi panik dan berteriak meminta Riyan untuk membebaskannya.
"iya aku lepaskan, kau berisik sekali" kata Riyan melepaskan pisau yang menancap di lengan atas David kemudian memotong Tali yang mengikatnya.
David segera berlari menuju pintu keluar, sesampainya di pintu itu sebuah pisau menancap di punggungnya membuat langkahnya terhenti.
"Wah akurasi beladiri suku Apache ini memang sesuatu" kata Riyan yang kemudian mengambil pisau yang tertancap di dada dan paha Alex. Sementara David berpaling ke arah Riyan
"Kauuu...sudah berjanji melepaskuuu" kata David sambil menahan Sakit
" Wuush..Jleeb...jleeb" dua buah pisau ditangan Riyan sekarang berpindah menancap ke dada David membuatnya terjatuh ke lantai.
"Aku sudah melepaskanmu kan, tapi aku tidak bilang akan membiarkanmu hidup" kata Riyan mendekati David yang sudah terbaring di lantai menunggu kematiannya.
"Terakhir kali aku membiarkan kau selamat, akibatnya sekarang keluargaku terluka dan rumahku terbakar, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali" kata Riyan
Riyan meregangkan tangannya di atas tubuh David, Ketiga pisau yang berada di tubuh David kembali menjadi material nano dan terbang menyatu ke tangan Riyan membentuk sebuah Pedang yang kemudian ditusukkan kembali ke tubuh David hingga tewas.
Riyan Keluar meninggalkan bangunan tua itu, sesampainya diluar dia meminta Alpha untuk membuat Canon ditangannya.
"Duaaar" tembakan dari senjata Riyan menghancurkan bangunan tua itu sekaligus mengubur mayat David dan Alex.
Riyan meminta Alpha untuk menandai alamat yang diberikan David kepadanya melalui map.
Map hologram kembali muncul didepan Riyan dengan titik merah menandakan lokasi alamat yang ingin dituju Riyan.
"Alamat ini ada di pusat kota, jadi harus cepat ke sana sebelum pagi datang" kata Riyan kemudian masuk ke mobil yang disewanya untuk mengangkut David dan Alex .
Riyan pergi kelokasi yang diberikan David, dia berhenti didepan sebuah rumah dengan tembok putih dan pagar hijau yang cukup tinggi, disitulah alamat yang ada pada Riyan.
Tidak sulit bagi Riyan untuk melompati tembok dan menerobos masuk kehalaman rumah itu, dimana sebelumnya dia sudah meminta Alpha untuk mematikan kamera CCTV rumah itu untuk sementara.
Sekarang Riyan melihat Rumah warna biru tua dengan lebar 2X luas rumahnya. 3 orang terlihat sedang santai di teras rumah itu, melihat Riyan mendekat merekapun berdiri menghalau Riyan.
"Siapa kau, ada perlu apa kemari?" tanya salah seorang dari penjaga.
"Aku kemari diperintahkan bos David dari penjara untuk mengambil sesuatu dari bos Joni dan Mike" kata Riyan
Ketiga orang itu diam dan memperhatikan Riyan, mereka mengatakan tidak pernah melihat Riyan. Tetapi Riyan meyakinkan mereka bahwa dia adalah Anak buah dari bawahannya David yaitu Alex.
Karena Joni sedang tidur dan Mike pergi ke palangkaraya menemui bos Tirta, maka ketiga orang itu menyuruh Riyan pergi dan kembali lagi setelah siang nanti. Mereka menggiring Riyan menuju pagar rumah besar itu.
"Bagaimana kau bisa masuk?ini masih terkunci" kata salah satu dari mereka
"Bukk..bukk..buuk" hanya dalam hitungan detik Riyan sudah melumpuhkan mereka bertiga .
Kemudian dia melangkahkan kakinya kembali kerumah itu, sebuah ruang tamu dengan Sofa panjang menghadap TV yang sedang menyala ada dibalik pintu itu.
Beberapa orang masih tertidur disofa itu, Riyan perlahan menuju ruang tengah dimana terdapat 3 buah kamar 2 dikiri dan 1 di kanan.
Riyan ingin membuka pintu - pintu kamar itu sedikit dengan perlahan untuk melihat orang didalamnya. Sialnya ketika ingin membuka pintu kedua, orang yang berada didalam sudah bangun dan membuka pintunya terlebih dahulu.
Tinju besar mengarah cepat kearah Riyan namun dia melompat mundur untuk menghindarinya. Orang itu berteriak hingga membangunkan semua orang yang ada disitu.
Kaget dengan teriakan itu, Riyan menyerang orang tersebut dan berhasil melumpuhkannya. Akan tetapi beberapa dari penghuni rumah itu terbangun, Riyan menggunakan material nano membentuk katana pendek sekaligus armor yang sepenuhnya menutupi wajah dan tubuhnya.
Satu persatu orang - orang itu menyerang Riyan, kecepatan Riyan bukan tandingan mereka sehingga mereka semua tumbang dengan sejumlah tusukan katana ditubuh.
Setelah semuanya tewas, suara dari beberapa perabot yang hancur akibat perkelahian sepertinya membangunkan orang dari pintu kamar ketiga dan membuatnya keluar kamar.
"Kenapa berisik sekali" teriak orang itu sambil menggaruk kepalanya
Riyan memandangi orang itu dan tidak salah lagi dia adalah Joni, salah satu orang yang menemui David di penjara waktu itu. Joni berbadan besar dengan tinggi 190cm dengan rambut plontos seperti Alex. Riyan berlari kearah Joni yang hanya mengenakan celana pendek berencana menebasnya.
Serangan Riyan dihentikan Joni dengan menangkap pergelangan tangan Riyan. Katana pendek itu dijatuhkan Riyan dan diambilnya dengan tangan kiri kemudian menebaskannya ke perut Joni.
Joni melepaskan tangan Riyan dan melompat mundur untuk menghindari tebasan katana pendek itu.
"Siapa kau?" tanya Joni
"dimana adikku?" tanya Riyan
"Siapa?" tanya Joni heran
"Kau membakar Rumahku dan menculik adikku" kata Riyan menghilangkan armor dikepalanya sehingga tampak sekarang wajah Riyan sepenuhnya.
"owh jadi kau yang bernama Riyan? gadis kecil itu dibawa Mike menemui bos Tirta, mungkin ingin dijadikan istrinya" kata Joni
Mendengar itu amarah Riyan memuncak dan menyerang Joni. Mereka berkelahi diruang tengah rumah itu. Berbeda dengan lawan Riyan sebelumnya, tubuh Joni jauh lebih kuat. Dia mampu menahan pukulan Riyan dengan tubuhnya yang kekar.
Tidak sedikit tinju yang mengarah ke wajah dan tubuh Joni setiap kali Joni menghindari tebasan katana pendek Riyan.
Darah sudah keluar dari mulut Joni akibat banyaknya pukulan Riyan namun dia masih tegak berdiri seperti batu karang, Riyan merasa seperti sedang melawan patung batu yang bisa bergerak.
Disisi lain Joni merasa stres karena tidak bisa memukul Riyan karena gerakannya yang cepat. Setiap kali dia berusaha melancarkan tinjunya, Riyan selalu menghindar dan melakukan tebasan atau tusukan dengan pisaunya.
Joni sudah mencoba untuk mengambil pisau Riyan dengan menangkap tangannya namun pisau itu selalu berpindah ketangan satunya dengan cepat.
Joni menyerang Riyan sambil terus menghindari permainan katana Riyan hingga membuatnya terkena tendangan kuat Riyan dan terlempar ke ruang tamu.
Akhirnya Joni memutuskan mengambil sebuah pedang yang terpajang di dinding ruang tamu yang dekat dengannya.
Sekarang mereka berdua sama - sama memiliki senjata. Joni yang dari tadi bertahan tanpa bisa menyerang karena pisau Riyan sekarang bisa mengimbangi Riyan.
"Kling...Kling" suara benturan pisau dan pedang mereka berdua sekarang lebih sering terdengar daripada suara pukulan mereka.
Gerakan keduanya terhenti saat keduanya saling mengayunkan katana dan pedang. Joni menangkap pergelangan tangan Riyan dan Riyan menangkap pergelangan tangan Joni.
Joni tersenyum dan menghantamkan dahinya ke kepala Riyan membuat Riyan hampir pingsan, dia menggelengkan kepalanya untuk menjaga kesadaran.
"Sekarang kau tidak bisa menghindar" kata Joni
Joni melakukan hantaman keduanya dengan kepala tanpa melepas tangan Riyan, namun disaat bersamaan Armor hitam Riyan kembali menutupi kepalanya sepenuhnya membuat Joni kesakitan dan mundur 3 langkah.
Darah mengucur dari kepala Joni, dengan tangan kirinya dia menyapuh darah yang mengalir dari dahinya.
Joni emosi dan mengayunkan pedangnya kearah Riyan, namun ditangkis dengan katana pendek milik Riyan. Riyan mengayunkan tinju balasan dan Joni bersiap menahan tinju itu dengan mengangkat tangannya.
Namun sayangnya ada hal yang tidak diketahui oleh Joni, yaitu Riyan memiliki material nano ditubuhnya yang bisa dia bentuk sesuka hatinya.Riyan menciptakan satu katana lagi ditangan kirinya, sekarang sebuah tinju berubah menjadi sabetan.
"Aaaaaarggh" Joni berteriak setelah tangan yang digunakan untuk menangkis serangan Riyan terputus oleh ketajaman pisau katana.
Joni berusaha mengayunkan pedangnya kembali yang lagi-lagi ditahan oleh Riyan menggunakan Katana ditangannya. Tangan Riyan satu lagi lurus kearah leher Joni dengan memegang katana membuat Joni terdiam takut.
"Sreeet..." gesekan katana dengan leher Joni membuatnya jatuh ke lantai hingga tewas.
Riyan menghilangkan Armornya dan meninggalkan ruangan itu. Mentari pagi menyentuh wajah Riyan ketika keluar dari pintu yang kemudian menuju mobilnya.
Riyan mengambil Handphonenya dan menelpon Fikri menanyakan apakah hari ini dia masuk sekolah hari ini, dan dia mengatakan kalau dia masuk sekolah hari ini.
Riyan meminta bantuan Rifki untuk membuatkannya surat ijin tidak masuk sekolah selama tiga hari dan Rifki meyetujui membantunya.
"Sekarang aku harus mengembalikan mobil ini dulu" kata Riyan
Riyan pergi mengembalikan mobil yang disewanya, kemudian menaiki motornya. Karena Nano System yang membuatnya tidak lelah walau tidak tidur 24 jam dia hanya perlu membersihkan dirinya.Setelah mandi dikontrakkan dan mengenakan jaket hitam, dia pergi menuju palangkaraya menggunakan motornya.
"Tirta Prayuda, sebaiknya kau tidak menyakiti adikku kalau ingin selamat" gumam Riyan diperjalanan.