
*SMA Fajar Harapan*
Seperti biasa Cindy berada di kelasnya lebih dulu dari pada siswa lainnya. Matanya fokus melihat gambar gerakan silat yang di potretnya dari buku tua milik pamannya. Dalam foto itu tertulis tahap I, kemudian Cindy membuka foto-foto berikutnya.
"beberapa gambarnya berlapis, apa maksudnya dilakukan dengan cepat? gerakan ini mudah tapi kalau disertai persyaratan kecepatan serangan tentu akan sulit, pantas saja kakek bilang harus menunggu saat dasar silat sudah bagus " gumam Cindy
Saat Cindy melihat bagian tahap IV dari buku, dia bingung dengan coretan yang ada di samping gambar gerakan jurus itu. Bagaimana tidak, penjelasan itu tertulis dengan huruf sansakerta kuno. Sedang Cindy sama sekali tidak mengetahui dan belum pernah melihat huruf semacam itu.
"Astaga coretan apa ini? aku sama sekali tidak mengerti" gumam Cindy lagi
Tidak berapa lama Riyan dan beberapa siswa lain masuk kedalam kelas. Cindy segera menutup galeri foto di ponselnya, kemudian berbincang bersama Riyan dan teman-temannya.
Selama pelajaran berlangsung, Cindy tidak fokus karena memikirkan coretan pada gambar jurus hukuman petir naga. Dia mencari informasi dari internet dan menemukan kalau itu merupakan tulisan sansakerta kuno.
"Apa kakek bisa membaca tulisan ini?" Pikir Cindy
Saat istirahat, Riyan mendekati meja Cindy dan mengajaknya makan siang di kantin.
Saat itu Cindy melihat Lisa dan teman-teman yang lain di sana. Cindy pun menarik tangan Riyan untuk bergabung ke meja Lisa, dimana di meja itu juga ada Fikri dan beberapa teman lainnya.
Ketika itu Riyan melihat Benny dan Anton dengan beberapa luka di wajah datang memesan makanan dan duduk pada meja kantin yang ada di pojok jauh dari mereka.
"Ada apa dengan mereka sekarang?" tanya Riyan kepada Fikri yang ada didepan Riyan.
"Kau terlalu sering tidak masuk sekolah sih. Ketika ayah Benny meninggal beberapa Minggu yang lalu, dia sudah tidak punya taring lagi di sekolah. Bahkan sekarang banyak anak yang memusuhinya" jawab Fikri
"Jadi begitu" sahut Riyan
"Mereka temanmu say?" tanya Cindy yang ada di sebelah Riyan
"Mereka satu kelas denganku waktu kelas satu, walau begitu tidak bisa disebut teman juga sih" jawab Riyan
"Itu karena kau di Bully oleh mereka setiap hari" ucap Fikri tiba-tiba
Mendengar ucapan Fikri, Cindy dan Lisa yang ada di sana terkejut. Mereka tidak bisa membayangkan Riyan yang begitu kuat bisa di bully oleh dua orang yang mereka lihat di pojok kantin.
"Serius?kamu dibully mereka?" tanya Lisa
"Dulu, sekarang sudah tidak" jawab Riyan
"Sejak penampilannya berubah dan otaknya menjadi encer" sahut Fikri lagi
"Nih makan yang banyak biar ada kerjaan itu mulut, ga ngoceh terus" ucap Riyan memberikan semua roti yang ada dimeja kepada Fikri. Merekapun tertawa dan melanjutkan makan siangnya.
Usai makan siang, Riyan membayar semua makanan teman-temannya di kasir kantin. Ketika itu sejumlah anak kelas tiga datang dan menghampiri Benny dan Anton. Mereka mengganggu makan kedua orang itu dengan memukul meja Benny dengan keras.
Beberapa murid yang ada di sana langsung terdiam, keseruan dan gelak tawa di kantin seketika dibungkam oleh kedatangan orang-orang itu.
Benny dan Anton berdiri kemudian menjauh dari meja untuk menghindari perkelahian, namun para senior itu sengaja mencari masalah dengan mendorong Anton dari belakang hingga jatuh menimpa meja.
Benny berpaling dan ingin menghantam orang yang mendorong Anton, namun tangannya di tahan oleh Anton yang segera berdiri. Anton menggelengkan kepalanya kepada Benny sebagai isyarat agar Benny tidak menyerang.
"Pergi sana, atau mau kami hajar lagi?" ucap salah satu senior
Kedua orang itu menuju kasir untuk membayar makan mereka. Riyan yang masih di depan kasir, berhadapan dengan mereka berdua. Begitu Riyan ingin meninggalkan kasir, suara Benny terdengar di telinganya.
"Maaf" ucap Benny pelan
Riyan hanya diam sejenak dan meneruskan langkah kakinya kembali ke meja teman-temannya untuk mengajak mereka kembali ke kelas. Cindy menatap kepada Benny dan Anton yang kebetulan mereka juga melihat balik kearah mereka.
"Tumben sekali kau acuh terhadap hal seperti itu, apa karena perlakuan mereka dulu? " ucap Lisa
"Tidak, aku hanya tidak mau ikut campur" jawab Riyan
Mereka semua masuk kelas untuk memulai pelajaran.
"Kriing" Bel tanda pulang berbunyi di setiap ruang kelas. Para siswa berbondong ramai keluar kelas setelah para guru. Hari itu Cindy tidak di jemput oleh ayahnya karena ada acara jamuan dari rekan kerja beliau, maka Riyan pun mengantarkannya pulang ke rumah.
Seperti biasa Riyan diajak untuk masuk kedalam rumah Cindy. Melihat halaman yang biasa dijadikan tempat latihan silat saat itu kosong, sehingga membuat Riyan penasaran.
"Hari ini tidak ada latihan? Biasanya sudah ada beberapa yang pemanasan kan jam segini" ucap Riyan
"Iya, dalam satu minggu ini latihan dihentikan karena paman fokus latihan sendiri untuk turnamen silat" jawab Cindy
"Owh, begitu" sahut Riyan
Saat berada di teras, Cindy pamit sebentar untuk mengganti pakaian. Namun Riyan menahan tangan Cindy, dan memintanya menunggu sebentar.
Riyan mengeluarkan sebuah bingkisan plastik dari dalam tasnya.
"Kemarin lupa ku kasihkan, oleh-oleh buat kamu" ucap Riyan memberikan plastik berwarna merah.
"Makasih sayaang" balas Cindy sambil memeluk Riyan dengan erat.
Cindy pun melanjutkan pergi ke dalam rumahnya untuk berganti pakaian dan meninggalkan Riyan di teras. Tidak lama setelah itu, mobil Ayah Cindy datang dan parkir di samping teras dimana Riyan sedang menunggu Cindy.
Ayah dan ibu Cindy keluar dari dalam mobil sedan hitam mereka. Kedua orang tua Cindy menaiki teras rumah mereka. Ini adalah pertama kalinya Riyan berhadapan langsung dengan ayah Cindy, Riyan segera menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan beliau.
"Om" ucap Riyan
Ayah Cindy yang mengenakan jas lengkap warna hitam, dengan muka datar tanpa senyum menyambut tangan Riyan dan masuk ke dalam rumah.
"Riyan, lama ga main kesini" ucap ibu Cindy yang mengenakan gaun formal warna biru dengan ramah.
"Riyan ada sedikit kesibukan tante" ucap Riyan
"Jadi malu tan" sahut Riyan
"Tante tinggal kedalam dulu yan" ucap tante lagi
"Iya, silahkan tante" balas Riyan
"Duuh baru ditinggal bentar udah digodain aja" canda Cindy keluar dari rumahnya senyam-senyum.
"Sembarangan ih" balas Ibunya mencubit bahu Cindy ketika masuk kemudian meninggalkan mereka berdua di teras.
Saat itu Cindy mengenakan kaos pink bergambar bebek dan rok pendek warna krem. Rambut yang di kuncir dua kanan kiri menambah kecantikan wajahnya.
"Ngomong-ngomong, apa kamu ikut turnamen yang kamu ceritakan?" tanya Riyan
"Tidak, sepertinya itu cuman untuk tingkat ahli" jawab Cindy
Kemudian Cindy memberitahukan kepada Riyan apa yang diketahuinya mengenai turnamen silat sejagat yang akan dilaksanakan seminggu lagi.
Karena keasikan berbincang, tidak terasa hari sudah sore. Riyan kemudian pamit pulang kepada Cindy.
*Kediaman bos Tirta*
Seluruh orang yang dipanggil bos Tirta telah tiba di rumahnya. Baik itu teras, ruang tamu ataupun halaman rumah, kediaman bos Tirta sangat ramai dengan anak buahnya yang datang dari beberapa kota di kal teng.
Mereka mengadakan pertemuan di sebuah ruangan yang digunakan Aldo menculik dan menahan Cindy dulu. Dalam ruangan itu, kursi disusun melingkar sebanyak 10 buah dengan meja besar yang berada tengah. Kursi - kursi itu diisi oleh para pimpinan anak buah bos Tirta.
Bos Tirta mengawali pertemuan itu dengan perkenalan pengawal sekaligus asisten barunya yaitu Mak kepada para pimpinan yang ada di luar palangkaraya. Setelah itu bos Tirta menguraikan beberapa permasalahan yang harus dibatasi
Berita kematian Mike membuat mereka heboh, beberapa dari mereka menanyakan penyebab kematian Mike. Mereka berpikir kalau kebakaran yang terjadi di kediaman Mike adalah ulah seorang musuh.
"setelah kematian David dan Jony waktu lalu, sekarang Mike juga tewas. Apa kita memiliki musuh kuat?" tanya Iryas, seorang pria pendek dengan tinggi 155cm berambut tipis yang menjadi pemimpin kabupaten Lamandau.
"Kupikir juga begitu, karena anggota NOZ yang dikirim kepada kita yaitu Brian juga ada bersama Mike saat itu" jawab bos Tirta
Sebagian dari mereka semakin kaget mendengar Brian juga ikut tewas dalam kebakaran di kediaman Mike, karena tahu Brian adalah seorang monster yang bisa menghadapi pasukan polisi saat pertarungan di gudang. Sebagian lagi hanya heran karena tidak tau siapa Brian.
"Jadi siapa yang bisa mengalahkan orang itu?" tanya pemimpin lainnya bernama Bahat.
Kontras dengan Iryas, Bahat memiliki tubuh tinggi 184cm walau pun tidak berotot. Dengan gaya rambut kribo, dia menjadi bawahan bos Tirta yang memimpin wilayah Kota Waringin Barat.
"Kami masih belum tau, tetapi menurut informasi, mereka berurusan dengan penduduk lokal gunung Sapathawung, tapi sebelum itu Mike juga pernah berurusan dengan orang-orangnyaa Heru yaitu perusahaan Thorn. Dan terakhir ialah gadis yang pernah membuat Aldo masuk penjara" jawab bos Tirta
Karena Bos Tirta sudah mendapatkan peringatan dari atasan agar tidak boleh gagal dalam tugas kali ini, maka dia mengerahkan seluruh orangnya untuk menyelesaikan semua masalah sekaligus. Bos Tirta membagi anak buahnya menjadi beberapa kelompok.
"Kapan kita bergerak bos?" tanya Mak
"Kalian bergeraklah dua hari lagi dalam kelompok 10 orang, 1 kelompok untuk mencari informasi mengenai lawan kita yang membunuh Mike, 3 kelompok lagi untuk membereskan tanah di Sapathawung, 4 kelompok lagi bereskan perusahaan thorn, dan 1 kelompok lain untuk mencari dan menangkap gadis bernama Cindy dan pemuda bernama Riyan. Aku ingin membalaskan semua sekaligus" jelas bos Tirta
*Rumah Cindy*
Malam itu semua keluarga sedang makan malam bersama. Saat itu ayah Cindy menanyakan beberapa hal mengenai Riyan yang ada di teras rumah tadi siang hingga sore.
Kakek dan Ibunya menceritakan mengenai kesopanan Riyan terhadap orang tua. Sedang Cindy menceritakan mengenai kecerdasan Riyan yang dikenal sebagai murid yang dibanggakan guru.
"Apa dia sehebat itu? tapi ayah melihatnya biasa saja" ucap ayah Cindy
"Itu benar ayah, Cindy ga bohong" jawab Cindy
Ayah Cindy kemudian meminta Cindy untuk mengajak Riyan makan malam bersama mereka besok hari. Cindy pun menyetujui permintaan ayahnya untuk mengajak Riyan makan bersama besok malam.
"Kalau begitu mama akan bilang sama bi Imah buat masak lebih banyak besok" ucap Ibu Cindy
Usai makan, Cindy pergi menuju kamarnya untuk mengabari Riyan mengenai undangan makan malam dari ayahnya. Riyan menyetujui untuk datang ke rumah Cindy besok malam. Satu jam berlalu cepat saat mereka saling berbincang lewat video call, Cindy mengakhiri panggilan itu dengan sebuah ciuman jarak jauh kepada Riyan.
Usai menghubungi Riyan, Cindy kemudian keluar kamar untuk mengambil minum. Di ruang tengah dia melihat kakek dan pamannya sedang berbincang di kursi, Cindy pun menghampiri mereka.
"paman, bagaiman belajar jurus hukuman petir naga?" tanya Cindy ikut duduk
"Paman baru bisa sedikit" jawab pamannya
"Paman mu baru sehari belajar, tapi sudah sampai tahap II" balas Kakek
"Memang semuanya ada berapa tahap kek?" tanya Cindy lagi
"Untuk menguasai jurus itu secara sempurna harus melewati 5 tahap, naga petir muda, langkah petir naga, tarian petir naga, nafas petir naga baru kemudian tahap akhir hukuman petir naga" jawab kakek Cindy
Menurut kakek, kendala utama mempelajari jurus itu adalah penyelesaian tahap nafas petir naga. Itu dikarenakan dalam tahap nafas petir terdapat penjelasan yang ditulis dalam bahasa sansakerta kuno sehingga sulit untuk dipahami. Ilmu Itu terputus saat Ayah dari kakek tewas dalam turnamen silat sejagat puluhan tahun yang lalu sebelum sempat mengajarkannya.
Bahkan Kakek Cindy tidak mengerti maksud dan arti tulisan kuno itu, sehingga hanya bisa mengikuti gerakan gambarnya saja. Sedang untuk bisa memasuki tahap akhir, selain tidak bisa dimengerti karena sepenuhnya hanya tulisan, kakek mengatakan kalau menurutnya tahap IV harus sempurna.
"Kakek juga tidak mengerti, bagaimana cara mempelajari jurus itu secara sempurna" pikir Cindy
Setelah puas dengan informasi yang di dapatnya, Cindy pamit kepada kakek dan pamannya. Cindy menuju kamarnya dan membuka kembali foto gerakan jurus hukuman petir naga. Seperti yang dia lihat sebelumnya di sekolah, tahap IV berupa gambar gerakan bersama dengan penjelasan dengan tulisan sansakerta.
Karena tadi pagi belum sempat membuka semua foto, Cindy baru melihat bahwa di tahap kelima tidak ada gambar sama sekali. Semua yang ada di tahap 5 adalah tulisan sansakerta seluruhnya. Cindy mencoba memecahkan tulisan itu dengan cara mencari lewat internet seperti yang dilakukannya tadi pagi di sekolah.
Sayangnya semua yang ada di internet hanya sebatas keterangan dan penjelasan mengenai asal usul tulisan aksara sansakerta. Tidak ada yang berisi arti ataupun terjemahan tulisan jaman kuno itu.
"karena ini jurus pamungkas, kurasa akan tetap berguna walau hanya sampai tingkat III" pikir Cindy
Akhirnya Cindy menyerah dan mulai mencoba mempelajari jurus itu dari tahap I sampai IV di dalam kamarnya. Dia hanya fokus untuk mengikuti gerakan yang ada pada foto handphonenya.
Selama hampir tiga jam Cindy meniru gerakan pada handphonenya, selama itu dia hanya hafal gerakan sampai pada akhir tahap I. Karena lelah, diapun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.