
Setelah membicarakan bisnis dengan Erland, Galvin segera menelpon Detektif Al, dia merasa kematian keluarga Hana itu sangat tidak wajar, bagaimana bisa semua keluarga Hana bisa meninggal dengan cara tragis seperti itu, apalagi Anya yang mati dengan menggenggam fotonya. Padahal mereka sama sekali tidak saling mengenal.
"Ada apa, Tuan Galvin?" Terdengar suara Detektif Al begitu mengangkat telepon dari Galvin.
"Aku ingin kamu memeriksa lebih detail tentang kematian keluarga Hana, apa penyebab rumah Hana kebakaran 6 tahun yang lalu, dan juga mengapa adiknya Hana bunuh diri, aku rasa ada yang menjanggal dengan semua itu."
"Baik, Tuan Galvin, akan saya usahakan secepatnya."
"Iya terimakasih Detektif Al. Dan satu lagi, aku ingin kamu memeriksa kuburan yang bernamakan Hana Santiago, nanti saya kirimkan dimana letak makamnya."
Detektif Al mengerutkan keningnya, "Apa ada seseorang membuat kuburan palsu seolah itu kuburan istri anda?"
"Iya, saat aku pulang dari Singapore, aku sengaja ingin melewati rumah Hana, ternyata rumahnya hangus terbakar 6 tahun yang lalu, dan aku bertemu dengan seseorang yang mengaku tetangganya Hana, dia bilang semua yang tinggal di rumah Hana meninggal. Bahkan dia menunjukkan dimana makam Hana." Galvin menceritakannya dengan panjang lebar.
Detektif Al berpikir sejenak, "Sebuah sekenario yang sempurna. Itu artinya dia tau anda menyukai Hana. Dan juga dia diam-diam memperhatikan gerak gerik anda makanya dia tau anda datang ke rumah Hana saat itu. Dan dia sudah mempersiapkan seseorang berpura-pura menjadi tetangga Hana, untuk membuat sebuah kebohongan."
Galvin terperangah mendengarnya, sampai dia merinding, ternyata selama ini ada juga orang yang memiliki pemikiran licik seperti itu. Dan kini pikirannya tertuju pada seseorang, siapa lagi kalau bukan Samuel, walaupun hatinya terasa perih mengapa Samuel tega melakukan semua ini padanya. Apa yang dilakukan Samuel itu sungguh di luar nalar.
"Dan itu semua hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang mengalami gangguan kepribadian, lebih tepatnya bisa saja dia itu seorang psikopat."
"Psikopat?" Galvin tercengang mendengar penjelasan dari Detektif Al, padahal selama dia kenal dengan Samuel, dia tidak pernah menunjukkan keanehan pada sikapnya.
"Iya, karena itu anda harus waspada Tuan Galvin, dan juga istri anda berada dalam bahaya. Anda harus melindunginya."
Walaupun ini baru saja dugaan karena semua bukti belum ada tentang kejahatan Samuel, sungguh membuat Galvin ngeri, jika ternyata benar Samuel itu seorang psikopat, dia tidak akan membiarkan lagi Hana bertemu dengannya.
"Ya sudah, kalau begitu tolong selidik apa yang aku perintahkan." Galvin mengakhiri panggilan teleponnya dengan Detektif Al.
Galvin memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Dia berjalan dengan cepat menuju bubble hotel kamar no 14, ingin segera bertemu dengan Hana. Dia tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Hana kehilangan keluarganya yang harus mati secara mengenaskan.
Galvin sangat menyesal, pasti dia juga menambah luka di hati Hana atas semua sikap dan perkataannya, mungkin Hana menahan rasa sakit hatinya karena demi balas dendam salah sasarannya itu. Makanya dia merasa pantas jika sekarang ini Hana jual mahal padanya dan Hana bersikap jutek padanya, karena dia telah menyakiti Hana.
Semuanya akan segera berakhir Hana, begitu semuanya terungkap siapa yang menyebabkan keluarga kamu meninggal.
Galvin masuk ke dalam bubble hotel, "Hana..."
Galvin mematung, saat melihat Hana yang hanya memakai bathrobe saja, wanita itu tersenyum manis padanya, sebuah senyuman yang terlihat begitu sangat tulus padanya. Baru kali ini dia merasakan itu.
Hana berjalan mendekati Galvin, dia mengalungkan kedua tangannya pada leher Galvin, "Aku menginginkan kamu sore ini, bisa kan?"
Galvin tidak mngerti mengapa Hana tiba-tiba memintanya untuk bercinta dengannya, padahal selama mereka beberapa kali bercinta pasti Hana selalu berusaha untuk berontak walaupun akhirnya dia kalah dan ikut menikmatinya.
Dan sore ini Hana begitu berbeda, dia terlihat ceria sekali dan tersenyum manis padanya dengan hanya menggunakan bathrobe, penampilannya sungguh begitu menggoda, apalagi rasanya seperti mimpi tiba-tiba Hana yang meminta duluan.
Maafkan aku, setidaknya aku ingin meninggalkan kenangan manis untukmu, Galvin.
Hana menjadi merasa bersalah pada Galvin begitu membaca pesan dari Pingkan.
...****************...
...Karena ada Piala Dunia jadi sering bergadang, maafkan hari ini up satu bab. Bangun kesiangan hehe, otw tidur lagi, oh salah, berangkat kerja 🙏...