
Satu minggu berlalu...
Samuel telah dipenjara, bisa dipastikan dia mendapatkan hukuman mati atas semua perbuatan kejahatannya, namun ada satu hal yang paling membuatnya terpukul, ternyata Mitha mati bukan karena kecelakaan tapi ayahnya sengaja membuatnya celaka. Bahkan dia sudah melihat sendiri rekaman CCTV itu dari Morgan.
Saat itu Morgan marah pada Samuel sampai memukulinya dengan penuh amarah, dia menunjukkan pada Samuel video yang dia dapatkan dari Detektif Al.
"Kau tau apa yang aku sesali? Aku menyesal mengapa aku pernah bermusuhan dengan Galvin. Galvin memang terkadang terlihat angkuh, tapi sebenarnya dia orang yang sangat peduli."
Kata-kata Morgan itu terngiang di telinga Samuel. Mungkin jika Galvin tidak peduli, saat di klub itu dia akan meninggalkan Morgan yang tengah mabuk, tapi Galvin masih memikirkan reputasi Morgan sebagai seorang aktor, sampai membawanya ke rumah, padahal waktu itu mereka belum sedekat sekarang.
Bahkan Morgan enggan menjawab saat Samuel menanyakan bagaimana keadaan Galvin sekarang, pria itu malah menitikan air matanya.
"Mitha..." Samuel hanya bisa menangis, kemudian tertawa seperti orang gila, mentertawakan dirinya sendiri karena dia tidak bisa melindungi Mitha. Bahkan sekarang dia telah kehilangan Hana.
Hari ini dia kedatangan seorang tamu yang ingin bertemu dengannya, ibu kandungnya, sudah lama Samuel tidak pernah bertemu dengan ibu kandungnya, setelah kejadian dia sengaja membuat ayah tirinya celaka, ibunya selalu menghindar, memilih berpergian ke luar negeri.
Bu Lara, ibunya Samuel, matanya berkaca-kaca, menatap putra semata wayangnya kini menjadi seorang tahanan. "Sam..." Lirih Bu Lara memandangi Samuel yang tengah duduk menatap dingin padanya.
"Akhirnya kau pulang juga." Samuel mengatakannya dengan nada ketus.
"Maafkan ibu, Sam. Maafkan ibu." Bu Lara malah menangis, dia menggenggam tangan Samuel.
Tangan Bu Lara bergetar, memandangi Samuel dengan tatapan sayu. "Karena ibu takut, ibu takut padamu."
Samuel menitikan air matanya mendengar ucapan Bu Lara. Padahal dia membunuh ayah tirinya untuk melindungi sang ibu.
"Kau sama seperti ayahmu, membuat ibu sangat takut. Sekarang ibu menyesal, seharusnya ibu tidak menghindarimu. Seharusnya ibu selalu ada untukmu, nak. Mungkin dengan begitu kamu bisa hidup normal seperti orang lain." Bu Lara menangis.
Bu Lara ingin mengusap wajah Samuel, namun Samuel menahan tangan Bu Lara. "Ini terakhir kita bertemu, anggap saja anakmu ini sudah mati, karena suatu saat aku tidak akan ada lagi di dunia ini."
Setelah berkata begitu Samuel pergi menuju sel tahanan kembali, Samuel duduk di sudut sel, dia menangis, hati kecilnya ingin hidup normal seperti orang lain tapi dia tidak bisa mengendalikan jiwa pembunuh di dalam dirinya, yang sudah diterapkan dan diajarkan oleh Darius dari saat dia masih kecil.
Jika dia memutar ulang waktu itu, dia seharusnya melupakan dendamnya, mungkin dia akan hidup bahagia dengan Hana sekarang, bisa saja mereka mungkin sudah menjadi keluarga yang bahagia.
Yang Samuel rasakan kini adalah hatinya benar-benar sakit. Dia merasa hidupnya sendirian, tak ada yang mengerti dirinya. Setelah Mitha meninggal, Hana lah yang selalu mengerti dirinya. Hana selalu ada buatnya, menjadi pendengar setia saat dia berkeluh kesah, selalu menjadi rumah untuknya saat dia merasa lelah, tapi semua itu hancur karena ambisi balas dendamnya. Hati Hana sudah menjadi milik orang lain. Dia harus menerima itu semua.
Samuel menundukkan kepalanya sambil memeluk kedua lututnya, rasa sakit dihatinya adalah hukuman untuknya, rasanya lebih sakit dari apapun,bahkan mungkin akan dibawa sampai tiba saatnya dia dihukum mati.
Sementara itu, di sebuah pemakaman terlihat banyak orang yang memakai pakaian serba hitam, suara tangisan terdengar begitu jelas, malam kelam itu telah menjadi hari duka.