Mysterious Wife

Mysterious Wife
65



Karena kondisi hutan yang begitu gelap dan juga ada jalan yang terjal, saat masih sore Galvin melihat ada sebuah jurang. Karena itu Galvin memutuskan untuk bermalam di tengah hutan bersama Hana. Itu adalah cara yang paling aman untuk mereka.


Walaupun tanpa sepengetahuan mereka, dari pihak Green Forest tiada hentinya mencari mereka, sayangnya mereka mencari ke arah yang bersebrangan, sehingga tidak memungkinkan untuk menemukan Galvin dan Hana malam ini juga.


Galvin membuat sebuah api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka. Kebetulan dia kadang suka merokok makanya membawa korek api gas.


"Kamu suka merokok?" tanya Hana begitu melihat Galvin menyalakan api ke tumpukan kayu yang sudah dia kumpulkan memakai korek api gas.


"Kadang." jawab Galvin, dia fokus membuat api itu semakin sedikit berkobar. "Kalau aku pusing, kadang aku suka merokok, kadang minum juga."


"Itu gak baik untuk kesehatan."


Galvin tersenyum, seakan Hana sedang perhatian padanya. "Kamu mengkhawatirkan aku?"


"Tidak, aku sudah tidak berniat untuk membuat kamu jatuh cinta padaku lagi."


Galvin duduk di samping Hana, "Kenapa?"


"Karena playboy seperti kamu tidak pantas mendapatkan cinta aku." Ya Hana rasa dia memang harus menyerah dengan misi balas dendamnya. Dia merasa lelah karena sebenarnya dia bukanlah wanita yang jahat. Hana merasa tidak bisa menyakiti Galvin sampai menghancurkan hidupnya beserta perusahaannya, apalagi meracuninya sampai mati. Dia tidak tega melakukannya. Hana rasa lebih baik dia memilih pergi dari kehidupan Galvin setelah pernikahan mereka genap 1 bulan.


Perkataan Hana membuat hati Galvin nyelekit, tapi dia harus bisa menahannya, mungkin dulu dia lebih keterlaluan pada Hana. Kini giliran Galvin yang akan membuat Hana jatuh cinta padanya, bukan untuk mempermainkannya tapi untuk menahannya agar bisa hidup bersama dengannya.


Galvin dan Hana memeluk kedua lututnya masing-masing, mereka duduk berdekatan sambil memandangi api unggun.


"Hmm... aku punya sebuah cerita." Galvin ingin bercerita kepada Hana.


"Ini tentang cinta pertamaku."


"Apalagi tentang itu, untuk apa kamu menceritakan tentang cinta pertamamu padaku?" Hana malah sewot.


Galvin terkekeh, dia memilih tetap bercerita pada Hana, "Saat itu aku berantem dengan Morgan, kita dari dulu saat masih sekolah sering bertengkar dan berkelahi."


Ya aku tau dari dulu kamu selalu bermasalah.


"Aku tidak menyangka Morgan mengutuskan beberapa gangster untuk menghajar aku. Makanya aku lari kencang tidak kuat menghadapi mereka."


Hana hanya menghela nafas, dia tidak ingin mendengarkan apapun tentang masa lalu Galvin.


"Sampai aku terpaksa masuk ke gerbang rumah yang besar untuk bersembunyi. Dan aku melihat ada seorang gadis sedang menyiram bunga di halaman depan rumahnya."


Hana langsung menoleh ke arah Galvin, dia memang tau dan ingat tentang hal itu, pertemuan yang sama sekali tidak begitu berarti baginya bahkan tidak pernah memikirkan Galvin setelah pertemuan mereka dulu, karena dulu dia masih berusia 16 tahun, belum pernah tau rasanya menyukai seseorang.


"Saat itu aku bersembunyi di dekatnya, aku begitu tersentuh saat ada gangster yang menanyakan keberadaan aku, dia menjawab tidak tau. Secara tidak langsung dia sudah melindungi aku. Setelah itu aku selalu memikirkannya sampai tidak bisa tidur. Aku selalu memperhatikan dia dari kejauhan lewat rooftop sekolah."


Mata Hana berkaca-kaca mendengarnya, jadi cinta pertama Galvin adalah dirinya? Hana sama sekali tidak menyangka cinta Galvin begitu besar padanya.


Galvin memandangi Hana dengan tatapan yang begitu dalam membuat mereka saling berpandangan. "Gadis itu adalah cinta pertama aku."