Mysterious Wife

Mysterious Wife
71



Galvin merasakan ada keanehan dengan sikap Hana, tidak seperti biasanya dia bersikap manis dan manja seperti itu, apalagi sekarang dia malah meminta duluan padanya, walaupun sebenarnya hatinya sangat senang.


Namun Galvin tidak tega melakukannya karena tau kaki Hana sedang terluka. "Jangan menggodaku, kakimu sedang terluka!"


"Hanya sedikit, buktinya aku bisa berjalan." Hana malah tersenyum menggoda Galvin, masih mengalungkan tangannya ke leher Galvin, dia merapatkan badannya. Membuat ada sesuatu yang bergejolak di dalam tubuh Galvin.


"Bukannya kamu selalu menolak aku?" Galvin tidak mengerti mengapa Hana tiba-tiba ingin disentuh olehnya. Dia berusaha untuk menahan diri.


"Apa salah seorang jika istri memintanya pada suaminya sendiri? Bahkan kamu sudah mengakui aku istri kamu di depan orang banyak." Hana menjijitkan kakinya ingin mencium bibir Galvin.


Namun Galvin malah menahan bibir Hana dengan tangannya, dia merasakan ada yang aneh pada Hana, walaupun dia tau Hana beberapa kali mencoba ingin membuat dia jatuh cinta padanya, tapi Hana tak pernah ingin berkontak fisik dengannya, mereka beberapa kali bercinta juga karena Galvin yang maksa.


"Melihat sikapmu begini malah terasa aneh." Galvin menyentuh telapak tangannya pada kening Hana, "Apa kamu sakit?"


Hana malah mengerucutkan bibirnya, "Hmm... ya sudah kalau tidak mau. Tadinya aku ingin merayakan pernikahan kita, karena sudah diketahui banyak orang."


"Tapi kaki kamu sedang sakit."


"Lukanya hanya sedikit kok. Aku bisa menahannya, buktinya aku bisa bergerak sekarang." Hana melepaskan Galvin, dia mundur, dia tersenyum menggoda Galvin, lalu berputar dengan indah.


Wanita itu sungguh terlihat begitu menggoda. Ingin sekali Galvin langsung menerkamnya.


Galvin malah menggendong tubuh Hana, membuat Hana terkesiap mengalungkan kedua tangannya pada leher Galvin.


Galvin membawa Hana ke atas ranjang, dia membaringkan tubuhnya disana.


Galvin membawa remot di atas nakas, dan menekan tombol off, agar tidak ada yang melihat mereka dari luar sana. Sebaliknya, mereka bisa melihat dengan jelas bagaimana suasana di luar, suasana hutan yang indah dihiasi lampu malam, termasuk bagaimana awan yang sudah mulai menghitam.


"Tidur lah, sebentar lagi mulai malam. Aku mengajak kamu menginap disini agar kamu bisa beristirahat, bukan membuat kamu kelelahan."


Galvin memperhatikan makanan yang sudah dia pesan dan meminta waiters untuk mengantarkannya langsung pada Hana, rupanya makanannya masih utuh, di atas nakas.


"Kamu belum makan?"


"Aku ingin makan bersama kamu, makanya aku menunggu."


Galvin malah menghela nafas, "Lalu kenapa malah memakai baju itu? Yang ada kamu yang ingin aku makan." Galvin memprotes bathrobe yang dipakai Hana.


Galvin membawa piring di atas nakas, untuk pertama kalinya dia menyuapi seorang wanita. Hana pun terduduk di atas kasur, dia membiarkan Galvin menyuapinya.


Dibalik sikapnya yang angkuh dan menyebalkan, rupanya Galvin adalah seorang pria yang sangat lembut, hati Hana begitu tersentuh dengan perlakuan Galvin padanya.


Membuat Hana semakin merasa bersalah padanya jika mengingat bagaimana cara dia menjebak Galvin, membuat dia terpaksa menikahi Hana, apalagi hampir saja dia meracuni Galvin. Dia semakin merasa bersalah setelah dia tau bahwa Galvin mencintainya, dia rasa dia tidak pantas mendapatkan rasa cinta itu.


Maafkan aku Galvin, seandainya saja kita bertemu lagi dengan cara yang berbeda, aku ingin bisa memulai dari awal dengan kamu. Menikah dengan kamu dengan penuh cinta, tanpa ada rasa keterpaksaan.


Hana sangat malu karena telah balas dendam pada Galvin, padahal Galvin tidak memiliki kesalahan apapun pada adiknya. Malahan Galvin dan Anya sama sekali saling tidak mengenal satu sama lain.


Tanpa sadar Hana meneteskan air matanya.