
Setelah selesai makan siang bersama, Galvin mengikuti saja kemana Hana pergi, ponselnya lobet, sementara dia tidak memiliki uang sama sekali.
Saat itu Hana masih ingin berjalan kaki, Galvin terpaksa harus ikut jalan kaki juga.
Hana berjalan sambil melamun, tadinya dia ingin bertanya ke Samuel tentang masa-masa dia masih sekolah SMA, apakah Samuel akan bercerita soal Galvin? Dia masih penasaran ada hubungan apa antara Samuel dan Galvin.
"Bukannya hari ini kamu ingin bertemu pacar kamu?" tanya Galvin sambil melirik sebentar ke arah Hana yang sedang melamun.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Galvin, Hana malah menanyakan hal lain. "Apa kamu memiliki seorang teman?"
"Teman?" Galvin terdiam sejenak, "Hmm... kamu tau Haikal kan? Adik ipar aku? Nah dia teman aku."
"Ya mungkin kalian berteman karena kalian iparan, makanya bisa akrab."
"Nah betul sekali, aku kenal Haikal setelah kami iparan. Dia orangnya asik untuk diajak curhat."
"Maksudku seorang teman ya mungkin semasa sekolah atau kuliah."
"Dulu aku kuliah di Singapura, tapi jujur saja aku orangnya gak gampang akrab dengan laki-laki. Makanya aku selalu menghabiskan waktu aku untuk bersenang-senang dengan banyak wanita."
"Apa itu bisa membuat kamu puas?"
"Ya dengan begitu aku tidak merasa kesepian dan melupakan cinta pertama aku."
"Tapi aku yakin cinta pertama kamu itu pasti akan membenci kamu jika tau kelakuan kamu seperti ini." Hana mengatakannya sambil menyilangkan tangannya di dada.
Mereka masih berjalan dia atas trotoar, menyusuri jalan raya raya. Suasana begitu ramai karena banyak yang jalan kaki disana. Dan juga suara kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya sana.
"Karena nama kita sama."
"Hmm... jangan pernah menyamakan kamu dan dia. Kalian bukan orang yang sama." Galvin mengatakannya dengan nada tegas.
"Ya ampun, aku hanya bercanda kali."
"Jangan bawa dia ke dalam candaan kamu. Aku tidak suka."
"Tapi kamu belum jawab pertanyaan aku. Lalu di masa SMA kamu bagaimana? Apa kamu memiliki teman?"
Seketika Galvin menghentikan langkahnya begitu mengingat Samuel. Dulu Galvin sering di musuhi oleh pria karena dia selalu terkenal di kalangan wanita, contohnya oleh Morgan. Apalagi Galvin memang memiliki sifat yang angkuh di sekolah. Karena itu orang yang pertama kali mengulurkan tangan untuk berteman dengannya adalah Samuel.
Dulu Galvin dan Samuel begitu akrab, dan Samuel mengenalkan Mitha padanya. Karena itu tujuan Samuel, dia ingin bisa membuat Mitha dekat dengan Galvin. Walaupun Samuel mencintai Mitha, tapi bagi Samuel kebahagiaan Mitha adalah hal yang terpenting dalam hidupnya. Sampai dia mengorbankan perasaannya sendiri.
Dari cara Samuel menatap Mitha, Galvin tau Samuel sebenarnya mencintai Mitha karena itu dia membatasi dirinya untuk tidak terlalu dekat dengan Mitha, walaupun Mitha sering ikut jika mereka kumpul bersama karena Samuel sering mengajaknya.
Galvin menghela nafas, gara-gara pertanyaan dari Hana, dia jadi teringat lagi dengan masa lalunya. "Ada, tapi aku tidak ingin membahasnya."
"Kenapa?" Hana jadi makin penasaran.
"Sudah ku katakan aku tidak ingin membahasnya."
Sebenarnya ada apa antara Galvin dan Sam? Hati Hana bertanya-tanya. Namun sayang sekali Galvin tidak ingin menjawab lagi pertanyaan dari Hana, itu yang membuat Hana penasaran.
Hana jadi teringat ucapan Morgan yang bilang gara-gara seorang wanita Galvin dan temannya bermusuhan, karena wanita itu mati gara-gara Galvin. Hana rasa lebih baik dia harus bertemu Morgan lagi di pesta perusahaan Vixo nanti malam.