
Galvin mendapatkan kejutan yang tidak terduga hari ini, dia menghela nafas menatap Samuel yang menggandeng tangan Hana membawanya masuk ke dalam gedung apartemen.
Galvin benar-benar merasa dipermainkan oleh Hana, wanita itu tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya menjadi sekretarisnya kemudian Hana membuat jebakan seolah-oleh mereka telah tidur bersama dengan alasan Hana sangat mencintai Galvin.
Galvin tertawa kecil, mentertawakan dirinya sendiri, saat mengingat Hana yang bilang sangat mencintai Galvin dan ingin membuat Galvin jatuh cinta padanya.
"Berani sekali mereka mempermainkan aku." Galvin sangat tidak terima jika ternyata apa yang Hana lakukan padanya itu semua palsu.
Galvin belum memikirkan rencana apa kedepannya menghadapi mereka, yang pasti saat ini dia harus menenangkan dirinya yang masih emosi, karena dia harus berpura-pura tidak tau tentang kelicikan Hana dan Samuel itu.
Sementara itu, Hana dan Samuel telah tiba di apartemen milik Samuel. Mereka duduk di kursi sofa sambil membicarakan rencana apa yang harus dia lakukan untuk membalaskan dendamnya pada Galvin.
Samuel memberikan sebuah botol yang sangat kecil pada Hana, didalamnya terdapat cairan berwarna bening.
"Apa ini?" Tanya Hana sambil membawa botol kecil itu. Dia memperhatikannya dengan seksama.
"Itu polonium."
"Polonium?" Hana mengerutkan keningnya.
"Iya, itu racun mematikan tapi bekerjanya sangat lambat, orang yang meminum racun itu bisa mati dengan cara perlahan, bisa sampai satu bulan bahkan 3 bulan."
Hana tidak mengerti mengapa Samuel memberikan racun itu padanya, "Tapi ini buat apa?"
Samuel memegang tangan Hana, kemudian mencium tangannya "Bukannya kamu ingin membuat Galvin mati seperti adik kamu. Saat kita memutuskan untuk balas dendam, kita harus melakukannya semaksimal mungkin. Membuatnya sakit hati sekaligus membuatnya mati perlahan, bukan kah itu balas dendam yang sangat sempurna?"
Hana kelihatan tidak setuju dengan rencana Samuel, "Apa kamu ingin aku membunuhnya?".
"Bukannya kamu yang bilang ingin membuat Galvin menderita sampai dia mati seperti Anya?"
Rupanya Hana telah melupakan kata-katanya itu.
"Apa mungkin kamu sudah lupa dengan niat awal kamu datang ke kehidupan Galvin? Jangan bilang kamu menikmati peran kamu sebagai istri Galvin!"
"Gak mungkin lah, gak mungkin aku terpedaya oleh pria bajingan itu."
Hana memegang kepalanya yang masih terasa pening, dia masih teringat dengan mimpinya itu yang sangat terasa nyata, sampai saat dia mandi dia merasakan miliknya terasa perih.
Apa semalam itu nyata atau hanya mimpi saja?
Apa mungkin **** * ku bermasalah?
Hana rasa iya, mungkin miliknya bermasalah entah karena apa dia juga tidak tau makanya sampai terbawa mimpi melakukannya bersama Galvin.
Tapi kenapa harus bermimpi dengannya?
Hana sangat menyesal mengapa harus bermimpi bercinta dengan Galvin. Dia tidak ingin memikirkan tentang itu lagi. Ada hal yang lebih penting yang harus dia pikirkan, yaitu tentang foto Galvin, Samuel dan Mitha.
"Emm... Sam!" Hana menatap Samuel yang dari tadi mencium tangan Hana.
"Kenapa?" tanya Samuel, dia menatap wajah Hana.
"Apa kamu memiliki seorang teman?"
"Mengapa bertanya seperti itu? Kamu sendiri tau kan aku selalu sendirian, hanya kamu yang selalu menemani aku."
"Maksud aku sebelum kenal denganku? Emm... aku hanya penasaran soal dirimu, banyak hal yang tidak aku ketahui tentang kamu."
Samuel melepaskan tangan Hana, pertanyaan Hana membuat Samuel kesal karena dia harus teringat kembali dengan masa lalunya bersama Mitha dan Galvin. Padahal tadinya dia ingin bermesraan dengan Hana.
"Tidak, aku tidak memiliki teman sebelum kenal dengan kamu. Bagi aku kamu adalah segalanya, karena itu jangan pernah berpaling dari aku. Jangan sampai jatuh cinta sama suami kamu."
Hana hanya diam menatap Samuel, tidak mungkin Samuel dan Galvin berfoto bersama jika tidak dekat. Kenapa Samuel tidak ingin Hana tau soal kedekatan mereka? Hana tidak ingin berfikir negatif sama kekasihnya itu, dia percaya Samuel, apalagi hubungan mereka terjalin sudah 6 tahun, bukan lah sesuatu yang sebentar. Apalagi selama ini Samuel sering membantunya, salah satunya memberikannya tempat tinggal, ikut membiayai kuliahnya karena tidak sepenuhnya mengandalkan beasiswa, dan juga dia yang mengusulkan bekerja di Jepang karena gajinya lumayan besar di perusahaan temannya Samuel.
Hana jadi menghela nafas jika mengingat saat dia bekerja di Jepang, Anya meninggal tepat saat dia baru tiga bulan bekerja disana.
Samuel memasukan botol kecil yang berisi polonium itu ke dalam genggaman Hana. "Karena itu kita harus pakai ini juga biar dia bisa bertemu Anya dan meminta maaf padanya. Dan ingat kamu harus lebih bekerja keras lagi untuk membuat dia jatuh cinta, tapi jangan sampai dia menyentuh kamu, aku tidak rela."
Setelah mengatakan itu Samuel mencondongkan wajahnya untuk mencium bibir Hana.
Namun Hana malah segera berdiri dari duduknya. "Emm...Sam aku buru-buru sekali. Aku harus kerja hari ini." Dia menyimpan polonium ke dalam tasnya.
Samuel hanya menganggukkan kepala, dia merasa kesal dengan Hana karena selalu menghindarinya setiap dia akan mencium bibir Hana.
Ketidakjujuran Samuel mengenai dia yang pura-pura tidak mengenal Galvin membuat hati Hana penuh tanda tanya dan membuat Hana semakin penasaran tentang Galvin dan Samuel, juga tentang wanita yang dia belum ketahui namanya itu. Namun melihat dari tatapan wanita yang di foto bersama Galvin dan Samuel, sepertinya wanita itu memiliki perasaan pada Galvin karena wanita itu posisinya berada di tengah tapi dia berpose sambil menatap Galvin.