Mysterious Wife

Mysterious Wife
101



Buukkk...


Terdengar suara seseorang membuka pintu dengan keras, rupanya Galvin telah masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan Hana.


Samuel segera mengambil pistol yang tergeletak di lantai untuk menembak Galvin. Galvin dengan cepat berlari ke arah Samuel dan menendang tangan Samuel sehingga pistol itu terlempar kembali ke lantai.


"Arrrggghhh..." Samuel meringis merasakan tangannya yang kesakitan karena tendangan Galvin begitu keras.


Kemudian Galvin memukul wajah Samuel beberapa kali, lalu pukulan itu beralih tepat ke bagian dada dan perutnya.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Samuel tak tinggal diam, dia balik menyerang Galvin, sehingga terjadi perkelahian sengit diantara mereka.


Hana merasakan kepalanya sangat pusing mungkin efek ingatannya kembali secara mendadak, seakan ada sesuatu yang menghantam kepalanya secara bertubi-tubi. Badannya ambruk ke lantai, dia terduduk memegang kepalanya. "Arrrggghhh..." Hana mencengkram kepalanya sendiri, kepalanya terasa sangat sakit sekali.


Galvin sangat mengkhawatirkan Hana, dia memukul perut Samuel berkali-kali, lalu mengangkat tubuhnya membantingkannya ke lantai.


"Arrrggghhh..." Samuel tergeletak di lantai, badannya terasa ngilu.


Galvin berlari ke arah Hana, dia harus segera membawa Hana ke rumah sakit, sepertinya wanita itu sangat kesakitan sekali, terus mencengkram kepalanya. "Sayang, kamu gak apa-apa kan?"


Hana kaget saat melihat Samuel berada dibelakang Galvin, pria itu memegang pisau ditangannya. "Galvin awas!"


Galvin segera berdiri dan membalikan badan, namun...


Jleb...


Samuel berhasil menusuk perut Galvin dengan pisau.


"Oh tidak, Galvin!" Hana menjerit begitu melihat darah bercucuran di perut Galvin.


"Arrrggghhh..." Galvin mengerang kesakitan, namun dia harus kuat, dia harus menolong Hana.


Galvin melayangkan tinjunya ke wajah Samuel, namun Samuel berhasil menancapkan kembali pisau itu ke perut Galvin.


"Galvin!" Hana histeris melihatnya. Dia dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit dikepalanya, dia harus menolong Galvin.


Galvin menahan tangan Samuel, menatap mantan sahabatnya itu, "Mitha mati bukan karena aku, tapi ayah kamu yang sengaja membuat Mitha mati seolah-olah kecelakaan." Galvin mengatakan dengan nafas tersengal-sengal, menahan rasa sakit.


Samuel tidak terima Galvin menuduh ayahnya yang menyebabkan Mitha meninggal. "Kamu pasti bohong, gak mungkin ayahku membunuh Mitha. Mitha mati gara-gara kamu, bajingan." Dia sangat emosi sekali.


Galvin menekan perutnya yang terluka dengan tangannya, tubuhnya terasa melemah, tapi dia tidak boleh mati dulu sebelum dia bisa memastikan Hana baik-baik saja, dia harus menyelamatkan Hana. "Tapi kenyataannya begitu, ayahmu seorang psikopat, dan kamu adalah psikopat yang sengaja dia ciptakan. Karena itu dia membunuh Mitha agar kamu tidak memiliki kelemahan. Bahkan aku punya buktinya."


Samuel menggelengkan kepala, "Gak, Mitha mati karena kamu. Kamu yang membuat Mitha mati." Samuel tiba-tiba teringat saat dia memergoki ayahnya diam-diam sering mengawasi rumah Mitha, bahkan cara menatap ayahnya pada Mitha itu seakan menyiratkan tatapan kebencian.


Hana melihat pistol yang jaraknya sekitar empat meter darinya, dia segera berlari mengambil pistol tersebut.


Samuel menyerang Galvin kembali, dia masih mengelak dari kenyataan. Galvin berusaha melawan walaupun tubuhnya sudah tak berdaya, merasakan rasa sakit yang sungguh luar biasa di bagian perutnya.


Tentu saja Samuel lebih kuat karena dia hanya babak belur saja, dia ingin menusukan kembali pisau itu. "Kamu harus mati, kamu harus meminta maaf padanya karena telah menyakitinya."


Namun...


Dorr...


Sebuah peluru melesat menembus punggung Samuel.


Nafas Hana tak beraturan, sampai dia mengeluarkan keringat dingin, untuk pertama kalinya dia menggunakan pistol, apalagi menembak seseorang.


"Arrrggghhh..." Samuel mengerang kesakitan, tapi dia ingin masih berusaha keras untuk membuat Galvin mati.


Dorr...


Hana terpaksa menembak punggung Samuel kembali, seketika tubuh Samuel ambruk ke lantai.


Hana semakin tak karuan, tangannya bergetar sampai pistol itu terjatuh ke lantai, dia berlari ke arah Galvin. "Galvin!" Hana menangis.


Galvin merasakan tubuhnya terasa semakin lemah, sampai dia kehilangan keseimbangan tubuhnya, dan ambruk ke pelukan Hana.


"Galvin, bertahan lah. Aku mohon." Hana menangis terisak, memeluk Galvin, tangannya menekan perut Galvin agar tidak mengeluarkan banyak darah.


Galvin terbatuk-batuk, mulutnya mengeluarkan darah, tubuhnya sudah lemah tak berdaya. "Ha-Hana..."


Galvin sudah tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun selain menyebutkan nama sang istri, dia mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Hana, tapi tangannya terjatuh ke lantai, dia memejamkan matanya.


Hana menangis histeris, "Galviiin...!"


"Galviiiin..."


"Aaarghhh.... Galvin!".


Samuel menitikan air matanya melihat Hana yang menangisi Galvin, dia masih terbaring tak berdaya, rasa sakit di hatinya jauh lebih sakit dibandingkan tubuhnya, karena Hana menembaknya demi menyematkan Galvin, bahkan Hana lebih memilih memeluk Galvin yang sedang terluka dibandingkan dirinya.


Wiuw...


Wiuw...


Wiuw...


Suara sirine mobil polisi dan ambulan terdengar memasuki gerbang rumah Galvin, rupanya sebelum Galvin tiba ke rumah, dia menelpon polisi terlebih dahulu dan juga menelpon ambulan untuk menyelamatkan para bodyguardnya yang keracunan.