Mysterious Wife

Mysterious Wife
99



"Pizza!"


Seorang pengantar pizza berteriak di luar gerbang, dia mengantarkan pizza yang dipesan oleh sang kepala bodyguard.


Kebetulan dia memesan banyak pizza untuk anak buahnya, kepala bodyguard langsung menerima pizza tersebut. Dan membagikannya ke semua anak buahnya itu.


"Ini Pizza buat kalian." ucap kepala bodyguard yang bernama Radi itu.


Para bodyguard segera membawanya sesuai jatah masing-masing, "Terimakasih boss."


Radi hanya menganggukkan kepala, dia tidak sempat menikmati pizzanya karena ada telepon dari sang istri.


Namun betapa terkejutnya Radi setelah selesai berteleponan dengan dengan istrinya, dia melihat semua bodyguard tergeletak di halaman rumah dengan keadaan tidak berdaya, "Ada apa ini?" Dia semakin terkejut ketika melihat mulut mereka berbusa.


Rupanya ada yang sengaja meracuni mereka.


Radi segera meronggoh ponselnya, dia ingin melaporkan kejadian ini kepada Galvin, namun tiba-tiba ada yang memukul kepalanya dari belakang dengan menggunakan pipa besi.


Bugh...


Membuat kepalanya pening dan berdarah.


Ternyata Samuel berhasil masuk ke dalam gerbang rumah Galvin, karena bodyguard yang bertugas menjaga gerbang sudah mati dengan racun dari pizza itu. Samuel sengaja mencegat pengantar pizza saat menuju rumah Galvin, dia mengajak pengantar pizza itu untuk bekerja sama dengannya, diiming-imingi bayaran yang fantastis.


"Arrghh..." Radi memegang kepalanya yang berdarah, dia segera membalikkan badan untuk melawan Samuel.


Namun dengan pergerakan cepat Samuel menikam perutnya dengan pisau, membuat Radi mengerang kesakitan. Radi berusaha untuk melawan kembali, dia memukul wajah Samuel beberapa kali, tapi karena perutnya terluka, dia kesulitan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.


Samuel menusukan kembali pisau ke perut Radi dengan brutal, sampai tubuh itu ambruk tak berdaya. Apalagi perutnya sudah mengeluarkan banyak darah.


Bugh...


Dengan keras Samuel menendang kepala Radi, sampai hidung dan mulutnya mengeluarkan darah dan lehernya patah, membuat dia tak bernyawa lagi.


Samuel berhasil melarikan diri dari Jerman, dia bisa pulang ke Indonesia dengan menumpangi sebuah kapal pengangkut barang, dan di sediakan tempat untuk bersembunyi disana agar tidak ketahuan oleh polisi.


...****************...


Sementara di dalam rumah, Hana tidak tau apa yang terjadi diluar sana, dia nampak gugup menunggu kepulangan sang suami. Dia terus berjalan mondar mandir, entah mengapa rasanya begitu merindukan Galvin padahal mereka tidak bertemu hanya beberapa jam saja selama Galvin bekerja.


Galvin masih dalam perjalanan menuju rumah, padahal dia sudah tau malam ini Hana akan memberikan kejutan padanya, tapi dia akan berpura-pura tidak tau, untuk menghargai perasaan Hana.


"Aku sedang menunggu kamu pulang, tiba-tiba aku merindukan kamu." Hana mengatakannya dengan sumringah.


"Ya sebentar lagi aku pulang. Aku masih dijalan."


Tok... Tok... Tok...


Hana mendengar suara ketukan pintu, dia tersenyum lebar, "Apa sebenarnya kamu sudah berada di depan rumah?" Hana berjalan ke arah pintu untuk membukanya.


"Belum, aku masih di jalan, memangnya kenapa?" Galvin menghentikan mobilnya sebentar karena lampu merah.


"Ada yang mengetuk pintu, mungkin itu bodyguard." Hana mencoba untuk membuka kunci pintu.


Galvin membuka sebentar laptopnya, dia ingin mengecek keamanan di dalam rumah, betapa terkejutnya dia saat melihat para bodyguard banyak yang tergeletak di halaman rumah. Entah pingsan atau mati dia tidak tahu.


"Hana, jangan di buka. Pintunya jangan di buka!" Galvin mengatakannya dengan panik. Meninggikan volume suaranya.


Di laptopnya, Galvin memperhatikan rekaman CCTV yang ada di depan rumah, Galvin melihat ada seseorang berpakaian serba hitam sedang mengetuk pintu, betapa terkejutnya Galvin saat melihat orang itu dengan sengaja menampakkan wajahnya ke arah kamera, pria itu menyeringai, menunjukkan pisaunya yang berlumuran darah, seolah tau Galvin sedang memperhatikannya.


"Samuel?" Galvin semakin panik begitu tau Samuel ada di depan rumahnya. "Brengsek!"


Hana mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, dia tidak mengerti mengapa Galvin terdengar seperti sedang panik, "Ada apa ini, Galvin? Dimana Samuel?" Hana menjadi ketakutan begitu mendengar namanya.


"De-dengarkan aku, apa semua pintu di kunci?" Galvin mengatakannya sambil menyetir mobil kembali dengan kecepatan tinggi. Nafasnya menjadi tak beraturan, ingin segera sampai ke rumah.


"Iya, sesuai perintah kamu, aku selalu mengunci pintu setiap malam sambil nunggu kamu pulang."


"Ca-cari tempat persembunyian. Aku akan segera datang." Galvin mengatakannya dengan terbata-bata, tubuhnya berkeringat dingin. Dia takut terjadi sesuatu pada Hana.


Tok.... Tok.... Tok...


Suara ketukan pintu terdengar semakin keras, bahkan sepertinya Samuel berusaha mendobrak pintu. Hana sangat ketakutan, tangannya gemetaran, sampai handphone Hana terjatuh.


"Hana, hallo...Hana..." Galvin terus memanggil nama istrinya itu, dia semakin tidak tenang karena ponselnya Hana malah mati.


"Argghhh..." Galvin sangat gelisah sekali, nafasnya tak beraturan, dia berusaha untuk tetap fokus menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, walaupun dia sudah tidak bisa berpikir jernih saat ini.


"Akkhh..." Hana memegang kepalanya yang terasa sangat sakit sekali, dia kehilangan keseimbangan sampai terduduk di lantai, dia merintih menahan rasa sakit yang sungguh luar biasa. Bahkan beberapa kenangan bermunculan di dalam pikirannya, membuat kepala Hana semakin terasa sakit.


Sementara Galvin masih dalam perjalanan, dia terus menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ingin segera sampai ke rumah, perasaannya sungguh tidak tenang. Dia sangat mencemaskan keadaan istrinya itu. Takut Samuel akan menyakitinya.