
Di pagi hari itu juga bersamaan dengan Samuel yang sedang dalam perjalanan untuk pulang ke Berlin, seharusnya dia pulang besok, tapi dia terlalu merindukan Hana. Rasa rindu yang begitu menggebu, berharap Hana bisa mengizinkannya untuk mencurahkan segala rasa dibenaknya tanpa harus memaksa Hana. Jika dia memaksa, dia takut Hana akan membencinya dan kabur darinya.
Samuel duduk dengan santai di kursi belakang, memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang.
Kemudian Samuel memandangi satu buket bunga yang dia letakan disampingnya, dia tersenyum membayangkan bagaimana bisa dia bersikap romantis pada Hana. Sebuah hal yang tidak pernah dia lakukan pada wanita lain, baginya wanita hanya pemuas naf-su saja. Jika sudah tidak puas maka dia lenyapkan. Namun pada Hana sangat berbeda, karena rasa cintanya pada Hana bukan lah sebuah kebohongan, dia benar-benar mencintai wanita itu, walaupun terlambat menyadarinya.
Impian Samuel adalah dia ingin hidup tenang dan bahagia bersama Hana tanpa dibayang-bayangi masa lalu, dia tidak akan membiarkan Hana mengingat apapun tentang masa lalunya, apalagi Galvin. Dia sangat menyesali kebodohannya yang membiarkan Hana masuk ke dalam kehidupan Galvin.
Samuel membuka laptop, dia ingin tau Hana sedang apa sekarang. Beruntung Samuel tidak memasang kamera di sekitar ruang bawah tanah biar kejahatannya tidak terekam, jadi dia tidak tau Hana masuk ke ruang bawah tanah itu pagi ini. Dia hanya melihat Hana berjalan ke bagian belakang rumah, dia pikir mungkin Hana akan pergi ke taman yang ada di belakang rumah.
Namun Samuel merasa terganggu dengan kedatangan Zhoya dan kedua wanita yang memakai masker itu ke rumahnya.
"Mau apa mereka bertiga datang ke rumahku?" Samuel sangat geram sekali, mengapa para bodyguardnya lancang mengizinkan orang asing masuk ke dalam rumahnya.
Samuel menutup laptopnya dengan kasar, dia segera menelepon kepala bodyguard yang sedang dipijat oleh Tini alias Morgan, di depan rumah.
Drrrttt... Drrrttt...
"Mbak Tini, tolong ambilkan ponselku." ucap sikepala bodyguard itu dengan tatapannya yang nakal pada Morgan membuat Morgan risih. Apalagi pria itu berani sekali mencuri-curi kesempatan beberapa kali menyentuh pahanya.
Morgan hanya mengangguk, dia meraih ponsel milik kepala bodyguard itu di atas meja, dia membulatkan mata begitu melihat di layar ponsel pemimpin bodyguard itu terlihat ada nama Tuan Sam.
Sam? Apa dia Samuel?
Morgan memberikan ponsel pada pria yang sedang dia pijat itu.
Kepala Bodyguard itu terkesiap begitu mengetahui siapa yang meneleponnya.
"Ada apa Tuan?" tanya pemimpin bodyguard.
Morgan kembali memijat punggung kepala bodyguard itu agar dia bisa mendengarkan pembicaraan mereka.
"Mengapa kamu lancang sekali membiarkan orang asing masuk ke dalam rumahku?" Bentak Samuel, dia sangat emosi sekali.
"Nona Hana mmm....maksudnya nona Dara mual lagi, Tuan. Makanya tetangga sebelah membawa tukang pijat dari Indonesia untuk mengobatinya secara tradisional." Kepala bodyguard itu mengatakannya dengan terbata-bata.
Morgan terus fokus mendengarkan pembicaraan mereka.
"Dara mual lagi?" Samuel merasa kesal mengapa Hana tidak memberitahunya.
"Iya, tuan."
"Ya sudah, sebentar lagi aku sampai ke Berlin. Kamu usir saja mereka. Biar nanti aku bawa dokter untuk mengecek kondisi Dara. Dara tidak boleh di obati oleh sembarang dokter."
"Baik, Tuan."
...****************...
"Kak Hana kenapa?" Tanya Zhoya begitu melihat Hana yang berlari ke arahnya dan Galvin.
Hana terlihat ketakutan sekali dan wajahnya memucat.
Galvin sangat mengkhawatirkan Hana, tapi dia tidak bisa bebas bertanya begitu saja. Karena saat ini dia berpenampilan seperti perempuan.
"A-aku....aku melihat ada mayat di ruang bawah tanah." Hana mengatakannya dengan terbata-bata, badannya mengigil karena begitu mengerikan membayangkan mayat yang telah dia lihat tadi.
"Apa? Mayat?" Galvin terpaksa bersuara, membuat Hana kaget ternyata wanita berdaster yang berdiri di samping Zhoya itu seorang pria.
"Jangan takut, dia itu sepupu aku, kak Galvin. Dia rela berpenampilan seperti itu demi kak Dara." Zhoya mencoba meyakinkan Hana.
Drrrttt....Drrrttt...
Ponsel Galvin bergetar, rupanya ada pesan dari Morgan.
[Kamu benar, Justin itu Samuel, Dara adalah Hana. Lebih baik kamu bawa Hana pergi sekarang juga lewat halaman belakang. Biar aku yang mengelabui mereka.]