NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 85 AII



*Kota Muriya*


Keluar dari pintu kedatangan, Mila terlihat menarik koper yang berukuran sedang dan memakai ransel. Di sana Tari sudah menunggu kedatangan Mila dan menyambutnya.


Mata Mila berkeliaran kesana-kemari mencari keberadaan Tari. Sebuah lambaian tangan yang tinggi diantara kerumunan membuat mata Mila tertuju kesitu.


Ujung bibirnya tertarik ke samping menampilkan senyuman lebar ketika melihat tante Tari menjemputnya di bandara. Mila pun mempercepat langkahnya menuju Tari.


"Mila"


"Tante"


Keduanya saling berpelukan erat untuk beberapa saat. Tari Melepaskan kerinduan dan kekhawatiran terhadap Mila beberapa hari ini. Sesaat kemudian Tari sadar kalau Riyan tidak ada bersama Mila


"Riyan mana?"


"Kak Riyan katanya mau ketemu orang dulu di Jakarta"


"Owh, yasudah ayo pulang kerumah!"


Tari mengambil tangkai koper dari tangan Mila dan menariknya hingga ke parkiran. Saat diparkiran, Mila terkejut melihat Safri berdiri di samping mobil mereka.


Mila segera menggenggam tangan Tari dan menariknya hingga menghentikan langkah Tari.


"Kenapa Mil?"


"Kita pergi tante, orang itu pernah menculik Mila"


Tari pun meletakkan tangannya keatas kepala Mila dan tersenyum.


"Tidak apa sayang, dia sekarang kerja sebagai supir kita"


Dengan berat hati Mila mengikuti tarikan tangan Tari mendekati mobil mereka dan Safri. Begitu sudah dekat, Safri membantu memasukkan koper dan tas Mila ke belakang mobil.


"Buk"


Pintu kap belakang mobil menutup pertanda koper dan tas sudah dimasukkan. Mila dan Tari kemudian duduk di kursi belakang mobil.


Dari spion yang ada di atas kepala Safri, dia melihat Mila yang terus memegang tangan Tari.


"Anak ini masih trauma dengan perbuatan ku waktu itu ya"


Menyadari hal itu, Safri mencoba sedikit ramah dengan Mila.


"Nona kecil tidak usah takut, saya sekarang bukan orang jahat" ucap Safri


"Iya, paman ini sudah berubah Mil" tambah Tari


"paman?apa aku setua itu" gumam Safri yang kemudian menjalankan mobil mereka.


*Jakarta*


Riyan saat ini berada di sebuah depot makan,dimana satu meja di tempat itu dilengkapi dengan empat buah kursi. Di atas meja Riyan sudah tersedia jus alpukat serta kentang goreng sebagai cemilan.


Selagi menunggu hasil pencarian dari Alpha, Riyan bersantai menikmati makanan tersebut. Karena baru pukul 11, depot makan itu menjadi sangat sepi.


"Bagaimana pencariannya?" ucap Riyan


[Sepertinya dia tidak ada di kota ini, saya akan memperluas pencarian]


"Baiklah, lakukan saja"


Disaat Riyan sedang memakan kentang gorengnya, tiba-tiba sepasang pria dan wanita duduk pada kursi kosong didepan Riyan.


Dengan heran Riyan melihat kedua orang didepannya. Seorang pria dewasa memakai jaket kulit hitam, sedang wanita mengenakan kemeja biru dan celana hitam panjang yang terbuat kain.


"Fiuh..lumayan sulit menemukanmu" ucap pria di depan Riyan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Riyan semakin bingung dengan ucapan pria itu, karena dia sama sekali tidak mengenali kedua orang di depannya.


"Siapa kalian?"


"Maaf, namaku Julian dan ini Maria. Kami dari Agen Intelegen Indonesia"


"Tidak pernah dengar" ucap Riyan


"Tentu saja, kami bertugas secara rahasia dibawah kementrian pertahanan untuk melindungi negeri ini" jelas Julian


"Lalu kenapa kalian mendatangiku dan mengatakan hal itu padaku?" tanya Riyan


"Kami tau kau yang telah melakukan pembantaian di kediaman Julia dan Xforu. Kami sudah lama mengawasi kelompok Kurassha, bahkan beberapa teman kami tewas saat melakukannya. Ikutlah dengan kami! kau akan mengerti semuanya" ucap Wanita didepan Riyan bernama Maria


"Baiklah, kuhabiskan jus ini dulu"


Kedua orang itu saling menatap dan tersenyum, kemudian berdiri meninggalkan meja Riyan. Tidak berapa lama Riyan berdiri dan mengenakan ranselnya mengikuti kedua orang itu.


Riyan dihadapkan dengan sebuah mobil keluarga berwarna perak keluaran tahun 2018.


"Agen rahasia?kalian ingin benar-benar menyamar atau memang tidak memiliki cukup anggaran" ucap Riyan tertawa kecil


Pintu kaca depan mobil menurun, dari kursi depan Maria kemudian menyuruh Riyan masuk. Tiba-tiba suara Alpha terdengar di telinga Riyan.


[Tuan, saya menemukan lokasi Afri baru saja berjalan masuk ke kota Jakarta. Saat ini dia masih berada di pinggiran kota]


"Tetap pantau lokasinya, beritahu jika sudah menetap!"


Melihat Riyan yang masih saja terdiam di luar mobil, Maria sekali lagi menyuruh Riyan untuk masuk.


"Sudah masuk saja!"


Riyan pun menuruti kemauan wanita itu, setengah jam kemudian mobil mereka berhenti dan parkir di sebuah minimarket. Julian dan Maria pun turun dari mobil mereka, sedang Riyan hanya diam saja di kursi belakang.


"Tok..tok"


Julian mengetuk kaca pintu belakang dekat Riyan, membuatnya menoleh kepada Julian. Kemudian dengan menggerakkan jarinya, Julia memberi isyarat kepada Riyan untuk turun dari mobil.


"Tidak ada yang ingin ku beli, kalian saja. Aku akan menunggu disini" ucap Riyan ketika turun dari mobil.


"Sudah ikut saja!" ucap Maria


Dengan perasaan malas Riyan terpaksa mengikuti ajakan kedua orang itu. Riyan berjalan dibelakang mereka dengan mengenakan jaket dan ransel di punggungnya.


Mereka menuju ke sebuah mesin ATM yang menempel pada dinding diantara rak bahan makanan. Riyan masih terus mengikuti mereka di belakang.


Julian memasukkan kartu dan menekan tombol angka pada mesin ATM itu, seketika mesin ATM bergeser dan memperlihatkan sebuah pintu besi.


Kartu yang dimasukkan oleh Julian keluar dari mesin ATM, diapun mengambil kartu itu dan menempelkannya pada scaner yang ada di tengah pintu besi.


"Itu baru keren" ucap Riyan sumringah


Pintu besi itu pun terangkat keatas dan menunjukkan sebuah ruangan kecil berukuran 3 meter persegi, mereka bertiga memasuki ruangan itu yang merupakan sebuah lift.


Julian menekan tombol di dalam ruangan itu dan pintu besi menutup kembali, bahkan mesin ATM kembali ke posisi semula.


Di dalam lift, mereka bertiga turun ke lantai bawah tanah. Begitu lift terbuka, Riyan dibuat sedikit kagum dengan apa yang dilihatnya.


Beberapa pemuda sedang melakukan latihan beladiri, diruangan lain mereka seperti sedang melakukan pelajaran. Riyan hanya terus mengikuti Julian dan Maria hingga ke sebuah ruangan.


Ruangan itu berisi dua orang lainnya, satu dari mereka adalah bapak Sakti Purwoaji yang menjabat menteri pertahanan indonesia. Lainnya adalah Adrian Patroni dengan posisi sebagai Direktur Agen Intelegen Indonesia.


Julian dan Maria menundukkan sedikit kepala mereka untuk memberi hormat.


"Jadi dia orang yang kau katakan Maria?" tanya salah seorang dari pria yang ada diruangan itu.


"Benar pak" sahut Maria


"Kemarilah!" ucap pak menteri kepada Riyan


Riyan yang masih tidak mengerti dengan dibawanya dia ke tempat itu, hanya diam dan menuruti perkataan orang-orang di sana. Mereka berlima pun duduk dalam satu meja.


"Seperti yang kau lihat, disini kami membentuk orang-orang terbaik untuk menjadi agen rahasia negara. Kau bisa menyebutnya mirip dengan CIA, hanya saja institusi ini hanya diketahui oleh menteri pertahanan dan presiden" jelas pak Adrian


"Tidak lama, kami baru berdiri 7 tahun yang lalu, bahkan dunia tidak mengetahui keberadaan instansi ini. Itulah sebabnya agen yang kami miliki bisa dikatakan tidak banyak, ditambah beberapa harus tewas saat berurusan dengan kelompok Kurassha" balas pak Adrian


Diatas meja itu, pembahasan kembali mengenai kelompok Kurassha. Dari sana Riyan mengetahui kalau instansi ini berusaha menahan kelompok kejahatan dunia bawah dan menghancurkannya, termasuk kelompok Kurassha.


Namun karena jumlah yang masih sedikit, pergerakan mereka menghadapi Kurassha menjadi lambat. Namun disisi lain, satu tahun terakhir mereka berhasil mengurus beberapa pejabat kepolisian dan pemerintah yang bekerja sama melindungi perbuatan kelompok Kurassha.


Saat itulah, menteri pertahanan ingin segera memerintahkan pihak kepolisian untuk melakukan penggempuran terhadap kelompok Kurassha dan yang lainnya.


Namun tiba-tiba mereka bertambah kuat, seluruh kelompok kejahatan bersatu dibawah kelompok Kurassha. Jika dilakukan penyerangan, maka akan terjadi peperangan dan kerusuhan besar di setiap daerah.


Riyan mengerti kenapa pemusnahan kelompok Kurassha harus dilakukan secara rahasia. Kerusuhan akan memberikan gambaran ketidak becusan pemerintah dalam mengurus Negara, itu akan mengakibatkan hilangnya kepercayaan rakyat. Sehingga Kurassha akan mudah untuk melakukan penggulingan jabatan.


"Tunggu, artinya salah satu dari petinggi Kurassha ingin mengambil alih negeri ini dan berperan sebagai pahlawan" ucap Riyan


"Kau benar, sejauh ini memang seperti itu yang kami lihat"


"Jadi apa kalian tau siapa petinggi kelompok itu?" tanya Riyan


"Kami hanya mengetahui beberapa, salah satunya Julia yang kau habisi" jawab Maria


"Dari mana kalian.....ah tentu saja, kalian pasti yang mengambil rekaman cctv di sana" ucap Riyan


"Tepat sekali, begitu mendapat kabar kediaman Julia diserang. Aku dan Maria segera ke sana, namun semuanya sudah tewas dengan halaman rumah seperti habis terjadi perang. Saat melihat cctv di rumah itu, kau seperti melepaskan topeng hitammu ketika membebaskan para gadis disana. Sejak itu kami memutuskan mencarimu" jelas Julian


"Lalu bagaimana sekarang?kalian akan menangkap ku?" tanya Riyan


"Tidak, kami ingin kau bergabung dengan AII(Agen Intelegen Indonesia) " ucap pak Adrian


"Aku juga setuju" sahut pak menteri


"Bagaimana Riyan?" lanjut pak Adrian


"Kenapa saya?" tanya Riyan


"Apa kau bercanda? kau sendirian menghabisi orang-orang Kurassha di tempat Julia dan Xforu, itu bukan hal mudah. Bahkan mustahil dilakukan orang biasa, kau punya kemampuan Riyan" ucap Maria


Riyan termenung sejenak, dia bingung untuk menjawab permintaan kedua pejabat tinggi itu. Satu sisi Riyan tidak ingin terikat dan mengemban tugas, disisi lain dia memang harus mengatasi kelompok Kurassha dan NOZ pada akhirnya.


Riyan berfikir kalau dia memerlukan bantuan jika harus menghadapi kelompok kejahatan besar itu. Paling tidak untuk lepas dari hukuman membunuh para penjahat yang pasti akan dilakukannya.


"Baiklah aku akan bergabung" ucap Riyan membulatkan tekadnya


Akhirnya keputusan dibuat, Riyan kemudian diajak oleh Maria menuju keruangan lain dimana dia harus melakukan input data sebagai anggota AII. Di sana Riyan diberikan kartu Akses dan kode Agen miliknya.


"Mengingat kau menggunakan pedang saat bertarung, apa kau masih ingin keruang senjata?" tanya Maria


"Tidak usah"


"Oh iya, ngomong-ngomong tentang senjata, aku tidak menemukan senjata Julia maupun pengawalnya di tempat itu. Apa kau mengambilnya?" tanya Maria lagi


"Aku menghancurkan senjata itu karena kesal. Apa kalian menginginkannya?"


"Sayang sekali, tapi lain kali jangan dihancurkan, itu bisa digunakan sebagai penelitian. Senjata mereka unik dan sepertinya memiliki teknologi canggih" sahut Maria


"Apa mereka tidak melihat saat aku mengecilkan senjata itu lewat cctv?"


Sebenarnya kamera cctv yang merekam kejadian di halaman rumah itu telah hancur, kamera itu terkena tebasan laser beam Riyan di tengah perkelahian dengan Julia dan Kevin. Itu sebabnya rekaman kematian Julia dan Kevin tidak ikut terekam, termasuk Riyan yang mengambil wechas mereka.


Maria kemudian membawa Riyan memasuki ruang penelitian dimana beberapa ilmuwan sedang membuat peralatan senjata baru. Kemudian mereka pergi keruang pelatihan beladiri anggota baru.


"Apa kau ingin mencoba melatihku?"


"Jangan bercanda, siapa yang bisa melawan mu disini. Aku hanya ingin mengenalkan mu kepada teman-teman kita" ucap Maria


Dalam ruangan latihan dimana hanya ada matras besar di tengah dan tiga samsak tinju di sudut ruangan, Riyan melihat setidaknya 10 orang sedang berlatih dengan pakaian olahraga bebas.


"Markus" Maria memanggil pelatih dari anggota baru


Seorang pria kulit hitam dengan tubuh tegap mengenakan kaos singlet menghampiri mereka. Markus merupakan agen senior seperti Julia dan Maria.


"Siapa dia" tanya Markus


"Ini Riyan"


"Hohoho Riyan yang kita lihat itu" Markus terlihat senang sekali menyambut Riyan


Markus kemudian memperkenalkan Riyan kepada anggota baru yang sedang dia latih. Sesaat setelah perkenalan, Riyan diajak oleh Maria meninggalkan ruangan itu. Sebelum meninggalkan ruangan, suara sumbang dari salah seorang anggota baru terdengar.


"Dia tidak latihan sebagai anggota baru?bukankah seharusnya dia disini" ucap seorang di barisan anggota baru bernama Sony.


Riyan pun menghentikan langkahnya yang hendak keluar ruangan itu.


"Dia berbeda" ucap Markus


"Anda benar, dia berbeda. dia berusia sekitar 18 tahun"


Sony terlihat tidak terima dan merasa perlakuan senior mereka tidak adil. Perasaan yang sama juga dirasakan beberapa anggota baru lainnya. Markus terpaksa sedikit meminta Riyan menunjukkan kemampuannya untuk membuat mereka tahu.


"Riyan, bisa kau..."


"Tentu saja senior"


Belum sempat Markus selesai bicara, Riyan sudah membalasnya dan berjalan mendekati anggota baru yang rata-rata berusia 21-25 tahun.


"Siapa yang ingin latihan denganku?" ucap Riyan


Sony yang mengenakan kaos singlet dan celana pendek, memperlihatkan otot lengan dan kakinya yang sudah jadi. Dia kemudian maju kehadapan Riyan dan berdiri tegap dengan selisih 6 cm lebih tinggi dari Riyan.


Anggota yang lain mundur keluar dari matras. Markus kemudian berdiri di antara mereka berdua dan memberikan aba-aba untuk memulai pertarungan.


"Hiaat" teriak Sony sambil memasang posisi siap menyerang dengan kedua tinjunya.


Riyan hanya berdiam diri dan menggelengkan kepalanya. Tinju kanan Sony kemudian melesat kearah wajah Riyan. Dengan sedikit memiringkan kepalanya, Riyan menghindari tinju itu.


Riyan memajukan sedikit badannya sehingga mepet dengan Sony, meletakkan kaki kanannya dibelakang kaki Sony dan mendorong badan Sony hingga terjatuh karena tersandung kaki Riyan.


Riyan dengan cepat melayangkan tinjunya ke arah wajah Sony yang baru saja jatuh telentang. Namun tinju itu berhenti 10 cm di depan muka Sony, hingga membuat Sony sendiri kaget.


Riyan kemudian membuka kepalan tangan itu dan mengubahnya menjadi sebuah jabatan tangan, tangan Riyan disambut oleh Sony untuk membantunya bangun.


"Terima kasih" ucap Riyan


Seluruh anggota baru bertepuk tangan dan mempercayai kalau Riyan memang berbeda seperti perkataan senior Markus.


Maria kemudian melanjutkan mengajak Riyan keluar dari ruangan itu. Sesaat ketika kedua orang itu menjauh, Sony perlahan mendekati senior Markus.


"Senior, saya tau dia menahan kemampuannya barusan. Seberapa hebat Riyan itu?"


"Dia mampu menghabisi lebih dari 50 orang bersenjata dalam satu malam, seperti itulah dia. Kau bisa membayangkannya?" jelas Markus


Ucapan pelatihnya itu membuat Sony terpaku. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa kekuatan Riyan.


Disaat itu, Maria mengajak Riyan keluar setelah semua informasi mengenai markas mereka itu dia berikan.


"Oh iya, aku penasaran" ucap Maria


"Tentang apa?" tanya Riyan


"Bagaiman kau melacak keberadaan Julia dan adikmu?"


"Aku punya cara sendiri" ucap Riyan


Tiba-tiba suara pemberitahuan dari Alpha terdengar saat ingin memasuki Lift.


[Titik lokasi Afri sudah tidak bergerak Tuan]


Riyan kemudian tersenyum hingga membuat Maria mengira kalau dia bahagia bergabung dengan AII.