
"Jadi kita harus cek punggung kak Dara?" Zhoya tidak tau bagaimana caranya agar bisa melihat punggung Hana.
"Iya, aku harus mengeceknya." Galvin harus mengeceknya sendiri.
"Tapi bagaimana caranya kak?" tanya Zhoya lagi, penasaran.
Galvin mencoba mencari ide, "Emmm... caranya..."
Morgan memotong pembicaraan Galvin dan Zhoya, "Tapi tunggu dulu Vin, kalau dia Hana, dia pasti ingat kamu kan?"
Zhoya menganggukkan kepala, "Nah iya benar, kalau kak Dara itu ternyata kak Hana, dia pasti ingat sama suaminya lah. Apalagi Kak Dara saat ini tinggal bareng kekasihnya, dia bilang sendiri dia masih virgin. Sementara kak Galvin dan kak Hana pernah...ya pernah begitu." Zhoya merasa malu meneruskan perkatannya, apalagi kalau dia ingat dengan apa yang dia lihat tadi, senjatanya Morgan. Membuat wajahnya memerah.
Astaga, gede banget. Zhoya bergidik ngeri membayangkannya.
"Apa mungkin Hana hilang ingatan? Dan bisa jadi kan Justin itu Samuel?" Galvin mencoba menerka. Kemudian dia bertanya pada sepupunya itu, "Zhoy, kamu pernah gak lihat wajah kekasihnya tetangga kamu itu?"
"Gak pernah, hanya tau namanya, dia jarang keluar rumah. Apalagi sekarang ini kekasihnya lagi di kota Hamburg, dua hari lagi pulang."
"Sudah berapa lama mereka tinggal disini?" Tanya Galvin lagi.
"Emm... mungkin ada sekitar dua bulanan."
Galvin semakin yakin dengan kecurigaannya, "Makanya aku harus secepatnya memastikannya, agar aku bisa bawa lari dia jika benar dia adalah Hana. Aku yakin jika dia Hana, dia pasti memiliki bekas luka bakar di punggungnya. Tidak mungkin kan dua orang yang hanya sekedar mirip memiliki luka yang sama di tubuhnya."
Zhoya teringat dengan Hana yang sering mual, "Ah aku punya ide."
"Ide apa?" Galvin dan Morgan hampir bersamaan mengatakannya.
"Aku dengar kak Dara itu sering mual, bagaimana kalau kak Galvin menyamar jadi tukang kerok aja." Zhoya mengusulkan idenya.
"Mual kenapa?" Galvin sangat mengkhawatirkan Hana.
"Aku juga gak tau."
Morgan malah mentertawakan ide dari Zhoya "Hahaha... Emang di Jerman ada tukang kerok?"
Zhoya mendeliki Morgan yang malah mentertawakan ide darinya. "Gak ada, maksudnya biar aku bilang kalau aku punya kenalan dari Indonesia yang bisa ngerok gitu."
"Lah aku gak bisa ngerok." Keluhan Galvin.
"Apalagi aku, sama aku juga gak bisa. Tapi kan bisa cek youtube kak." usul Zhoya.
"Tapi dia mau di kerok sama laki-laki?" tanya Morgan lagi pada Zhoya.
"Kalau dia Samuel, bisa jadi dia dibunuh oleh Samuel." Galvin semakin curiga Justin itu Samuel.
Zhoya kaget mendengarnya, "Dibunuh? Apa orang yang bernama Samuel itu seorang pembunuh?" Dia ngeri mendengarnya.
"Ya begitu lah. Makanya kita harus secepatnya menemuinya untuk memastikan dia Hana atau bukan." Galvin sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Hana kembali.
Zhoya melihat jam yang bertengger di dinding, "Sekarang sudah jam 11 malam, lebih baik besok pagi kita ke rumah kak Dara. Penjagaan sangat ketat malam ini, apalagi bodyguardnya banyak. Agar diizinkan masuk kalian harus merubah penampilan kalian. Kak Dara bilang semua sudut rumah di pasang CCTV, untuk memantau pergerakan kak Dara dari kejauhan, makanya kak Dara kurang nyaman. Cuma rooftop aja yang belum dipasang CCTV. Tapi kalau malam hari biasanya ada bodyguard yang jaga."
Morgan dan Galvin mengerutkan keningnya, "Merubah penampilan bagaimana maksudnya?"
Zhoya hanya tersenyum smrik, karena itu lah satu-satunya cara menemui Hana. Hana tidak diizinkan bertemu dengan laki-laki. Terpaksa dia harus merubah penampilan Galvin dan Morgan menyamar jadi perempuan agar bisa diizinkan masuk ke dalam rumah, soalnya besok Hana dilarang keluar oleh Samuel. Samuel sering memperhatikan Hana yang sering keluar rumah menemui Zhoya karena itu dia membatasi Hana agar tidak terlalu sering keluar dari rumah.
Morgan nampak keberatan dengan ide gila dari Zhoya itu, "Kenapa gak kamu aja yang ngerokin dia? Nanti kamu foto terus kirim ke Galvin kalau misalnya di punggung Hana ada luka bakar." usulnya pada Zhoya.
Tapi Galvin tidak mengizinkan Zhoya untuk pergi ke rumah Hana sendirian, terlalu bahaya. "Aku gak mengizinkan Zhoya pergi sendirian kesana."
"Ya sudah kalian berdua saja, aku gak ikutan." Morgan sangat mempertahankan harga dirinya sebagai seorang pria.
"Wah kak Galvin, dapat teman dari mana kok gak solid banget." Zhoya malah mengejek Morgan.
Morgan tidak terima disebut tidak solid oleh Zhoya, dari cara Zhoya menatapnya, kelihatannya Zhoya sama sekali tidak tertarik pada Morgan. "Wah kamu gak tau siapa aku ya? Aku ini Morgan Xavier, aktor terpopuler di Indonesia. Dulu aku pernah berperan sebagai Diego di Film Terjebak Di Pulau Zombie, pasti tau kan kamu?"
Zhoya menggelengkan kepalanya, "Nggak. Gak penting juga buat aku."
Galvin ikut nimbrung dengan percakapan mereka, "Zhoya sudah lama tinggal di LN, gak akan kenal kamu. Ayahnya aja lebih terkenal dari kamu."
"Siapa?" Morgan penasaran.
"Roy Febrian."
Morgan terbelalak mendengarnya, "Roy Febrian, aktor Indonesia yang sukses menjadi aktor Hollywood itu?"
"Ya begitu lah my daddy." Zhoya tersenyum dengan penuh kebanggaan menatap Morgan.
"Terus kenapa kamu gak jadi artis?" Tanya Morgan kepada Zhoya, dia jadi penasaran kepada gadis itu.
"Aku gak mau jadi orang terkenal, aku ingin jadi pengusaha seperti mama."
"Hmm... ya sudah intinya aku gak akan ikutan besok. Aku disini saja. Bagaimana bisa seorang Morgan Xavier harus menyamar jadi seorang wanita. Runtuh harga diriku."