
"Kamu kemana saja hm? Mengapa seperti menghindari aku." tanya Samuel sambil memeluk Pingkan dari belakang.
Bagi Samuel Pingkan hanyalah sebuah mainan yang bisa dia mainkan sesuka hatinya. Setelah dia bosan maka dia akan membuangnya dengan sesuka hatinya. Tentu saja harus membuatnya tutup mulut untuk selama-lamanya karena Pingkan tau rahasia besar tentang dirinya.
Namun saat ini Samuel masih membutuhkan Pingkan untuk melampiaskan hasratnya. Setiap dia merasa ingin melakukanya dengan Hana, pasti pingkan lah pelariannya. Apalagi sekarang hati Samuel sedang tidak tenang begitu membaca pesan dari Hana yang bilang Galvin mulai tertarik pada kekasihnya itu.
Untuk melampiaskan kekesalan itu, Samuel memilih pergi ke apartemen Pingkan. Sudah beberapa hari Pingkan sulit dihubungi seolah-olah ingin menghindari Samuel. Mungkin karena Pingkan takut jika terus berada di dekat orang seperti Samuel, dulu dia telah dibutakan cinta sampai rela menjadi selingkuhan Samuel karena belum tau kepribadian Samuel yang sebenarnya.
Apalagi Pingkan sangat merasa bersalah pada Anya, karena bagaimana pun juga Anya adalah sahabatnya.
"Hmm... aku banyak sekali tugas kuliah sayang. Makanya aku sibuk sekali." jawab Pingkan. Dia tidak ingin terlihat takut di depan Samuel.
Samuel membalikkan badan Pingkan, sehingga mereka saling berhadapan. "Sudah ku katakan, jika aku membutuhkan kamu. Kamu harus selalu ada."
"Maafkan aku Sam..."
Samuel membuka kacing baju Pingkan. "Aku sangat membutuhkan kamu sekarang. Aku sedang kesal."
"Kenapa?"
"Aku juga tidak tau. Aku hanya ingin marah. Tapi aku tidak tau marah karena apa." Samuel melepaskan baju Pingkan dan membuangnya ngasal. Lalu membuka pengait bra dipunggung Pingkan.
"Sam."
"Kenapa?"
"Jika aku hamil bagaimana? Kamu tau kan aku hanya melakukannya bersama kamu." Pingkan jadi teringat saat dulu dia diam-diam naksir Samuel karena sering bertemu saat dia datang ke rumah Anya, kebetulan ada Samuel disana menemui Hana.
Rupanya Samuel tau Pingkan naksir padanya, makanya tanpa Pingkan sadari Pingkan juga masuk ke dalam skenario balas dendamnya, dia ingin Pingkan meyakinkan Hana bahwa Galvin adalah orang yang telah membuat Anya meninggal Karena itu Samuel memanfaatkan Pingkan, apalagi Samuel telah merampas kehormatan Pingkan di buat seolah-olah mereka sama-sama mabuk karena terjadi one night stand, karena Pingkan sangat mencintai Samuel apalagi kehormatannya telah di renggut oleh Samuel, makanya dia rela menjadi selingkuhan Samuel, membuat dia semakin dibutakan cinta.
Samuel tak langsung menjawab, karena mulutnya sedang sibuk menghisap p@yud@ra Pingkan. Sementara tangannya sibuk memainkan ladangnya di bawah sana.
"Emmhhh..." Samuel memang selalu membuat Pingkan tak berdaya.
"Bukannya kamu selalu memakai pil kontrasepsi?"
"Iya, tapi aku hanya ingin tau aja, jika aku hamil, apa kamu akan bertanggungjawab, ahhh... Sam." Pingkan menjerit begitu merasakan tangan Samuel semakin cepat bergerak dibawah sana.
Samuel tidak ingin menjawab pertanyaan dari Pingkan. Dia berlutut, membuka celana Pingkan, lalu menciumi paha Pingkan, dan kain segitiga yang membungkus surga dunianya.
"Kau tau kan apa tujuan aku datang kesini? Aku ingin bersenang-senang dengan kamu. Jadi jangan bertanya sesuatu yang membuat aku kesal." Samuel mengatakannya sambil membuka kain segitaga itu, membuangnya ngasal.
Samuel langsung melahap milik Pingkan, mengobrak abrik dengan mulutnya.
"Ahhh... Sam..." Pingkan memang selalu kalah dengan permainan Samuel. Dia semakin menjerit begitu merasakan lidah Samuel masuk ke dalam.
"Ahhh..."
Setelah merasakan Pingkan mencapai pelepasannya. Samuel segera membuka celananya, dia menyeret Pingkan ke dinding. Mengangkat satu kaki Pingkan, dan...
bless....
Samuel begitu mudah memasukkan jantannya ke dalam Pingkan, dia menggerakkan pinggulnya mengahantam Pingkan yang berdiri bersandar di dinding.
...****************...
Sementara Hana dan Galvin, mereka harus segera pulang mengingat nanti malam akan datang ke pesta ulang tahun perusahaan Vixo.
"Bagaimana kalau kita naik taxi?" tanya Galvin, saat itu dia sedang berada di halte bus bersama Hana.
Galvin tidak ingin naik bus lagi, setelah terjadi insiden yang terjadi pada dirinya karena dia harus kecopetan dan juga melihat Hana yang hampir saja mau di lecehkan. Apalagi dia harus berdiri di sepanjang perjalanan.
Hana melihat ada sebuah bus berhenti di depan mereka. "Kamu saja. Aku ingin naik bus."
Hana segera masuk ke dalam bus.
Galvin merasa kesal pada wanita itu, "Wanita keras kepala." keluhnya, dia terpaksa ikut masuk ke dalam bus juga.
Rupanya sore ini tidak begitu banyak penumpang disana, jadi Hana dan Galvin bisa duduk berdua di kursi bagian tengah. Saat itu posisi Hana yang berada di dekat jendela.
"Apa aku harus berdandan cantik nanti malam?" tanya Hana.
"Untuk apa? Mau didandani bagaimana pun juga kamu akan terlihat jelek di depan aku."
Hana menghela nafas begitu mendengarkan jawaban dari Galvin, "Baiklah jangan menyesal jika istri jelek kamu ini banyak yang naksir." Kemudian Hana menguap karena mungkin semalam dia tidak tidur nyenyak makanya sore ini dia begitu ngantuk.
"Huammm..." Hana menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Galvin terkekeh seakan meledek ucapan Hana. "Jangan karena sudah mentraktir aku makan, kamu pikir aku akan luluh padamu."
"Terus kenapa kamu ngikutin aku?"
"Aku gak ngikutin kamu, sudah aku bilang, aku hanya ingin mencoba naik bus saja."
Hana mulai manggut-manggut, rasa ngantuk semakin menguasai dirinya, sampai dia tidak konsetrasi saat Galvin terus saja bicara berbagai macam alasan agar Hana yakin bahwa Galvin tidak mengikutinya.
Sampai Hana tidak sadar begitu kepalanya malah bersandar ke bahu Galvin dengan mata yang sudah terpenjam.
"...Jadi aku gak ngikutin kamu, makanya jangan kepedean, aku hanya...." Galvin yang tengah banyak bicara pada Hana langsung terdiam saat merasakan Hana sepertinya tertidur di bahunya. Dia meneguk salivanya dengan kasar, dan badannya mendadak tegang.
"Hana!" Galvin mencoba memanggil nama Hana, namun rupanya wanita itu sudah tertidur, apalagi Hana tertidur sedikit menghadap padanya, membuat jantung Galvin berdebar-debar.
Galvin menghela nafas, "Rupanya dia sudah tidur, apa dia sering begini sama penumpang lain yang sekursi dengannya?" Galvin membayangkan Hana sering ketiduran bersandar ke setiap penumpang yang satu kursi dengan Hana, oke lah kalau Hana satu kursi dengan wanita, tapi bagaimana jika satu kursi dengan pria?
Entah mengapa Galvin jadi kesal membayangkannya.
Galvin melihat anak rambut yang menutupi wajah cantik Hana, dia merapikan anak rambut itu dengan pelan, kemudian dia memperhatikan wajah Hana dengan begitu lama, dia menyadari betul Hana memang sangat cantik, dia memperhatikan bulu mata Hana yang lentik, hidungnya yang mancung, dan bibir tipisnya yang terlihat sangat manis.
Entah setan darimana membuat Galvin ingin menyentuh bibir Hana, dia perlahan menyentuh bibir Hana dengan jemarinya, hatinya bergetar saat menyentuh bibir Hana yang lembut itu.
Sepertinya aku sudah gila.
Galvin tak bisa menahan diri, perlahan dia mencodongkan wajahnya, sampai bibirnya mulai menempel pada bibir Hana.