Mysterious Wife

Mysterious Wife
22



"Temannya? Siapa temannya Galvin?" Hana jadi penasaran dengan cerita Morgan.


"Namanya..." Morgan teringat dengan ucapan Samuel yang bilang jangan ngasih tau siapapun tentang Samuel yang pernah satu sekolah dengan dia dan Galvin. "Emm... namanya gak penting juga sih, lagian kenapa aku juga harus cerita sama kamu tentang si Galvin." Morgan malah cengengesan.


Aktor papan atas satu ini memang memiliki sifat yang gampang friendly dengan orang lain, banyak yang bilang dia itu sangat ramah.


"Hmm....iya kamu benar juga." Walaupun Hana sangat penasaran, dia tidak mungkin memaksa Morgan untuk cerita padanya. "Karna ada jadwal yang padat makanya syuting di undur. Masalah waktunya biar nanti saya kabari."


"Hmm... oke no problem."


"Ya sudah karena urusan pekerjaan kita sudah selesai, kalau begitu saya pamit kembali ke kantor."


"Lho ko buru-buru, bagaimana kalau ngopi bareng?" Rupanya Morgan memiliki ketertarikan pada Hana.


Namun Hana menolak ajakan Morgan, "Itu bukan bagian dari pekerjaan saya. Kalau begitu saya permisi." Hana pun memilih untuk pergi dari kantor Management itu. Hana sedikit membungkukkan badan pertanda hormat, lalu pergi dari sana.


Morgan hanya tersenyum menatap kepergian Hana, "Hmm... sangat menarik." gumamnya sambil tersenyum miring.


...****************...


Sementara Galvin saat ini menemui pemilik perusahaan Vixo untuk menawarkan kerjasama perusahaannya. Padahal perusahaan Galvin adalah perusahaan yang besar di negeri ini namun dia paling suka dengan tantangan, apalagi mendengar pemilik perusahaan itu sangat pemilih sekali.


"Bu, maaf ada CEO dari TVC Media ingin bertemu dengan ibu." Sekretaris Nikhita mencoba untuk memberitahu kedatangan Galvin padanya.


"Sudah saya bilang, saya tidak bisa bertemu dengan siapapun. Saya sangat sibuk." ucap Nikhita dengan mode galaknya.


"Tapi dia sedang menunggu di depan ruangan ibu."


"Saya bilang tidak bisa ya tidak bisa. Budeg ya kamu."


Galvin yang sedang berdiri di depan ruang CEO Vixo itu merasa semakin tertantang, dia terpaksa masuk ke dalam ingin bertemu langsung dengan Nikhita.


Ceklek!


"Apa anda Nikhita Watty?"


Sontak membuat Nikhita marah karena Galvin lancang sekali masuk tanpa seizin darinya. "Lancang sekali kamu...." Nikhita tak meneruskan perkataannya, matanya membulat dan berbinar-binar begitu melihat wajah Galvin yang sangat mempesona itu.


"De-dengan siapa?" Nikhita merendahkan volume suaranya.


Galvin tersenyum begitu menggoda, dia mengulurkan tangannya. "Nama saya Galvin, CEO dari TVC Media."


Nikhita menerima uluran tangan Galvin, begitu tangannya menyentuh tangan Galvin seakan ia terkena aliran listrik, sehingga dia makin tersihir dengan pesona Galvin. Apalagi ketika Galvin melepaskan tangan Nikhita, rasanya tidak rela jika tangan itu terlepas begitu saja.


"Silahkan duduk Pak Galvin." Nikhita menjadi ramah, sementara pandangannya tak bisa lepas dari Galvin.


"Kedatangan saya kesini untuk mengundang anda untuk kerja sama dengan perusahaan kami. Apalagi saya dengar Vixo saat ini akan launching produk baru."


Tanpa berpikir panjang Nikhita langsung menyetujui tawaran kerjasama itu, "Oh tentu saja, saya mau bekerjasama dengan anda." Padahal Nikhita hari ini ada janjian pertemuan dengan One-R perusahaan Samuel.


Makanya Samuel terkejut tiba-tiba Vixo membatalkan rencana pertemuan mereka, padahal dia sudah berada di dalam lift menuju ruang CEO.


Samuel mendengus kesal, "Hhh... berani sekali dia mempermainkan aku." ucapnya sambil melonggarkan dasi.


Begitu pintu lift terbuka dia melihat ada Galvin yang akan masuk ke dalam lift, keduanya kelihatan terkejut dengan pertemuan tidak terduga ini.


...****************...


Samuel mengajak Galvin untuk berbicara tak jauh dari kantor Vixo, tepatnya di gedung milik Vixo yang masih setengah jadi.


"Lagi-lagi lu mencuri klien gue!." Samuel terlihat marah sekali.


Galvin mencoba menghadapinya dengan tenang, "Gue gak pernah mencuri klien lu, bahkan gue gak tau Vixo ada janjian pertemuan sama lu. Dalam dunia bisnis itu namanya persaingan sudah biasa. Lagian Vixo belum menerima tawaran kerjasama dari lu. Bebas kan?"


"Bilang aja lu ingin membuat masalah sama gue. Lu pikir gue takut bersaing sama lu?"


Galvin malah terkekeh, "Nyatanya lu takut, lu takut kalah sama gue, lu gak terima kalah sama gue. Harusnya lu sadar perusahaan mana yang lebih berkualitas." Galvin mengatakannya dengan angkuhnya.


Samuel ikut terkekeh, "Nyatanya perusahaan lu akan secepatnya hancur menjadi sampah."


"Segitu bencinya lu sama gue, Sam? Tapi gue gak akan pernah membiarkan itu terjadi."


"Ya gara-gara lu Mitha meninggal. Dan gue pastikan akan menciptakan neraka buat lu!"


Galvin sangat emosi mendengarnya, namun dia mencoba untuk menahannya. "Mitha meninggal karena kecelakaan, dan lu tau itu, kenapa lu masih saja nyalahin gue heuh?"


"Dia gak akan kecelakaan kalau bukan gara-gara lu Vin. Dan lu malah terlihat baik-baik saja bersenang-senang dengan banyak wanita."


"Lalu lu maunya apa? Apa gue harus nangis tiap hari? Tanpa lu tau gue juga sering berkunjung ke makamnya."


"Semuanya gak cukup, sebelum gue melihat sendiri lu nangis darah di depan gue. Apa gue harus buat wanita yang lu cinta mati di depan lu heuh biar lu tau bagaimana rasanya kehilangan seperti gue kehilangan Mitha?"


Semenjak kehilangan Mitha, Samuel merasa dirinya seperti seorang monster karena tidak ada yang bisa mengontrol dirinya, dia seperti kehilangan arah dan tidak ada tempat untuk dijadikan bersandar. Sementara sang mama sibuk menikmati kekayaan peninggalan suaminya, jarang berada di rumah.


Galvin menyeringai, "Sayangnya gak ada cewek yang gue cinta. Karena cewek yang gue cinta sudah meninggal." Setelah mengatakan itu Galvin segera pergi, meninggalkan Samuel. Dia tidak ingin banyak berdebat apalagi saling menyakiti dengan pria yang pernah menjadi sahabatnya itu.


Rupanya Galvin datang ke sebuah pemakaman, disana ada batu nisan yang bertuliskan Hana Santiago dan tanggal lahirnya berbeda dgn dengan Hana yang sekarang, satu tahun lebih muda dari Hana Patricia.


Galvin menaburi kuburan itu dengan banyak bunga. Dan mengusap lembut batu nisannya. "Hal yang paling aku sesalkan dari hidup aku adalah aku tidak sempat berkenalan dengan baik sama kamu. Bahkan kamu mungkin tidak tau nama aku. Uniknya sekarang aku menikah dengan orang yang namanya sama dengan kamu, walaupun kadang aku lihat dia mirip dengan kamu, tapi mungkin hanya perasaan aku saja gara-gara nama kalian sama, penampilan kalian sangat berbeda, kepribadian juga."


"Hmm... aku minta maaf, seharusnya aku tidak cerita soal dia ke kamu. Secantik apapun dia walaupun nama kalian sama, namun tidak akan jd menggantikan posisi kamu di hati aku. Malah aku akan segera menceraikan wanita itu."


...****************...


...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...


...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...


...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....


...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya....