Mysterious Wife

Mysterious Wife
48



Galvin mencondongkan badannya pada Hana, "Malam itu kamu menggoda aku, kamu sama sekali tidak ingat bagaimana cara kamu menggoda aku? Apa kita harus melakukannya lagi biar kamu ingat, hm?"


Seketika wajah Hana memerah begitu mendengar perkataan Galvin, apa mungkin malam itu nyata bukan mimpi?


Tapi Hana mencoba mengelak, dia yakin malam itu hanya mimpi mengingat saat bangun tidur dia masih berpakaian lengkap dan tidak ada noda merah di seprai.


"Mengapa kamu datang kesini? Bukannya malam ini kamu akan bersenang-senang dengan Lea di kamar hotel?"


Hana tidak tau bahwa Galvin sudah memutuskan Lea bahkan membatalkan rencana untuk tidur dengan Lea. Bagaimana bisa melakukannya dengan Lea sementara tubuhnya tidak merespon saat Lea telanjang di dekatnya. Dia rasa badannya telah kecanduan dengan tubuh seorang Hana, walaupun Galvin sempat mengelaknya tapi akhirnya dia sadar kalau tubuhnya hanya menginginkan seorang Hana. Seorang wanita yang mungkin saja akan menghancurkan hidupnya suatu saat nanti.


Mereka melihat Morgan yang datang kembali, membuat obrolan mereka terpaksa berhenti.


"Sepertinya malam ini Hana tidak bisa lama-lama disini, karena aku memiliki urusan dengan Hana." Galvin segera berdiri, dia menarik tangan Hana agar ikut pulang bersamanya.


"Urusan apa?" Tanya Morgan, penasaran.


"Tapi pembicaraan aku dengan Morgan belum..."


Galvin tidak peduli dengan protes dari Hana, dia terus menarik Hana, membawanya untuk ikut pulang dengannya.


Morgan hanya menatap mereka dengan penuh keheranan, "Ada urusan apa malam-malam begini? Apa mereka akan lembur bekerja?"


...****************...


Galvin dan Hana telah sampai di depan rumah. Hana langsung keluar dari mobil dengan perasaan kesal, dia tidak mengerti malam ini mengapa dia sangat kesal pada Galvin.


Galvin mengikuti Hana yang baru masuk ke dalam rumah.


"Memangnya kita ada urusan apa? Bukannya malam ini kamu akan bertemu dengan Lea di hotel?"


"Aku sudah membatalkannya." jawab Galvin sambil berjalan mendekati Hana.


Hana menjadi gugup karena Galvin terus saja berjalan ke arahnya sambil menatapnya seperti binatang buas yang akan menerkamnya. Hana reflek mundur.


"Stop! Jangan mendekat! Atau mau aku hajar?" Hana memperlihatkan bogemnya.


"Galvin!" Protes Hana, dia tidak menyangka ternyata tenaga Galvin kuat juga membuat dia tidak bisa berkutik karena Galvin mengunci tubuhnya.


"Aku tidak jadi tidur dengan Lea." Galvin mengatakannya sambil menatap dengan intens kedua bola mata Hana.


"Kenapa?" Hana tidak mengerti mengapa dia merasa lega mendengarnya.


"Karena aku ingin tidur dengan kamu malam ini, seperti malam itu saat kita melakukan malam pertama kita."


Hana terbelalak mendengarnya, apa mungkin malam itu benar-benar bukan mimpi?


"Aku tau kamu membohongi aku? Kenapa kamu melakukannya?" Galvin pura-pura tidak tau mengenai hubungan Hana dengan Samuel, dia ingin tau apa jawaban dari Hana.


Hana mencoba mengelak, rasanya sungguh tidak percaya bagaimana bisa tiba-tiba dia tidak perawan lagi. "Kamu pasti bohong kan? Jangan bercanda deh!" Hana terkekeh, dia pura-pura menganggap perkataan Galvin itu lucu.


"Baiklah, aku akan membuktikannya!" Galvin menghentakan tubuh Hana ke dinding, dia mengunci tubuh Hana dan meraup bibirnya. Mencium bibirnya dengan sangat rakus.


"Emhh...emmhh..." Hana mencoba berontak, dia memukul-mukul dada Galvin, ternyata Galvin sangat kuat sekali sampai dia susah itu melepaskan diri dari Galvin.


Galvin menggigit bibir bawah Hana sampai mulutnya sedikit terbuka, membuat lidahnya bisa leluasa masuk ke dalam, menjelajahi ke setiap sudut mulut Hana.


Galvin mencumbu dan melu-mat bibir Hana dengan penuh gairah, mencium bibirnya semakin dalam. Membuat pertahanan Hana terguncang, dia ingin berontak tapi ciuman Galvin terasa sangat memabukan untuknya.


Ciuman Galvin kini terasa lembut tapi panas, membuat pukulan Hana ke dada Galvin semakin lama semakin lemah, rasanya benar-benar gila ketika dia ikut terhanyut ke dalam pusaran gairah ciuman panas mereka.


Jika bisa memutar waktu, Galvin akan memilih tidak akan menyentuh Hana waktu itu, karena pikiran dan tubuhnya tidak sejalan. Bibirnya berkata tidak ingin menyentuh Hana, tapi berbanding terbalik dengan badannya yang menginginkan Hana, musuh dalam selimutnya, wanita yang mungkin akan menyakitinya suatu hari nanti.


Tapi malam ini Galvin tak bisa mengontrol dirinya sendiri, dia ingin mengulanginya lagi bagaimana dia menjelajahi tubuh wanita itu dan bercinta dengannya. Tak peduli Hana siapa. Tak peduli Hana telah menjebaknya. Tak peduli Hana kekasihnya Samuel. Yang pasti malam ini dia ingin melepaskan hasratnya pada wanita itu, karena hanya wanita itu yang membuat Galvin tak bisa menahan diri.


Walaupun dia berharap setelah ini dia tidak akan menyentuh Hana lagi. Cukup dua kali. Dia berharap begitu.


Akan ku buat kau menyesal Samuel , karena telah mengirimkan kekasihmu padaku.