
Satu bulan kemudian...
Hana masih menjalankan terapi dan juga pengobatan setiap hari agar semua ingatannya bisa pulih. Dia menjadi wanita yang sangat beruntung karena keluarga Galvin begitu menyayanginya.
Waktu pertama kali Galvin membawa Hana dari Jerman, pada awalnya keluarga Galvin sangat terkejut karena mengira Hana sudah meninggal. Ternyata faktanya dia masih hidup, bahkan Hana sudah dinyatakan positif hamil,membuat keluarga Galvin sangat bersyukur sekali, tentu saja karena mereka sangat menyayangi Hana, ditambah dengan kondisi Hana yang tengah hamil muda.
Selama satu bulan ini mereka belum juga mendengar kabar soal Samuel, karena itu Galvin tidak pernah membiarkan Hana sendirian kemana-mana, selalu ada empat bodyguard menjaganya.
Hari ini kebetulan Hana sedang makan bersama dengan Ghisell dan Zhoya di salah satu restoran ternama. Pastinya dijaga oleh keempat bodyguardnya.
Zhoya belum pulang juga ke Jerman, keluarganya tidak mengizinkan Zhoya untuk kembali kesana, malah kedua orang tuanya menyuruh Zhoya untuk melanjutkan kuliah di Amerika, tinggal bersama orangtuanya kembali, namun Zhoya masih ingin menikmati suasana di Indonesia, entah sampai kapan itu, dia tidak tau alasannya, yang pasti ada seseorang yang ingin selalu dia lihat. Sayangnya selama satu bulan ini Zhoya hanya pernah bertemu beberapa kali saja dengan Morgan, pria itu sangat sibuk sekali.
"Bagaimana sekarang ingatan kamu? Apa kamu sudah mengingat pertemuan pertama dengan Galvin?" tanya Ghisell.
"Belum, aku baru mengingat sedikit-sedikit, secara acak." Jawab Hana, sebenarnya dia baru mengingat saat dia menjebak Galvin dengan cara berpura-pura tidur dengannya, dan juga saat Samuel menyuruh Hana untuk meracuni Galvin, rupanya setelah Hana menikah dengan Galvin ternyata dia masih berhubungan dengan Samuel.
Mengapa aku ingin menjebak Galvin dan mengapa juga aku ingin meracuninya? Apakah dulu aku ini wanita jahat?
Galvin memang belum menceritakan bagaimana niat licik Hana datang ke kehidupannya, Galvin tidak ingin Hana banyak pikiran, apalagi Hana sedang hamil muda, dia ingin Hana mengingat semuanya dengan sendirinya. Dia hanya mengingatkan Hana masa-masa indah bersamanya, salah satunya saat kenangan di Green Forest, waktu Hana tersesat kemudian Galvin menolongnya dan mereka tidur ditengah hutan sambil berpelukan.
"Jahat banget ya pria bernama Samuel itu, bisa terobsesi segitunya sama kamu." Ghisell sangat perihatin dengan hal yang menimpa istri dari saudara kembarnya itu. Dia sangat tau sekali bagaimana terpuruknya Galvin waktu mengira Hana sudah meninggal.
"Ya, aku juga belum mengingat sepenuhnya tentang dia. Yang pasti aku tau banget dia itu sangat jahat dan psikopat." lirih Hana. Padahal selama dua bulan dia hidup bersama Samuel, Samuel terlihat baik sekali, makanya mungkin dia bisa berpacaran dengan Samuel dulu karena pria itu berpura-pura menjadi lelaki yang baik padanya.
Zhoya merinding memikirkannya, dulu ternyata dia bertetanggaan dengan psikopat, "Ya ampun kak, aku ngeri banget kalau aku mengingatnya, ternyata aku bertetanggaan dengan seorang psikopat. Apalagi kak Hana, pasti lebih ngeri dari aku, serumah dengan psikopat itu."
"Aku dengar Galvin dan Morgan menyamar jadi cewek ya disana?" Ghisell mengatakannya sambil menahan tawa.
Hana dan Zhoya tertawa jika mengingat itu.
"Mereka cantik banget lho. Apalagi kak Morgan." Zhoya jadi teringat dengan Morgan , sayang gak ada alasan buat bertemu lagi dengan dia.
"Ngomong-ngomong soal Morgan, aku jadi ingat minggu depan dia akan ke kantor Adva." ucap Ghisell, dia memang CEO di kantor Adva Indonesia sekarang.
Mata Zhoya berbinar-binar mendengarnya, "Mau ngapain kak?"
"Ada yang bisa aku bantu? Siapa tau butuh bantuan aku, aku sudah mempelajari banyak hal tentang Adva dari mommy." Tiba-tiba Zhoya menawarkan bantuan pada Ghisell.
"Sampai kapan kamu disini terus? Harusnya kamu kuliah lho." Ghisell malah mengomeli saudara sepupunya itu.
"Malas kak, aku aja sering bolos waktu di Jerman." Zhoya keceplosan.
"Wah aku aduin sama tante Kia ya." Ghisell menggelengkan kepalanya begitu tau Zhoya sering bolos.
"Ih jangan lah. Aku maunya langsung kerja aja, terus nikah."
"Astaga, masih kecil sudah mikirin nikah." Ghisell mengomel lagi.
Hana hanya tersenyum mendengar pembicaraan mereka berdua, dia sangat bahagia dengan hidupnya yang sekarang, karena banyak yang sayang padanya. Memiliki suami yang sangat mencintainya, mertua yang begitu baik padanya, dan memiliki adik ipar yang bisa dijadikan teman juga. Bahkan Zhoya sudah seperti adiknya sendiri. Apalagi kini dia tengah mengandung tak sabar menantikan kelahiran buah hatinya.
"Mama!"
Pembicaraan mereka terhenti begitu melihat Nicholas berlari ke arah Ghisell, rupanya Haikal sudah tiba di restoran untuk menjemputnya.
Ghisell langsung menggendong Nicholas, mencium pipinya dengan gemas, "Mana papa kamu?"
"Itu!" Nicholas menujukan ketiga pria tampan yang datang secara bersamaan. Siapa lagi kalau bukan Galvin, Haikal dan Morgan. Kebetulan mereka bertiga lagi bekerja sama di dalam promosi di perusahaan Haikal, tentu saja modelnya Morgan.
Wajah Zhoya memerah begitu melihat Morgan ternyata datang kesana, apalagi pria itu menyapanya. "Hai bocil!"
Zhoya paling tidak suka disebut seperti itu, cuma karena dia tidak pernah pacaran dan juga badannya terbilang imut seperti anak 17 tahun makanya selalu dianggap bocah. "Ishh... aku udah gede tau."
Morgan hanya tersenyum, dia tidak berani untuk mendekati Zhoya lebih jauh lagi karena dia sadar diri dirinya siapa. Dulu terlahir dari keluarga kaya, tapi orang tuanya sudah bangkrut, makanya dia bekerja keras menjadi seorang aktor sekarang. Dia memang tidak miskin, memiliki beberapa mobil mahal dan juga tinggal di apartemen mewah, uang miliyaran. Tapi tetap saja dibandingkan dengan keluarga Zhoya, tidak ada apa-apanya.
"Bukannya kalian akan segera meresmikan pernikahan kalian? Biar aku yang urus sampai tuntas." Haikal menawarkan bantuan pada Galvin dan Hana.
"Emm... nanti saja, setelah aku ingat semuanya." Tujuan utama Hana adalah ingin mengingat semua masa lalunya dulu.
Galvin tak bisa memaksakan keinginannya pada Hana, dia mengiyakan saja, dia membelai rambut Hana, "Baiklah, kalau keinginan kamu seperti itu."