Mysterious Wife

Mysterious Wife
85



Zhoya menepikan mobilnya di depan rumah, begitu dia keluar dari mobil, dia melihat ada mobil sport berwarna merah di depan rumahnya.


"Mobil siapa ini? Apa ini mobil kak Galvin?"


Galvin memang sering gonta-ganti mobil, gak di Indonesia gak di LN, membuat Zhoya tidak bisa menghapalnya satu persatu mobil milik Galvin.


Zhoya segera masuk ke dalam rumahnya, namun suasana rumah begitu sepi nampak tidak ada penghuni sama sekali.


"Kak Galvin!" Zhoya memanggil nama saudara sepupunya itu.


"Kemana dia? Apa dia sudah tidur?"


Zhoya segera mengecek kamar tamu, kebetulan ada 4 kamar tamu, dia cek satu persatu, untuk memastikan yang berkunjung ke rumahnya itu Galvin atau bukan, namun rupanya tak ada satu orangpun disana.


Zhoya segera mengecek ke ruangan lain. Dia terkejut saat melihat Morgan yang baru keluar dari kamar mandi, apalagi pria itu hanya menggunakan handuk saja menutupi pinggang sampai ke lutut.


"Aaaaa!" Zhoya menjerit melihat pria asing tiba-tiba ada di rumahnya, apalagi pria itu telanjang dada.


"Who are you?"


Begitu juga Morgan, dia tersentak kaget karena Zhoya berteriak dengan begitu kencang, dia rasa mungkin wanita dihadapannya ini adalah Zhoya, sepupunya Galvin. "Tu-tunggu dulu, aku Morgan..."


Zhoya dari kecil tinggal di LN, pastinya dia tidak akan mengenali Morgan, seorang aktor yang lagi naik daun di Indonesia.


"Aaaaa!" Zhoya semakin histeris begitu melihat handuk Morgan yang melorot, membuat matanya ternodai, dia reflek menutup kedua matanya dengan tangan.


Morgan juga ikut menjerit, dia langsung menutup sang joni dengan tangannya.


...****************...


Malam ini, di ruang tengah, Galvin memperhatikan Zhoya dan Morgan yang dari tadi diam terus, mungkin karena shock dengan kejadian mengejutkan tadi saat tragedi handuk melorot itu.


"Kalian kenapa?" tanya Galvin.


"Emm... ah tidak apa-apa, aku hanya malu saja bertemu dengan sepupu kamu." Morgan tidak sanggup menatap Zhoya, gadis itu pasti sudah melihatnya, walaupun dulu dia sering bermain dengan para mantannya, tapi dia bukan pria yang suka memperlihatkan si joni ke sembarang wanita.


Zhoya masih diam, dia sangat shock dengan apa yang dia lihat tadi, walaupun dari kecil dia tinggal di LN, tapi dia belum pernah berpacaran sama sekali.


"Tumben punya rasa malu, tapi bagus lah. Emm... sebenarnya ada hal penting yang ingin kau bahas sama kalian, tadi aku melihat Hana."


Morgan terbelalak mendengarnya, "Hana? Maksudnya hantu Hana ikut kesini?"


Membahas soal hantu, suasana menjadi horor.


Zhoya langsung berpindah tempat duduknya ke samping Galvin, dia merinding jika membahas soal hantu. Morgan juga malah ikut-ikutan duduk di samping Galvin, membuat Galvin berada di tengah-tengah mereka.


"Hiiihhh!" Mereka malah merinding ketakutan. Memeluk lengan Galvin.


Galvin jadi jengkel dengan kelakuan mereka berdua, dia melepaskan tangan mereka berdua. "Bukan hantu, tapi beneran aku melihat Hana, Hana masih hidup, dia ada disini. Jadi tetangga kamu, Zhoya."


"Tetangga aku?" Zhoya mengerutkan dahinya, "Aku gak punya tetangga yang bernama Hana. Ada juga Laura, Miss Chaterine, Dara..."


"Nah itu Dara, dia benar-benar mirip Hana."


"Sumpah, Gan. Dia mirip banget sama Hana." Galvin sangat yakin Dara itu Hana.


Galvin memperlihatkan foto Hana yang tengah tertidur saat di buble hotel Green Forest, pada Zhoya. Morgan ingin ikut melihat foto itu tapi Galvin melarangnya karena di foto itu terlihat Hana yang sedang tertidur, tubuhnya hanya ditutupi selimut saja, namun terlihat begitu jelas punggung Hana karena Hana tidur dengan posisi miring.


"Ya ampun lihat kek sedikit!" keluh Morgan, dia tidak sengaja berpandangan dengan Zhoya, membuatnya menjadi salah tingkah.


"Gak boleh!" tegas Galvin, kemudian dia menatap Zhoya, "Bagaimana? Mereka miripkan?"


Zhoya malah fokus ke Hana yang tidak memakai baju, "Astaga, emang gak ada foto yang lain apa?" Zhoya malu sendiri melihatnya.


"Ya hanya ini yang aku punya, kita gak pernah foto bareng. Itu juga aku mencuri kesempatan untuk memfotonya saat dia masih tidur di bubble hotel."


Dari ekspresi Zhoya, Morgan mengerti mengapa Galvin melarang Morgan untuk melihatnya. "Hmm... enak banget ya waktu itu habis buat aku patah hati terus kalian pada oho oho, wah sahabat yang gak punya perasaan."


"Stttt! Disini ada anak kecil." Galvin memperingati Morgan kalau disana ada Zhoya.


"Masih aja anggap aku anak kecil, aku sudah 20 tahun kali." Zhoya mengatakannya dengan nada kesal, dia memperhatikan wajah Hana di foto itu, "Hmm... tapi emang mirip banget sih. Apa mungkin mereka aslinya punya kembaran?"


"Gak mungkin, aku sudah memeriksa latar belakang Hana, dia tidak memiliki kembaran." Galvin sudah tau jelas apapun soal latar belakang Hana.


"Siapa tau mungkin mereka itu mirip, seperti artis Keira Knightley dan Natalie Portman, mereka mirip banget." Morgan takut dugaan Galvin salah.


"Karena itu aku harus memastikannya, dia Hana atau bukan. Tapi aku yakin banget dia pasti Hana."


"Coba kamu ingat Hana memiliki tanda lahir gak atau apa gitu ditubuhnya?" Morgan mencoba mengusulkan idenya untuk memeriksa tubuh Hana.


Galvin terdiam sejenak, dia baru ingat ada sedikit luka bakar di punggung Hana, "Dia memiliki luka bakar di punggungnya."


"Jadi kita harus cek punggung kak Dara?" Zhoya tidak tau bagaimana caranya agar bisa melihat punggung Hana.


"Iya, aku harus mengeceknya." Galvin harus mengeceknya sendiri.


"Tapi bagaimana caranya kak?" tanya Zhoya lagi, penasaran.


...****************...


Sementara itu Hana, dia tidak bisa tidur karena terbayang-bayangi wajah Galvin. Walaupun dia kira pria itu lagi sakit jiwa karena mengira dia istrinya yang sudah mati, tapi Hana akui Galvin memang sangat tampan. Cuma bukan ketampanannya yang membuat Hana tak bisa tidur, tapi hatinya, dia merasa ada yang sesak di dalam dada, entah mengapa dia bisa begitu.


"Pria itu sepertinya gak asing bagiku, aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana?" Hana mencoba berpikir keras, namun dia tidak bisa mengingat apapun.


Hana tiba-tiba merasakan mual kembali. Dia segera berlari ke wastafel.


Malam ini Hana sudah beberapa kali bolak balik ke wastafel, rasa mualnya lebih parah dari hari-hari biasanya.


"Ada apa denganku?" Hana tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


"Harus kah aku kasih tau Justin kalau mual aku kambuh lagi?"


Hana teringat dengan ucapan Samuel, jika Hana mual lagi, Hana harus kasih tau Samuel, biar dia panggil dokter ke rumahnya untuk memeriksa Hana.


bersambung....