
Pagi hari itu, Hana sangat penasaran dengan ruang bawah tanah yang letaknya berada di bagian belakang rumah, dia tidak mengerti mengapa Samuel melarangnya untuk pergi kesana, sementara selama dua bulan ini dia beberapa kali memergoki Samuel yang habis keluar dari sana.
Selama tinggal bersama Samuel, Hana diperlakukan seperti seorang ratu oleh kekasihnya itu, Samuel begitu baik padanya. Namun selama dua bulan itu Hana tidak bisa menumbuhkan kembali rasa cintanya pada Samuel, semuanya sangat terasa hambar.
Ada beberapa kejanggalan yang dia rasakan selama hidup bersama dengan Samuel. Samuel begitu posesif padanya dan tidak boleh bertegur sapa dengan laki-laki, Samuel tidak mengizinkan Hana masuk ke ruang bawah tanah, Samuel kelihatan tidak suka setiap Hana menanyakan soal keluarganya dan apapun soal masa lalunya, bahkan Samuel tidak pernah mencoba untuk membuat Hana teringat kembali dengan masa lalunya. Samuel memberikannya ponsel, tapi Hana hanya boleh mengsave nomor Samuel saja dan juga melarang Hana berkomunikasi dengan orang lain termasuk Zhoya.
Karena itu pagi ini Hana bertekad untuk masuk ke dalam ruang bawah tanah walaupun dia sangat ketakutan. Kebetulan di sekitar sana Samuel sengaja tidak memasang kamera jadi Hana tidak takut akan ketahuan oleh Samuel. Hana berjalan dengan pelan masuk ke bagian belakang rumah, lalu dia turun melewati anak tangga satu persatu. Sayang sekali rupanya pintu ruang bawah tanah itu di gembok.
"Sebenarnya apa yang Justin sembunyikan dariku? Mengapa aku tidak boleh masuk ke ruang bawah tanah ini?" Hana malah semakin penasaran.
Hana naik ke atas lagi, dia mencoba mencari sesuatu untuk bisa menghancurkan gembok itu. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah palu besar.
Begitu tiba di depan pintu ruang bawah tanah, Hana memukulkan palu besar itu dengan sekuat tenaga menghantam gembok beberapa kali, sampai Hana berhasil merusak gembok itu.
Hana menghirup nafas dalam-dalam, dia sangat gemeteran sekali untuk membuka pintu ruang bawah tanah itu.
Hana masuk ke dalam dengan perasaan tak karuan. Rasanya sangat menakutkan dengan suasana gelap di ruang bawah tanah itu. Hana harus turun melewati tangga kembali , dia mencium bau busuk disana. Hana menutup hidungnya dengan tangan kanan.
Hana meraba-raba dinding, mencari saklar lampu disana, sampai tangannya tak sengaja menekan saklar lampu, dan lampu itu pun menyalakan walaupun nampak temaram, tapi cukup bisa membuat Hana melihat apa yang ada disana.
Hana sangat ketakutan sekali melihatnya, sampai dia terduduk di sudut ruang bawah tanah itu karena tiba-tiba merasakan kepalanya pusing.
Bayang-bayang di masa lalu kini terlintas di kepalanya saat dia masih kecil, waktu dia di culik oleh ayahnya Samuel. Saat itu Hana masih kecil, berusia 5 tahun, dia hanya bisa menangis dan menangis memangil nama papa dan mamanya. Apalagi wajah Darius begitu menakutkan waktu itu.
Bahkan dia teringat jelas dengan peristiwa kebakaran rumah yang telah menewaskan kedua orang tuanya, setelah menyelamatkan Anya keluar rumah, Hana berusaha masuk lagi ke dalam namun sayangnya api berkobar semakin besar.
"Mama... Papa....!" Hana menangis sejadi-jadinya begitu teringat dengan kedua orang tuanya.
"Anya, kamu dimana?" Hana teringat kembali dengan adiknya. Dia baru bisa mengingat kejadian saat dia masih remaja ke belakang. "Anya!"
Wajah Hana memucat, dia seakan kehilangan kekuatan untuk berdiri, dia benar-benar takut, hanya bisa memegang kepalanya yang terasa sangat pening. Dadanya terasa begitu sesak.
Mengapa ada mayat disana? Apa Samuel telah membunuh seseorang makanya melarang Hana masuk ke ruang bawah tanah? Hati Hana bertanya-tanya dan takut untuk bertemu Samuel kembali.
"Kak Dara, ini aku Zhoya."
Hana mendengar suara Zhoya walaupun terdengar samar-samar, suara itu memberikan kekuatan padanya untuk bangkit, Hana segera belari untuk menemui Zhoya.