Mysterious Wife

Mysterious Wife
77



Masih Flashback...


"Hahaha..." Samuel malah kecikikan begitu dipanggil iblis oleh Pingkan. "Aku bukan iblis, lebih tepatnya aku adalah malaikat maut. Aku akan mencabut semua nyawa yang berani melakukan kesalahan padaku. Termasuk kamu."


Cuihhh...


Pingkan menyemburkan ludahnya ke muka Samuel, "Bagiku kamu adalah orang gila. Jika seandainya Mitha masih hidup, dia tidak akan pernah mau dekat orang gila seperti kamu."


Plakk...


Samuel menampar Pingkan kembali. "J@l@ng sialan!" Dia sangat marah karena telah berani menyebut nama Mitha.


"Shhh..." Pingkan hanya bisa meringis menahan rasa sakit diwajahnya. Kemudian tertawa kecil, "Lalu bagaimana dengan kak Hana? Apa kamu sanggup membunuhnya?"


"Tentu saja, karena Hana seharusnya mati di tanganku dari dulu."


"Aku rasa tidak, kamu tidak akan sanggup membunuhnya, karena disini..." Pingkan menunjuk hati Samuel, "Nama Mitha sudah digantikan olehnya."


Samuel tidak terima di provokasi seperti itu oleh Pingkan. Dia semakin marah pada Pingkan. Dia semakin keras menjambak rambut Pingkan.


Pingkan terus berusaha mengajak Samuel bicara, sementara tangannya bersikeras untuk meraih vas bunga yang ada di atas nakas.


Samuel tidak ingin diprovokasi oleh Pingkan, dia mengalihkan pembicaraan, karena salah satu tujuannya datang kesini selain untuk membunuh Pingkan adalah untuk mengambil ponsel Anya. "Dimana kamu menyembunyikan ponsel Anya?"


"Untuk apa kamu menanyakan ponsel itu? Apa kamu takut aku memberikannya ke kak Hana?" Pingkan malah menyeringai, "Itu artinya kamu takut Kak Hana meninggalkan kamu, kamu takut kehilangan dia, iya kan?"


"Diam kamu! Sudah ku bilang aku tidak pernah mencintainya!"


Tangan Pingkan berhasil meraih vas bunga, dia langsung memukulkan vas bunga ke kepala Samuel.


Praang...


"Arrrggghhh!" Samuel meringis kesakitan. Dia memegang kepalanya yang bercucuran darah. "keparat!"


Pingkan langsung berlari ke arah jendela. Namun sayangnya dia kalah cepat, Samuel berhasil menangkap Pingkan, menyeretnya ke dinding.


"Kamu sudah membuat aku marah Pingkan. Rasakan akibatnya!"


Jlebb...


Samuel menusukan pisau ke perut Pingkan.


"Arrrggghhh!" Pingkan meringis kesakitan. Dia memegang perutnya yang berdarah.


Samuel makin bringas jika sudah mencium bau darah, dia menikam perut Pingkan belasan kali tanpa jeda.


Jlebb...


Jlebb...


Jlebb...


"Kamu harus mati, j@l@ng sialan! Aku akan mengirim kamu ke neraka."


Pingkan sudah tak berdaya, tubuhnya ambruk ke lantai. Apalagi badannya sudah berlumuran darah. Dia menatap Samuel yang masih berdiri di depannya, "A-aku pas-pas-pastikan hidup ka-kamu ak-ak-akan ada dalam penye-salan, Samuel." Pingkan mengatakannya dengan nafas tersengal-sengal.


Kemudian akhirnya Pingkan menghembuskan nafas terakhirnya. Memejamkan matanya.


"Brengsek!" Samuel sangat geram saat menyadari Pingkan sudah meninggal.


Sebelum Pingkan datang ke kontrakan, dia sudah menggeledah semua isi kontrakan Pingkan, tidak ada Ponsel Anya disana.


Samuel segera menggeledah pakaian Pingkan, dia hanya menemukan ponsel Pingkan di saku celananya.


Samuel segera berdiri kembali, dia membuka pintu, menyuruh ke tiga anak buahnya untuk mengurus mayat Pingkan. "Tolong urus mayatnya, terserah mau kalian apakan juga. Jangan sampai ketahuan."


"Baik, tuan." kata ketiga anak buah Samuel, hampir bersamaan.


Samuel sama sekali tidak merasa bersalah telah membunuh Pingkan. Dia duduk dengan santai di atas kursi, lalu mengaktifkan ponsel Pingkan.


Drrrtt...Drrrtt...


Ponsel Pingkan bergetar.


Samuel terkejut begitu tau siapa yang mengirim pesan pada Pingkan.


Malam itu setelah Hana bercinta dengan Galvin di bubble hotel Green Forest, dia mencoba membalas pesan dari Pingkan, dia berusaha untuk tidak menekan Pingkan walaupun dia sebenernya ingin marah karena Pingkan telah tega membohonginya dengan bilang kalau Galvin adalah mantan Anya.


Tapi Hana menahan amarahnya, agar Pingkan tidak takut bertemu dengannya. Walaupun banyak pertanyaan dan amarah yang ingin dia luapkan.


[Kita bertemu dimana besok?]


Samuel terperangah saat membaca pesan dari Hana. Untuk apa Hana dan Pingkan ketemuan?


Samuel segera mengecek apa saja isi chat Pingkan pada Hana, tangannya bergetar saat membaca chat itu.


[Kak Hana, bisa kah kita bertemu besok? Nanti aku kirim alamatnya sama kak Hana, aku ingin mengembalikan ponsel Anya ke kak Hana.]


[Anya sama sekali tidak mengenal Galvin, maafkan aku yang berbohong soal itu. Jadi hentikan rencana balas dendam itu. Karena Galvin sama sekali tidak bersalah. Kak Samuel yang membunuh Anya dan orang tua kak Hana.]


[ Aku tidak bisa lama-lama mengaktifkan ponsel aku, kita harus bertemu besok. Dan satu hal yang harus kak Hana tau, Mitha adalah cinta pertama kak Samuel, makanya dia ingin memperalat kak Hana untuk membalaskan dendamnya pada Galvin. Dia hanya ingin mempermainkan kalian.]


Itu artinya Hana sudah tau tentang semua kejahatannya, makanya sampai sekarang Hana mengabaikan pesan darinya. Samuel sangat frustasi, dia sangat marah sekali malam itu.


"Arrrggghhh!"


"Brengsek!"


Praang...


Praang...


Samuel membabi buta, melempar semua barang yang bisa dia raih sampai berserakan di lantai.


"Gak, kamu gak boleh meninggalkan aku, Hana. Kamu milikku. Hidup matimu aku yang menentukan."


"Tidak boleh ada yang memiliki kamu selain aku. Lebih baik kamu mati agar tidak ada yang memiliki kamu, Hana."


Samuel menarik nafas dalam-dalam, dia mencoba untuk menenangkan dirinya. Lalu membalas pesan dari Hana.


[Di gedung tua, bekas rumah sakit Antariksa. besok jam 4 sore. Tapi hanya kita berdua, jangan bawa siapa-siapa kak. Aku tidak percaya siapapun saat ini. Hanya kak Hana yang aku percaya. Aku gak akan menemui kak Hana kalau ketahuan bawa orang lain. Karena ini penting sekali, demi nyawa aku.]


Flashback off...