Mysterious Wife

Mysterious Wife
72



"Mengapa kamu menangis?" Galvin tidak mengerti mengapa Hana tiba-tiba meneteskan air matanya.


Namun Hana malah mengelak, "Oh tidak kok, aku gak nangis. Mataku tiba-tiba perih." Hana berpura-pura terkekeh, dia mengucek-ngucek matanya.


Galvin memberikan air minum pada Hana, Hana segera meraih gelas yang berisi susu itu dan meminumnya, Galvin menyimpan kembali gelas itu di atas nakas.


Setelah membersihkan diri, Galvin duduk di samping Hana, di atas kasur. Mereka menyandarkan punggung mereka di headboard, Galvin memeluk Hana dari belakang, melingkarkan tangannya ke bahu Hana.


Mereka memandangi keindahan hutan di luar sana dan juga melihat banyak bintang yang bertaburan di atas langit, malam yang begitu indah.


"Apa kamu tidak takut lagi melihat pemandangan hutan di luar sana?" tanya Galvin.


"Tidak, Green Forest ini sebuah hutan yang indah, makanya sampai aku lupa dengan ketakutan semalam."


Galvin memegang wajah Hana, menatap kedua matanya dengan begitu dalam sampai ke relung hati. "Saat kamu takut kegelapan, selalu ingatlah namaku maka aku pasti akan datang. Aku ingin menjadi penerang hidup kamu."


Perkataan Galvin sangat menyentuh hati, Hana hanya diam tak sanggup berkata apa, memandangi wajah tampan pria itu.


Mereka pun saling berciuman, entah siapa yang memulai, saling memagut dengan penuh perasaan dan teramat lembut.


Ciuman lembut kini berubah menjadi panas, membuat suara cecapan ciuman mereka terdengar memenuhi kamar bubble hotel itu, mereka saling membelitkan lidah mereka dan bertukar saliva dengan begitu bergairah. Membuat tangan mulai saling meraba, dan saling membuka pakaian mereka masing-masing. Membuat tubuh mereka kini benar-benar telanj@ng.


Padahal Galvin sudah ingin menahan dirinya namun dia tidak bisa jika wanita yang sedang bersamanya itu adalah Hana. Dia membuat posisi Hana berada dibawahnya, berusaha agar tidak menyentuh betis Hana yang dibaluti perban. Pria itu masih berciuman panas dengan Hana, sementara tangannya mulai merem@s buah dada Hana yang sangat menggoda.


Ciuman Galvin turun ke leher Hana, dia memberikan banyak hisapan di leher jenjang Hana yang putih itu, kemudian turun ke bagian dada, dan mulai menciumi payud@r@ Hana, beberapa kali dia menghisap bagian put-ingnya, membuat Hana meremang.


Pergulatan panas malam ini terasa sangat berbeda karena Hana langsung menyambut dengan sesuka hati, malah dia membalas perlakuan Galvin dengan meraba-raba punggung Galvin dan menciumi rambut Galvin yang sedang asik bergerilya dengan payud@r@nya.


"Emmhhh...ohh...Galvin!"


Hana merem@s rambut Galvin, dia ingin menikmati percintaan malam ini, yang mungkin saja tidak akan dia lupakan setelah dia pergi jauh dari hidup Galvin.


Galvin menciumi punggung Hana, dia baru sadar ternyata ada sedikit bekas luka bakar di punggungnya, mungkin karena dulu dia melindungi adiknya sampai rela terluka.


Ciuman Galvin beralih ke perut Hana, membuat Hana semakin melayang, apalagi setelah ciuman itu semakin turun ke bawah.


"Ahhhh...emmhhh..." Hana menjerit manja merasakan Galvin bergerilya di bagian intinya, membuat rasa kenikmatan ini sungguh tak tertahankan, dia merem@s kembali rambut Galvin, melebarkan pahanya, membuat Galvin semakin dalam menciumi lembah yang indah itu.


"Owwhh... Gal..Vhin..." Hana kehilangan akal saat merasakan bagaimana lidah itu bergerak ke dalam, membuat dia semakin menggila.


Hingga gelombang itu datang membanjiri bagian intinya, "Aahhhh... ahhhh..." Hana menjerit tak tertahankan.


Galvin memposisikan dirinya berada di atas Hana kembali, dia mencium bibir Hana dan mulai menggesek sang jantan yang sudah berdiri menantang, memasukan dengan pelan tapi pasti, sampai masuk sepenuhnya di dalam sana.


Galvin mulai bergerak dengan begitu gagah, membuat Hana terbang melayang tak tentu arah, dia memeluk punggung Galvin yang menguncang tubuhnya, begitu sangat menikmati percintaan panas mereka malam ini. Apalagi suasana percintaan ini begitu berbeda, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana indahnya bintang-bintang di angkasa sambil bercinta. Di tambah dengan suasana hutan yang begitu terlihat jelas sangat nyata.


"Aahhh... Galvin...emhhh..."


"Ahhh... nikmat sekali Hana!"


Suara des@han dan lenguhan penuh kenikmatan memenuhi kamar itu, membuat mereka semakin bergairah untuk terus menikmati percintaan ini.


Galvin membuat posisi mereka terduduk di atas ranjang yang besar itu. Hana terduduk atasnya, menghadap dirinya, Galvin membiarkan kini Hana yang mendominasi, bergerak begitu sangat liar dan indah. Galvin memeluk punggung Hana, sesekali dia menyambar buah dada Hana yang bergerak menggoda dirinya.


Malam ini mereka telah melakukan banyak gaya bercinta, asalkan tidak sampai membuat betis Hana kesakitan. Bahkan Galvin telah membuat Hana beberapa kali mencapai pelepasan, membuat Hana terus mendes@h dan mendes@h.


Hingga akhirnya kini giliran Galvin yang menuju puncak kenikmatannya. Dia membiarkan benih cinta itu kini memenuhi milik Hana, "Ahhh..."


Galvin tumbang di atas tubuh Hana, dia memeluk erat tubuh itu, kemudian mencium bibir Hana, menatap wanitanya dengan penuh cinta, "Aku mencintaimu, Hana. Sangat mencintai kamu."


Hana hanya tersenyum, padahal hatinya sangat tersentuh dengan ucapan cinta Galvin. Tapi dia berat sekali untuk menggatakan iya aku mencintaimu juga.


Hana membalas ciuman Galvin.


Setelah lama berciuman, mereka bercinta kembali. Sampai tubuh mereka benar-benar kelelahan dan tertidur dengan saling memeluk.


Flashback On...


Hana mendapatkan pesan dari Pingkan, dia nampak terkejut begitu membaca pesan dari Pingkan sampai dia membulatkan matanya saat membaca pesan itu.


[Kak Hana, bisa kah kita bertemu besok? Nanti aku kirim alamatnya sama kak Hana, aku ingin mengembalikan ponsel Anya ke kak Hana.]


[Anya sama sekali tidak mengenal Galvin, maafkan aku yang berbohong soal itu. Jadi hentikan rencana balas dendam itu. Karena Galvin sama sekali tidak bersalah. Kak Samuel yang membunuh Anya dan orang tua kak Hana.]


[ Aku tidak bisa lama-lama mengaktifkan ponsel aku, kita harus bertemu besok. Dan satu hal yang harus kak Hana tau, Mitha adalah cinta pertama kak Samuel, makanya dia ingin memperalat kak Hana untuk membalaskan dendamnya pada Galvin. Dia hanya ingin mempermainkan kalian.]


Betapa hancurnya hati Hana saat membaca pesan dari Pingkan itu. Pesan Pingkan membuat Hana semakin yakin akan kejanggalan yang dia rasakan pada Samuel akhir-akhir ini walaupun awalnya dia mencoba untuk membuang jauh pikiran negatif tentang Samuel.


Mengapa Samuel tega membunuh keluarganya? Hatinya benar-benar hancur. Selama ini Samuel mempermainkan hidupnya bahkan memperalat dirinya.


Rasanya dia tidak memiliki muka untuk bertemu Galvin kembali, rasanya begitu malu dan merasa bersalah karena telah mengusik hidup Galvin yang sama sekali tidak memiliki kesalahan pada Anya.


Hana rasa meninggalkan Galvin adalah cara yang tepat, dia tidak ingin gara-gara dirinya Galvin barada dalam bahaya. Dia akan semakin merasa bersalah jika Galvin terluka gara-gara dirinya. Biar dia sendirian yang menghadapi Samuel.


Flashback Off....