Mysterious Wife

Mysterious Wife
81



Sementara itu di negara Jerman, tepatnya di kota Berlin. Samuel telah tinggal selama dua bulan disana dan mengganti identitasnya menjadi Justin. Agar tidak terlacak oleh polisi dan juga suruhan Galvin.


Dua bulan yang lalu setelah membuat Hana pingsan, Samuel langsung membawa Hana pergi memakai jet pribadinya, dan menyuruh anak buahnya untuk membakar mayat Pingkan dengan sengaja mengganti pakaian yang dipakai oleh Hana.


Samuel tersenyum berjalan ke arah Hana yang sedang mempersiapkan pakaiannya ke dalam koper, lalu dia memeluk Hana dari belakang. "Pagi Dara sayang." Dia mencium pundak Hana.


Ya, Samuel mengganti identitas Hana menjadi Dara. Apalagi dia sudah bekerjasama dengan seorang dokter di Jerman untuk menghapus semua ingatan Hana dengan menggunakan perangkat alat elektronik khusus. Dia ingin Hana melupakan semua perbuatan dan kejahatan dia terhadap keluarga Hana dan juga melupakan Galvin.


Hana tersenyum bahagia, begitu merasakan Samuel memeluk dirinya. Dia membalikan badan menghadap Samuel. "Semua pakaian sudah aku persiapan, Justin. Kira-kira berapa hari kamu tinggal di Hamburg?"


"Paling lama satu minggu, tapi aku usahakan secepatnya pulang. Ini juga kan untuk masa depan kita. Nanti setelah ini kita menikah, sayang." Samuel membelai rambut Hana dengan lembut. Selama dua bulan ini dia memperlakukan Hana dengan begitu baik, karena selama mereka tinggal bersama Hana tidak pernah berbuat ulah yang membuatnya kesal. Malah wanita itu begitu perhatian dan selalu memasak untuknya.


"Hm... ya sudah, aku sudah tidak sabar untuk menantikan pernikahan kita." Hana mengatakannya dengan nada manja.


"Apalagi aku, aku ingin sekali secepatnya bisa merasakan malam pertama dengan kamu." canda Samuel, selama mereka tinggal bersama dia tidak pernah menyentuh Hana karena Hana tidak ingin melakukannya di luar pernikahan, apalagi sebenernya Hana masih kebingungan karena dia sama sekali tidak mengingat apapun soal masa lalunya. Yang dia ingat tiba-tiba dia sudah tinggal di Berlin bersama Samuel.


Samuel ingin menjadi kekasih yang baik untuk Hana karena itu selama dua bulan ini dia telah menahan hasratnya untuk tidak menyentuh Hana tanpa seizinnya, paling sekali-kali dia melampiaskannya ke para wanita malam.


Hana hanya tersenyum, walaupun sebenarnya semua yang dia rasakan pada Samuel itu sangat hambar, tapi hanya Samuel yang selalu menemaninya saat ini, dan Samuel mengaku bahwa dia adalah kekasihnya Hana dan bilang padanya bahwa Hana telah mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan Hana amnesia.


"Justin."


"Kenapa?"


"Kamu bilang keluarga aku sudah meninggal, di Indonesia. Kapan kita pulang kesana? Aku ingin mengunjungi makam keluarga aku."


Samuel paling tidak suka jika Hana membahas soal keluarganya, namun dia berusaha menahan emosinya. "Nanti kalau aku lagi santai, akhir-akhir ini pekerjaan aku banyak sekali."


"Baiklah, aku ingin secepatnya kamu pulang. Aku kesepian disini."


Samuel sangat senang karena Hana kini ketergantungan padanya, padahal dulu Hana adalah wanita yang sangat mandiri dan kuat.


"Kan ada bodyguard."


"Beda lah, mereka gak bisa diajak bicara."


"Namanya Zhoya."


"Nah iya, Zhoya."


"Emang aku boleh main sama dia?"


"Boleh lah, asal di jaga bodyguard."


Hana hanya menghela nafas, karena dia sama sekali tidak bebas harus di kawal oleh bodyguard kemana-mana. Bahkan hanya sekedar membagikan makanan masakannya ke tetangga pun dia harus di kawal oleh dua bodyguard. Samuel memang sangat posesif sekali. Membuat Hana kurang nyaman.


Karena sering membagikan masakannya pada beberapa tetangga, makanya Hana bisa kenal dengan Zhoya dan lumayan akrab dengannya karena hanya Zhoya yang paling ramah mungkin karena sama-sama berdarah Indonesia.


"Ya sudah, aku berangkat dulu ya sayang." Samuel mencodongkan wajahnya untuk mencium bibir Hana, namun Hana tiba-tiba merasakan enek, dia menutup mulutnya. Selalu begitu , setiap Samuel ingin mencium Hana.


"Masih mual?" tanya Samuel, dia melihat Hana muntah-muntah semalam.


"Sedikit, mungkin aku masuk angin makanya sering mual."


"Biar aku panggil dokter nanti."


"Gak usah, aku udah enakan kok."


Samuel merasa tenang mendengarnya, "Hmm... ya sudah, tapi kalau nanti kamu mual lagi telepon aku. Biar aku nanti suruh Dokter ke rumah untuk memeriksa kamu."


"Iya, Justin."


"Oh iya jangan pernah kamu pergi ke ruang bawah tanah, disana lagi direnovasi." Samuel memperingatinya dengan nada serius.


"Kamu tenang aja, aku takut kegelapan jadi gak mungkin berani turun kesana. Walaupun aku gak ingat mengapa aku takut dengan suasana yang sangat gelap."


Tentu saja Samuel tau alasannya, tapi tidak mungkin lah dia memberitahu Hana.