
Setelah bertemu dengan Detektif Al, Galvin pun pergi ke kantor TVC Media. Orang yang pertama kali di cari tentu saja Hana begitu tiba disana, namun rupanya Hana belum sampai ke kantor.
Sudah dipastikan Hana pasti menemui Samuel, membuat Galvin kesal memikirkannya, sampai dia memasang muka jutek tidak menanggapi beberapa karyawan menyapa dirinya.
"Selamat pagi Pak Galvin!" Para karyawan tersenyum dengan ramah menyapa Galvin.
Namun Galvin tidak menggubrisnya, dia terus berjalan melewati mereka dengan mukanya yang datar.
Galvin masuk ke dalam ruang CEO dengan membanting pintu sangat keras membuat para karyawan hanya bisa mengusap dada, Galvin kalau marah memang mengerikan.
"Astaga, untung bos kita ganteng." celetuk salah satu karyawan wanita. Setidaknya mereka tidak bisa mengumpat seenaknya pada Galvin karena pesona Galvin memang memukau. Namun mereka sadar diri mereka itu hanya seorang karyawan biasa, mereka sangat tau Galvin tidak pernah berpacaran dengan wanita kelas bawah. Seorang playboy kelas elit.
Galvin duduk di kursi sofa sambil mengatur nafasnya, "Mengapa dia harus selalu menemui Samuel?"
"Mengapa dia mau mengorbankan dirinya untuk mendekati aku hanya demi seorang Samuel? Segitu besar cintanya kah buat Samuel?"
Bahkan Galvin tidak tau apa yang Hana lakukan sekarang bersama Samuel, walaupun dia tau dia adalah orang yang pertama membuat Hana tidak perawan lagi, tapi dia tidak tau bisa saja setiap ketemuan dengan Samuel, Hana selalu bermesraan dengan Samuel, seperti dirinya dulu dengan banyak wanita.
Galvin melonggarkan dasinya, sangat terasa sesak sekali didadanya, seakan dirinya merasa di khianati, dia yakin dia tidak cemburu,dia hanya kesal pada Hana yang telah mempermainkannya.
Ceklek!
Terdengar seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan CEO itu.
Galvin segera menoleh padanya, rupanya wanita yang dari tadi membuatnya kesal masuk ke dalam ruangan CEO itu.
"Selamat pagi Pak Galvin." sapa Hana, dia memang selalu bersikap profesional jika berada di kantor.
Galvin memperhatikan Hana yang memakai syal, dia menyunggingkan seulas senyuman saat menyadari dirinya yang telah membuat banyak mahakarya di leher Hana, sudah dia tebak Samuel tidak mungkin bermesraan dengan Hana, jika mereka bermesraan sudah pasti Samuel akan membuka syalnya yang sangat mengganggu itu.
Apa aku harus banyak membuat ki5smark di tubuhnya biar Samuel tidak ikut menjamah tubuhnya juga, karena Hana pasti takut ketahuan telah tidur dengan aku.
Hana duduk di samping Galvin, dia menunjukkan beberapa berkas pada Galvin dan menjelaskan schedule hari ini, namun Galvin tidak begitu fokus dengan apa yang Hana terangkan padanya, dia lebih fokus memperhatikan wanita yang berada di sampingnya itu.
"Jadwal hari ini emm..." Hana menjadi gugup karena Galvin terus memandangi wajahnya.
"Mengapa memandangi aku terus? Apa aku di belek di mataku?" Hana segera membersihkan pinggiran matanya dengan jari.
Wanita kadang membuatnya kesal, kadang ada tingkah konyol yang membuat Galvin ingin tertawa.
Galvin menutup berkas yang dibawa Hana, dia menatap tajam pada Hana, lalu mencondongkan badannya.
"Tapi disini tidak ada siapa-siapa, hanya kita berdua." goda Galvin, dia sangat senang melihat Hana yang terlihat gugup seperti itu.
"Bukannya kamu bilang tidak ingin menyentuh aku, tapi kenapa..."
"Karena saat ini aku tidak berkencan dengan siapapun, jadi mau tidak mau kamu harus mengantikannya, kamu yang selalu menggagalkan rencana aku untuk berkencan dengan wanita lain."
Hana sangat kesal pada pria itu karena menyamakannya dengan wanita-wanita yang Galvin kencani, dia segera berdiri, lagi pula dia tidak ingin kisah semalam terulang lagi, dia sangat merasa bersalah pada Samuel.
"Hmm... ya sudah kalau begitu aku..."
Hana tak meneruskan perkataannya karena Galvin menarik Hana terduduk ke pangkuannya, membuat hati Hana berdebar-bedar.
"Galvin, lepaskan, ini di kantor!" Hana mencoba berontak tapi Galvin memeluk erat punggung Hana yang duduk di pangkuannya itu.
"Kenapa? Kau ingin di rumah saja?" Galvin terkekeh, dia menyentil kening Hana dengan gemas, "Dasar mesum!"
"Aw!" Hana memegang keningnya. Dia tidak terima mengapa Galvin jadi balik mengatakannya mesum, "Mesum?"
"Kamu pikir aku mengajak kamu bercinta sampai kamu memperingati aku bahwa kita sedang di kantor hm?" tanya Galvin sambil tersenyum menggoda.
"Bu-bukan, bukan begitu maksud aku..."
"Aku hanya ingin mencium kamu saja. Bukan untuk mengajak kamu bercinta di sini. Atau mungkin kamu menginginkannya lagi?"
Pria itu membuat Hana gelagapan, dia pikir Galvin akan melakukannya di kantor. Membuat dia salah tingkah.
"Tapi kenapa ingin mencium aku?"
"Karena kamu istriku."
"Sejak kapan kamu menganggap aku istrimu?"
"Sejak kedua tubuh kita menyatu."
Wajah Hana memerah begitu mendengar jawaban dari Galvin. Dia tidak sadar saat Galvin menempelkan kedua bibir mereka, dia ingin melepaskan diri namun pria itu sangat kuat memeluk pinggangnya, apalagi ciuman Galvin selalu terasa dirinya ikut terhanyut, ingin melawan tapi dia sangat menikmati ciuman Galvin, Galvin me lu mat bibirnya, memagutnya dengan begitu lembut, membuat jiwa Hana bergetar.
Kau akan masuk perangkapku Hana Patricia.