Mysterious Wife

Mysterious Wife
78



Lanjutan dari bab 75....


Di dalam gedung tua sana, Hana naik ke atas menaiki anak tangga, berjalan dengan pelan dan hati-hati, sedikit tertatih-tatih, kakinya masih terasa sakit jadi tidak bisa berjalan dengan cepat.


Hana melihat sebuah balok kayu, dia segera mengambil balok kayu itu, berjalan dengan memandangi tempat yang sudah sangat kuno itu.


"Pingk..."


Hana terkejut, matanya terbelalak, begitu melihat apa yang ada dihadapannya.


Hana melihat ada banyak lilin yang menyala di sana dan banyak bunga yang bertaburan menghiasi gedung tua itu.


Hana lebih terkejut saat melihat ada Samuel berdiri disana, dia tersenyum pada Hana tanpa merasa berdosa.


"Sayang!" Bahkan Samuel menyapanya dengan begitu lembut.


"S-Sam?" Hana terbelalak melihatnya. Dia mencoba menyembunyikan ketakutan kepada pria itu, dia masih memegang balok kayu di tangannya.


"Suprise!" Seru Samuel, dia tersenyum memandangi Hana. "Aku sengaja menyuruh kamu datang kesini karena aku merindukan kamu. Makanya aku membuat kejutan buat kamu, sayang."


Hana menggelengkan kepala, dia tidak mengerti mengapa Samuel yang datang kesana, lalu Pingkan dimana? Apa Samuel telah melukai Pingkan atau membunuhnya? Dia memperlihatkan balok kayu pada Samuel untuk mengancamnya. "Dimana Pingkan? Mengapa kamu yang datang kesini, bukan dia?"


"Kamu membunuhnya Sam? Sudah berapa nyawa yang kamu bunuh? Orang tua aku, adik aku, lalu sekarang siapa lagi yang ingin kamu bunuh? Apa itu aku?"


Samuel menundukkan kepala sebentar, dia kemudian menatap Hana, dia menunjukkan kepalanya yang terluka oleh Pingkan semalam. "Lihat lah kepala aku terluka! Mengapa kamu sama sekali tidak peduli dengan luka aku? Biasanya kamu selalu sedih melihat aku terluka, kamu selalu mengobati aku. Kamu selalu perhatian padaku. Mana Hana yang dulu?" Samuel malah mengalihkan pembicaraan.


"Aku sangat menyesal mengapa aku pernah mencintai pria gila seperti kamu. Tega sekali kamu membunuh keluarga aku dan membohongi aku, Sam." Hana mengatakannya dengan nada tinggi, dia sangat murka pada pria dihadapannya itu.


"Mereka pantas mendapatkannya, kecuali kamu. Aku mengampuni kamu, aku akan membiarkan kamu hidup, asalkan kamu mau hidup bersama aku." Samuel mengatakannya dengan nada serius, ucapan Pingkan menyadarkan Samuel bahwa dia sebenarnya memang mencintai Hana.


Hana tak habis pikir dengan pemikiran Samuel, membuat dia muak, "Kamu benar-benar gila!"


"Ya aku memang gila. Aku bisa gila jika kehilangan kamu, Hana. Karena itu kita hentikan permainan ini. Kamu tidak perlu menemui Galvin lagi. Lebih baik kita pergi kemana saja ke tempat yang hanya ada kita berdua. Aku akan melupakan semua dendam aku demi kamu."


Kemudian Samuel meronggoh saku jasnya, dia membawa sebuah kotak perhiasan, menunjukan sebuah cincin pada Hana, "Ayo kita menikah, Hana. Kita lupakan tentang masa lalu kita. Bukan kah ini yang kamu harapkan dari dulu? Menunggu lamaranku?"


Hana mundur tiga langkah, dia masih menodongkan balok kayu pada Samuel agar Samuel tidak berani mendekatinya. "Sampai matipun aku gak akan sudi menikah dengan kamu, psikopat gila!"


Samuel padahal sudah berusaha untuk bersikap tenang tapi Hana malah memancing emosinya, dia melempar kotak perhiasan itu dengan penuh amarah, "Arrrggghhh....Brengsek!"


"Rupanya pria bajingan itu sudah membuat kamu berubah. Aku akan membunuhnya jika dia berani datang kesini!"