Mysterious Wife

Mysterious Wife
76



Siapkan es batu yang banyak untuk membaca part hari ini.


Flashback On...


Malam itu Pingkan mengirim pesan pada Hana.


[Kak Hana, bisa kah kita bertemu besok? Nanti aku kirim alamatnya sama kak Hana, aku ingin mengembalikan ponsel Anya ke kak Hana.]


[Anya sama sekali tidak mengenal Galvin, maafkan aku yang berbohong soal itu. Jadi hentikan rencana balas dendam itu. Karena Galvin sama sekali tidak bersalah. Kak Samuel yang membunuh Anya dan orang tua kak Hana.]


[ Aku tidak bisa lama-lama mengaktifkan ponsel aku, kita harus bertemu besok. Dan satu hal yang harus kak Hana tau, Mitha adalah cinta pertama kak Samuel, makanya dia ingin memperalat kak Hana untuk membalaskan dendamnya pada Galvin. Dia hanya ingin mempermainkan kalian.]


Pingkan tak menyadari bahwa nomornya telah berhasil di lacak oleh Samuel, karena itu Samuel menyuruh anak buahnya untuk segera mencari tempat persembunyian Pingkan dan mengawasinya.


Samuel langsung mengetahui keberadaan Pingkan karena Pingkan mengirim pesan pada Hana saat dia sedang berada di kontrakan tempat yang dia tempati, makanya Samuel bergegas menyuruh anak buahnya mencari letak dimana kontrakan itu.


Padahal Pingkan sudah menonaktifkan kembali ponselnya tanpa menunggu dulu balasan dari Hana.


Malam itu juga Pingkan merasa dirinya sedang diawasi, entah perasaannya atau bukan. Karena itu dia terpaksa menitipkan ponsel Anya ke Pegadaian.


"Pak, saya mau menggadaikan ponsel." Pingkan memperlihatkan ponsel Anya ke pemilik pegadaian itu. Dia nampak gemeteran takut ada yang mengikutinya.


"Wah hapenya retak mbak, paling juga 2 juta." ucap si pemilik Pegadaian itu, setelah mengecek ponsel milik Anya.


Sebenarnya Pingkan bukan butuh uang, tapi butuh tempat yang aman untuk menyimpan ponsel Anya, dan rekaman pembicaraan dia dengan Samuel pun sengaja dia kirim kan ke ponsel Anya.


"Iya tidak apa-apa Pak. Nanti saya tebus satu minggu lagi, kalau selama satu minggu saya belum menebus juga, hubungi nomor kakak saya, biar dia yang menebusnya."


"Hmm... ya sudah."


Setelah pergi dari kantor pegadaian, Pingkan harus kembali ke kontrakan, dia ingin membawa pakaiannya untuk pindah dari sana dan mencari persembunyian yang lebih aman. Sekaligus dia ingin menghubungi Hana untuk membatalkan rencana ketemuan besok dan ingin menyuruh Hana untuk mengambil ponsel Anya di Pegadaian.


Namun betapa terkejutnya Pingkan saat dia masuk ke dalam kontrakan yang kumuh itu, dia melihat Samuel yang sedang duduk di atas kursi sambil menumpangkan kakinya, dia bersiul memandangi Pingkan yang berdiri di dekat daun pintu.


"Sam-Samuel?" Pingkan sangat gemetaran sekali.


Pingkan ingin kabur namun pintu keburu di kunci oleh anak buahnya Samuel dari luar. Sehingga hanya tinggal Samuel dan Pingkan saja yang berada di dalam.


Pingkan terus menggedor-gedor pintu agar ada yang menolongnya, namun sayangnya tidak ada yang mendengarnya karena kontakan Pingkan letaknya lumayan jauh dari pemukiman.


Pingkan sangat ketakutan sekali saat melihat Samuel berjalan ke arahnya.


Plak!


Samuel menampar wajah Pingkan dengan keras sampai Pingkan terjatuh ke lantai.


"Arrghhh..." Pingkan meringis, memegang wajahnya, sudut bibirnya berdarah.


Samuel menjambak rambut Pingkan memaksanya berdiri, dia menatap buas pada wanita itu dengan penuh amarah.


"Arrrgghhh..." Pingkan hanya bisa meringis, berusaha untuk melepaskan diri. Namun dia begitu lemah tak memiliki kekuatan untuk melawan Samuel.


"Sudah ku bilang, jangan pernah berani untuk mempermainkan aku. Apalagi mengkhianati aku. Kamu mengkhianati kepercayaan aku, Pingkan."


"Kak Hana harus tau semua kejahatan kamu. Kamu adalah iblis berwujud manusia, Sam."


"Hahaha..." Samuel malah kecikikan begitu dipanggil iblis oleh Pingkan. "Aku bukan iblis, lebih tepatnya aku adalah malaikat maut. Aku akan mencabut semua nyawa yang berani melakukan kesalahan padaku. Termasuk kamu."