
Galvin dan Hana memapah Morgan yang mabuk terlalu berat sampai berjalannya sempoyongan, menyanggakan lengan kiri Morgan ke bahu Galvin, lengan kanan Morgan ke bahu Hana.
Namun Morgan malah melepaskan Galvin, dia merangkul Hana. "Oh apakah ini mimpi, mengapa aku bisa bertemu lagi denganmu, cantik."
Hana menjadi serba salah di buatnya, apalagi dia melihat Galvin yang memandangi mereka seperti singa yang akan segera memangsa lawan.
Galvin sangat emosi melihatnya, dia memisahkan Morgan dengan Hana. Sampai Morgan terjatuh ke lantai.
"Galvin!" Hana reflek menatap tajam pada Galvin.
"Ups sorry. Gak sengaja ke dorong." Galvin mengatakannya tanpa merasa bersalah. Seharusnya dia tidak perlu membawa Morgan ke rumah kalau tau dia akan merangkul Hana.
"Woi bangun!" Galvin mengatakannya dengan nada pelan.
Morgan malah rebahan di lantai, "Hana, mau tidur denganku disini hm? Kasurnya sangat luas!" Morgan menepuk-nepuk lantai disampingnya menyuruh Hana untuk tidur disampingnya.
"Aishhh..." Galvin sangat kesal dibuatnya, ingin sekali dia menendang pria itu. Galvin terpaksa menggendong Morgan ke punggungnya. Dia tidak ingin melibatkan Hana untuk menolong pria yang sedang teler itu.
"Apa kamu kuat menggendongnya?" tanya Hana, dia tidak yakin karena postur tubuh Galvin dan Morgan hampir sama rata.
"Kamu meragukan kekuatan aku?" Galvin memamerkan otot di lengannya pada Hana.
Kemudian dia segera menarik nafas dalam-dalam, lalu berdiri membuat tubuh Morgan yang nemplok di punggungnya terangkat.
Wajah Galvin memerah, rupanya Morgan berat sekali. Tapi dia tidak boleh mempermalukan dirinya sendiri di depan Hana, dia harus terlihat macho, dia berpura-pura rilex, walaupun di dalam hatinya berkata : Buset, berat juga ternyata. Habis makan apa nih anak?
"Te-tenang saja a-aku kuattt." Galvin mengatakannya seperti sedang ngeden. Dia berjalan dengan pelan ke arah kamar tamu.
Hana hanya mengikutinya dari belakang sambil menahan tawa, ekspresi wajah Galvin tidak bisa berbohong kalau dia sebenarnya dia tidak kuat menggendong Morgan.
Buuukk...
Galvin menjatuhkan Morgan ke atas ranjang. Pria itu langsung meringkuk begitu saja, tidur terlelap, seorang tamu yang sangat merepotkan.
Krek...
Krek...
Galvin merenggangkan kedua tangannya dan lehernya sampai berbunyi. Apalagi punggungnya sangat pegal sekali.
"Kenapa harus menyelimutinya?" Protes Galvin saat melihat Hana menyelimuti Morgan dengan selimut tebal.
"Kasihan lah. Dia kelihatannya kedinginan sekali." jawab Hana dengan santai.
Galvin merasa sangat tidak adil. Selama ini Hana tidak pernah menyelimuti Galvin.
Mereka segera keluar dari kamar tamu itu, Galvin menarik Hana ke kamarnya.
"Hana, tolong pijitin punggung aku!"
Hana menghela nafas, ingin menolak tapi dia tidak tega juga melihatnya, "Makanya jangan sok kuat kalau faktanya kamu itu letoy."
Hana tak menjawab, dia hanya menatap Galvin seakan sedang meledeknya.
"Kamu gak percaya? Mau aku buktikan?" tantang Galvin.
"Oke, ayo kita berkelahi!" Ini kesempatan untuk Hana menghajar Galvin. Dia memperlihatkan kedua tinjunya pada Galvin.
Maksud Galvin berkelahi di atas ranjang, tapi Hana malah mengira berkelahi beneran, tanpa aba-aba Hana langsung menyerang Galvin, ingin meninju wajah Galvin.
Beruntung Galvin menahan tangan Hana.
Namun sayangnya giliran kaki Hana yang bergerak, menseleding kaki Galvin hingga dia terjatuh ke lantai di kamar sana.
Buuukk...
"Arrrggghhh!" Galvin meringis, malam ini benar-benar sial. Harus mendapatkan penyiksaan sana sini.
"Kamu bilang bisa berkelahi? Makanya jangan sok jago!" Hana tersenyum puas melihat Galvin yang terkapar di lantai.
Galvin segera berdiri, dia memasang wajah serius menatap Hana seakan menantangnya lagi.
Hana kembali menyerang Galvin, namun kali ini Galvin bisa menghindar, dia tidak ada niat untuk membalas tiap pukulan yang Hana layangkan pada tubuhnya. Dia hanya bisa menahan dan menghindar.
Hana ingin menseleding kembali kaki Galvin, namun berbeda dari sebelumnya, pria ini begitu kokoh untuk dia bisa jatuhkan seperti tadi.
Hana menghirup nafas dalam-dalam sambil mengumpulkan seluruh tenaganya, dia ingin menarik lengan Galvin, dan membanting tubuh pria itu. Namun ternyata kali ini Galvin begitu kuat.
Galvin hanya tersenyum melihat tingkah Hana yang seakan seperti sedang mengajaknya bermain.
Tanpa di duga, kini balik Galvin yang menyerang Hana, dia membalikkan badan Hana dan mengangkat tubuh Hana, membatingnya ke atas ranjang.
Buukk...
Untung kasurnya sangat empuk jadi Hana tidak merasa kesakitan sama sekali. Mungkin Galvin sengaja membanting tubuhnya kesana agar Hana tidak merasakan sakit.
Hana tidak tau rupanya Galvin bisa berkelahi, lantas mengapa selama ini dia mengalah padanya? Apa segitu menghargai seorang wanita makanya dia tidak pernah melawan saat Hana pernah menghajarnya beberapa kali.
Hana ingin bangkit. Namun tanpa di duga Galvin ternyata sudah berada di atas Hana, membuat Hana tidak bisa berkutik.
"Aku tidak mau berkelahi seperti yang tadi. Lebih baik kita berkelahi dengan cara yang lain saja." ucap Galvin sambil memandangi Hana yang berada di bawah kungkungannya. Dia menatap Hana dengan liar seperti akan menerkamnya.
Rupanya Galvin melupakan kata-kata yang kemarin saat bilang akan hanya satu kali, lalu dua kali. Dan ternyata tubuh Hana sangat candu untuknya. Dia rasa tidak ada salahnya memanfaatkan waktu yang tersisa selama dua minggu lagi ini. Toh status mereka suami istri walaupun hanya sementara.
...****************...
Visual Morgan