
Prang...
Samuel meninju kaca jendela, membuat kaca jendela itu pecah dan berhamburan, dia tak peduli dengan tangannya yang terluka, dia masuk ke dalam melalui jendela itu.
Matanya beredar mencari keberadaan Hana, dia menghentikan langkahnya begitu melihat Hana terduduk di sudut rumah dengan menyandarkan dirinya ke dinding. Rupanya Hana memilih untuk tidak bersembunyi.
Hana menoleh ke arah Samuel yang berdiri menatap dirinya, kemudian dia berdiri, mencoba bersikap tenang walaupun dirinya ketakutan. "Apa kamu datang kesini untuk membunuh aku?" Kelihatannya semua ingatan Hana telah kembali.
Samuel membuang pisau yang dari tadi dia pegang, kemudian dia membawa sebuah pistol di holster, mengarahkannya kepada Hana, dia memilih membunuh Hana dari jarak jauh, karena dia takut dia tidak akan tega membunuhnya jika dari jarak dekat. "Baguslah kalau kamu tau, kamu tau apa kesalahan kamu? Kamu sudah mengkhianati aku, sudah ku katakan jangan pernah jatuh cinta pada Galvin, tapi kamu malah memilihnya padahal aku dari dulu selalu ada buat kamu." Samuel mengatakannya dengan penuh amarah.
Hana menatap Samuel, dia menggenggam erat gaun yang dia pakai untuk menyembunyikan rasa takutnya, "Aku sudah mencintai kamu sepenuh hati aku, bahkan aku menganggap kamu pahlawan aku, tapi nyatanya semua yang kamu lakukan padaku itu palsu. Yang harus kamu salahkan adalah dirimu sendiri, kejahatan kamu yang membuat aku berpaling dari kamu. Kenapa kamu tega membunuh semua keluarga aku?" Hana mengatakannya dengan menitikan air matanya.
"Seorang Samuel, dewa penyalamat aku, kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku, Sam?" Hana tak bisa menahan tangisnya, dia merasa telah dibohongi selama ini oleh Samuel, bahkan Samuel tega membunuh keluarganya, dan menjadikan dia pion untuk menghancurkan hidup Galvin.
Tangan Samuel bergetar melihat Hana menangis, sampai dia ikut menitikan air matanya, "Itu semua karena ulah papamu, papamu yang membuat ayahku mati. Kamu anaknya, jadi kamu harus menanggung dosa papamu itu."
"Apa kamu yang menyelamatkan aku dulu saat aku di culik? Kamu begitu baik, tapi kenapa sekarang kamu berubah menjadi seorang monster? Yang harus kamu salahkan adalah ayahmu, dia mati karena ulahnya sendiri, bahkan tega menjadikan kamu seperti ini."
Dor...
Hana kaget, saat Samuel hampir saja menembak dirinya.
"Jangan pernah mencoba memprovokasi aku, bagiku kamu adalah seorang penghianat, bahkan kamu hamil anaknya!" Samuel mengarahkan pistol ke perut Hana, dia beberapa hari ini memantau pergerakan Hana, betapa terpukulnya dia saat melihat Hana datang ke dokter kandungan.
"Kamu sudah menghancurkan hatiku, padahal aku sangat mencintaimu, Hana." lirih Samuel. Dia menitikan air matanya kembali.
"Seandainya apa yang kamu lakukan padaku itu nyata dan kamu tidak membunuh keluarga aku. Aku tidak akan pernah mungkin berpaling dari kamu. Karena rasa cinta yang aku berikan padamu itu sangat tulus, tapi kamu menghancurkan semuanya, Sam." Hana menghapus air matanya sendiri yang terus mengalir membasahi pipinya.
Pistol Samuel terjatuh ke lantai begitu mendengar ucapan Hana, "kembali lah padaku, Hana. Aku tidak sanggup hidup tanpa kamu. Kita lupakan semua masa lalu tentang kita. Kita bisa memulainya dari awal."
Hana menggelengkan kepalanya, "Apa kamu bisa mengembalikan nyawa keluarga aku? Apa kamu bisa mengembalikan nyawa semua orang yang telah kamu bunuh? Begitu lah perasaan aku ke kamu, perasaan aku tidak akan bisa kembali seperti dulu, rasa ini sudah mati, yang ada aku sangat menyesal mengapa harus pernah mencintai seseorang yang sudah tega membunuh keluarga aku."
Buukkk...
Terdengar suara seseorang membuka pintu dengan keras, rupanya Galvin telah masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan Hana.