
Galvin seperti seorang detektif, dia memakai topi hitam dan wajahnya ditutupi masker, agar Hana tidak mengenalinya, saat itu dia melihat Hana yang sedang berdiri di halte bus bersama beberapa orang, menunggu bus melintas.
Sementara Galvin berdiri tak jauh dari sana memperhatikan Hana, dia melihat Hana yang sedang berteleponan sambil tersenyum-senyum.
Sayangnya Galvin tidak bisa menguping apa yang dibicarakan Hana dengan orang yang berteleponan dengannya, karena jarak mereka tidak begitu dekat.
Hah? Segitu mudahnya dia berpaling dariku. hati Galvin merasa kesal melihat Hana yang sedang tersenyum-senyum sambil berteleponan.
Galvin meyakini dirinya bukanlah cemburu, tepatnya dia tidak terima karena bagaimana pun juga Hana masih berstatus sebagai istrinya, bagaimana bisa dia berpacaran dengan pria lain?
Begitu ada sebuah bus berhenti di depan halte, mereka semua segera naik ke dalam, termasuk Hana, Hana terlihat santai sekali seakan tidak tau ada yang mengikutinya.
Galvin nampak ragu, apa dia harus masuk ke dalam bus, padahal dia tidak pernah sekalipun menumpangi kendaraan umum, apalagi bus, namun karena rasa penasaran yang besar terhadap Hana, dia terpaksa masuk ke dalam bus itu, begitu masuk ke dalam, dia merasa aneh dengan suasana disana. Membuatnya sangat mual, apalagi dia tidak kebagian tempat duduk, dia harus berdiri di tengah-tengah bersama penumpang lainnya. Dia di bagian belakang, sementara Hana di bagian depan.
Kebetulan Hana berhasil mendapatkan kursi, dia duduk bersama seorang ibu-ibu di bus itu, sambil sibuk memainkan ponselnya.
"Ahhh... sial!" Galvin mengeluh dengan nada pelan.
Galvin merasa menyesal karena nekad naik bus, membuat dia tersiksa dengan keadaan ini, sama sekali tak terpikirkan dia bisa berdiri di dalam bus berdesakan dengan orang-orang, sampai bau keringat mereka tercium olehnya.
"Mengapa dia harus naik bus segala." keluh Galvin lagi, dia malah menyalahkan Hana, karena gara-gara mengikutinya dia malah ikut naik bus ini.
Lebih sial lagi ada seorang pria tidak sengaja menabrak dirinya di belakang, "Aduhhh... maaf mas." katanya pelan.
Galvin hanya menoleh ke arahnya dengan tatapan kesal, tanpa berkata apa-apa.
Galvin tidak sadar ternyata orang itu berhasil mencuri dompetnya, setelah merasa berhasil mendapatkan apa yang dia incar, dia memilih untuk segera turun dari bus itu.
"Berhenti di depan Mini Market Demon bang!" teriaknya pada supir.
Bus pun melaju kembali.
Hana tak sengaja melihat ada seorang nenek-nenek berdiri tak jauh di belakangnya. Dia merasa kasihan sama nenek itu.
Hana segera berdiri, dia mempersilahkan nenek itu untuk duduk di kursi yang dari tadi dia duduki. "Nenek duduk di kursi saja, biar aku yang berdiri."
Galvin tertegun melihatnya, apa mungkin dia salah, Hana bukan sekedar jelamaan hulk, tapi dia juga superhero, dia rela membiarkan nenek itu duduk di kursi yang dia tempati, sementara Hana malah ikut berdiri di tengah bus, seperti dirinya. Padahal Galvin saja dari tadi terus mengumpat karena tidak nyaman terus berdiri seperti ini.
"Terimakasih banyak neng." Nenek itu sangat berterimakasih sekali pada Hana, dia langsung duduk di kursi itu. Kelihatannya nenek itu pegal sekali kakinya.
"Iya sama-sama nek." Sementara Hana berdiri di tengah bus, berjajaran dengan orang-orang yang dari tadi berdiri disana. Hanya terhalangi empat orang dengan Galvin.
Galvin terus memperhatikan Hana dari belakang, dia baru sadar di belakang Hana itu seorang pria. Dia menghela nafas, memperhatikan pria itu, siapa tau dia berbuat macam-macam pada Hana.
Mata Galvin terbelalak saat melihat pria di belakang Hana perlahan tangannya mulai nakal dia ingin memotret penampakan di bawah rok yang Hana pakai. Hana tidak menyadari itu.
"Kurang ajar!" Galvin langsung berjalan ke depan dengan cepat, berdesakan dengan orang-orang yang ada di depannya.
Galvin menahan tangan pria itu dengan sangat geram, dan melilitkan tangannya dengan kuat. Sampai handphonenya terjatuh.
"A-a-ahhh! Ampun bang!" Pria itu nampak kesakitan karena Galvin membuat tangannya keseleo.
"Ini hukuman buat kamu karena sudah kurang ajar sama istriku."
Hana langsung menoleh ke belakang begitu mendengar kegaduhan, dia sangat kenal sekali suara pria yang memakai topi dan wajahnya di tutupi masker itu. "Galvin? Kenapa kamu ada disini?"
Hana tidak mengerti mengapa Galvin tiba-tiba berada di dalam bus. Dia pikir Galvin sedang bersenang-senang dengan kekasihnya di rumah.