Mysterious Wife

Mysterious Wife
42



Galvin menyeruput kopinya sambil pandangannya fokus ke laptop, saat ini dia masih berada di kamarnya, dia dari tadi terus saja mengawasi gerak-getik Hana di kamera CCTV itu.


Dia terbelalak saat melihat Hana yang habis mandi, dia melihat Hana yang hanya memakai handuk saja, sangat seksi sekali.


"Ohokkk...Ohokkk..." Galvin tersendak saat melihat Hana yang membuka handuknya sehingga wanita itu benar-benar terlihat telanjang.


Galvin menepuk-nepuk dadanya, wajahnya memerah memperhatikan Hana yang sedang memilih pakaian di dalam lemarinya, sementara dirinya sedang berdiri tanpa memakai kain apapun karena merasa berada di dalam kamarnya sendiri.


Galvin segera menutup laptopnya, dia menghirup nafas dalam-dalam seakan telah kehabisan oksigen, gara-gara melihat Hana telanjang seperti itu membuat Galvin teringat kembali dengan semalam saat dia bercinta dengan Hana. Dia tidak menyangka rasanya sangat senikmat itu. Yang pasti durasinya lebih dari 16 menit hehe...


"Oke lupakan tentang semalam, itu adalah pelajaran bagi dia kenapa juga harus menjebak aku."


Galvin membuka laptopnya kembali, rupanya Hana masih sibuk memilih pakaian yang ingin dia pakai. Membuat Galvin fokus memperhatikan tubuh Hana yang telanjang itu dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Kenapa dia lama sekali memilih pakaiannya? Mengapa harus telanjang juga? Padahal bisa kan memilih pakaian tanpa perlu melepaskan handuk?" Tubuh Galvin terasa panas melihat Hana yang telanjang seperti itu.


"Ingat Galvin, jangan menyentuhnya lagi, cukup hanya satu kali, hanya satu kali oke." Galvin mencoba memperingatkan dirinya sendiri. Karena mungkin ke depannya dia harus kuat jika melihat Hana yang akan sering telanjang seperti itu di kamarnya.


...****************...


"Hari ini aku akan telat datang ke kantor." ucap Hana, saat itu dia sedang sarapan pagi bersama Galvin.


Galvin memilih bersikap seperti biasanya walaupun hatinya kecewa dan membenci Hana karena telah tega menipu dirinya.


"Kenapa?" tanya Galvin dengan nada ketus.


"Aku harus mengunjungi adikku dulu."


Galvin sama sekali tidak peduli soal Hana yang ternyata memilki seorang adik, dia tidak ingin mengetahui apapun soal Hana.


"Oke." jawab Galvin dengan singkat.


Ternyata pagi ini Galvin mengikuti Hana. Dia mengikuti kemana arah bus melaju, sementara dirinya memakai mobilnya sendiri. Dia ingin tau pagi ini istrinya itu bertemu dengan siapa sampai berbohong telat datang ke kantor karena ingin menemui adiknya dulu.


"Mengapa dia malah pergi ke pemakaman? Apa adiknya sudah meninggal?" Galvin berbicara dengan dirinya sendiri.


Hana menangis sambil menaburkan banyak bunga ke makam Anya, setiap mengingat Anya pasti dia akan menangis. Dia merasa gagal menjadi seorang kakak karena tidak bisa melindungi adiknya sendiri.


"Maafkan kakak, Anya. Maafkan kakak." Hana menghapus air matanya yang dari tadi menetes.


"Kakak tau apa yang kakak lakukan ini salah. Tapi siapapun orangnya yang telah menyakiti kamu, dia harus menerima akibatnya."


Air mata Hana mengalir kembali, dia begitu sangat merindukan Anya. Hatinya selalu sakit jika mengingat semua kenangannya bersama Anya. "Anya..." Hana menangis semakin terisak memeluk batu nisan yang bernamakan Anya itu.


...****************...


Galvin melihat Hana yang keluar dari pemakaman, dia melihat mata Hana yang sembab seperti habis menangis. Baru kali ini Galvin melihat Hana sesedih itu.


Hampir saja membuat hati Galvin tersentuh, dia memperingatkan hatinya agar tidak tersentuh oleh Hana apalagi sampai jatuh cinta pada Hana karena ternyata istri sirinya itu sangat berbahaya.


Hana seperti penipu ulung yang sengaja membuat seprai berdarah seolah-olah dia telah kehilangan kehormatannya oleh Galvin dan memperlihatkan foto-foto seolah mereka sedang berhubungan badan. Bahkan dia telah berani datang ke rumahnya sampai keluarganya tau dia telah tidur dengan Hana, hingga akhirnya mereka menikah secara siri.


"Wanita itu mengerikan sekali." ucap Galvin jika mengingat jebakan yang telah Hana buat sehingga dia bisa menikahi Hana.


Galvin mengikuti Hana lagi. Rupanya Hana naik bus kembali.


"Mau pergi kemana lagi dia? Apa dia akan menemui kekasihnya?" Galvin berbicara pada dirinya sendiri.


Sampai bus itu berhenti di depan halte bus yang tak jauh dari sebuah apartemen, dan Hana turun dari bus itu. Dan Galvin menghentikan mobilnya di seberang jalan yang lumayan jauh jaraknya dari Hana.


Betapa terkejutnya Galvin saat melihat ada Samuel yang sedang berdiri di depan halte bus itu, "Samuel?"


Galvin lebih terkejut begitu melihat Hana tersenyum menghampiri Samuel. Mereka berdua tersenyum dan saling berpandangan, lalu Samuel membelai mesra rambut Hana.


Galvin menggigit bibir bawahnya, mengepalkan tangannya, akhirnya dia tau rupanya Hana sengaja menjebaknya karena ada hubungannya dengan Samuel. Galvin sangat merasa hidupnya di permainkan oleh mereka berdua.