
"Anda mau kemana, Nona?" tanya salah satu bodyguard yang bertugas untuk menjaga Hana, saat melihat Hana keluar dari rumah.
Hana terpaksa berbohong, "Aku mau ke salon. Aku sudah meminta izin sama bos kalian."
"Baiklah anda boleh pergi tapi kami harus ikut." ucap salah satu bodyguard.
Hana terpaksa harus pergi ke salon ditemani oleh para bodyguard, Hana seakan seperti seorang putri yang harus dijaga dengan ketat.
Bahkan Hana harus menjadi pusat perhatian oleh orang-orang yang berada di salon itu, karena di kawal oleh 5 bodyguard gagah masuk ka dalam salon.
Namun bukan Hana namanya jika tidak memiliki akal licik, dia harus masuk ke tempat khusus pemijatan untuk wanita, tentu saja para bodyguard tidak bisa masuk ke dalam karena disana pastinya Hana harus melepaskan pakaiannya, tentu saja harus dipijat seluruh tubuhnya.
"Kalian tunggu disini, jangan lancang masuk ke dalam, atau kalian mau mata kalian di cokel oleh bos kalian karena sudah berani melihat tubuhku?" ancam Hana.
"Baik, nona." Para bodyguard sama sekali tidak berpikir Hana akan melarikan diri karena tidak ada yang mencurigakan dari sikap Hana.
Namun rupanya Hana malah membayar pegawai salon yang akan memijatnya agar mau bekerja sama dengannya.
Hana keluar dari salon itu melewati jendela bagian belakang. Setelah itu dia harus bersusah payah melewati sebuah benteng yang tinggi, sampai akhirnya dia loncat ke luar dari benteng itu.
"Shhh.... arrrggghhh!" Hana sedikit meringis merasakan sakit di bagian kakinya yang kemarin terluka. Dia memakai high heels nya kembali.
Namun tidak dia rasakan, dia segera bangkit dengan sedikit tertatih-tatih, dia harus bertemu Pingkan, mereka janjian untuk ketemuan di sebuah gedung tua bekas rumah sakit.
"Taksi!" Hana segera menyuruh Taksi untuk berhenti, kemudian dia naik ke dalam taksi.
Maafkan aku Galvin, tapi aku tidak ingin melibatkan kamu dalam masalah aku.
Sementara itu, di salon, para bodyguard merasakan kejanggalan karena Hana belum keluar juga dari tempat khusus pemijatan itu, mereka menjadi serba salah, ingin menerobos masuk tapi takut ternyata Hana sedang dipijat dalam keadaan telanjang.
Mereka terpaksa mengetuk pintu beberapa kali, "Nona Hana, mengapa Anda lama sekali?"
Namun tidak ada jawaban dari Hana, membuat mereka semakin curiga.
Akhirnya salah satu dari mereka terpaksa masuk ke dalam, dia terkejut saat melihat di dalam hanya ada seorang pegawai salon, pegawai salon itu terus meminta maaf kerena telah membiarkan Hana pergi.
"Aku minta maaf, aku hanya disuruh, aku tidak tau apa-apa."
"Ahh... sial!" Bodyguard itu terkejut begitu melihat jendela salon yang terbuka, rupanya Hana telah melarikan diri.
"Maafkan kami, Tuan."
"Aku gak mau tau, pokoknya kalian harus secepatnya mencari Hana!"
"Tentu saja, Tuan. Kami akan segera mencarinya."
Klik!
Galvin mematikan panggilan telepon, dia sangat kecewa sekali mengapa Hana malah melarikan diri darinya. Galvin segera memutar arah menuju salon, dia harus ikut mencari Hana.
Brrrmm...
Galvin menaikan kecepatan mobilnya.
"Arrrggghhh... Hana kenapa kamu harus pergi?" Galvin sangat gelisah sekali.
Sementara itu, Hana telah sampai ke tempat dia janjian dengan Pingkan, dia masuk ke dalam gedung tua itu dengan hati-hati.
"Pingkan!" Hana memanggil nama sahabat adiknya itu, namun tidak ada respon menyahut panggilannya.
Suasana di gedung tua itu terasa sangat begitu sepi, karena itu Hana harus waspada.
"Pingkan!" Hana terus memanggil nama Pingkan, dia mencoba menelpon Pingkan, namun rupanya ponselnya tidak aktif.
Dia naik ke atas menaiki anak tangga, berjalan dengan pelan dan hati-hati, sedikit tertatih-tatih, kakinya masih terasa sakit jadi tidak bisa berjalan dengan cepat.
Hana melihat sebuah balok kayu, dia segera mengambil balok kayu itu, berjalan dengan memandangi tempat yang sudah sangat kuno itu.
"Pingk..."
Hana terkejut, matanya terbelalak, begitu melihat apa yang ada dihadapannya.
...****************...
...Jangan heran kalau nanti tiba-tiba tamat. Pengumuman pemenang GA akan saya umumkan nanti pas bab akhir....
...Selamat hari senin, semangat ngantor walau ngantuk hehe...