Mysterious Wife

Mysterious Wife
61



"Camera... Rolling... Action...!"


Sang Sutradara telah memberikan intruksi.


Semua kamera telah tertuju kepada satu sosok pria yang sedang mengayuh sepeda di tempat khusus bersepeda yang ada di Green Forest. Siapa lagi kalau bukan Morgan.



Morgan telah memakai pakaian khusus pesepeda dan memakai helm juga.


Sementara Galvin sangat serius memperhatikan bagaimana proses syuting itu di mulai, sampai dia beberapa kali meminta syuting itu di ulang dari awal kembali kepada sang sutradara, karena baginya iklan itu harus terlihat sangat menarik, semenarik mungkin, agar bisa menggaet banyak konsumen.


Green Forest adalah sebuah hutan pariwisata yang sangat terkenal, bahkan banyak wisatawan asing liburan kesana. Hutan yang di kemas khusus menjadi tempat yang sangat indah dan sering dijadikan tempat untuk syuting juga.


Bahkan ada salah satu keunikan disana yaitu memiliki buble hotel, sebuah kamar hotel yang terbuat dari kaca dan berbentuk bulat.



Morgan mencoba melakukan gaya bunny hop, dia melompat sambil memutar setang sepeda ke depan, dengan tidak membiarkan kedua kakinya lepas dari pedal.


Morgan mempertahankan kedua kaki di pedal dan melompat, bagian belakang sepeda ikut terangkat. Dia melompati bebatuan yang sudah disiapkan. Sehingga aksi bunny hopnya terlihat sangat indah.


Lalu Morgan mengerem sepedanya, dia memfokuskan pandangannya tepat di depan kamera yang ada didepannya. Lalu tersenyum dan mengedipkan mata, "You can't be sad while riding a Speed Bike."


Speed Bike adalah nama perusahaan yang bekerja sama dengan Galvin.


"Oke Cut!" Sutradara Anton menyudahi proses syuting hari ini.


Manager Morgan segera memayungi Morgan agar tidak kepanasan, dia mengelap keringat yang bercucuran di wajah Morgan.


"Bagaimana?" tanya Sutradara Anton kepada Galvin.


Galvin memutar video, dia ingin melihat lebih jelas bagaimana dari awal sampai akhir Morgan berakting dengan sepeda gunung Speed Bike itu. Kemudian menganggukan kepala, dia rasa Morgan telah berakting dengan sangat baik. "Sudah cukup!"


Akhirnya semua bernafas lega, karena syuting seperti itu memakan waktu yang lumayan cukup lama.


Sementara Hana tidak fokus memperhatikan proses syutingnya, dia merasa tidak enak hati karena dari pagi Galvin mengacuhkan dirinya. Padahal semalam pria itu telah menghabiskan malam panas dengannya.


Lalu pemilik Green Forest datang menyapa Galvin dengan ramah, "Apa anda menyukai tempat ini Tuan Galvin?" sapa Nona Eliana.


"Tentu saja, Green Forest memang sangat indah, Nona El." Galvin memuji keindahan Green Forest.


Suami Nona Eliana, yaitu Erland, dia memperlihatkan sebuah peta pada mereka yang ada disana, "Kebetulan kami baru membuat program baru, ini namanya The Amazing Race, disini kalian harus bisa menjelajah sampai ke puncak, selama di perjalanan harus bisa mengumpulkan 10 bendera, jika ada yang bisa mengumpulkan semua bendera itu atau terbanyak, kami akan memberikan hadiah. Satu regu beranggotakan dua orang. Apalagi kalau kalian berpasangan. Kalian bisa nginap gratis selama satu minggu di buble hotel dan paket liburan gratis juga disini."


"Wah!" Semua kru nampak tertarik mendengarnya, apalagi saat ini baru jam 2 siang, mereka memiliki cukup waktu untuk menikmati permainan itu.


"Nona El dan Tuan Erland, kalian sungguh pasangan suami istri yang sangat serasi!" Sutradara Anton memuji pemilik Green Forest itu.


Kedua pasangan yang di dengar kabar telah memiliki satu orang anak itu tersipu malu. Galvin merasa iri melihatnya. Apalagi saat melihat mereka saling merangkul. Sepasang suami-istri yang terlihat sangat harmonis dan saling mencintai. Sementara dirinya dengan Hana, mereka terlibat pernikahan yang mengerikan.


Galvin nampak tidak tertarik untuk mengikuti permainan itu, "Aku gak..."


Galvin tidak meneruskan perkataannya begitu melihat Morgan yang datang menghampiri Hana. Sepertinya Morgan ingin mengajak Hana satu regu dengannya.


Galvin langsung menarik tangan Hana yang berdiri di sampingnya itu. "Baiklah kami ikutan, kami satu regu."


Morgan menghentikan langkahnya, dia menatap kesal pada Galvin. Pria itu selalu menghalanginya untuk pedekate dengan Hana. Morgan terpaksa satu regu dengan managernya, Boy.


...****************...


Butuh waktu dua jam sampai puncak. Galvin dan Hana terus berjalan menyusuri hutan, tak ada pembicaraan sedikit pun diantara mereka.


Mereka melewati pepohonan yang menjulang tinggi. Mereka terus melangkah mengikuti anak panah sebagai petunjuk arah.


Galvin sangat menyesal, mengapa dia harus ikut permainan konyol seperti ini, rasanya sungguh buang-buang tenaga.


Galvin melihat Hana yang sedang meloncat-loncat untuk meraih sebuah bendera kecil berwarna biru di atas dahan pohon.


Galvin menghela nafas, sepertinya Hana sangat antusias sekali ingin memenangkan lomba itu. Dia berjalan mendekati Hana sampai badannya menempel dengan punggung Hana, membuat Hana mendadak diam, hatinya berdebar-debar.


Galvin sedikit menjijikan kakinya, dia dengan begitu mudah meraih bendera itu. Dan memberikannya pada Hana. Hana terlihat senang sekali, seakan mendapatkan jackpot, padahal baru dapat satu bendera.


Galvin memilih berjalan kembali meninggalkan Hana, sementara Hana berjalan mengikutinya dari belakang.


"Sebenarnya kamu ini kenapa?" tanya Hana, dia memberanikan diri untuk bertanya. Bagaimana bisa mendapatkan hati Galvin kalau Galvin malah mendiamkannya seperti itu. Walaupun Galvin telah menyakiti hatinya.


Namun Galvin tak menjawab pertanyaan dari Hana, dia terus berjalan, bersikap acuh pada Hana.


"Oh Galvin, disana ada bendera lagi!" seru Hana, dia menunjuk sebuah bendera kecil berwarna biru di atas pohon.


Hana mengerutkan keningnya. "Terus kenapa kamu ikutan dan mengajak aku menjadi satu regu dengan kamu kalau kamu tidak tertarik?"


"Oke, aku tidak akan ikutan. Kamu sendirian aja."


"Kamu ini kenapa sih?" Hana tidak mengerti dengan sikap Galvin yang jutek sekali padanya.


"Memangnya aku kenapa?" Galvin menyeringai, "Jangan kamu pikir hanya karena telah beberapa kali kamu menjadi partner ranjang aku, aku luluh padamu. Sama sekali tidak. Kamu sama sekali tidak ada harganya buat aku. Jadi jangan pernah kepedean bisa mendapatkan hati aku."


Mata Hana berkaca-kaca mendengarnya, patner ranjang? Serendah itu kan dia di mata Galvin?


Dari awal Hana begitu tahan dengan sikap Galvin, namun kali ini perkataan Galvin begitu membuat hatinya sakit.


"Oke, baiklah. Biar aku yang main sendirian." Hana segera memutuskan untuk pergi meninggalkan Galvin. Dia memilih untuk melanjutkan permainan The Amazing Race ini, walaupun sebenarnya sudah tidak bersemangat.


Galvin hanya mematung, membiarkan Hana pergi. Dia menghirup nafas dalam-dalam, lalu melayangkan tinjunya ke udara. "Arrrggghhh..."


Galvin rasa ucapan dan sikapnya sangat keterlaluan pada Hana.


Keterlaluan? Tapi bahkan Hana lebih sadis padanya. Sengaja datang ke dalam kehidupannya hanya untuk menyakitinya dan menghancurkan hidupnya.


Mungkin karena terlalu fokus dengan pekerjaan, membuat Galvin baru mengingat dengan pesan dari Detektif Al mengenai informasi tentang Hana, istri sirinya.


Galvin segera meronggoh saku celana, dia memabawa ponselnya, dan mengaktifkannya.


Setelah sekian lama melauding karena faktor sinyal akhirnya ponselnya bergetar juga.


Drrttt.... Drrttt...


Galvin langsung membaca pesan dari Detektif Al.


...Hana Patricia Santiago...


...Ayah : Edward Santiago...


...Ibu : Lena Patricia...


...Adik : Anya Patricia Santiago...


...Lahir : 14 Juli 1998...


...Sekolah : SMA Permata...


...Alamat : Jalan Dirgantara No 7...


...Kedua orang tuanya mati karena kebakaran rumah 6 tahun yang lalu. Dan adiknya meninggal karena bunuh diri....


Betapa terkejutnya Galvin saat melihat informasi data tentang Hana itu, mengapa semua mirip sekali dengan Hana yang cinta pertamanya dulu. Usia Hana, sekolah Hana, tempat tinggal Hana, bahkan di kuburan Hana juga bernama Hana Santiago.


Drrttt... Drrttt...


Ponsel Galvin bergetar kembali, dia melihat ada beberapa foto yang Detektif Al kirim padanya. Ternyata itu adalah beberapa foto saat Hana masih kecil, remaja dan dewasa.


Galvin terperangah saat melihat foto Hana yang masih remaja, saat Hana masih terlihat culun, memakai kaca mata dan rambutnya di kepang.


Mata Galvin berkaca-kaca melihatnya, rasanya dadanya terasa begitu sesak seakan telah kehilangan nafas. Sampai tak terasa air matanya mengalir.


Kemana aja aku selama ini, rupanya dia ada disisiku, menjadi istriku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Promo Novel...


Nah ini novel tentang si pemilik Green Forest. Genre action, komedi, romantis dan mafia. Pastinya area dua satu pluss... tokoh ceweknya badas dan cowoknya seorang petarung.


...Terjerat Hasrat Ceo Cantik...


"Anak laki-laki itu, apakah dia masih hidup? Jika iya, apakah dia hidup dengan baik? Akan aku jadikan dia suamiku jika dia masih hidup."


Eliana Alaska, gadis angkuh berusia 22 tahun itu diharuskan menikah di usianya yang menginjak usia 22 tahun jika ingin seluruh harta kekayaan peninggalan kedua orang tuanya jatuh ke tangannya.


Sehingga dia terlibat pernikahan kontak dengan seorang pria tampan bernama Erland Putra, Erland terpaksa menerima tawaran tersebut demi membuat mantannya cemburu karena mantannya Erland adalah karyawan di perusahaan milik Eliana. Dia masih berharap mantannya bisa kembali kepadanya.


Padahal Eliana ingin menjadi Erland suaminya sebagai rasa balas budi karena sudah menolongnya saat masih kecil dia diculik oleh penjahat.


Namun rupanya Erland dan Eliana memiliki masa lalu yang kelam, yang mungkin saja Eliana akan membenci Erland jika mengetahui masa lalu kedua orang tua mereka.