
"Pingkan!"
"Bersembunyi dimana kamu dasar jal*ng?"
"Aku akan melenyapkan kamu hari ini wanita sialan!"
Samuel mengobrak-abrik seluruh isi apartemen Pingkan secara brutal, sampai apartemen itu kini seperti kapal pecah, begitu berantakan.
Samuel menyadari rupanya Pingkan sudah pergi begitu dia memeriksa lemari pakaian disana.
"Arrrggghhh...sial!"
Samuel sangat murka sekali hari ini.
"Awas kau Pingkan, aku pasti akan secepatnya menemukan kamu!"
Samuel sangat emosi karena sampai malam ini Samuel belum juga menemukan keberadaan Pingkan, apalagi ponselnya tidak aktif jadi susah dilacak.
...****************...
Malam ini Galvin sengaja datang menemui Morgan tanpa sepengetahuan Hana, dia tidak bisa selalu mengandalkan Detektif Al, apalagi baru pagi tadi dia menugaskan Detektif Al, otomatis Detektif Al tidak mungkin bisa mendapatkan informasi segitu cepat dalam waktu belasan jam, secara Detektif handal saja butuh waktu berhari-hari ataupun berminggu.
Saat itu mereka ketemuan di sebuah klub malam.
"Ada urusan apa nih lu ingin ketemuan sama gue?" tanya Morgan sambil meneguk satu gelas vodka. Dia meminta Galvin untuk bersulang dengannya, namun Galvin menolaknya, dia tidak mau mabuk malam ini.
"Lu bilang sekarang ini kan kita berteman nih, gue ingin tau apa Hana menanyakan masa lalu gue sama lu?" Galvin mengatakannya dengan nada ragu-ragu.
Morgan terkekeh, "Sebenarnya hubungan kalian ini apa? Mengapa kalian saling menyelidiki seperti itu? Apa lu naksir sekretaris lu itu?"
Galvin hanya diam tidak menjawab iya atau tidak.
"Hmm... tapi kayaknya gak mungkin, gue tau selera lu seperti apa." Morgan terkekeh kembali.
"Lu belum jawab pertanyaan gue." Galvin mengatakannya dengan penuh penekanan.
Morgan terpaksa menjawab pertanyaan dari Galvin. "Hmm... dia cuma menunjukkan foto lu, Samuel dan Mitha. Dia bilang ingin tau tentang hubungan kalian itu seperti apa. Hanya itu."
"Waktu itu gue jawab sejujurnya aja. Lagian gue gak ngerti mengapa Hana tertarik sama masa lalu kalian."
Bahkan Galvin juga tidak bisa menebaknya, sebenarnya apa yang terjadi pada Hana? Mengapa dia diam-diam menyelidiki Samuel juga?
Sialnya malam ini Morgan mabuk parah, membuat Galvin tidak tega meninggalkannya, apalagi Morgan seorang aktor, bagaimana kalau ada wanita yang nekad menculiknya lalu memperkosanya.
"Arrrggghhh.... Sial!" Galvin mengumpat. Dia terpaksa harus membawa Morgan ke rumahnya karena tidak tau apartemen Morgan.
...****************...
Hana mondar mandir di depan rumah, sudah jam 11 malam Galvin belum pulang juga, Galvin tidak bilang mau pergi kemana karena dia memang selalu seperti itu, Galvin tidak pernah mau minta izin padanya mau pergi kemana karena memang hubungan mereka bukan seperti suami istri sungguhan.
"Hmm... pergi kemana dia? Apa dia sudah memiliki pacar lagi dan bersenang-senang malam ini?" Entah mengapa hati Hana merasa kesal memikirkannya.
Bagaimana kalau ternyata dugaan dia benar, malam ini Galvin bersenang-senang dengan wanita lain? Apalagi dia akui permainan Galvin begitu sangat memabukkan, dia merasa jadi tidak rela jika Galvin melakukan wanita lain seperti itu juga.
Hana melihat security disana membuka pintu gerbang rumah, rupanya orang yang dia tunggu dari tadi telah pulang. Namun ada yang membuat Hana kesal karena Galvin meminta Hana untuk membantunya memboyong seseorang di dalam mobil.
"Hana ayo cepat bantu aku!" suruh Galvin, Galvin terlihat sedang kesusahan menarik sebuah kaki di dalam mobil sana.
Hana sangat geram melihat ada sebuah kaki yang begitu mulus sedikit keluar dari mobil karena Galvin menarik Morgan yang tengah tiduran di dalam mobil, tepat di jajaran kursi kedua.
Hana terpaksa menghampiri Galvin dengan sangat kesal, mengapa dia harus membawa kenalannya ke rumah? Apa dia mau pamer di depan Hana dengan bercinta bersama wanita itu di rumahnya padahal di rumah lagi ada istrinya.
Istri? Lagian Galvin tidak pernah menganggap dia istrinya.
"Untuk apa kamu membawa kenalan kamu ke rumah? Kenapa tidak di hotel saja kalian tidur berdua? Apa kamu mau pamer sama aku bisa bercin..." Hana tidak meneruskan perkataannya begitu melihat siapa yang yang sedang tiduran di dalam mobil sana.
"Morgan?"
Galvin tersenyum begitu melihat reaksi Hana yang seakan sedang cemburu pada Morgan. Mungkin karena mengira dia membawa wanita ke rumahnya. Sepertinya dia sudah bisa mengambil hati Hana sedikit demi sedikit.
"Simpan dulu cemburu kamu itu. Tolong bantu aku dulu buat bawa si kutu kupret ini ke kamar. Nanti setelah itu kita tuntaskan rasa cemburu kamu itu. Aku siap menjadi pelampiasan kekesalan kamu, sampai kamu puas." goda Galvin.
"Ih apaan sih, siapa yang cemburu." Hana tidak ingin mengakuinya. Dia malah menelan saliva mendengar ucapan Galvin. Sampai puas? Oh no, dia tidak boleh terpedaya lagi malam ini. Dia harus melawan jika Galvin berani menyentuhnya lagi.