
Samuel padahal sudah berusaha untuk bersikap tenang tapi Hana malah memancing emosinya, dia melempar kotak perhiasan itu dengan penuh amarah, "Arrrggghhh....Brengsek!"
"Rupanya pria bajingan itu sudah membuat kamu berubah. Aku akan membunuhnya jika dia berani datang kesini!"
Hana menatap tajam pada Samuel, "Tidak akan ku biarkan, aku yang akan membunuh kamu lebih dulu. Aku akan membalas atas apa yang kamu lakukan pada keluarga aku, bajingan!"
Samuel merasa tertantang, "Oke, ayo lakukan. Cepat bunuh aku!" Dia menghampiri Hana.
Hana dengan sekuat tenaga mengayunkan balok kayu, memukulkannya ke bahu Samuel.
Buukkk...
Tapi Samuel malah terus berjalan ke arahnya dengan tenang. Dia merebut balok kayu itu dan melemparkannya ke lantai.
Hana melayangkan tinju ke wajah Samuel beberapa kali, membuat Samuel meringis, dia memegang sudut bibirnya yang berdarah sambil menatap tajam pada Hana. "Shhh... arrrggghhh!"
Hana mengayunkan kakinya mengangkat ke atas menendang perut Samuel.
Bugh...
"Arrrggghhh!" Samuel memegang perutnya yang terasa linu akibat tendangan keras dari Hana.
Kemudian Samuel tertawa kecil menatap tajam pada wanita yang dia cintai itu, dia mengeluarkan pisau lipat dari saku jasnya, ingin menikam Hana, namun saat melihat wajah Hana, dia tidak sanggup melakukannya, sampai pisau itu terjatuh.
Pingkan benar, Samuel tidak sanggup membunuh Hana.
Samuel melihat ada tiga anak buahnya yang berjalan dengan pelan di belakang Hana, dia memberikan kode pada ketiga anak buahnya itu dengan lirikan matanya.
Hana mendengar ada suara langkah yang berjalan di belakangnya, dia segera membalikkan badan, namun sayangnya salah satu dari anak buah Samuel berhasil membekap mulut Hana dengan sapu tangan yang sudah dicampuri bius.
"Emmhhh...Emmhh...Emmhh!"
Satu wanita lawan empat pria, tentu saja Hana tidak mungkin bisa melawan mereka.
Kepalanya mulai terasa pening dan semua yang ada di sekitarnya terlihat samar-samar, badannya terasa lemah, yang dia ingat kini hanya satu orang yaitu, suaminya. Membuat Hana meneteskan air matanya.
Galvin maafkan aku, bahkan aku belum diberikan kesempatan untuk bilang bahwa aku sangat mencintai kamu. Aku harap kita bertemu kembali dengan cara yang benar.
Bruukk...
Tubuh Hana ambruk pingsan ke lantai.
...****************...
Galvin terus mencari keberadaan Hana, sambil sesekali mengecek ponselnya, siapa tau dapat kabar dari Detektif Al karena dia sudah menyuruh Detektif Al untuk melacak keberadaan Hana, lewat ponselnya.
"Hana, kamu dimana?"
"Arrrggghhh, dimana kamu Hana?"
Galvin sangat frustasi, tiada hentinya dia mencari keberadaan Hana.
Drrrtt....Drrrtt...
Galvin segera menghentikan mobilnya, dia langsung mengangkat telepon dari Detektif Al. "Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan keberadaan Hana?"
"Sudah, tuan. Dia ada di gedung tua bekas rumah sakit Antariksa."
"Baiklah."
Galvin menutup panggilan telepon, dia segera menjalankan mobilnya lalu memasang headset ke telinganya untuk menelpon ketua bodyguard agar menyusulnya ke gedung tua itu.
"Ada apa, tuan?" Tanya ketua bodyguard.
"Hana sekarang ada gedung tua bekas rumah sakit Antariksa, sekarang juga kerahkan anak buahmu yang banyak untuk pergi kesana!" suruh Galvin dengan nada tegas.
"Baik, tuan."
Galvin langsung menutup panggilan telepon, dia harus segera secepatnya sampai disana. Hatinya sungguh tidak tenang.
Begitu sampai di depan gedung tua, dia bertemu dengan banyak bodyguard yang memang baru sampai juga. Mereka bersamaan masuk ke dalam gedung tua itu, dan berpencar untuk mencari Hana.
Sementara Galvin dan empat bodyguard naik ke atas, mereka berjalan dengan cepat menaiki anak tangga.
Begitu sampai di lantai atas, betapa terkejutnya Galvin saat melihat ada ponsel Hana tergeletak disana, dia membawa ponsel itu, dan ada sepasang high heels yang di pakai oleh Hana.
"Hana?" Galvin merasakan kecemasan melanda dirinya, takut terjadi sesuatu pada Hana.
Lalu mereka berjalan masuk ke sebuah ruang yang ada disana karena mencium bau hangit.
Galvin terlonjak saat melihat ada mayat wanita tak berdaya terbakar di dalam gedung sana, wajahnya sudah tak terlihat lagi karena seluruh tubuhnya hampir menjadi abu.
Namun Galvin melihat ada sebuah robekan kain tak jauh dari wanita yang terbakar itu, sama persis dengan pakaian yang di pakai oleh Hana, karena hari ini Hana memakai baju berwarna putih.
Galvin sangat kalap, dia menangis memanggil nama Hana, sambil berlari ke arah wanita yang telah hampir menjadi abu itu. "Oh tidak! Hana!"
"Hanaaa!"
Keempat bodyguard segera menahan Galvin. Karena rupanya api berkobar semakin membesar. "Kita harus segera pergi dari sini, Tuan!"
"Tidak, lepaskan aku!" Galvin mencoba untuk berontak, dia menangis sejadi-jadinya.
"Hanaaa!"
"Hanaaa!"
"Hanaaa... arrrggghhh... Hanaaa!"
Sayangnya dia tidak bisa melawan, karena keempat bodyguard tidak akan membiarkan bosnya mati. Mereka terus menyeret Galvin membawanya untuk pergi dari sana. Karena kondisi api semakin membesar. Sementara Galvin terus histeris, tiada hentinya dia memanggil nama wanita yang dia cintai itu.
...****************...
...Tolong subscribe channel youtube kembaran saya, cari saja Dire Febrian. Sudah 1 tahun terabaikan hehe.. 🙏...